
"Karena ternyata kau juga memiliki kelemahan, tanpa sadar aku ingin mengambil alih untukmu." ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Memandangi Marin yang tampak sedikit gemetar, Bram tahu gadis itu tidak baik-baik saja. Masih duduk di bangku pengemudi, Bram tidak mampu melepaskan pandangannya dari si gadis bermata biru, yang kini meringkuk di ujung kursi penumpang belakang.
"Bram, aku kedinginan." Suara Marin bahkan terdengar sangat pelan, diiringi dengan desahan kecilnya yang mencoba menghangatkan diri. Upayanya untuk mengusir rasa dingin nyatanya belum berbuah manis, terbukti dengan dirinya yang masih berguncang kecil.
Bram menoleh sekilas. Tangannya cepat memutar tombol pengatur pendingin udara, mematikan mesin itu agar tidak lagi menghembuskan udara dingin ke dalam mobil. Tanpa dikomando, lelaki itu kini telah merangkak cepat, berpindah tempat dari kursi pengemudinya ke arah kursi penumpang belakang, mengambil posisi tepat di sebelah Marin.
"Aku sudah mematikan AC-nya. Apa kau masih kedinginan?" Bram bertanya pelan, meski dia tahu suara deru hujan di luar sana tidak kalah besarnya.
Marin mengangguk kecil. Manik kebiruannya tampak jernih sekali, namun wajahnya mulai memucat.
"Kau basah, Marin. Apa kau membawa baju ganti?"
Kali ini Marin menggeleng. Dia tidak tahu mereka akan terjebak dalam situasi semacam ini, dan tampaknya dia sedang tidak beruntung kali ini. Marin menyukai hujan, berbanding terbalik dengan fakta bahwa dia tidak memiliki kecocokan dengan reaksi yang ditimbulkan hujan itu sendiri. Setiap terkena hujan, dia akan selalu merasa kedinginan. Setiap terkena hujan, dia akan selalu flu. Tidak peduli dimanapun, semuanya akan sama. Terlebih kali ini bajunya basah kuyup, yang semakin membuat tubuhnya menggigil menahan hawa dingin.
Bram mendesah pelan. Dia tidak punya solusi yang tampaknya baik, tetapi dia juga tidak bisa membiarkan Marin kedinginan seperti ini. Hujan di luar masih terlalu deras dan keluar mobil di saat seperti ini bukanlah pilihan yang cerdas. Bram menarik napas pelan, seperti sedang berfikir untuk melakukan sesuatu.
"Marin," panggil lelaki itu pelan. Bram tahu kepalanya hampir pecah, bahkan ketika sebuah ide melintas di sana. Menolak ide itu mentah-mentah, tampaknya Bram mau tidak mau harus bertanya lebih dulu. Mungkin saja idenya kali ini bisa membantu, meski dia tidak tahu apakah ini akan berhasil atau tidak.
Marin menaikkan kepala. Masih menggesekkan kedua telapak tangan guna menghasilkan kehangatan yang tidak seberapa, gadis itu berdoa dalam hati agar mereka bisa segera pergi dari sana.
"Aku tidak tahu apa ini akan membantu. Namun jika kau kedinginan, maka ...," Bram berujar pelan, menggantung kalimatnya.
Maniknya sudah menelusuri manik Marin, seolah dia mengatakan bahwa dia hanya benar ingin berniat membantu saja.
Bram meraih kancing kemejanya, kini kedua tangannya perlahan membuka kancing yang tersisa. Tanpa ragu melepas kemeja yang juga sebagian telah basah itu, Bram telah bertelanjang dada dan menghadap pada Marin dengan dada bidangnya yang begitu jelas terlihat.
Masih tampak bingung Marin, tetapi dia lebih memilih untuk hening.
"Kau bisa memelukku, Marin. Gesekan antar kulit mungkin akan lebih menghangatkan, dibanding kau harus menahan dingin sendiri," Bram berujar kemudian, telah membalikkan badannya ke arah jendela untuk membelakangi Marin.
Marin mengerjapkan mata. Dia tahu kemana arah pembicaraan Bram dan dia masih menimang bagaimana dia akan bereaksi untuk tawaran Bram kali ini. Marin tahu mereka terdesak dan dia benar-benar di ambang batasnya kali ini. Bahkan jari-jarinya sudah mulai berkerut dan bibirnya tampak pucat sekali.
"Bram ...." pelan sekali suara Marin menyebut nama lelaki itu, saat maniknya sudah tertuju pada punggung lebar kecoklatan milik Bram.
"Percayalah padaku, Marin. Aku tidak berniat jahat, sungguh. Aku hanya tidak ingin kau semakin kedinginan," Bram berujar lagi, masih memandangi jendela mobil di depannya tanpa berani melirik ke belakang sedikitpun.
Marin terdengar menarik napas. Tanpa sepengetahuan Bram, gadis itu telah melepas kaus kebesarannya yang basah kuyup, menyisakan kaus dalam bertali satu sepanjang batas perut yang kini melekat pada tubuhnya. Memberanikan diri meski dadanya bergemuruh hebat, Marin berusaha setenang mungkin saat itu.
