
"Aku ingin kau menggantikan semuanya. Setiap sentuhan dan kenangan tentang dia. Aku hanya ingin melihat ke arahmu saja sejak detik ini, tanpa ada yang tersisa." ~Hanalia Esava.
.
.
.
Tersenyum tipis ketika ia mulai melonggarkan pegangannya pada pergelangan Hana, Alberto begitu berlapang dada untuk kembali menjaga jarak.
Meski jauh di dalam hatinya dia ingin menghambur ke dalam pelukan perempuan itu, atau sekedar memberikan dekapan hangat bagi Hana, dia akan menahan diri dengan sangat baik.
“Jangan lepaskan,” pinta Hana tiba-tiba.
Menahan tangan Alberto dengan tangannya yang lain, perempuan itu masih tampak tersentak ketika kulitnya kembali bersentuhan dengan tangan kokoh Alberto.
“Hana, kau tidak perlu memaksa. Aku bisa—“
“Aku ingin mencobanya, Al,” potong Hana cepat. Berdebar jantung perempuan itu saat tatapan keduanya kembali beradu pandang, dia diam-diam sudah memutuskan.
Dia tahu Alberto akan memperlakukannya dengan baik, dan inilah saat baginya untuk membuka diri pada lelaki itu.
Alberto tersenyum, lagi. Wajah Hana tampak merona kali ini, meski masih terlihat setitik keraguan dari pancaran bola mata perempuan itu. Jika itu sulit bagi Alberto, maka pastilah lebih sulit untuk Hana. Untuk berdamai dengan masa lalu, untuk berdamai dengan diri sendiri.
Alberto mendekat. Bangkit dari duduknya untuk kini mengambil posisi di sebelah Hana, lelaki itu bernapas dalam-dalam.
Hana menggerakkan jemarinya untuk menelusuri tangan kokoh Alberto, dengan kepala yang menunduk. Mengamati bagaimana gerakan perlahan-lahannya di kulit lelaki itu menimbulkan perasaan berbeda, saat dia sedang berupaya keras untuk memusatkan pikirannya pada kekasihnya.
“Aku tahu kau tidak akan menyakitiku,” lirih Hana pelan. Kerongkongannya terasa tercekat, ketika kata demi kata terasa begitu sulit untuk diungkapkan.
Alberto mengangguk. “Yes, I am.”
Hana masih menggerakkan jemarinya di bawah sana.
“Kau menyayangiku, Al?” tanya perempuan itu tiba-tiba, kini menaikkan wajahnya untuk menatap pada Alberto yang berada tepat di sampingnya.
Alberto mengangguk lagi, tanpa membuang-buang waktu.
“Kau tahu itu dengan jelas, Hana,” ujar lelaki itu. “I love you.”
Suara Alberto baru saja bagaikan siraman alkohol pada luka yang masih Hana rasakan. Menyegarkan, sedikit menimbulkan rasa nyeri tetapi kemudian meredakan sakit di dalam sana.
Inilah saat yang tepat untuk dirinya bangkit, pergi dari bayang-bayang masa lalu yang seharusnya memang dia lupakan.
“Maaf karena membuatmu menunggu terlalu lama, Al,” lirih Hana lagi. “Dan, terima kasih karena bertahan denganku, meski kau tahu aku tidak seperti kebanyakan perempuan di luar sana.”
Alberto mengerjap.
“Aku sudah memilihmu, Hana. Dan aku tidak sedikit pun menyesal akan hal itu,” ungkapnya jujur.
Hana tersenyum. Menampilkan sebagian giginya yang tampak rapi dan bersih, perempuan itu tanpa sadar sudah menggenggam tangan Alberto di bawah sana.
Berupaya mengabaikan rasa takut yang kerap kali mengambil alih, yang selama ini membuatnya tidak mampu melakukan kontak fisik dengan lelaki lain.
Tetapi kini setelah kedatangan Alberto, Hana tahu dia harus benar-benar mencoba dan melangkah maju.
Alberto mengeratkan kaitan tangan mereka, mengalirkan perasaan hangat yang menyelimuti. Bersyukur sekaligus lega sebab Hana berusaha mencoba, meski perempuan itu mungkin masih bergumul dengan dirinya sendiri.
“Aku tidak akan membuatmu memimpikan hal itu lagi, Hana,” ujar Alberto pelan. “Akan kugantikan semua memorimu mengenai dia, hingga kau hanya akan mengingat aku saja. Mengingat kita, segala hal tentang kita.”
