
"Matamu tidak pernah berbohong. Terlihat jelas apakah kau memang bahagia, atau sebaliknya saat kau benar-benar terluka." ~Diandra Lee.
.
.
.
Bram menepati janjinya.
Benar-benar mengakhiri permainan mereka dengan lembut, tampaknya lelaki itu telah berhasil menyingkirkan adegan-adegan nakal yang mereka lakukan selama ini.
Hanya meminta Diandra untuk berbaring di bawahnya saja, lelaki itu bahkan menggeleng keras saat Diandra menawarkan untuk bertukar posisi di tengah permainan mereka.
"Tidak usah, Sayang. Begini saja sudah yang paling aman," bisiknya menolak tadi. Membuat Diandra melebarkan senyuman, melemaskan tubuh di bawah kungkungan lelaki itu untuk hampir puluhan menit.
Kini bersandar tepat di dada bidang suaminya, Diandra tidak bisa menyembunyikan perasaan bahagia.
"Kau tidak apa-apa aku culik ke sini?" tanyanya pelan. Kini baru terpikir bahwa dia mengambil jam kerja suaminya tanpa izin, saat sebenarnya lelaki itu perlu tinggal beberapa jam lagi di perusahaan.
Bram meraih remote televisi yang terletak di atas nakas, menghidupkan benda berlayar datar itu dengan sekali tekanan.
"Tidak apa-apa. Aku menyuruh Meta membatalkan semuanya tadi, saat mendengarmu pingsan," ujarnya. Menoleh ke arah Diandra, lelaki itu menggeleng kecil.
"Kau punya bakat menjadi artis, Diandra?" tanyanya dengan mimik wajah tidak percaya. "Kau pandai sekali berakting."
Diandra terkekeh. Mengingat bagaimana Bram pastilah kesal sebab skenario yang dibuatnya tadi, belum lagi beberapa hari belakangan ini yang berjalan tidak harmonis.
"Maafkan ya, Sayang? Aku bersalah, sungguh. Tapi percayalah aku benar-benar ingin ini jadi kejutan yang sempurna untukmu," Diandra membela diri. Mengelus dada Bram pelan-pelan.
Bram kembali bersandar pada headboard, menekan tombol di remote itu untuk mengganti siaran, lalu berhenti pada channel yang menampilkan berita sore dan bursa saham.
"Kumaafkan, Diandra." Bram kembali menatap pada Diandra. "Ini semua sempurna," lanjutnya lagi.
Manik lelaki itu memancarkan sinar bahagia yang begitu banyak, seolah-olah tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.
"Sejak kapan kau tahu kau hamil, Sayang? Hmm?" Bram kembali bersuara, sungguh penasaran bagaimana bisa Diandra tidak mengeluh apa pun padanya.
Perempuan itu melebarkan senyuman. Menegakkan tubuh saat ia melepaskan diri dari dekapan Bram, memiringkan tubuh untuk menghadap pada lelaki itu.
"Hmm, kapan ya?" katanya. "Aku juga baru tahu, Bram. Tiba-tiba saja aku sadar aku terlambat datang bulan dan berniat untuk melakukan tes kehamilan," jelasnya.
Bram mendengarkan dengan seksama.
"Aku membeli testpack dan melakukan tes beberapa hari kemudian. Hasilnya positif, dua garis."
Lelaki itu mengernyitkan dahi. Berusaha memahami dengan baik penjelasan Diandra, meski dia tidak sepenuhnya mengerti.
"Aku tidak tahu kau akan seunggul ini, Bram," bisik Diandra pelan, mencubit kecil di perut kotak Bram yang tidak tertutupi selimut. Lelaki itu tentu saja meringis meski kemudian ia melebarkan senyuman selebar wajahnya.
"Aku keren, kan? Kira-kira di permainan kita yang keberapa dia jadi ya, Sayang?"
Diandra melebarkan maniknya, kali ini mendaratkan satu tepukan kecil masih di perut suaminya. Pembahasan ini menjadi sedikit absurd, tetapi entah mengapa terdengar menarik.
"Entahlah," katanya menahan tawa. "Apakah sejak di kamar mandi kemarin?"
Bram terkekeh. Bergeming saat pikirannya kembali memutar memori, pada permainan panas mereka untuk yang pertama kalinya setelah sah benar menjadi suami istri. Saat gairah tidak dapat lagi dibendung.
"Mungkin saja," balas Bram masih tersenyum.
Diandra kembali menyandarkan kepalanya ke dada lelaki itu, kini menarik selimut untuk menutupinya hingga dada.
"Hmm?" Mendongak untuk melihat pada istrinya.
