
"Mungkin saja ada celah. Atau mungkin pula kesempatan, yang terbentang di depan kita sekarang." ~Alberto Vigez.
.
.
.
"Aku sudah bercerai."
Suara Hana sontak membuat Alberto hening, terdiam seribu bahasa. Maniknya menajam seiring dengan tatapan Hana yang juga tidak mengendur, mungkin mengisyaratkan lewat tatapan matanya bahwa dia tidak main-main.
"Aku sudah bercerai, dan aku berhutang terima kasih padamu," sambung Hana lagi.
Membuat Alberto berdehem pelan, merasakan tiba-tiba saja kerongkongannya tercekat. Entah perasaan apa yang menjalar, tetapi ada satu rasa syukur yang berhasil dia identifikasi di dalam sana.
"Sebentar," jawab Alberto kemudian. Lelaki itu bangkit dari duduknya, lalu melangkah cepat menuju arah kasir.
Jika tadi dia belum sempat memesan minumannya sebab tubuhnya refleks mendekati tempat di mana perempuan itu duduk, maka kali ini dia benar-benar berpikir bahwa dia butuh kopi.
Memesan minuman dan menyerahkan selembar uang untuk membayar, Alberto lalu berbalik dan kembali melangkah menuju tempat duduknya tadi.
"Maaf, aku belum memesan tadi," jelasnya. Meski Hana sedah pasti tahu bahwa kepergian lelaki itu pastilah untuk memesan minuman, tetapi Alberto tetap menjelaskan.
Hana tersenyum tipis. "Oh, baiklah."
Alberto baru saja hendak bertanya lebih lanjut, tetapi tertahan saat seorang pelayan kafe itu datang dan mendekati meja mereka. Menaruh pesanan Alberto di atas meja, memberikan senyuman sebelum kemudian berlalu.
"Jadi, bagaimana kabarmu?"
Pertanyaan Alberto ini terkesan absurd, saat lelaki itu juga sedang berpikir hal apa yang mungkin akan jadi pembahasan dalam obrolan mereka. Sebab mereka tidak pernah terlibat dalam obrolan santai (sedikit) serius seperti ini sebelumnya.
Hana kembali tersenyum. "Aku baik, seperti yang kau lihat," katanya.
"Aku tidak tahu apa yang membuat Joe menyerah, tetapi akhirnya dia memutuskan untuk menceraikan aku setelah kejadian malam itu," Hana menjelaskan. Perempuan itu melempar tatapannya ke arah luar jendela sekarang, tidak lagi menatap ke manik Alberto yang masih tertaut padanya.
"Dan kau tidak senang?" potong Alberto cepat.
Lelaki itu meraih gelas kopinya, melirik pada Hana yang kini menolehkan kepala untuk kembali menatapnya. Manik perempuan itu melebar, sebelum kemudian ia mengangkat bahu.
"Tidak, kau salah. Aku tidak menyangka dia akan melepaskan aku begitu saja, setelah semua hal yang dia lakukan selama ini," jawab Hana.
Ada rasa penyesalan dan kesedihan yang terbersit di nada bicara perempuan itu, yang dapat ditangkap dengan baik oleh Alberto.
Lelaki itu menyesap cairan hitam itu perlahan, menyembunyikan wajah dari sebalik cangkir. Mengingat bagaimana perempuan itu merintih dan meracau 'dia tidak mencintaiku' tempo lalu, yang mana bisa disimpulkan oleh Alberto 'dia' yang dimaksudkan Hana pastilah suaminya, Joergen Swarg.
Perempuan yang duduk di depan Alberto itu terdengar menarik napas dalam-dalam. Rasanya terlalu cepat untuk membuka tabir tentang siapa dirinya sebenarnya pada lelaki asing itu, tetapi dia tidak punya pilihan. Hana memang berencana untuk mengatakan beberapa hal terkait kejadian di kehidupannya, sebab bagaimanapun pria itu telah terlanjur terlibat dengan cara yang tidak biasa.
