
“Manikmu masih sama, memancarkan sinar yang terus aku damba. Tidak berubah, sama seperti aku yang tidak pernah berubah.” ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Alberto mengerucutkan bibir. Dia hampir saja terlelap saat suara pintu terdengar dan membuatnya tersentak. Mendapati sosok Bram yang berjalan mendekat, lelaki itu mendengus kesal.
“Kau tahu jam berapa ini, Bram?!” teriaknya kesal.
Yang diteriaki hanya menggelengkan kepala, tidak menaruh peduli sama sekali.
“Kau sudah makan kan, Al?” Sedikit saja rasa kemanusiaan Bram untuk lelaki itu.
Alberto kembali berdecak.
“Kau benar-benar membuatku kelaparan, Bram. Aku menunggumu lama sekali dan kau tidak mengatakan apapun untuk permintaan maaf?!” Menaikkan nada suaranya, Alberto berlagak seperti orang yang sedang marah besar.
Memperhatikan sekeliling dengan seksama, kali ini Bram yang gantian mendengus.
“Kau mencoba berbohong, Al? Lihat itu!” gusarnya sembari menunjuk pada tumpukan kotak makanan di atas meja makan mereka, bekas siapa lagi kalau bukan bekas Alberto. Percuma saja lelaki itu mencak-mencak, dia tidak lihai sama sekali untuk urusan berbohong.
Meringis, Alberto menahan tawa sebab dia telah tertangkap basah. Bangkit dari posisinya, kini dia duduk dengan memeluk sebuah bantal di atas kasur.
“Jadi, kau menyelesaikannya? Kau menemukan orang itu?” tanya Alberto penasaran.
Bram tidak menjawab. Melangkahkan kaki ke arah kulkas untuk mengambil bir dingin, lelaki itu sudah berbelok ke arah sofa dan mengempaskan tubuh kekarnya di atas sana.
“Sudah selesai. Kita akan kembali secepatnya,” ujarnya cepat, sebelum menenggak bir itu dengan terburu-buru.
“Ah, begitu. Baguslah jika sudah selesai, Bram. Tetapi apa kita tidak bisa tinggal lebih lama?” Sudah pasti membujuk Bram untuk tinggal agar bisa bersenang-senang.
Bram menjauhkan kaleng birnya. Dia akan menelepon ayahnya besok pagi, menanyakan bagaimana kabar lelaki tua itu sekarang. Jika memang kesehatan ayahnya terus membaik, sepertinya tinggal untuk beberapa hari lagi tidak masalah. Selain perjalanan yang akan mereka tempuh cukup menguras tenaga, mungkin dia akan berkunjung ke tempat Madam Moina untuk menyapa wanita baik itu dan anaknya George.
“Apa kau berada di rumah itu hingga sore begini, Bram? Kau sudah makan?” Tidak mendapati jawaban Bram, Alberto kembali mengajukan pertanyaan. Menatap wajah Bram yang tampak kusut dan lelah, tiba-tiba dia khawatir apakah lelaki itu sudah makan atau belum.
“Kau khawatir padaku sekarang?” balas Bram cuek.
Alberto menyeringai, mengusap rambutnya pelan.
“Tidak juga. Aku hanya ingin menunjukkan perhatian agar kau bersedia tinggal beberapa hari. Bagaimana menurutmu?” Masih belum menyerah juga rupanya Alberto.
Bram menghela napas panjang, tidak lagi menatap pada wajah Alberto. Menarik kembali kaleng birnya, dia menenggak isinya hingga habis tak bersisa dalam satu tegukan. Bangkit, lelaki itu berjalan menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Membiarkan pancuran air membasahi wajahnya, lelaki itu juga membiarkan ingatannya melayang jauh entah kemana. Setelah pergi dari kediaman Luke tadi, entah bagaimana lelaki itu secara refleks meminta pada supir taksi untuk merubah tujuan.
Seharusnya dia sudah kembali ke apartemen milik Alberto sejak siang, tetapi di tengah jalan dia meminta agar supir itu membawanya ke Musee du Louvre. Tidak mengerti apa yang dia sedang fikirkan, Bram hanya memintanya begitu saja.
Memandangi jalanan dan pemandangan dari kaca jendela, Bram sempat termenung selama perjalanan. Mengingat kembali tempat itu, tempat di mana dia pernah memiliki kenangan bersama seseorang. Kenangan yang entah mengapa kini berhasil mencuat kembali, seolah kenangan itu memang tidak pernah hilang dari sana.
Mengapa aku masih begitu jelas mengingatmu? Mengapa begitu sulit untukku hidup tanpa bayang-bayangmu? Apakah kau sehat? Apa kau sudah menjadi seorang ibu kini?
