
"Jika kau ingin tempat bersandar, maka aku siap untuk memberikan bahu atau tubuhku sekalian untukmu." ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Leah memperhatikan Marin yang tampak melamun. Tidak seperti biasanya, gadis itu tampak linglung siang ini. Terbukti dengan maniknya yang terus menerawang ke arah luar ruangan kerja Leah sembari jemarinya memainkan sebuah bolpoin di atas kertas kosong. Mencoret kertas itu tanpa arti, Marin masih memikirkan hal yang dia dengar pagi ini dari sumber informannya. Sedikit berharap dalam hati bahwa apa yang telah didapatkan Michael adalah sebuah kesalahan, namun hatinya tetap bertanya-tanya dan semakin penasaran siapa sebenarnya wanita Jepang yang menjadi misinya kali ini.
Menaruh gelas tinggi berisi orange juice di meja tepat di hadapan Marin, Leah melambaikan tangan persis di depan wajah gadis itu.
“Marin, kau sedang banyak fikiran?” bertanya pelan Leah pada sepupunya itu, khawatir dia mungkin saja mengganggu Marin dengan pertanyaannya.
Marin menoleh sekilas, melirik pada Leah dengan tatapan kosong tetapi kemudian dia bergerak untuk memperbaiki posisi duduknya.
“Le, kau ingat bahwa aku datang ke sini dengan sebuah misi dari Papap?” Sudah menegakkan badan, Marin memulai obrolan yang tampaknya akan sedikit serius.
Menggangguk kecil, Leah meraih gelasnya.
“Tentang menemukan Kobayashi-san?”
“Benar. Kau tahu apa yang sudah kutemukan hingga pagi tadi?”
Leah menunggu. Dia hening, tetapi maniknya terpatri dalam pada manik Marin. Pastilah sesuatu yang sangat di luar dugaan, sebab Marin kini tampak begitu berbeda dari dirinya.
Marin menarik napas. Mengikuti gerakan Leah yang telah menyesap minumannya, dia juga melakukan hal yang sama dengan meraih gelas miliknya.
“Kau tahu? Papap ternyata menyuruhku untuk membawa seseorang yang telah meninggal belasan tahun lalu.”
Leah melongo. Reaksi yang persis sudah diduga Marin sebelum gadis itu bersuara.
"Astaga, Marin! Jadi Kobayashi-san yang kau cari ternyata sudah meninggal?!” Bertanya untuk lebih memastikan, Leah tampaknya juga benar-benar terkejut.
Marin menganggukkan kepala, tampak lemas dan tidak berdaya.
“Dan satu hal lagi. Michael menemukan bahwa dia memiliki rekening di Bank Swiss dengan nilai investasi jutaan dollar. Hanya saja Michael tidak bisa menemukan siapa ahli waris yang dapat mencairkan dana itu sebab si pemilik sudah tiada. Ini semakin sulit untukku, sungguh,” Marin berujar panjang lebar. Mengusap keningnya beberapa kali, gadis itu memang tampak sedang berfikir berat.
Leah ikut menarik napas.
“Kau sudah menghubungi paman tentang ini?” tanya Leah gadis itu kemudian.
Masih menunduk Marin, menggoyangkan kakinya di atas karpet.
“Tidak, belum. Aku tidak tahu mengapa Papap memberikan misi ini padaku dan apa yang harus aku lakukan kemudian. Mengapa dia tidak menyerahkan jabatan pemimpin klan Schoff begitu saja, sih? Mengapa dia repot-repot memberiku misi jika pada akhirnya aku juga yang akan memimpin klan itu?” Nada suara Marin terdengar kesal saat menahan semua pertanyaan yang muncul, dia mencoba mengambil titik terang dari kenyataan yang mulai terkuak.
