
“Jika mungkin saja kita ditakdirkan seperti itu, maka kelak apa yang kira-kira harus aku lakukan padamu?” ~Marinda Schoff.
.
.
.
Alberto terperangah.
Benarkah? Apa aku memang tidak salah dengar? Benar ibunya Bram memang memiliki nama lain Kobayashi-san? Apakah dia yang sedang dicari oleh Marin? Tetapi ah, tidak mungkin. Dunia sungguh sempit jika memang itu benar-benar terjadi.
“Kau kenapa? Ada apa dengan nama ibuku, Al?” Bram bertanya pelan, maniknya masih mengawasi. Meski dalam hati dia mulai bertanya-tanya tentang apa yang mungkin membawa Alberto tiba-tiba membahas mendiang ibunya.
“Ah, tidak ada, Bram. Aku hanya penasaran,” jawab Alberto cepat, berusaha keras menyembunyikan rasa terkejut yang mulai merangkak naik. Masih sibuk dengan fikirannya sendiri, akhirnya lelaki itu memilih untuk meraih kembali kaleng birnya dan menenggak isinya dengan cepat.
Tidak, tidak mungkin.
Bola mata Alberto masih melirik pada Bram sesekali, memperhatikan lelaki itu yang kini memegangi paha ayam di tangan kanannya.
“Kau mau?” Merasa diperhatikan dengan tidak lazim, Bram balas menatap pada Alberto.
Alberto menggeleng. Entah mengapa rasa inginnya atas ayam goreng krispi itu telah menguap entah kemana, digantikan dengan rasa penasaran yang sungguh membuncah. Tetapi dia memilih untuk diam, tidak lagi membahas tentang hal yang memenuhi benaknya.
***
Marin hampir saja terlelap, saat suara deringan ponselnya terdengar sangat nyaring. Meraba ke arah bawah bantal meski dengan malas-malasan, gadis itu akhirnya menemukan benda pipihnya terletak tak jauh dari tempatnya berbaring. Memicingkan mata untuk sekilas membaca nama si penelepon, Marin langsung berusaha untuk duduk tegak begitu mendapati nama Michael tertera di layar. Sempat melirik sekilas pada jam yang terpasang di dinding, gadis itu menyadari pastilah telepon dari Michael adalah sebuah telepon penting, mengingat waktu kini telah menunjukkan hampir pukul dua pagi.
“Ya?” Suara serak Marin menyambut panggilan itu, menunggu sapaan sang penelepon di sebrang sana.
“Marin, maaf membangunkanmu di pagi buta seperti ini,” balas Michael.
Marin berdehem pelan. Semakin menegakkan tubuhnya, gadis itu sudah lebih sadar dari sebelumnya.
“Tidak masalah. Ada apa?” Bertanya meski dia sudah tahu pastilah itu mengenai misi yang dia berikan pada Michael. Misi untuk mencari sang Kobayashi-san.
Terdengar Michael menarik napas panjang di sebrang sana.
“Ini menarik, Marin. Kurasa sungguh client-mu memang bukanlah orang sembarangan,” Michael kembali bersuara, membuka pembicaraan memang mengenai misi mereka. Apa lagi yang bisa membuat lelaki itu menelepon Marin di pagi buta seperti ini?
“Apa maksudmu?”
“Kau tidak merasa misi ini sungguh sulit, Marin? Kau hanya diberikan selembar foto sebagai petunjuk dan ternyata orang yang kita cari tidak lagi hidup. Kini aku menemukan satu fakta lainnya,” ujar Michael.
“Lanjutkan,” pinta Marin dengan cepat seraya memasang indera pendengarannya dengan sangat baik, tidak ingin melewatkan satu hal pun yang dia dengar pagi itu.
“Baiklah. Dengarkan aku.” Michael sudah mendapati nada tidak sabar dari Marin, kini dia yang tidak sabar untuk menanti reaksi seperti apa yang mungkin diberikan gadis itu.
“Kobayashi-san yang kau cari, aku telah menemukannya,” Michael merendahkan nada suara, sengaja menggantung kalimatnya guna menunggu reaksi Marin beberapa detik.
Marin mengerjap.
“Benarkah? Kau sudah konfirmasi?” Nada suara Marin mendadak meninggi, pertanda dia sungguh tertarik kali ini. Inilah yang dia tunggu-tunggu, inilah akhir dari misinya.
“Kau bisa mengkonfirmasi lagi nanti jika kau ingin. Tetapi sejauh ini, beberapa petunjuk mengarah dan mulai mengerucut pada satu orang.”
Michael mengambil jeda beberapa detik lagi.
