Travelove~

Travelove~
45. Datang



“Aku datang. Tidak dapat kupungkiri bahwa aku ingin melihatmu lagi, meski mungkin sudah tidak mungkin.” ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Armada Korean Air yang membawa Bram dan Alberto dari Indonesia menuju Paris mendarat dengan sangat mulus. Mengalami satu kali transit di bandara Seoul International Airport untuk beberapa jam, akhirnya mereka kembali menghirup udara Paris setelah hampir 24 jam berada di udara.


Tidak merasa lelah yang berlebihan sebab dia lebih banyak menghabiskan waktunya untuk tidur, Alberto tampak sangat senang karena bisa kembali ke kota itu lagi. Berbanding terbalik dengan Bram yang tidak begitu menikmati penerbangannya kali ini, lelaki itu disibukkan dengan berbagai macam fikiran yang semakin mengusut seiring dengan gerakan armada yang membelah langit.


Memikirkan banyak hal, terutama tentang rasa penasaran yang akan dia hadapi tidak lama lagi. Berpedoman dengan alamat yang tertera di foto yang juga dia bawa serta dalam tas punggungnya, Bram rupanya tanpa sadar memikirkan hal lain di kepala. Tentang wanita itu, masih tentang wanita itu.


Tidak bisa semudah itu melupakan semua kenangan yang masih tertutup rapat, udara Paris kali ini sungguh menyesakkan dada. Tidak seperti Alberto yang merentangkan kedua tangan untuk menghirup dan menyesapi aroma Paris dengan manik berbinar, Bram sendiri masih berusaha mengendalikan diri untuk tidak merindukan seseorang.


Aku datang. Apa kau masih di sini? Bagaimana kabarmu?


Tepukan Alberto menyadarkan Bram dari lamunan, saat lelaki itu sudah menggenggam pegangan kopernya erat-erat.


“Kau tidak tahu harus ke mana kan, Bram?” tanya lelaki itu cepat.


Bram masih belum fokus sepenuhnya, saat dia perlahan melirik Alberto sekilas. Lelaki itu sepertinya memang begitu bahagia karena datang ke kota ini. Belum mendapatkan jawaban, Alberto sudah kembali bersuara.


“Bersyukurlah aku datang bersamamu, Bram. Kau ingat apartemenku yang dulu? Bersyukur lagi bahwa aku belum menjualnya. Ayo kita ke sana untuk beristirahat,” ujar Alberto dengan nada riang, sudah melangkahkan kakinya untuk bergerak dari posisi mereka berdiri sejak tadi.


Bram mengerjapkan mata, memperhatikan Alberto yang sudah melangkah lebih dulu di depannya. Merasa kepalanya masih sedikit pusing mungkin akibat jetlag yang dia hadapi, Bram tidak berniat untuk melakukan protes. Mungkin Alberto ada benarnya, mungkin keberadaannya kali ini memang bermanfaat. Mari kita lihat sejauh apa lelaki itu dapat membantu.


Berbalik badan untuk memeriksa teman seperjuangannya, Alberto menghentikan langkah sebelum kemudian melambaikan tangan.


“Cepatlah, Bram! Kau bisa tertinggal!” teriaknya dengan nada suara hampir dua oktaf, membuat Bram benar-benar tersadar.


“Aku datang!” Membalas teriakan Alberto meski suaranya tidak begitu keras, Bram juga mulai menggeret koper berukuran sedang miliknya untuk mencapai tempat Alberto.


Memperhatikan Alberto menuju sebuah konter taksi resmi bandara dan memesan satu untuk menuju apartemen miliknya, Bram hanya bisa mengikuti dengan pasrah. Dengan tubuh yang belum sepenuhnya kuat, dia memang membutuhkan istirahat.


Setelah beberapa menit menunggu, sebuah taksi resmi bandara dengan warna kuning menyala berhenti tepat di samping mereka, dengan seorang supir paruh baya yang menyapa dengan senyuman lebar. Keduanya masuk setelah membalas sapaan dengan bahasa Inggris yang fasih, bersedia untuk menyusuri jalanan Paris kala itu.


Memandangi ke luar jendela, Bram menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi penumpang.


Udaranya masih sama, apa kau juga merasa demikian?


***


Marin menuruni anak tangga satu per satu dengan langkah kecil. Berbelok untuk menyapa Luke yang sudah berada di meja makan, gadis itu melebarkan senyuman sebelum menarik sebuah kursi tepat di hadapan ayahnya.