Leah mendekat, mengusap pundak sepupunya itu dengan lembut. Dia tahu Marin adalah seorang gadis yang kuat dan tangguh, dan dia yakin Marin pasti mampu menghadapi apapun yang telah disiapkan Luke di belakang semua ini. Tidak yakin apakah dia akan memberikan bantuan meski sedikit, namun Leah sungguh ingin menghibur Marin saat itu juga.
“Tarik napasmu, Marin. Bagaimana dengan makan siang? Kau mau?”
***
Luke menghisap cerutunya. Memandangi ke arah luar pekarangan belakang kediamannya, lelaki yang tampak telah paruh baya itu diam seribu bahasa. Membiarkan asap putih yang mengepul dari ujung cerutunya bersatu dengan alam, Luke masih mematrikan pandangan pada rumput hijau yang tampak jelas terawat dan hamparan bunga-bunga berbagai macam jenis dan warna yang juga memenuhi salah satu bagian rumahnya.
Sebab Marin harus tahu sesuatu. Sebab Marin harus menemukan kenyataan itu dengan tangannya sendiri.
Terdengar menarik napas panjang, Luke sama sekali tidak beranjak dari tempatnya berdiri. Menahan kerinduan yang membuncah pada putrinya, dia sungguh penasaran akan reaksi seperti apa yang mungkin ditunjukkan Marin ketika gadis itu telah menemukan jawaban dari misinya.
Ma Cherry, maafkan Papapmu ini. Aku memiliki kesalahan di masa lalu, dan mungkin saja kau yang harus menebusnya kali ini. Dapatkanlah posisi sebagai pemimpin klan Schoff dengan tanganmu sendiri, sebelum orang lain merampasnya lebih dulu.
***
Bram memasuki parkiran basement. Berjalan cepat saat dia mengantri untuk menaiki lift, tiba-tiba lelaki itu teringat akan seseorang yang muncul begitu saja di kepalanya.
Marin. Bagaimana kabar gadis itu? Apa dia masih merasakan sakit akibat lukanya?
Menimang-nimang dalam hati, Bram telah masuk ke dalam lift saat pintu itu terbuka. Menekan angka sesuai dengan nomor lantainya, Bram telah berniat untuk mengunjungi gadis itu. Kini di sanalah dia, berdiri tepat di depan pintu apartemen Marin dan menekan bel. Menunggu beberapa saat.
Bram masih mematung saat sepertinya tidak ada tanda-tanda kehadiran ataupun sapaan seseorang dari dalam. Telah menekan bel lebih dari tiga kali, kini Bram merogoh ponselnya dengan kening berkerut. Memilih kontak Marin untuk bertanya mengenai kondisi gadis itu, Bram kembali berhadapan dengan nada sambung yang membuatnya kembali menunggu.
Marin tidak menjawab.
Saat nada sambung itu hampir saja berakhir, Bram tersentak kecil sebab suara Marin terdengar begitu pelan di sebrang sana.
“Ya, Bram?”
Bram kembali menatap pada layar ponselnya, memastikan sambungan telepon itu benar-benar terhubung.
“Marin, kau tidak di rumah?” bertanya to the point lelaki itu, sebab dia masih berdiri tegak di posisinya bahkan dengan setelan jas lengkap dan tas yang dia jinjing di tangan sebelah kanan.
Terdengar hingar-bingar musik di ujung telepon.
“Aku sedang berada di luar, Bram.” Marin menjawab singkat. Tetapi nada suaranya terdengar berbeda sekali, seolah-olah dia sedang berada di ambang batas kesadaran.
“Marin, apa kau mabuk?!” Menaikkan nada suaranya, Bram berusaha tetap terhubung.
Terdengar Marin tertawa kecil di sebrang.
“Tidak, Bram. Aku hanya minum sedikit. Kau mau bergabung denganku?”
Bram menggertakkan giginya, tanpa sadar tubuhnya telah menegang.
“Katakan kau dimana, Marin. Aku akan menjemputmu sekarang juga!”
.
.
.
🗼Bersambung🗼
~Selamat membaca kak readers tetap jaga kesehatan yaa~