“Namanya adalah Ki Rei. Seorang gadis Jepang yang bermigrasi setelah menghapus semua catatan sipilnya dan menikah dengan seorang pria berkebangsaan Indonesia. Memiliki riwayat tinggal beberapa tahun di Paris, kemudian jejaknya menghilang begitu saja.” Michael memberikan penjelasannya satu per satu.
Kali ini sukses membuat Marin menganga, menahan keterkejutannya yang mulai masuk ke dalam relung hati.
Paris? Jadi benar dia pernah menjalin kisah dengan ayahku?
“Kau menemukan keluarganya?” Marin bertanya pelan, dengan nada suara hampir gemetar sebab menahan kecanggungan. Tidak yakin apakah dia sendiri akan mampu menerima fakta jika Michael benar-benar telah mengungkap identitas dari misinya.
“Hanya satu nama. Aku hanya menemukan satu nama yang cocok setelah pencarian panjang,” menjawab dengan nada lelah sepertinya Michael, namun dia terlalu tidak sabar untuk menyampaikan berita itu pada Marin.
“Katakan, Michael. Kau menemukannya?” Marin terdengar bertanya semakin tidak sabar.
“Trahwijaya. Itu adalah nama dari suaminya, tetapi aku tidak bisa memastikan Trahwijaya yang mana yang benar-benar memiliki hubungan keluarga dengannya. Ada hampir ratusan Trahwijaya di Indonesia dan sepertinya masih sulit jika kau ingin menemukan keluarganya.”
Bagai dihantam batu besar ke seluruh tubuhnya, Marin menegang. Mendengarkan dengan seksama kata ‘Trahwijaya’ yang mengudara, Marin sempat menggigit bibir. Hening melingkupi Marin, seiring dengan degupan jantungnya yang mulai tidak karuan. Fikirannya telah melalang buana kemana-mana, saat yang muncul dibenaknya hanyalah satu orang saja. Lelaki itu, Bram Trahwijaya.
Tidak mungkin. Apakah benar Trahwijaya yang aku kenal? Tidak mungkin kau kan, Bram?
“Marin? Kau masih di sana?” Suara Michael menyadarkan Marin dari lamunannya yang telah mengambil alih, membuat gadis itu tersentak seketika.
“Ah, aku di sini. Apa kau memiliki petunjuk lainnya, Michael?” Suara gadis itu benar-benar pelan, saat mungkin dia tidak tahu harus berbuat apa ke depannya jika memang yang dia fikirkan benar-benar terjadi.
“Marin? Kau baik-baik saja?” Mendapati nada dan volume suara Marin yang berubah, Michael tidak langsung menjawab pertanyaan gadis itu.
Terdengar Marin berdehem pelan.
“I’m okay. Lanjutkan, Michael.”
“Baiklah. Aku menemukan makamnya, jika memang kau berniat untuk mengunjungi makam itu maka kita bisa pergi besok siang. Bagaimana?”
Marin berusaha mencerna kata-kata Michael dengan baik, menarik napas pelan-pelan untuk memenuhi rongga dadanya. Dia ingin sekali menggeleng, sungguh tidak sanggup membayangkan jika memang dugaannya kelak menjadi sebuah kebenaran. Tidak ingin memperpanjang misinya kali ini, meski dia tahu Luke tidak akan bermain-main dengan konsekuensi yang mungkin dirinya dapatkan. Masih mengambil waktu lebih lama untuk berfikir matang-matang, Marin berusaha menimang dengan baik tindakan yang akan dia ambil. Tidak ingin menyesali pilihannya di kemudian hari, gadis itu terus merapal doa dan memohon kekuatan.
Semoga itu bukan kau, Bram. Jika itu adalah benar kau, bagaimana aku bisa menyelamatkanmu dari cengkraman Schoff? Apa kira-kira yang akan dilakukan Luke padamu jika memang kaulah yang dia cari?
“Marin?” Lagi-lagi suara Michael menyadarkan Marin yang masih hening, membuat gadis itu tersadar perlahan.
“Baiklah. Kita pergi besok,” jawab Marin kemudian, telah memilih sebuah keputusan sulitnya pagi itu.
Sesaat setelah Michael mengucapkan selamat tinggal dan menutup telepon, Marin masih mematung dan memandangi ke arah acak. Berpusat dengan fikirannya sendiri, gadis itu berusaha untuk tenang dan menguasai diri.
Aku berharap itu bukan kau, Bram. Aku bahkan bersedia berdoa ratusan malam dan memohon itu bukan kau. Kumohon Bram, jadilah Trahwijaya yang lain untuk kali ini saja.
.
.
.
🗼Bersambung🗼