
Selamat Raya Semuanya, Maaf Lahir Batin ya 🙏 Yang punya akun instagram boleh follow @tulisan_bee ya. Maacih cekgu 😊
***
“Saat dihadapkan dengan dua pilihan, antara aku atau kau. Mana yang mungkin kau pilih, Bram?” ~Marinda Schoff.
.
.
.
“Bersiaplah untuk kehancuran klan Schoff.”
Marin menutup mata. Tidak kuasa menahan gejolak di dadanya setelah mendengar kalimat yang diucapkan ayahnya baru saja. Termenung dalam diam, tanpa sadar dia telah menjauhkan telepon genggam itu dari telinga, membuat sambungan telepon itu terputus begitu saja bahkan sebelum dia mengucapkan selamat tinggal.
Marin membisu. Menatapi nanar ke arah lantai, dia duduk dengan memeluk kedua lututnya di depan dada, membayangkan begitu banyak hal yang beterbangan tidak karuan di benaknya. Bukan hanya tentang misinya kali ini, tetapi sebab keterlibatan Bram dengan klannya yang mungkin saja tidak disadari oleh lelaki itu.
Bram mungkin tidak memahami apa yang terjadi, sebab dia tidak pernah menunjukkan ketertarikan pada klan Schoff sebelumnya. Kini saat pemimpin klan itu berkata bahwa Marin harus membawa Bram menemui lelaki tua bangka itu, Marin tidak dapat menyembunyikan rasa penasaran tentang apa sebenarnya yang terjadi dahulu kala? Antara ayahnya dan ibu Bram. Mengapa ayahnya berkata bahwa Bram memiliki satu kunci klan Schoff?
Mengusap wajahnya, Marin tampak frustasi. Memikirkan bahwa dia sudah lama sekali tidak berada dalam posisi seperti ini, sungguh membuat kepalanya sakit. Luke tidak pernah memberikan misi yang begitu sulit padanya, dan kini saat dia dihadapkan dengan keputusan yang sangat payah, dia sungguh tidak tahu harus berbuat apa.
Apakah dia akan tetap membawa Bram ke hadapan Luke dan naik sebagai pemimpin klan? Meski dia tahu Luke pasti tidak akan membiarkan Bram keluar dari kediaman mereka dengan langkah tegak.
Atau apakah dia hanya akan kembali tanpa membawa Bram ikut serta? Mengatakan pada Luke bahwa dia tidak berhasil menemukan putra dari Ki Rei dan siap menghadapi konsekuensi hancurnya klan mereka?
Meremas rambutnya, Marin tampak menahan kekesalan. Tidak pernah membayangkan dia akan berada di dalam posisi seperti ini, memilih antara hidupnya atau hidup lelaki itu.
***
Bram mengenakan setelan jas berwarna abu muda. Tidak berencana untuk mampir ke kantor, lelaki itu sengaja bangun lebih siang dan menikmati waktunya dengan damai. Dia hanya akan memiliki satu agenda hari ini, yaitu menghadiri undangan anniversary dari D-Gallery, yang setelah kepergian Diandra beberapa tahun lalu kini berpindahtangan pada seorang karyawan kepercayaan mantan istri Bram, Hana. Gadis itu yang mengurusi semuanya, juga melaporkan secara berkala perkembangan dari omset dan pendapatan butik milik Diandra.
Merapikan dasinya sekilas, Bram tampak telah siap dengan sepatu khas berwarna hitam legam. Melirik pada arloji mahal yang dia kenakan di pergelangan kiri, lelaki itu kemudian merogoh ponselnya untuk memilih sebuah kontak dari sana. Menekan tombol panggil, Bram menunggu sesaat.
“Halo?”
Bram mengembangkan senyuman.
“Kau sudah siap, Marin?” Bertanya pelan, sembari sesekali melirik ke arah kaca.
“Sudah, Bram. Kau?”
“Baiklah. Aku jemput kau sekarang juga.”
Memutuskan panggilan setelah mengucapkan selamat tinggal, Bram masih menahan senyuman di wajahnya. Dia memang sudah menelepon Marin pagi tadi, bertanya apakah gadis itu memiliki pekerjaan siang ini dan apakah Marin bisa menemaninya menghadiri sebuah undangan. Mengatakan bahwa dia memiliki waktu, Marin kemudian setuju untuk menjadi partner Bram siang itu.
