Travelove~

Travelove~
100. Pemegang Kuasa (1)



"Jaga wanitamu. Karena bisa saja ia tidak menarik di matamu, tetapi sempurna di mata pria lain." ~Alberto Vigez.


.


.


.


Alberto tidak gentar. Meski ia tahu jaraknya dengan sang pria beralkohol hanya sekian senti meter, lelaki itu tidak menutup mata bahkan saat pria itu telah mengambil ancang-ancang untuk kembali menghajarnya. Memberikan bogem mentah mungkin, akibat kalimatnya yang membangkitkan amarah.


Belum sampai tangan kokoh pria tadi di wajahnya, suara seseorang yang datang dari arah berbeda terdengar nyaring. Yang mana otomatis mengalihkan perhatian mereka secara bersamaan.


"Joe, apa kabar?" Begitu panggilan itu terdengar datar, sepertinya diliputi perasaan jengah dari orang yang bersuara.


Pria itu--Joergen Swarg, memalingkan wajah secepat kilat. Tidak ada yang berani memanggil namanya seperti itu, kecuali beberapa orang penting yang sudah jelas memiliki posisi lebih kuat darinya.


Memicingkan mata, baik Alberto atau Joergen memperhatikan pada siluet bayangan dua pria yang melangkah bersamaan, dengan derap langkah tanpa ragu memasuki markas besar Swarg.


Itu Bram, Alberto berseru dalam hati. Menarik napas lega sebab dia ternyata masih memiliki kesempatan untuk hidup, saat sang penyelamatnya telah hadir di sana.


Joergen terpaku. Siluet tamu yang tidak diundang itu tampak semakin mendekat, sebelum kemudian ia menyadari ada yang tidak beres.


Ke mana semua anak buahnya? Mengapa dua brengsek ini bisa menembus masuk ke dalam sana?!


Temaram lampu tidak membantu banyak, saat Joergen mundur dari tempatnya berdiri untuk memperhatikan lebih seksama pada sosok yang kini semakin mendekat.


Aroma alkohol yang tertanam di bajunya seakan-akan kalah saing, dengan aroma parfum maskulin dari pria yang kini berada tidak jauh dari hadapannya.


Roman menghentikan langkah. Diikuti dengan langkah Bram yang juga terhenti tepat di sampingnya, lelaki itu mengeluarkan kotak rokok dan sebuah pemantik.


"Joe, Joe. Setelah sekian lama, kau masih saja menjadi tikus kecil, ya?" Sapaan Roman kali ini terdengar lebih seperti ejekan, saat pria itu sudah menyelipkan satu batang rokok di ujung bibirnya. Menekan pemantik yang membuat api menyala kecil, saat Joergen dapat melihat dengan jelas sosok Roman melalui cahaya yang diciptakan pemantik itu.


Sialan. Brengsek ini lagi, maki Joergen dalam diam. Tidak menyangka siapa yang akan datang ke markasnya kali ini, saat tiba-tiba tubuhnya mendadak tegang.


"Mengapa kau datang ke sini? Apa urusanmu?!" Suara Joergen terdengar keras, tetapi bisa dipastikan level percaya dirinya tengah berkurang drastis dibandingkan beberapa saat yang lalu.


Roman mendelik. Bermain dengan kutu seperti Joergen tidak pernah ada dalam kamusnya, saat seharusnya dia sedang tidur lelap sekarang. Mentari hampir saja muncul, tetapi gudang menyedihkan yang dipilih Joergen untuk ia gunakan sebagai markasnya ini, tampak masih gelap temaram.


"Kau bertanya mengapa aku datang, Joe? Kurasa kau harus lebih hati-hati dalam memukul seseorang, benar kan?" Roman maju dua langkah, mengembuskan asap rokoknya tepat di depan wajah Joergen.


Membuat pria itu kembali memaki dalam hati, saat kedua tangannya kini mengepal di kedua sisi tubuhnya.


Roman sang dominan, Roman sang pemilik kuasa. Joergen tahu dia tidak ada apa-apanya saat berhadapan dengan sang Jaguar, terlebih saat ia mengingat bahwa ia pernah berulang kali memohon agar organisasi The Reds menerimanya untuk bergabung menjadi anggota.


"Dengar, Roman," Joergen menaikkan nada suaranya. "Ini markasku, apa pun yang terjadi di sini adalah tanggung jawabku, jadi sebaiknya kau angkat kaki dari sini!" seru Joergen pongah.


Persetan dengan apa yang mungkin dia hadapi nanti, tetapi setidaknya anak buahnya sedang memperhatikan mereka sekarang. Sebagai bos, dia tidak boleh kehilangan pamor hanya karena tamu dadakan mereka. Terlebih, sang tamu yang kini sedang asyik merokok tampak lebih muda darinya.


Roman tertawa kecil. Mengarahkan satu tangannya ke arah kursi Alberto, sebelum kembali bersuara.


"Lepaskan dia. Dia abangku," ujarnya datar.


Memancing mata Joergen untuk membulat lebar, saat ia tidak tahu sedang bersama siapa dia mencari masalah sekarang.


"Cih!" Joergen kembali meludah. "Orang ini berniat membawa kabur istriku, kau tahu?" tanyanya dengan nada mengejek.


"Abangmu ini berusaha membawa kabur istriku!" jelasnya lagi, dengan teriakan yang menggelegar.