"Kehamilanku mungkin akan tidak mudah." Diandra mengambil jeda beberapa detik, saat Bram sudah kembali memperhatikan lekat pada perempuan itu.
"Saat aku mengandung Vallois dan Verden dulu, aku mudah lelah meski aku tidak merasakan mual seperti biasanya. Tetapi orang-orang berkata kehamilan bisa saja berbeda-beda, aku tidak tahu apakah aku akan mengalami morning sickness atau tidak," jelas Diandra. Perempuan itu tahu hal yang disampaikannya ini pastilah hal baru untuk Bram, tetapi setidaknya dia tidak akan menyembunyikan apa pun.
"Lalu? Apa kau merasa mual sekarang?" Nada Bram terdengar berbeda, ketika sudah jelas ada perasaan khawatir bercampur was-was di sana.
Lelaki itu mengembuskan napas lega saat Diandra menggeleng.
"Tidak, aku tidak mual. Mungkin belum," katanya. "Aku hanya khawatir mungkin kehamilanku ini lebih cepat dari seharusnya. Karena aku melahirkan Val dan Ver melalui proses operasi, dokter pernah berkata bahwa jarak aman kehamilan adalah tiga hingga lima tahun."
Ada setitik rasa bersalah di hati kecil Bram, saat mendengar segalanya disampaikan oleh istrinya.
"Maafkan aku," ucap lelaki itu. "Kini aku sedikit menyesali bibit unggulku jika itu membuatmu kesulitan, Diandra."
Diandra menggeleng keras. "Tidak, Bram, bukan begitu," sanggahnya cepat.
"Aku bersedia, sungguh. Jika aku keberatan pasti akan kucegah sejak awal. Tetapi aku ingin, aku benar-benar ingin mengandung anakmu, secepatnya."
Kilatan manik kecokelatan Diandra memancarkan kejujuran, saat Bram diam-diam bersyukur bahwa dia bersabar hingga ia mendapatkan Diandra kembali. Sebab perempuan itu tidak hanya menjadi istrinya, tetapi kini menjadi perputaran poros dunianya.
"Yang mau aku katakan adalah, aku ingin kau mengerti jika kelak aku bertingkah aneh, atau mungkin jatuh sakit dengan cepat, dan hal-hal lainnya yang mungkin disebabkan oleh kehamilanku," kata Diandra.
Tanpa komando, Bram menarik Diandra dengan lembut untuk jatuh ke dalam pelukannya, mengelus rambut perempuan itu dengan lembut.
"Moodku mungkin akan naik turun dan mungkin tidak bisa ditebak. Aku ingin kau mengerti dan memahami aku dengan baik, Bram."
Diandra tahu kini komunikasi adalah hal yang paling penting. Jika dulu mereka kerap kali berselisih sebab komunikasi yang mungkin tidak sebaik kelihatannya, kali ini Diandra ingin mereka berdua benar-benar bekerjasama untuk menyambut kehadiran satu lagi penerus Trahwijaya.
Bram mengangguk. "Katakan setiap hal yang kau rasakan, Diandra. Libatkan aku dalam setiap urusanmu, dan mintalah padaku apa pun yang kau mau. Tidak peduli seletih apa pun, serumit apa pun, aku akan di sana untuk terus memelukmu. Aku berjanji."
Kehamilan Diandra akan menjadi hal baru bagi seorang Bram Trahwijaya, dan lelaki itu benar-benar berniat untuk berada di samping istrinya sebisa yang ia mampu.
Sebab kenangan mereka akan tercipta sejak kini, Bram ingin anaknya kelak hanya akan diliputi dengan kebahagiaan.
"Terima kasih, Bram. Aku tahu kau bisa diandalkan." Mendongak untuk mengecup pipi Bram, Diandra tersenyum.
"Ada satu lagi yang perlu kau tahu, Bram," bisik perempuan itu kemudian.
"Hmm? Apa itu? Katakan, Diandra."
Diandra mengambil napas beberapa saat, sebelum ia kembali mendekat ke telinga suaminya.
"Biasanya aku jauh lebih bergairah selama hamil. Kusarankan kau bersiap, Bram. Permintaanku mungkin saja tidak tahu waktu," bisik perempuan itu pelan.
Manik Bram memutar, bergidik dia ketika menyadari tangan istrinya sudah menelusup ke dalam selimut, bermain di daerah sensitif yang paling ia suka.
Menatap Bram dengan tatapan memuja sekaligus menggoda, Diandra menggigit bibirnya.
"Bisa kita mulai lagi, Sayang?"
.
.
.
~Yippie! Makbun dilawan, wkwkkw~