"Ah, begitu." Kali ini Alberto yang memberikan tanggapan singkat.
"Aku tahu mungkin aneh bagimu mendengarku mengatakan hal-hal ini di pertemuan pertama kita," lanjut Hana lagi. Perempuan itu merapikan rambutnya ke belakang, mengusir rasa canggung. "Maksudku, di pertemuan dengan cara baik-baik."
Alberto mengangguk kecil. Deringan ponselnya terdengar dan mengalihkan konsentrasi, saat lelaki itu bergerak untuk merogoh ponselnya di dalam saku.
"Sebentar ya," pamitnya pelan. Meski dia tidak beranjak dari tempat duduknya, lelaki itu menjawab telepon dengan sekali usapan tangan.
"Ya?"
Terdengar suara seorang perempuan di seberang sana, sekretarisnya yang kini menghubungi terkait beberapa pekerjaan.
"Batalkan saja semua rapat untuk hari ini," bisik Alberto pelan. Menutupi bibirnya dengan satu tangan saat ia mengucapkan kalimatnya, tidak ingin Hana mendengar dengan jelas apa yang dia katakan.
"Kirimkan dokumen tender itu ke email-ku, akan kutinjau hari ini, bila sempat," lanjutnya lagi.
Hana melemparkan pandangan ke arah jendela, menampilkan sisi kanan wajahnya yang tampak indah dengan rahang tegas. Pipi perempuan itu tampak sedikit memerah, mungkin akibat polesan make up yang diaplikasikan dengan baik.
Mendengarkan penjelasan sekretarisnya di ujung telepon, manik Alberto masih menatap ke arah yang sama.
Mungkin ada banyak hal yang harus mereka bicarakan, mungkin akan ada pertemuan lainnya setelah ini. Jika kelak tidak ada, maka setidaknya Alberto harus membuat pertemuan itu menjadi ada, bagaimanapun caranya.
"Urus saja seperti biasa ...." Suara Alberto kembali terdengar pelan.
Tidak berubah pandangan matanya, tetap terpatri pada arah yang sama.
"Tender bisa saja menunggu atau tergantikan dengan yang lain ...," ucapnya tertahan.
"Tapi perempuan di depanku ini mungkin tidak," ucapnya menutup telepon.
Bram menaiki anak tangga dengan cepat. Membawa satu nampan di tangannya, lelaki itu sebisa mungkin tidak membuang waktu. Setelah memastikan Vallois dan Verden menyelesaikan makan pagi mereka, lelaki itu meminta agar pengasuh si kembar membawa kedua bocah itu ke ruang bermain.
Hari ini Dokter Aryo berhalangan hadir ke kediaman Trahwijaya, jadi Brio telah diantar oleh supir keluarga untuk menuju rumah sakit bersama kepala pelayan mereka untuk melakukan check up rutin.
Matahari hampir naik sepenggalan saat langkah Bram menapaki anak tangga paling atas. Berbelok ke arah kanan untuk menuju kamar mereka, lelaki itu mendorong pintu dengan tenaga sedang.
"Sayang?" Suaranya langsung memenuhi ruang kamar, melengkungkan satu senyuman tipis di sudut bibir.
Diandra menoleh. Berusaha bangun untuk menegakkan tubuh, saat kepalanya masih terasa pusing.
"Si kembar sudah makan, Bram?" tanyanya begitu Bram duduk di tepian ranjang.
"Sudah, mereka sedang bersama pengasuh di ruang bermain."
Diandra mendesah. Lidahnya terasa pahit, dan matanya berkunang-kunang. Kini bersandar pada headboard ranjang mereka, perempuan itu melayangkan tatapan sendu ke arah suaminya.
"Maaf," lirihnya. Ada nada kesedihan di permintaan maafnya baru saja. Entah apa yang menjadi pemicu, tetapi dia mudah sekali berubah mood sekarang.
