
"Karena itulah orang-orang berkata ada dua hal yang paling menakutkan di dunia. Pertama, kematian. Yang kedua, tatapan mata perempuan saat menanyakan apakah kau punya perempuan lain." ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Astaga, Diandra. Aku bisa gila!
Jika Bram berpikir adegan tanya-menanya itu telah selesai setelah dia beringsut ke dalam dekapan Diandra, maka itu semua salah total. Justru pertanyaan yang sebenarnya baru saja dimulai, saat Diandra benar-benar mencari informasi sejelas-jelasnya tentang hubungan yang pernah terjadi antara Bram dan Marin.
Bram menegakkan tubuh. Memandangi Diandra dengan sorot mata memelas, seolah-olah dia memohon lewat pancaran matanya agar Diandra tidak bertanya hal demikian. Tetapi perempuan yang ditatapnya itu hanya mengedipkan mata sesekali, memasang raut wajah datar seperti biasanya.
Kini menaikkan kedua kakinya ke atas sofa, Diandra bersedekap dengan dua tangan yang dia silangkan di depan dada. Menunggu, menanti jawaban dari seorang Bram Trahwijaya.
"Diandra."
Diandra tahu Bram mungkin berusaha mengelak lagi kali ini, tetapi dia sungguh hanya ingin mengetahui. Sebab mereka telah berencana untuk menikah, dia tidak ingin ada rahasia sekecil apa pun di antara mereka. Jika pernikahan mereka sebelumnya berlandaskan bisnis dengan klausa 'tidak mencampuri urusan masing-masing', maka pernikahan yang akan mereka hadapi kali ini tentu saja berbeda.
Dulu, tidak ada cinta saat mereka mengucap janji suci. Meski perlahan cinta itu hadir di sana, terlalu sulit untuk menyatukan semuanya sebab mereka belum sempat menyelami hati satu sama lain. Kini, ketika dirinya dan lelaki itu berencana untuk memulai kembali, Diandra hanya berharap mereka akan mengulangnya dengan awal yang benar.
"Katakan saja, Bram. Aku sungguh hanya ingin tahu, karena aku tidak ingin kita saling menyimpan rahasia. Sebaiknya kita berbicara jujur sejak awal, kelak biar tidak ada yang terluka saat hal ini mungkin muncul ke permukaan di masa depan."
Diandra menyampaikan kalimatnya dengan tegas, persis seperti karakter dirinya yang sedari dulu telah dikagumi oleh Bram. Perempuan itu tidak berubah, malah dia kini dia tampak semakin menawan dengan kedewasaan yang semakin matang.
Bram melebarkan senyuman, menggerakkan tangan untuk meraih kedua tangan Diandra, mengenggamnya erat.
"Kau yakin kau tidak apa-apa?" tanyanya.
Wanita itu mengangguk. "Sebaiknya kita mulai dengan cara yang benar. Kau setuju kan, Bram?" Meminta pendapat.
Kali ini gantian Bram yang mengangguk kecil.
"Percayalah padaku, Diandra. Aku bersalah padamu selama masa pernikahan kita terdahulu, tetapi kini aku berjanji aku hanya akan mengatakan kebenaran."
Diandra hening, memperhatikan dengan seksama. Meremas jari-jeri Bram yang berada dalam genggaman, dia siap untuk menyelami kehidupan lelaki itu untuk yang kedua kalinya.
"Aku dan Marin pernah saling mengecup. Tidak berciuman, tidak. Sebab kami tidak saling memagut bibir. Itu hanya kecupan singkat, yang tidak lebih dari lima detik." Bram berhenti sejenak untuk memeriksa reaksi yang diberikan Diandra, menarik napas saat mendapati Diandra masih menatapnya dengan tatapan dan raut wajah yang sama.
"Aku pernah berakhir di apartemennya pada satu malam, karena kami mabuk di sebuah club saat Marin minum sendirian. Aku meneleponnya dan menghampiri dia di club itu, kemudian kami minum hingga kami sama-sama tidak sadarkan diri."
Diandra menelan ludah. Meski dia memandangi manik kehitaman calon suaminya (lagi) yang tampak memancarkan kejujuran, dia sebenarnya sedang menahan gemuruh di dalam dada.