Alberto bergerak. Hentakan di kursinya terdengar samar, saat ia berusaha untuk melepaskan diri dari ikatan kursi itu.


Pria itu menoleh. Tatapannya sedalam lautan, dipenuhi amarah yang memuncak.


"Diam!" Joergen kehabisan kesabaran, saat melihat betapa lelaki yang menjadi tawanannya kali ini begitu peduli pada istrinya.


Mengabaikan Roman yang masih mengisap rokoknya, Joergen dengan cepat meraih pistol yang berada di saku celana belakangnya sejak tadi, bersiap untuk mengarahkan kembali moncong benda itu ke kepala Alberto.


"Tidak!" Bram refleks bersuara. Terlalu khawatir akan apa yang mungkin saja dilakukan Joergen pada sepupu iparnya, lelaki itu beringsut maju tanpa sadar.


Roman mendelik. Menendang tulang kaki Joergen yang tepat membuatnya tersungkur, kehilangan keseimbangan saat pistol itu jatuh terhempas ke tanah.


Semuanya terjadi begitu cepat. Kali ini tanpa sadar anak buah Joergen sudah berlarian mendekat dari segala penjuru, mengepung mereka di bagian tengah.


Bram meraih ikatan tangan Alberto. Membuka tali itu dengan cekatan, saat Roman dan Joergen saling melempar tatapan mematikan. Bram mengambil kesempatan yang tidak banyak itu untuk melepaskan Alberto, sembari membisikkan sesuatu. "Kau tidak apa-apa, Al?"


Alberto mengangguk. Meski tubuhnya terasa remuk redam, tetapi hatinya masih menyimpan dendam membara pada pria tengik itu. Mungkin saja perkelahian akan menyegarkan badan, sekalian saja dia terhuyung jika memang nanti dia ditakdirkan untuk pingsan.


Bram bangkit. Berdiri tegak sembari memeriksa keadaan, menghitung jumlah pria berbadan tambun yang mengelilingi mereka. Tatapan mata Joergen pada Roman sudahlah pasti penuh amarah, mungkin juga bercampur kebencian di dalam sana.


Tetapi anehnya manik Roman tampak begitu tenang, seolah-olah banyaknya anak buah Joergen di sana tidak mencuri atensinya sama sekali. Membuang puntung rokoknya sembarangan, Roman tidak gentar sedikit pun. Pria itu tampak setenang air.


Bram tidak pernah menduga akan berada dalam situasi seperti ini bersama Roman, saat kini lelaki muda itu tampak begitu menakutkan. Tidak menyangka Roman Alvero--yang hanya dikenalnya sebagai salah satu pewaris tunggal perusahaan raksasa, bisa sedemikian menakutkannya sekarang.


Joergen terjatuh. Darah mengalir deras dari hidungnya saat ia tersungkur ke lantai, dengan telapak sepatu Roman yang tepat berada di atas dadanya. Membuatnya kesulitan bernapas, meski ia tidak berniat untuk menyerah.


"Lepaskan istrimu. Carilah mainan baru, oke? Kurasa abangku tertarik pada perempuan itu, bagaimana menurutmu?" tanya Roman datar, tenang sekali saat maniknya menyorot lurus pada tubuh Joergen yang ia tahan dengan kaki di bawah sana.


Joergen menggeliat. Berusaha melepaskan kaki Roman dari tubuhnya.


"Lepaskan, sialan!" Rupanya meski dengan napas tersengal, pria itu masih punya nyali untuk memaki.


Roman menyeringai tipis. "Menyiksa wanita hanya dilakukan oleh tikus kecil, bukan begitu, Joe?" tanyanya lagi. Belum melonggarkan pijakannya sama sekali, yang semakin membuat napas seorang Joergen Swarg sesak.


"Diam!" teriakan tidak bertenaga dari Joergen membuat Roman terkikik kecil, belum berniat untuk menyudahi aksi bersenang-senangnya pagi ini.


Alberto mengedarkan pandangan. Memperhatikan sekitar saat begitu banyak kini pria tambun yang sudah tersungkur dan meringis kesakitan, sedang beberapa lagi masih sibuk menangkis pukulan dan tendangan dari anggota The Reds yang masih berdiri tegak.


Mendapati pria yang datang bersama Bram tadi sedang menginjak dada Joergen di lantai, hatinya berseru senang. Menoleh ke arah Bram yang berdiri di sampingnya, maniknya refleks melebar saat mendapati seorang pria gendut sedang mengarahkan broti berukuran sedang ke arah kepala Bram.


"Awas, Bram!" teriaknya sekuat tenaga.


Terlambat. Bram tersungkur ke lantai, ketika kemudian sang pria yang membawa broti tadi kini menerima pukulan bertubi dari salah satu anggota Roman.


Teriakan Alberto tadi mengalihkan perhatian Roman, saat kemudian ia menyadari Alberto sedang memapah Bram untuk keluar dari gudang menjijikkan itu.


Kembali menatap Joergen yang masih berusaha untuk melepaskan kakinya, Roman berkata penuh nada kekesalan.


"Kupastikan kau hancur kali ini, Joe. Karena kau menyandera sembarangan orang, dan karena anak buahmu memukul abangku."


.


.


.


🗼Bersambung🗼