“Kau menunggu lama, Pap?” Mencuri pandang pada ayahnya yang masih memegangi koran, Marin melirik sekilas ke arah jam yang terpasang di dinding ruang makan mereka.


Menurunkan koran yang sejak tadi dia baca sebab yang ditunggunya telah tiba, Luke membalas tatapan yang dilayangkan anak semata wayangnya.


“Tidak lama. Kau tidak lupa janjimu kan, Ma Cherry?” ujarnya tegas meski dengan nada bersahabat, sukses membuat Marin menyeringai tipis menahan senyuman kecut.


“Tidak, Pap. Aku sudah berjanji padamu,” balasnya pelan.


Luke bisa dengan jelas mendengar nada ketidakrelaan pada suara putrinya, tetapi dia tahu putrinya tidak pernah ingkar janji.


Setelah pulang dengan tangan kosong dan menyatakan bahwa dia tidak mampu menyelesaikan misi, Marin telah memutuskan untuk tidak mengambil alih kepemimpinan klan Schoff dari ayahnya. Meski meredam kecewa yang teramat sangat atas keputusan yang diambil putrinya, Luke berusaha untuk tidak memercikkan api. Dia tahu Marin pastilah punya alasan, meski dia tidak tahu alasan apa yang hingga kini disimpan rapat-rapat oleh gadis itu.


Marin menunjukkan dengan jelas bahwa memang dia tidak tertarik dengan kepemimpinan klan Schoff, dan bertanya beberapa hari kemudian bagaimana dia bisa membantu keberlangsungan klan mereka. Luke sempat menghabiskan beberapa malam untuk berfikir matang-matang sebelum memberikan jawaban, hingga akhirnya dia memutuskan untuk memberi perintah pada putrinya.


Anderson Lueic.


Satu-satunya penerus klan Lueic yang telah lama menyendiri. Menunjukkan ketertarikan mendalam pada Marinda Schoff sejak mereka remaja, meski tampaknya Marin tidak memiliki ketertarikan yang sama seperti pria itu padanya.


Mengambil kesempatan untuk bisa menjodohkan putrinya dengan Anderson, Luke meminta agar Marin mulai membangun relasi dan hubungan antar dua dewasa bersama Anderson. Bagaimanapun, Luke telah memprediksi kekuatan klan mereka yang mungkin akan menguat secara drastis melalui ikatan pernikahan.


Marin mungkin tidak bisa naik menjadi pemimpin klan Schoff, dan Luke tidak ingin klannya jatuh di tangan orang yang salah. Terlebih seseorang yang memiliki aliran klan Schoff selain Marin belum juga dapat ditemukan, dan Luke sungguh tidak ingin ikut campur dalam menyelidiki hal ini. Biarlah Marin yang menentukan, biarkan dia yang berjuang jika dia mau klannya masih terus berjalan.


“Kau akan pergi malam ini?” Bertanya untuk memecah keheningan, Luke memperhatikan Marin yang menaikkan kepalanya perlahan.


“Ander akan menjemput pukul delapan,” jawabnya jujur.


Luke menarik napas.


“Ma Cherry,” panggilnya lembut.


Kali ini membuat Marin benar-benar memandang ayahnya, memperhatikan kerutan tanda penuaan yang semakin hari semakin terlihat jelas di wajah Luke Schoff.


“Ada apa, Pap? Kau khawatir akan sesuatu?” tanya gadis itu.


Luke menggeleng pelan.


“Ah, tidak. Aku hanya penasaran apakah Luiec bersikap baik padamu?” Bertanya sebab dia juga penasaran tentang kemajuan hubungan antara putrinya dan sang calon penerus klan.


Kali ini Marin yang tersenyum. Menghiasi wajahnya dengan pelangi terbalik, Marin memajukan tubuh untuk meletakkan tangannya di atas punggung tangan ayahnya. Harta satu-satunya yang dia miliki, alasan untuknya tetap hidup hingga saat ini.


“Aku menyukainya, Pap. Dan baiknya dia mencintai aku. Dicintai lebih indah daripada mencintai, bukan begitu? Ander memperlakukanku dengan baik sekali dan dia juga tampan. Kau mau tahu sebuah rahasia, Pap?” tanya gadis itu sembari semakin mendekat, diikuti dengan tubuh Luke yang merespon dengan cara yang sama.


Menahan senyuman di sudut bibirnya, Marin kembali bersuara.


“Dia pandai memasak. Kurasa aku akan menggemuk setelah kami menikah nanti.”


.


.


.


🗼Bersambung🗼