Jika kalian sama-sama mabuk maka apa yang terjadi, Bram? Jangan bilang kalau kalian ... astaga, aku ingin sekali marah!
"Aku mengantarkan dia ke apartemennya dan tidak tahu bagaimana bisa aku berakhir dengan bermalam di dalam sana. Tetapi percayalah tidak ada satu hal pun yang terjadi, kami hanya terlelap karena terlalu banyak menenggak alkohol," lanjut lelaki itu lagi.
Kali ini Diandra menarik napas lega. Menyingkirkan praduga yang sedari tadi bercokol di kepala, dia bisa bernapas dengan baik sekarang. Syukurlah Bram tidak mengalami hal yang tidak-tidak bersama Marin. Jika tidak, Diandra mungkin tidak bisa membayangkan bagaimana bisa kelak dia tidur dengan lelaki yang telah tidur dengan salah satu rekannya.
Mendapati raut wajah Diandra yang berubah cerah karena senyuman telah mulai terukir di sudut bibir perempuan itu, Bram menarik napas lega.
"Kau tidak marah dengan hal itu kan, Diandra? Percayalah, tidak ada satu orang pun yang menggantikanmu di hidupku. Jika aku bisa menemukan wanita lain, aku tidak akan menghabiskan waktu selama ini untuk menunggu kau kembali. Meski aku saja tidak tahu apakah kau akan benar menatapku lagi atau tidak."
Hati Diandra bergetar. Saat dia merasakan bahagia mulai menjalar memasuki dirinya, mengalir di darahnya. Kini dia bersyukur bahwa Bram benar-benar di sana, menunggu satu lagi kesempatan untuk mereka memperbaiki semuanya.
Meski dirinya sungguh tidak pernah menyangka takdir akan membawanya kembali ke pelukan lelaki itu, tetapi kini Diandra mulai membuka pikirannya bahwa semua yang terjadi pastilah jalan yang terbaik.
Kadang kita mengutuk keadaan, saat yang terjadi tidak sesuai dengan apa yang kita inginkan. Diandra ingat sekali bagaimana dia hampir berpikir untuk mengakhiri hidup, saat semesta mengambil Gionard dari kehidupannya. Dia pernah berpikir dia tidak akan bisa tersenyum lagi, bahkan menatap Vallois dan Verden terasa sungguh menyakitkan.
Tetapi kini setelah dia melalui tahapan demi tahapan kehidupan, ada rasa setitik penyesalan yang hadir di dalam sana. Menyesal mengapa dia marah pada semesta, saat sebenarnya semesta mungkin sedang mempersiapkan kebahagiaan lain untuknya.
"Terima kasih, Bram. Terima kasih karena sudah menungguku," bisik Diandra pelan sekali, saat dirinya bergerak mendekat untuk masuk ke dalam pelukan Bram kali ini.
Bram mendekat. Menyambut perempuan yang entah bagaimana bisa dia cintai sepenuh jiwa raganya, bergumam dalam hati betapa Diandra sungguh merubah jalan kehidupannya. Tanpa sadar membuatnya menempuh jalan hidup lebih baik, hingga bahagia kini tampak hadir di depan mereka.
"Ini semua berkat dirimu, Diandra. Kau memberikan kekuatan, kau mengisi relung hatiku dengan cinta yang murni. Kau mengambil alih duniaku, dan aku kini benar-benar siap untuk menua bersamamu."
Kalimat yang diucapkan lelaki itu sungguh berasal dari lubuk hatinya yang paling dalam, yang sudah dia simpan selama ini tanpa mampu dia katakan. Menerawang dalam rasa kebahagiaan, Bram memutar kembali cuplikan memori yang pernah dia lalui dulu. Terpuruk, hingga akhirnya dia bisa bangkit lagi.
"Diandra." Berbisik pelan, Bram tidak menyadari bahwa manik Diandra telah berkaca-kaca sejak tadi, sejak dia menyembunyikan wajahnya di dada bidang lelaki itu. Bukan air mata kesedihan seperti yang pertama kali jatuh tadi, tetapi kini air mata bahagia yang didasari dari perasaan yang membuncah.
"Hmm?" Menghapus air mata yang menggenang di pelupuk mata, Diandra berusaha agar Bram tidak melihatnya menangis. Riasannya sudah pasti kacau sejak tadi, dia tidak ingin Bram melihat wajahnya lebih kacau lagi.