Bram menggeleng. "Hei, kenapa?"
"Maafkan aku," ujar perempuan itu lagi. Menundukkan kepala, menyelami rasa kesedihan yang menelusup masuk ke dalam dada.
"Kemarilah." Bram mendekat. Menarik Diandra ke dalam pelukannya, mengusap punggung perempuan itu dengan lembut. Memberikan ruang bagi Diandra bersandar di dadanya, saat sepertinya perempuan itu tengah terisak kecil.
"Maaf, Bram. Aku merepotkan," bisik Diandra pelan. "Aku mual sekali, padahal saat hamil Val dan Ver dulu tidak seperti ini," jelasnya lagi.
"Papa sudah berangkat?" Diandra melepaskan pelukan itu, menghapus air mata yang menyisakan basah di pipi. Menatap Bram, menunggu jawaban.
"Sudah. Barusan saja."
"Karena aku mabuk seperti ini jadi segalanya tidak berjalan baik, benar kan? Seharusnya aku menemani Papa tetapi ...."
Bram meraih tangan istrinya. Membawa untuk kemudian ia berikan satu kecupan di punggung tangan itu, dia kembali menggeleng.
"Tenanglah, Diandra. Semuanya baik-baik saja," ucapnya pelan. Lembut sekali.
"Tetapi kau jadi kesulitan bekerja karena aku, Bram. Seharusnya kau sudah berangkat ke kantor kan?"
Entah mengapa, perempuan itu merasa kehamilannya kali ini merenggut titik terlemahnya. Belum sempat Bram bersuara, Diandra tiba-tiba menggeser selimut yang sedari tadi menutupi tubuhnya. Beranjak secepat kilat dan sedikit berlari menuju kamar mandi, perempuan itu berhenti tepat di depan westafel.
Mengeluarkan cairan yang berasal dari dalam perutnya, ia tertunduk lesu. Beberapa kali mengeluarkan cairan berwarna putih bening, Diandra merasakan usapan lembut di punggungnya.
Bram berada tepat di sampingnya kini, memperhatikan dengan lekat bagaimana perempuan itu berubah pucat hanya dalam waktu yang begitu cepat.
Menyodorkan handuk kecil yang ia ambil dari rak, Bram menahan denyutan di dalam dada. Sebab seseorang sedang berupaya sepenuh hati membesarkan janin di dalam sana, janin yang merupakan anak kandungnya. Ada rasa hangat yang menjalar, sekaligus tambahan rasa cinta yang tidak berujung.
Diandra menghidupkan keran, membersihkan tangannya dan mengelap wajah dengan handuk yang disodorkan Bram tadi.
"Terima kasih," ujarnya berusaha tersenyum.
Bram kehilangan kendali. Sebisa mungkin menahan gejolak perasaan sejak tadi, tetapi kali ini dia tidak kuasa.
Menarik Diandra ke dalam pelukannya, Bram mendekap tubuh istrinya dengan erat. Mengalirkan rasa cinta di sana, dia ingin memberi kekuatan.
"Terima kasih, Diandra," bisiknya pelan.
Diandra terdiam sesaat. Mengernyitkan dahi sebab bingung atas reaksi suaminya yang begitu tiba-tiba. Pastilah ini pertama kalinya bagi seorang Bram Trahwijaya terjebak dalam adegan morning sickness ibu hamil.
Bram hampir kesulitan bernapas, sebab dadanya diliputi perasaan cinta yang menggunung.
"Terima kasih sudah berjuang untuk membesarkan anak kita di perutmu. Aku tahu itu pasti tidak mudah, tetapi percayalah aku akan di sini untuk menemanimu melewati waktu," bisik lelaki itu lagi.
Kali ini menerbitkan satu senyuman di wajah pucat Diandra, saat perempuan itu mengeratkan dekapan mereka.
Pagi itu tidak lagi kelabu.
.
.
.
~Semangat untuk para bumil ❤️