Beringsut beberapa sentimeter ke arah tempat duduk Bram, Marin telah mengurangi jarak di antara keduanya. Menaikkan kedua tangannya, Marin kini melingkarkan tangan pada tubuh belakang Bram, bersandar pada punggung lelaki itu. Menutup kedua matanya lekat-lekat, Marin dapat merasakan hawa panas yang mengalir dari punggung Bram, kini menjalar ke seluruh tubuhnya. Panasnya tubuh lelaki itu kini terasa menghangatkan, membantu Marin bernapas lebih baik. Kedua lengannya yang dia lingkarkan ke depan dada bidang Bram, entah mengapa terasa sangat nyaman.
"Kau merasa lebih baik, Marin?" Bram masih menahan diri untuk tidak melirik ke arah belakang, meski dia setengah mati penasaran sejak tadi. Merasakan sentuhan kulit gadis itu persis di atas kulitnya, Bram tahu dia sungguh berusaha untuk menahan diri. Dia hanya ingin Marin merasa nyaman, sebab bagaimanapun dia bertanggungjawab atas gadis itu.
Marin tidak bersuara, tetapi Bram dapat merasakan anggukan kecil gadis itu di punggungnya.
"Maaf karena membuatmu terjebak dalam kondisi seperti ini, Marin." Terdengar Bram berujar lagi, memenuhi seisi mobil dengan suaranya yang khas.
"Bukan salahmu, Bram. Aku yang seharusnya berterimakasih sebab kau berusaha membuatku hangat saat ini," Marin mengucapkan kalimatnya dengan pelan, tetapi dapat terdengar jelas oleh keduanya.
Bram masih menegakkan tubuhnya, membiarkan Marin menempel pada punggungnya.
"Apa kau kedinginan, Bram?" Kali ini Marin yang menegakkan kepala, memeriksa keadaan Bram.
Bram tersenyum kecil.
"Tidak. Jangan khawatirkan aku. Aku baik-baik saja, Marin. Buatlah dirimu hangat, setidaknya sampai hujan berhenti dan kita bisa mencari opsi lain setelah ini." Bram berkata tanpa ragu, diam-diam dia bergumam dalam hatinya sendiri.
Ternyata kau juga memiliki kelemahan, Marin. Siapa sangka gadis setangguh kau ternyata melemah oleh hal yang kau sukai sebelumnya?
Hening beberapa saat di antara mereka, saat kemudian Marin kembali menegakkan kepala, kini berangsur menjauhkan tubuhnya dari tubuh Bram. Hujan tampaknya sudah semakin mereda, meski masih turun rinai hujan di luar sana.
"Kau sudah lebih baik?" Belum berani menoleh ke arah belakang lelaki itu, dia kembali membuka suara.
"Sudah, Bram. Kurasa aku sudah lebih hangat," Marin menjawab dengan cepat.
Bram meraih kemejanya, memindahkan baju itu ke arah belakang untuk menyodorkannya pada Marin.
"Pakailah kemejaku, Marin. Setidaknya ini lebih kering dibanding bajumu. Aku bisa mengenakan jaket saja. Kau ingat aku pernah meminjam jaketmu saat di Paris kala itu?" Bram berujar panjang, tangannya masih memegangi kemeja yang sudah dia sodorkan kepada Marin.
Gadis itu tersenyum kecil. Dia ragu, tetapi memang sikap Bram yang sungguh gentlement saat ini tampak manis sekali.
"Baiklah, Bram. Kupinjam dulu kemejamu," ujar gadis itu seraya meraih kemeja milik Bram, mengenakannya dengan cepat untuk menutupi tubuhnya. Kemeja itu tampak kebesaran bagi Marin, tapi setidaknya Bram benar tentang kemejanya yang lebih kering.
"Apa aku sudah bisa menoleh ke belakang?" pertanyaan Bram sungguh sukses membuat Marin tertawa kecil.
"Berbaliklah, Bram."
Kali ini manik Marin yang mengerjap tanpa sadar, memperhatikan bagaimana tubuh bagian atas Bram tampak sangat menggoda sekaligus macho di satu sisi. Kulit kecoklatan lelaki itu serta perutnya yang tampak kotak-kotak, hampir saja membuat Marin kesulitan menghirup oksigen.
Bram buru-buru meraih jaket basahnya di kursi pengemudi, kini menutupi dirinya dengan jaket itu meski kulitnya terasa lembab dan tidak nyaman.
"Aku akan keluar, Marin. Kali ini tunggulah di sini saja." Lelaki itu kini memberikan perintah, sudah bergerak meraih handle pintu sebelum Marin membalas kalimatnya. Meninggalkan Marin yang masih meringkuk meski sudah tidak gemetar, dengan seutas senyum di sudut bibirnya.
Kau tampak luar biasa, Bram. Terima kasih.
.
.
.
🗼Bersambung🗼