Travelove~

Travelove~
08. Berbagi Tanpa Sadar



"Aku tidak tahu bahwa aku tanpa sadar telah melanggar aturanku sendiri." ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Belum pernah Bram merasa apartemennya sehangat itu. Setelah hampir sebulan menghuni apartemen mewah itu, baru sekali saja dia membawa seseorang masuk. Entah sudah berapa kali Alberto merengek, meminta agar Bram mengizinkannya untuk sekedar singgah dan meneggak wine, tetapi selalu ditolak mentah-mentah oleh lelaki itu.


Bram tidak ingin berbagi, sebab dia ingin privacy.


Namun kini, kembali menatap ke meja makan yang telah kembali rapi seperti sedia kala, Bram sempat termenung sesaat. Berfokus dengan dirinya sendiri, Bram menarik napas panjang-panjang.


Mengapa rasanya begitu mudah untuk menyuruh seseorang masuk ke dalam sini? Saat sebenarnya aku tidak ingin siapapun hadir di sini? Mengapa dia berbeda dan mengapa aku merasa nyaman sekali tadi?


Lelaki itu termenung, masih belum bisa mencerna keadaan.


Dia telah berbagi, tanpa sadar. Bram telah membiarkan Marin melangkah masuk ke dalam sana, menciptakan aroma lain selain aroma tubuhnya yang selama ini tercium hingga titik terjauh penjuru ruangan. Tidak ada wangi lain, selain wangi dirinya sebelum ini.


Terlebih kedatangan gadis itu adalah sebab undangannya yang dia tidak fikirkan matang-matang sebelumnya. Memberikan ruang pada Marin untuk melihat seisi apartemennya, Bram tidak menyadari bahwa dia sedang melewati garis batas yang dibuatnya sendiri. Bersikukuh untuk tidak membawa siapa pun masuk, kini Bram nyatanya membiarkan Marin meninggalkan kenangan indah di sana.


Ah, Marin. Mengapa semuanya terasa mengalir begitu saja? Seperti air yang melalui muara tanpa dipandu, kau kini masuk dalam kehidupanku tanpa pemberitahuan lebih dulu. Apa aku harus bersiap untuk kemungkinan yang terjadi di kemudian hari?


Kini Bram dapat mengingat dengan jelas setiap jejak yang ditinggalkan gadis itu di dalam sana. Terutama sekali di bagian dapur tempat di mana mereka tadi menyantap makan malam bersama-sama.


Beberapa saat kemudian lelaki itu menepi, melangkah kecil menuju balkon untuk membuka lebar jendelanya. Deringan ponselnya terdengar saat dia baru saja hendak berbalik, membuat lelaki itu meraih benda pipih itu segera. Sebuah panggilan dari Alberto, lagi.


"Ada apa?" Suara Bram terdengar pelan, dia tidak tahu mengapa mantan abang iparnya itu suka sekali meneleponnya dan mengganggunya sepanjang waktu.


Terdengar Alberto menyeringai di ujung sana.


"Bram, kau tidak melupakan meeting besok, kan?" Alberto rupanya menelepon untuk mengingatkan, mana tahu Bram lupa bahwa dia punya janji untuk mendampingi Alberto dalam sebuah rapat penting.


Jika tidak mendesak, Alberto juga enggan untuk menelepon lelaki itu pada jam segini. Lebih baik dia bermain game atau tidur sekalian.


Mendesah di sudut bibirnya, Bram menarik napas.


"Tenanglah, bocah. Aku tahu," jawab lelaki itu datar. Tenang, meski pikirannya masih melayang pada tamunya yang baru saja pulang. Melalang buana, sedang menari-nari di alam bawah sadar.


"Baiklah, Bram. Aku sedang berada di dekat apartemenmu, boleh aku mampir? Apa kau punya bir?" Rengekan yang sama yang telah berulang kali didengar oleh Bram, saat dia berpikir dalam hati entah kenapa Alberto begitu penasaran pada isi apartemennya.


Bram berdecak kesal, menahan rasa geram yang mulai merangkak naik. Kini Alberto terdengar benar-benar menjengkelkan.


"Jangan pernah datang!" kecamnya tajam.


***


Bram tidak seperti biasanya pagi ini. Telah bangun bahkan saat waktu belum menunjukkan pukul enam pagi, lelaki itu entah mengapa sungguh penasaran untuk mengintip ke arah pintu tetangga barunya.


