
“Jika kelak aku pergi, kumohon jangan pernah memohon agar aku tinggal di sisimu lagi.” ~Marinda Schoff.
.
.
.
Alberto memelototi layar laptopnya. Bram belum juga tiba, meski memang dia tidak punya janji yang spesifik bersama lelaki itu. Memandangi satu file presentasi dalam format Microsoft Power Point yang telah disunting sedemikian rupa, tampak sesekali Alberto mengerutkan dahi. Menganalisis data, menimang sesuatu.
Ketukan di pintu seketika membuyarkan konsentrasi lelaki muda itu saat Agatha, sekretarisnya, telah muncul dari balik pintu. Memiringkan kepala untuk melihat Agatha yang masih berdiri tepat di ambang pintu berwarna coklat tua, Alberto menunggu.
“Pak, Nona Leah dari Lahm Enterprises sudah tiba,” ujar Agatha memberitahu, membuat Alberto mengangguk perlahan.
“Baiklah. Persilakan dia masuk,” perintahnya kemudian.
Menjauhkan kursinya beberapa langkah ke belakang, Alberto tampak merapikan sekilas setelan kemeja dan celana kerja yang dia kenakan siang itu. Dia memang memiliki janji bersama Leah untuk menindaklanjuti proyek mereka tentang investasi di pedesaan tempo lalu.
Proyek yang entah bagaimana sukses membuat Bram dan Marin terjebak beberapa jam lamanya di sana, diguyuri air hujan yang juga menambah kesan suasana romantis. Perjalanan yang membuat Alberto menyesal setengah mati sebab dia memilih untuk mengantarkan maminya ke sebuah acara yang ternyata adalah acara jodoh-perjodohan, tanpa sadar membiarkan Marin lepas begitu saja dari kesempatannya untuk berduaan dengan gadis itu.
Menghela napas, Alberto masih berdiri di depan sebuah cermin panjang saat terdengar pintu ruangannya kembali dibuka. Tamunya telah tiba. Kepala Leah Lahm menyembul dari balik pintu, melebarkan senyumannya untuk meminta izin masuk.
“Kau sudah tiba, Nona Leah? Duduklah.” Alberto sudah memutar tubuhnya, kini berjalan mendekati Leah yang juga mengayunkan langkahnya pelan menuju sofa. Menjatuhkan dirinya dan duduk tegak pada sebuah sofa untuk dua orang, Leah masih memberikan senyumannya pada Alberto yang kini mengambil posisi duduk tepat di hadapan gadis itu.
“Apa aku terlambat?” Suara khas Leah telah memenuhi ruangan, melirik sekilas pada Alberto yang tampak sudah lebih rapi dari pada sebelum Leah datang.
“Tidak juga. Aku hanya sedang memeriksa sesuatu di laptopku. Jadi, bagaimana?” Alberto sudah masuk pada percakapan bisnis mereka, menginvestasikan waktunya untuk mendengar penuturan dan laporan Leah dengan seksama.
Lahm Enterprises adalah sebuah perusahaan yang dapat dikatakan perusahaan anak bawang, belum begitu dikenal di kalangan bisnis dan sepertinya Leah memang punya ambisi kuat untuk memajukan perusahaan yang dia rintis pelan-pelan. Alberto tidak pernah penasaran dengan seperti apa latar belakang dari Leah Lahm sendiri, tetapi saat Marin hadir dan muncul tiba-tiba di pihak Lahm Enterprises, dia sungguh tidak bisa menyembunyikan bahwa dia kini tertarik dengan perusahaan itu.
Lee Coorporation tidak akan mengucurkan dana yang sedikit pada proyek kali ini, itu sebabnya Bram juga telah berpesan kepada sang pemimpin perusahaan yaitu Alberto untuk secara cermat menilai dan menanggapi situasi. Karena jika proyek mereka gagal, maka itu akan cukup berdampak pada perputaran uang Lee Coorporation.
“Baiklah. Jika ada pertanyaan lebih lanjut, kau bisa hubungi aku Tuan Alberto.” Leah menyudahi sesi konsultasi dan diskusi mereka siang itu, menutup dokumen dan menurunkan layar laptopnya tepat di hadapan Alberto. Gadis itu juga tidak berniat untuk berlama-lama di sana, sebab dia masih memiliki agenda lain setelah ini. Belum lagi dia meninggalkan Marin di kantornya, karena gadis itu tidak ingin ikut serta menemui Alberto meski Leah telah mengajaknya sebelum dia pergi.
“Baiklah, Nona Leah. Atau, bolehkah aku memanggilmu Leah saja?” Alberto sudah mengganti posisi duduknya menjadi sedikit lebih santai, tidak lagi menegakkan badan seperti saat diskusi tadi.
Leah menoleh. Maniknya menatap pada manik Alberto dengan lurus, sebelum beberapa detik kemudian dia sudah melebarkan senyuman.
“Baiklah. Kurasa memanggilmu Alberto juga lebih baik, bukan begitu, Al?” jawab Leah kemudian.