Hana terdiam, mendengarkan dengan seksama.
“Aku serius dengan perkataanku tempo lalu. Aku sudah mengajukan surat pengunduran diri, meski harus menunggu sedikit lebih lama hingga keputusan finalnya keluar nanti. Setelah ini semua berakhir, ayo kita pergi dari sini, Hana. Ke tempat-tempat indah, di mana kau dan aku bisa memulai hidup tanpa bayang masa lalu.”
Tidak hanya pria biasa, tetapi pria yang kini mampu membuatnya berdebar dalam ritme tidak biasa. Tidak tahu apa kelebihan yang ia punya, hingga semesta mengatur kembali hidupnya sedemikian rupa.
“Kau punya waktu untuk menentukan, Hana,” lanjut Alberto lagi. “Meski aku sungguh berharap kau akan mengatakan ‘iya’.”
Hana tertegun beberapa saat. Tidak mengendurkan pandangannya sama sekali, perempuan itu sedang mengatasi lonjakan perasaan yang terjadi di dalam hatinya.
Setelah kehidupannya hancur, dia tidak pernah membayangkan akan membangun satu lagi kehidupan bersama lelaki yang baru.
Tetapi tatapan teduh lelaki ini, sungguh membuatnya merasa nyaman. Sebab Alberto menerimanya dengan sungguh baik, untuk semua kekurangan dan kelebihan yang dimiliki perempuan itu.
“Al,” lirih Hana pelan.
Alberto masih menatapnya lekat-lekat, ketika kini lelaki itu menjawab dengan deheman.
“Hmm?”
Hana menyunggingkan senyuman. Tidak peduli dia mungkin saja akan terlonjak kaget di awal nanti, tetapi dia siap untuk menghadapi itu.
Dia benar-benar akan menghapus semuanya, menggantikan setiap kesakitan yang pernah mendarat di tubuhnya hanya dengan sentuhan lelaki ini saja.
Mendekat perlahan-lahan, Hana tidak melepaskan genggaman tangan mereka. Menahan napas beberapa detik, Hana sudah memutuskan.
“Kiss me.”
Alberto tercengang beberapa detik saat permintaan Hana itu menelusup melewati gendang telinganya, saat ia masih terdiam di posisinya saat ini.
Jika bersentuhan tangan saja sulit bagi Hana, bagaimana dengan satu ciuman? Dan Alberto, tidak mungkin membiarkan ciuman pertama mereka berlalu begitu saja. He’s a good kisser for sure.
“Are you sure?” tanya lelaki itu memastikan.
Tatapan mereka masih saling beradu, ketika kini Hana menganggukkan kepala.
“Aku mungkin akan refleks tersentak atau mundur nanti, tapi tahan aku dan jangan berhenti,” kata Hana memperingatkan.
Manik perempuan itu mengedip beberapa kali, saat Alberto dengan jelas mendengar kekasihnya menarik napas dalam-dalam.
“Aku ingin kau menggantikan semuanya, Al,” lirih Hana. “Tanpa ada yang tersisa.”
Alberto sempat tersenyum tipis sebelum ia memulai langkah pertamanya. Mendekatkan wajahnya pada wajah Hana, Alberto menargetkan bibir merah muda perempuan itu kemudian.
Hana benar.
Tepat saat bibir Alberto bertabrakan dengan bibirnya, perempuan itu refleks memundurkan tubuh. Tetapi lengan Alberto sudah lebih dulu menahan tubuh kekasihnya, dengan bibir yang terus bergerak maju.
Tidak melepaskan atau memberikan ruang sama sekali, Alberto sudah siap untuk menghapus semua jejak Joergen. Tidak hanya di tubuh Hana, tetapi di ingatan perempuan itu.
Dan ciuman pertama mereka tadi, begitu saja mengalir. Menghangat ketika Hana kini tidak lagi ingin melarikan diri, perempuan itu bahkan membalas pagutan yang diberikan Alberto pada bibirnya.
Di sore hari yang cerah itu, ada sepasang kekasih yang sedang menikmati sensasi hangat ciuman pertama.
Hana yang siap membuka dirinya pada lelaki itu, dan Alberto yang siap untuk masuk ke dalam kehidupan perempuannya secara utuh.
.
.
.
~Longlast, ya, Al dan Hana~