Menatapi dinding marmer kamar mandi yang dikelilingi kaca, Bram berperang dengan dirinya sendiri. Tahu bahwa apa yang dia rasakan ini adalah sebuah kesalahan, dia begitu berusaha untuk bangkit. Menutup mata, berharap dia tidak lagi merasakan hal yang sama. Menguatkan diri, agar setelah ini dia tidak lagi tidak mengenal dirinya sendiri.
***
Bram menggigit sepotong besar roti baguette yang dibelinya baru saja. Mengedarkan pandangan ke penjuru mall yang besar nan mewah, dia sedang berada di salah satu food court untuk mengisi perut. Alberto pamit untuk menyelesaikan urusan panggilan alamnya, meninggalkan lelaki itu yang kini tampak sendirian di tengah-tengah sekumpulan orang khas Parisian.
Tidak kunjung mendapati tanda-tanda kedatangan Alberto, Bram bangkit dari kursinya dan melangkah untuk menuju sebuah stand minuman. Mengambil antrian tepat di belakang seorang pria dengan rambut pirang menyala yang sedang mengenakan headphone, Bram juga berusaha untuk menikmati waktu selagi dia menunggu gilirannya tiba.
Saat tak lama kemudian seorang wanita paruh baya mendekat dan mengambil posisi antrian tepat di belakangnya, lelaki itu menoleh sekilas. Bersitatap dengan wanita yang tampaknya juga berasal dari ras Asia, Bram sempat menaikkan ujung bibir untuk membentuk sebuah senyuman tipis.
Menurunkan pandangan pada stroller ganda yang dipegangi ibu paruh baya tadi, Bram tanpa sengaja menatap pada dua orang bayi kecil yang sedang berceloteh di dalam sana. Dua bayi yang mungkin saja kembar, jika dilihat-lihat dari kemiripan antar keduanya.
Menaikkan kedua tangan dan menendangkan kaki ke udara dengan kompak, bayi-bayi itu mengeluarkan suara khas bayi yang terdengar begitu menggemaskan. Kulit putih bersih dengan rambut kehitaman, tampaknya kedua bayi itu tidak sepenuhnya memiliki darah Parisian dalam diri mereka. Mungkin saja bayi dari perkawinan antar ras, begitu kira-kira yang disimpulkan oleh Bram dalam waktu yang tidak lama itu.
Bram tidak pernah begitu tertarik pada anak-anak. Dia bahkan tidak ingat bahwa dia punya ketertarikan pada anak kecil, terutama pada bayi, hingga dia menginjak usianya yang sudah melebihi tiga puluh tahun.
Tetapi tampaknya kali ini berbeda, saat kedua bayi yang mengenakan pakaian bermotif mobil dan bus itu tampak begitu menarik perhatian. Tidak bisa menahan diri, bukannya menjauhkan tubuhnya Bram malah menunduk untuk mendekatkan tubuhnya pada kedua bayi tadi.
Melemparkan senyuman lebar dan mencoba menciptakan suara untuk menarik perhatian bayi-bayi itu, Bram mendapati sang ibu paruh baya juga melemparkan senyuman ke arahnya meski dia tidak mengatakan apapun.
Mendapati senyuman dan balasan tawa dari bayi-bayi mungil tadi, ada perasaan hangat yang tiba-tiba menjalar ke dalam hati seorang Bram Trahwijaya. Tidak biasanya dia demikian, untuk sejenak dia berfikir mungkin dia telah terlambat untuk memiliki seorang anak. Menepis fikiran itu jauh-jauh, dia hanya menganggap bayi-bayi itu menyukainya, sama seperti dia yang begitu tertarik dengan keberadaan mereka.
Melambaikan tangan untuk memberikan ucapan selamat tinggal, Bram masih melebarkan senyuman selebar wajahnya sebelum dia perlahan menegakkan tubuh kembali.
Hanya sekian detik, lagi-lagi hanya sekian detik.
“Bram?”
Suara itu lagi, suara khas yang selalu dirindukan Bram setiap malam tanpa dia sadari. Saat menyadari namanya dipanggil, refleks lelaki itu menoleh ke arah sumber suara, bersitatap dengan wanita dengan manik kecoklatan. Wanita yang pernah menjadi miliknya, dulu.
Merasakan waktu seakan berhenti berputar, Bram hampir tidak mampu menguasai diri. Bibirnya kelu, saat dia mencoba mengumpulkan segenap jiwanya yang hampir terbang.
Dengan terbata, dia tidak menyangka akan memanggil nama itu lagi dengan bibirnya sendiri.
“Diandra?”
.
.
.
🗼Bersambung🗼
~Huehuehue apa kira-kira yang akan terjadi pemirsah?~ Sampai ketemu dua bulan lagi 😂🤣