Travelove~

Travelove~
40. Berlalu



“Waktu yang mempertemukan, waktu yang memisahkan. Terasa berbeda untukku, apakah kau juga merasakan hal yang sama?” ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Sudah satu bulan.


Satu bulan sejak kepergian Marin, yang didengar Bram dari Alberto saat mereka berada di club tempo lalu. Fakta yang entah mengapa membuat Bram masih menyimpan tanda tanya, sekaligus menyisakan ganjalan seperti sebongkah batu besar di dalam dadanya.


Ada satu pepatah yang mengatakan bahwa kau baru sadar kau kehilangan setelah orang tersebut benar-benar sudah pergi, tampaknya memang benar adanya. Begitu pula dengan Bram, saat dia merasa ada yang berbeda di hari-harinya dua hari belakangan ini. Tidak ada Marin, tidak ada tetangga baik. Tidak lagi ada orang yang akan berkunjung ke apartemennya, dan tidak lagi ada kesempatannya untuk berkunjung ke apartemen gadis itu.


Kini, memandangi pintu apartemen yang telah ditinggalkan Marin, Bram mematung dan bersandar pada dinding. Membiarkan keheningan menyelimuti, saat dia kemudian merogoh saku celananya dan meraih ponselnya dari dalam sana. Membuka kunci dengan sekali usap, lelaki itu menggerakkan jarinya di atas layar dan menatapi satu kontak di sana. Kontak Marin.


Bukan kontak nomor lokal yang pernah digunakan gadis itu selama dia berada di Indonesia, tetapi nomor kontak internasional milik Marin yang belum dihapus lelaki itu sejak kepulangannya dari Paris beberapa bulan lalu. Karena nomor lokal milik Marin sudah tidak bisa dihubungi, persis setelah Alberto mengatakan bahwa gadis itu meninggalkan Indonesia.


Menarik napas, Bram tampaknya masih ragu apakah dia akan menekan tombol panggil atau tidak. Setelah menimang beberapa saat, akhirnya lelaki itu memutuskan untuk menekan tombol hijau, berharap Marin akan mengangkat panggilannya kali ini.


Dia hanya akan bertanya satu hal pada gadis itu, satu hal saja yang dia butuh jawabannya.


Marin, mengapa kau pergi tanpa berkata apapun padaku?


Hanya itu, hanya itu saja. Jawaban atas pertanyaan yang membelenggu hati, berharap Marin akan memberikan jawaban yang dapat melegakan batinnya.


Tapi sepertinya Bram tidak akan menerima jawaban dari gadis itu kali ini, mungkin tidak juga selamanya. Mendengarkan dengan seksama suara perempuan asing di sebrang sana, Bram hampir saja merosot.


Menurunkan ponselnya dengan mata yang masih memandangi dinding depan, Bram menarik napas panjang-panjang karena nomor Marin tidak lagi dapat dihubungi.


Hening lagi saat fikirannya mulai menyimpulkan sesuatu, Bram mencoba menarik benang merah untuk situasinya saat ini. Hanya ada dua kemungkinan. Pertama, Marin memang tidak lagi menggunakan nomor ponsel yang sama. Atau yang kedua, Marin memang sengaja memblokir nomor ponselnya.


***


“Aku di kafe bawah, Al. Kau tidak perlu datang.” Berujar melalui sambungan telepon dengan Alberto, Bram sedang menolak kedatangan Alberto pagi itu. Lelaki itu mengatakan bahwa dia berencana untuk mampir ke perusahaan Trahwijaya, berkeinginan untuk menikmati sarapan sekaligus mampir untuk mendiskusikan sesuatu.


Masih mengunyah salad buah yang dia pesan dengan ekstra mayonaise dan parutan keju, Bram tahu Alberto hanya ingin mengganggu ketenangannya saja.


“Lagi pula aku ada meeting pagi ini. Tidak, aku tidak akan ke perusahaanmu juga. Bisa kau berhenti menyuruhku untuk datang?” Mengucapkan kalimatnya dengan nada datar, Bram menahan kesal.


Terdengar kekehan Alberto di sebrang sana.


“Ayolah, Bram. Aku tidak mau terlihat tidak tahu menahu mengenai ini di depan Leah. Setelah Marin pergi, kurasa Leah menarik juga. Bagaimana menurutmu?” Suara Alberto terdengar semakin menjengkelkan untuk Bram, terlebih lagi bocah itu tidak berencana untuk berhenti mengintilnya.