Beberapa menit kemudian Bram telah beranjak dari apartemennya, berjalan beberapa langkah untuk kemudian berhenti tepat di depan pintu apartemen milik Marin. Menekan bel satu kali, Bram menunggu dengan sabar. Marin muncul beberapa menit kemudian, mengenakan dress sebatas lutut dengan aksen pita dan mutiara di sepanjang lengannya yang tertutup.
“Ayo, Bram. Jam berapa acaranya dimulai?” Suara Marin telah membuyarkan keheningan, membuat Bram tersentak kecil.
“Ah, ayo. Pukul tiga. Kita masih punya banyak waktu,” jawab lelaki itu.
Marin kembali tersenyum. Menyimpan banyak hal yang dia jaga rapat-rapat, gadis itu memilih untuk tidak berkata apa-apa lagi. Mengikuti langkah kaki Bram yang mulai melangkah menyusuri lorong, Marin berada tepat di samping Bram dan dia dapat dengan jelas mencium aroma parfum lelaki itu.
Aku akan mengingat wangi parfummu ini, Bram.
Memasuki lift setelah menunggu beberapa saat, keduanya tetap hening dan mungkin sedang berkelana dengan fikiran masing-masing. Bram beberapa kali mencuri pandang ke arah Marin, memuji keahlian gadis itu di dalam hatinya sebab Marin tidak hanya perempuan tangguh di matanya, tetapi juga perempuan yang mumpuni dalam berdandan.
Bertanya apakah gadis itu sudah makan siang dan dijawab dengan anggukan kepala, akhirnya Bram memutuskan untuk langsung menuju pelataran parkir kompleks apartemen mereka. Masuk ke dalam mobil, Marin duduk manis di kursi penumpang yang berada tepat di samping kursi Bram, telah mengaitkan sabuk pengamannya bahkan sebelum Bram masuk ke mobil.
Menghidupkan mesin dan mulai melajukan mobilnya perlahan, Bram memusatkan perhatian ke arah jalan yang terbentang di depannya.
Melirik ke arah Bram sekilas, Marin menyunggingkan senyuman tipis di bibirnya tanpa dia sadari. Mengagumi visual Bram dan tubuh lelaki itu yang tampak gagah dengan setelan jasnya, Marin bergumam dalam hatinya sendiri.
Kau terlihat tampan, Bram. Izinkan aku menyimpanmu dalam ingatan. Mungkin saja ini akan jadi hari terakhir kita untuk saling menatap.
“Apa kau haus, Marin? Katakan padaku jika kau haus, aku akan berhenti di swalayan terdekat nanti,” berujar pelan Bram sembari melirik Marin, baru sadar bahwa mereka tidak membeli apapun sebelumnya. Tidak juga dengan soft drink atau air mineral.
Marin menggeleng.
“Baiklah, Bram. Akan kukatakan nanti,” jawab gadis itu cepat.
Bram gantian mengangguk. Kembali menatap lajur jalan di depannya, pria itu sedang berkonsentrasi penuh untuk mengemudi kali ini. Tidak menyadari bahwa manik kebiruan Marin berulang kali mencuri tatap ke arahnya, memandanginya dengan tatapan tidak biasa.
Suara ponsel Marin berdering pelan, menandakan sebuah email masuk ke inbox-nya. Merogoh ponsel yang dia simpan dalam clutch, gadis itu membaca informasi yang tertera di layar. Menarik napas pelan, maniknya tertuju pada tangkapan tiket elektronik miliknya yang baru saja terkonfirmasi.
Tidak menyimpan ponselnya lebih dulu, Marin kali ini menolehkan kepala untuk benar-benar menatap pada wajah tampan Bram Trahwijaya.
Selamat tinggal, Bram. Kelak setelah malam ini aku tidak lagi menjadi tetanggamu. Hiduplah dengan baik, maaf karena aku tidak lagi mengucapkan selamat tinggal. Kuharap kita tidak perlu bertemu lagi, di dunia ini ataupun di kehidupan setelah ini. Mari berbahagia dengan cara kita sendiri, Bram. Aku sungguh tidak ingin menempatkanmu dalam bahaya. Setidaknya itulah yang mampu aku lakukan untukmu, meski aku tahu ini akan terasa menyakitkan.
Marin telah memilih. Dia akan kembali malam ini. Menghadap Luke, ayahnya, dengan tangan kosong. Sebaiknya dia menyembunyikan fakta bahwa dia telah menemukan putra Ki Rei, setidaknya seperti ini akan membuat Bram aman, meski dia tidak tahu bagaimana nasib klan mereka ke depannya.
Sebab aku akan memilihmu Bram, meski aku harus mempertaruhkan nyawaku sendiri.
.
.
.
🗼Bersambung🗼