Berdiri di balik pintu apartemennya dengan satu mata yang menempel pada lubang kecil, Bram mengawasi pintu apartemen Marin dengan seksama. Menunggu jika tiba-tiba pintu itu terbuka, mana tahu Marin keluar dari sana di pagi buta.


Lelaki itu harus bekerja pagi ini. Dan jangan lupakan dia juga memiliki janji temu untuk menemani Alberto untuk menghadiri sebuah rapat penting nanti siang. Dengan bangun lebih pagi, Bram memang sudah berencana untuk menyegarkan badan, bersiaga apabila mungkin dia akan bertemu Marin lagi tanpa sengaja. Mungkin saja mereka bisa menghabiskan waktu bersama untuk sekedar mengobrol di pagi hari atau berolahraga demi membugarkan badan.


Hampir terkejut Bram saat tiba-tiba melihat pintu apartemen Marin terbuka, dan gadis itu telah berada di depan pintunya dengan mengenakan setelan baju olahraga lengkap.


Mau ke mana gadis itu sepagi ini? Tapi melihat dari outfit yang dia gunakan sepertinya Marin ingin lari pagi.


Entah apa yang merasuki lelaki itu. Bram buru-buru membuka pintunya, memasang wajah datar saat maniknya bertemu dengan manik kebiruan milik Marin yang tampak tercengang sebab gerakan mereka yang hampir bersamaan.


"Hai, Bram." Menghentikan langkah sejenak, Marin menoleh untuk menatap pada tatapan Bram, yang juga sedikit terkejut karena Bram muncul di depannya tiba-tiba.


"Kau akan berolahraga, Marin?" Pertanyaan itu meluncur begitu saja terucap dari bibir tipis Bram. Sempat mengutuk dirinya yang terdengar terlalu basa-basi, Bram menyunggingkan satu cengiran. Sudah pastilah Marin ingin berolahraga, tidak mungkin gadis itu akan ke kantor dengan pakaian seperti ini.


Astaga, Bram. Kau payah sekali!


Tersenyum, Marin menggoyangkan rambutnya yang sudah diikat rapi membentuk kucir kuda. Menampilkan leher jenjangnya dengan garis tegas, membuat Bram dapat leluasa melihat ke arah telinga gadis itu yang dipasangi anting-anting berbentuk bunga kecil berwarna putih terang.


"Benar. Kau mau ikut? Lari pagi beberapa menit akan membuat tubuhmu segar, Bram." Ajakan Marin kali ini bukan basa-basi, sebab dia memang berniat untuk mencari sedikit keringat di pagi hari yang cerah itu. Mungkin saja Bram bisa bergabung jika memang dia mau.


Memandangi sekilas outfit yang dia sedang kenakan, Bram meneliti sesaat. Kaus oblong berwarna kuning lembut, dipadu celana santai selutut dengan sendal jepit keluaran brand ternama. Bram tidak berencana untuk lari pagi hari ini, tetapi berjalan santai dan menikmati matahari menghangat mungkin bisa jadi pilihan tepat.


"Baiklah. Aku akan ikut tapi ingin berjalan saja. Bagaimana?"


Lelaki itu tanpa sadar mengutuk dirinya, namun dia harus mengakui bahwa kecupan Marin kemarin malam cukup membuatnya sulit tidur. Dia bahkan mencari di internet, penasaran apakah memang sebuah kecupan adalah salah satu cara sapaan di negeri Perancis sana. Namun semua artikel yang dia baca sungguh tidak memuaskan hatinya.


"Ayo!" Tanpa rasa keberatan sama sekali, Marin telah melangkah lebih dulu dan meninggalkan Bram yang masih terdiam di tempatnya.


Menutup pintu apartemennya dengan baik dan rapat, lelaki itu lalu melangkah pelan untuk mengikuti langkah kaki Marin dari belakang. Berbicara dalam hatinya tanpa suara, Bram meyakinkan diri sendiri dengan mengulang kalimat yang sama berulang kali.


Ini tidak berarti apa-apa. Hanya menghirup udara segar saja. Hanya itu. Tidak lebih, hanya itu.