“Aku tidak peduli urusan asmaramu, Al. Kau selesaikan saja sendiri!” Tidak menunggu jawaban dari Alberto, Bram langsung menurunkan ponsel untuk menekan tombol merah. Menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibirnya, lelaki itu tahu Alberto mungkin saja sedang memaki di tempat berbeda saat ini.


Kembali kepada sepiring salad-nya yang hampir tuntas, Bram menaikkan kepala untuk menatap ke arah luar. Menghirup aroma kopi yang masih mengepulkan asap tipis, lelaki itu sedang menikmati kehidupan. Mendengar kembali nama Marin yang disebut Alberto dalam kalimatnya, fikiran Bram tiba-tiba kembali memutar kembali memori singkat tentang gadis itu.


Sudah tiga bulan. Tiga bulan berlalu selepas kepergian Marin tempo lalu. Kepergian yang hampir saja membuat Bram lupa akan pertanyaannya kala itu, pertanyaan yang dia belum dapatkan jawabannya. Pertanyaan yang mungkin tidak dapat Bram tanyakan, pertanyaan yang mungkin hanya akan jadi pertanyaan yang tersimpan di dasar hatinya.


Meraih cangkir kopinya, Bram menyesap cairan hitam itu perlahan saat dia sudah menyudahi menyendok salad. Masih menatap ke arah luar jendela, lelaki itu berpusat pada fikirannya sendiri.


Bagaimana kabarmu? Apa kau sehat?


***


Getaran dari ponselnya yang berada di dalam saku celana, membuyarkan konsentrasi Bram yang sedang memperhatikan pemaparan dari seorang staf departemen pengembangan dalam rapat mereka pagi itu.


Merogoh dan mengeluarkan benda pipih itu dari kantungnya, Bram melirik sekilas pada nama yang tertera di layar.


Menggerakkan kursi dan berbisik kecil kepada Meta yang juga berada di rapat yang sama, Bram telah bangkit dan berjalan menuju pintu keluar. Menggeser tombol untuk menjawab panggilan itu, Bram sudah berada dalam sambungan telepon bersama Pak Deded, supir pribadi ayahnya.


“Halo, Pak?”


“Tuan ... Bapak, Tuan!” Terdengar suara memburu Pak Deded di ujung telepon, membuat Bram menegang seketika.


Suara pria paruh baya itu sungguh terbata, didominasi dengan rasa cemas yang jelas sekali.


“Ada apa, Pak? Katakan yang jelas!” Sudah bercampur khawatir nada suara Bram karena mendengar kata-kata supir ayahnya yang terbata, saat fikirannya sudah terbang kemana-mana.


“Bapak jatuh di kamar mandi, Tuan. Beliau pingsan dan sekarang dilarikan ke rumah sakit.”


Bagai dihantam batu besar sekaligus petir di siang bolong, Bram hampir saja melemas. Maniknya membesar seiring dengan degupan jantung yang benar-benar berdetak jauh lebih kencang, saat dirinya mulai dikuasai oleh rasa cemas dan khawatir. Darahnya berdesir, saat bayangan ayahnya tampak jelas di pelupuk mata.


Papa, apa yang terjadi?


“Bagaimana keadaan Papa? Di rumah sakit mana, Pak?!” Suara Bram telah naik beberapa oktaf, berusaha menenangkan dirinya sendiri meski dia tidak yakin.


“Rumah Sakit Betha Husada, Tuan.”


Tidak membuang waktu, Bram langsung mengayunkan kakinya dengan langkah besar untuk menuju arah parkiran. Berlari hingga dia mencapai mobil, Bram masih berusaha untuk mengatur napas.


Telah memasang sabuk pengamannya dan menghidupkan mesin mobil, lelaki itu menginjak gas dengan terburu-buru, ingin sekali agar dia segera sampai di tempat ayahnya berada.


Tidak ingin berfikiran yang tidak-tidak, Bram merapal doa dan memohon agar ayahnya diberikan kekuatan. Agar Tuhan menjaga pria tua itu dengan segenap kasih sayang, agar Bram punya waktu untuk dia habiskan lebih banyak dengan ayahnya itu.


Aku datang, Pa. Bertahanlah, kumohon.


.


.


.


🗼Bersambung🗼