Bram mengecup puncak kepala perempuannya, menghirup aroma khas yang berasal dari rambut indah Diandra. Mengeratkan dekapan, seolah-olah dia tidak ingin berpisah dengan perempuan itu meski hanya untuk beberapa saat.
"Aku mencintaimu, Diandra. Aku sungguh mencintaimu."
***
Diandra menghentikan langkah tepat ketika dia telah berdiri di samping mobil milik Alberto. Waktu hampir menunjukkan pukul sepuluh malam, ketika wanita itu memutuskan untuk beranjak pergi dari apartemen Bram.
Mengantar perempuannya hingga ke parkiran bawah tanah, Bram sempat memicing sebab mendapati Diandra tidak menggunakan mobilnya yang biasa.
"Kau mengendarai mobil Alberto?" Bram yang juga berdiri tepat di samping mobil itu refleks bertanya begitu saja, saat Diandra mengeluarkan kunci dari tasnya dan menekan sebuah tombol untuk menghasilkan suara bip bip dari arah mobil.
"Iya. Alberto memberikan kunci mobilnya ke atas meja, saat kami mengobrol sebelum aku berangkat ke sini. Kunci mobilku berada di kamar dan kupikir akan terlalu lama jika aku naik lagi ke atas." Memberikan jawaban jujur, Diandra menepuk dada Bram dengan kesal.
"Kau membuatku kesal, Bram! Sepanik itu aku tadi hingga aku tidak ingin membuang waktu. Selama perjalanan aku berdoa agar kau belum pergi, kau tahu?! Aku cemas sekali!" Kembali kesal karena Bram tiba-tiba mengiringnya untuk membahas kejadian tadi.
Bram tersenyum lebar. Merasa senang sebab Diandra menunjukkan rasa khawatir dan peduli padanya. Kali ini Alberto benar-benar berguna, meski Bram tidak tahu apa yang dia katakan pada Diandra sebelum ini.
"Berkendaralah dengan aman, Diandra." Bram membukakan pintu untuk wanitanya, mempersilakan Diandra untuk masuk ke dalam sana.
Diandra menurut, menyunggingkan senyuman tipis saat dia memasuki pintu pengemudi. Bram menundukkan kepala, menarik sabuk pengaman dan memasangkan sabuk itu untuk Diandra.
"Jangan ngebut. Pastikan jarak aman dan kecepatanmu, Sayang. Telepon aku saat kau sudah sampai, oke?" Terdengar seperti instruktur mengemudi kali ini lelaki itu, tetapi sukses membuat Diandra tertawa kecil.
"Baiklah, Bram. Jangan khawatir. Makanlah sesuatu sebelum kau tidur, oke?"
Bram mengangguk lagi. "Tentu, Diandra."
Melayangkan sebuah kecupan di pipi kanan Diandra, Bram akhirnya melepaskan kepergian Diandra meski hatinya tidak rela. Memandangi mobil Alberto yang perlahan bergerak menjauh, dia masih berdiri di tempatnya tadi hingga benda itu menghilang di ujung jalan untuk berbelok.
Beberapa saat kemudian, Bram melanjutkan langkahnya untuk menuju ke arah lift, menekan tombol dan menunggu benda kotak itu terbuka saat tiba-tiba ponselnya berbunyi menandakan notifikasi pesan masuk.
Meraih ponselnya yang berada di saku celana, Bram menggeser layar untuk membaca pesan yang dia dapat dari nomor ponsel Alberto.
Alberto Vigez:
Pilihkan salah satu untukku, Bram. Mana yang menurutmu beruntung untuk aku kendarai?
Yamaha dengan desain lebih smooth atau yang ini?
Ducati gagah yang mungkin membuat tabunganmu terkoyak, haha.
Beritahu aku pilihanmu, oke?
Membuka satu per satu gambar dari dua motor sport yang dikirimkan Alberto, Bram tersenyum lebar.
Mengetikkan sesuatu dengan cepat pada layar ponselnya, lelaki itu telah menekan tombol kirim tanpa ragu-ragu.
Bram Trahwijaya:
Ambil keduanya, Al. Kubayar cash untukmu.
.
.
.
🗼Bersambung🗼