Alberto menyeringai. Menyunggingkan sebuah senyuman tipis di sudut bibirnya, lelaki itu tampak menautkan kedua jari-jari di depan lututnya.
“Aku boleh bertanya padamu, Leah?” tanyanya pelan.
Leah mengangguk. Sempat bertanya-tanya di dalam hati mengapa Alberto kini meminta izinnya untuk bertanya, setelah lelaki itu mengajukan bannyak pertanyaan sebelumnya.
“Tentu saja. Kau boleh bertanya. Tentang apa itu?”
Alberto menarik napas.
“Aku tertarik dengan sepupumu Leah, Marinda Schoff. Apa kau tahu apakah dia akan tinggal lama di sini atau tidak?” Alberto tampaknya tidak mampu menahan segudang pertanyaan yang belakangan ini menelusup ke dalam benaknya. Bertanya pada Bram sepertinya hanya akan membuatnya naik darah, jadi dia berfikir mungkin Leah akan memberikannya informasi mengenai Marin.
Leah tampak hening sesaat. Berfikir dalam diam apakah dia harus memberitahu mengenai Marin atau tidak kepada Alberto, dia masih menimang dalam hati.
Jika kuberitahu Marin akan pergi setelah misinya selesai, apa tidak apa-apa? Lagipula Marin dan pria ini tampak pernah bertemu sebelumnya, kan? Apa aku beritahu saja ya?
Leah adalah seorang gadis polos yang hampir tidak mampu menahan diri. Daripada berbohong, dia sungguh lebih memilih untuk mengatakan kebenaran. Jika bisa menghindari dosa, mengapa dia bersusah payah menambah catatan dosanya?
“Hmm, itu ....” Leah tampak masih berfikir, mungkin memilah-milih kata yang akan dia ucapkan.
Alberto masih menunggu.
“Kau benar. Dia memang tidak akan tinggal lama di sini. Ada seseorang yang harus dia temui dan setelah itu dia akan kembali ke Paris,” ujar Leah menjelaskan. Dia sungguh tidak tahu takdir seperti apa yang telah menjerat Alberto dan Marin sebelum ini.
Mengernyitkan dahi, Alberto kini memajukan dirinya sebab dia sudah terlanjur tertarik.
“Begitukah? Apa menurutmu Marin sudah menemukan orang yang dia cari?” Bertanya lagi lelaki itu, awalnya ingin memastikan berapa lama lagi kira-kira waktu yang tersisa agar dia bisa setidaknya mengajak Marin makan malam.
Leah tampak kembali berfikir.
“Uhm, kurasa ....” Menggantung kembali kalimatnya.
Alberto dengan sabar menunggu.
“Yeah, kurasa begitu. Tetapi tidak juga sih. Karena orang yang dicari Marin ternyata tidak lagi berada di sini.”
Alberto kembali mengernyitkan dahi. Masih terlanjur penasaran.
“Tunggu, apa maksudmu? Aku tidak mengerti.” Meminta penjelasan lebih dia.
“Orang yang dicari Marin ternyata telah meninggal belasan tahun lalu. Marin sedang menunggu hingga dia menemukan makam orang itu, sebelum dia mungkin akan pergi dari sini.” Leah sungguh tidak menyadari bahwa dia bercerita terlalu banyak dengan Alberto siang itu.
Memundurkan kembali tubuhnya ke arah kursi, Alberto berniat untuk bersandar pada sofa.
“Ah, begitu rupanya. Aku memiliki rekan yang mungkin bisa melacak orang mati. Kau tahu siapa nama orang yang dicari oleh Marin? Mungkin aku bisa membantunya menemukan orang itu.” Alberto telah kembali bersuara, masih merasa tertarik meski dia tidak tahu apa yang sedang terjadi. Dia hanya ingin membuat Marin terkesan jika dia memang benar-benar bisa membantu gadis itu.
Leah mengangguk kecil.
Yah, tidak ada salahnya juga untuk memberitahu. Mungkin saja lelaki ini memang benar bisa membantu.
“Kobayashi-san. Hanya itu namanya. Selebih itu, tidak ada petunjuk lainnya lagi.” Suara Leah kembali terdengar memenuhi ruangan, saat tiba-tiba Alberto membesarkan bola matanya.
Kembali duduk tegak, lelaki itu tampak sedikit terkejut dengan apa yang baru saja dia dengar.
“Apa kau baru saja menyebut Kobayashi-san?” tanyanya memastikan.
Leah mengangguk kecil.
“Hanya itu petunjuk yang Marin punya. Seorang wanita Jepang bernama Kobayashi-san yang telah meninggal dunia. Entahlah, aku tidak tahu apa Marin akan menemukannya atau tidak.” Terdengar seperti nada suara menyerah Leah kala itu.
Tidak bersuara untuk beberapa saat, Alberto masih hening dan larut dalam fikirannya sendiri.
Kobayashi-san? Kobayashi-san? Tidak mungkin dia, kan?
.
.
.
🗼Bersambung🗼