***


Menyodorkan sebotol minuman, Marin menghampiri Bram yang telah lebih dulu duduk di salah satu bangku taman, tepat di lantai dasar apartemen mereka. Menghirup udara yang belum terlalu tercemar bersama-sama, mereka tampak menikmati saat keduanya memandangi sinar mentari yang mulai naik menyinari.


"Merci (terima kasih)!" Bram berujar dengan senyuman di sudut bibirnya, membuat Marin tertawa kecil.


"Kau kini pandai bahasa Perancis, Bram?" Gadis itu memutar tutup botol, menenggak air mineral itu dengan cepat untuk membasahi kerongkongan yang kering kerontang. Dia telah berkeringat cukup banyak dan air baginya seperti oase di padang pasir.


Bram menggeleng.


"Tidak juga. Sedikit sulit untukku," bisik Bram pelan, sembari melakukan hal yang sama.


Lelaki itu masih berusaha mengatur napasnya, terengah-engah meski dia hanya berjalan beberapa putaran. Berbanding terbalik dengan Marin, gadis itu tampak bernapas dengan tenang, sama sekali tidak kewalahan meski dia berlari mengelilingi taman hampir lima kali putaran.


"Kau terbiasa berolahraga, Marin?" Bram melirik pada Marin yang duduk tepat di sampingnya, sedang mengelapkan sebuah handuk kecil ke daerah tengkuk. Terlihat tetesan keringat pagi di sana, membuat Marin tampak semakin seksi saja.


"Yah, begitulah Bram. Aku suka bergerak di sela-sela waktu senggang." Marin menjawab pertanyaan Bram dengan cepat.


Berdehem pelan, Bram kembali bersuara.


"Kau jago berlari. Kau juga jago berenang. Apa lagi yang kau kuasai, Marin?" Bertanya penuh rasa penasaran, saat tiba-tiba Bram merasa dia ingin tahu sedikit saja lebih banyak mengenai gadis itu.


Tersenyum, Marin memalingkan wajahnya untuk membalas tatapan Bram yang kini terpatri padanya.


"Tidak banyak, Bram. Kurasa hanya itu. Oh iya dan satu lagi, aku memiliki sertifikasi penyelam tingkat ahli." Berujar santai gadis itu, seolah-olah ringan sekali.


Manik Bram membesar.


Jadi kau adalah seorang penyelam juga, Marin? Kini aku semakin penasaran siapa kau sebenarnya?


"Aku tidak menyangka. Itu bagus sekali!" seru Bram bersemangat. Masih diliputi rasa kaget, kali ini bercampur dengan rasa kagum.


Tertawa kecil, Marin telah bangkit berdiri.


"Ayo, Bram. Kau tidak ke kantor?"


Bram melirik arlojinya, hampir pukul tujuh pagi. Dia harus bergegas jika dia tidak ingin terjebak di untaian panjang kemacetan lalu lintas. Mengeluarkan ponsel dari saku celana pendeknya, Bram menyodorkannya pada Marin.


"Berikan aku nomor ponselmu," katanya cepat.


Marin tersenyum kecil, memandangi ponsel yang ditujukan Bram padanya sebelum meraihnya pelan.


"Mana tahu aku berniat untuk belajar menyelam suatu saat nanti," lanjut Bram lagi, mencari-cari alasan yang tepat. Setidaknya dia tidak ingin ketahuan begitu cepat.


Bukan itu yang menjadi tujuanmu, Bram. Tetapi baiklah, alibimu bagus juga saat ini.


Marin mengetikkan nomor ponsel lokalnya pada ponsel Bram, mengembalikan ponsel itu pada sang pemilik dengan deretan angka di layar.


"Sampai bertemu, Bram. Aku sudah terlambat." Marin melambaikan tangan, telah berlari kecil menuju arah pintu masuk apartemen dan siap untuk menunggu lift.


Bram masih memegangi ponselnya di tangan kanan, membiarkan sinar matahari terus memanasi tubuhnya. Mengetik nama gadis itu dengan lengkap di sana, Bram telah menyimpan nomor ponsel Marin.


Biar kusimpan kontakmu dengan nama lengkapmu kali ini. Apakah suatu saat nanti akan berubah, kita lihat saja nanti.


.


.


.


🌾Bersambung🌾


~Selamat membaca, jangan lupa like dan vote yaa.. makasih banyak semuanya 😊