Travelove~

Travelove~
14. Terjebak



"Kulihat luka di matamu. Mungkin itu adalah luka yang kau coba sembunyikan sepanjang waktu." ~Marinda Schoff.


.


.


.


"Bram, kita harus bagaimana?"


Pertanyaan dengan nada pelan dari bibir Marin, sukses membuat Bram terdiam seribu bahasa. Fikirannya sudah melayang kemana-mana, membayangkan bagaimana jadinya mereka jika harus tertahan di desa itu malam ini. Tidak. Tidak boleh. Mereka harus tetap pulang, bagaimanapun caranya. Dia dan Marin tidak bisa tinggal di sana, apapun alasannya. Bagaimana mereka akan melewati malam hari ini? Dimana mereka akan berteduh selagi menunggu pagi datang? Begitu banyak hal yang berseliweran dalam benak Bram, seiring dengan upaya lelaki itu untuk menenangkan fikiran.


Bram menggigit bibirnya, sedikit merasa khawatir. Memeriksa ponselnya sekilas, lelaki itu memastikan waktu. Hampir petang dan sepertinya hujan belum akan berhenti. Melirik sekilas pada Marin yang tampak lebih tenang, Bram memberikan sebuah senyuman tipis.


"Sepertinya kita perlu menunggu, Marin. Mungkin jika hujan berhenti beberapa saat lagi, jembatan itu sudah bisa dilalui dan semoga saja jalanan di depan sana juga seperti itu," berujar dengan nada pelan Bram, berusaha menenangkan keadaan. Tampaknya dia yang lebih khawatir, jika raut wajahnya dibandingkan dengan raut wajah Marin.


Terdengar Marin mendesah, tampak ikut mencari jalan keluar. Menatap ke arah wiper yang terus bergerak, Marin meraih beberapa helai tisu dan mengelap kaca depan mobil. Memicingkan mata untuk memeriksa keadaan di depan sana, gadis itu kini menoleh pada Bram.


"Apa kau punya payung, Bram?" bertanya dengan manik membesar, Marin telah mengajukan pertanyaan.


Bram masih memandanginya dengan tatapan bingung.


"Aku melihat satu di kursi belakang. Kau mau apa?"


Marin refleks menolehkan tubuhnya. Meraba-raba kursi di jok belakang, dia mencari payung dengan tangan kanan. Tidak mendapati payung itu di kursi belakang, gadis itu semakin menyorokkan tubuhnya dari sela kursi depan, kini beralih ke arah kolong kursi. Dapat. Tangannya sudah menggenggam sebuah payung panjang berwarna abu tua.


"Tunggulah di sini, Bram. Aku akan kembali," Marin berujar cepat, telah mendorong handle pintu saat Bram bahkan belum mencerna perkataan gadis itu dengan baik. Beberapa detik kemudian, gadis itu sudah bangkit dari kursinya dan tampak berlari kecil menuju arah depan mobil.


Bram tersentak kaget atas tindakan Marin yang tiba-tiba.


"Marin!" Bram berusaha meneriaki gadis itu dan berniat untuk menahan langkahnya, namun Marin sudah lebih dulu berlalu. Bram kembali mengelap kaca yang terus mengembun, mencari-cari keberadaan Marin di depan matanya.


Gadis itu tampak berlari kecil, di bawah terpaan hujan dan angin yang kencang. Merapatkan pegangannya pada payung berukuran sedang itu, Marin menuju pada tempat dimana pemuda-pemuda desa tampak sedang berkoordinasi mengenai keadaan yang terjadi.


Menghampiri salah satu pemuda yang tampaknya lebih tua di antara mereka, Marin berusaha keras menahan terpaan angin yang membawa air hujan ke seluruh tubuhnya.


"Permisi Pak, apa ada penginapan di sekitar sini?" Mengeraskan suaranya, Marin berusaha bertanya meski dengan pengucapan kata-kata yang kurang begitu jelas. Setidaknya dia akan mencoba, berharap dia mampu membantu mendapatkan informasi.


Pemuda tadi menggeleng keras.


"Enggak ada, Neng!" balasnya dengan nada yang juga tinggi, tidak ingin suaranya kalah dari suara hujan yang terus terdengar.


Marin menangkap gelengan dari sang pemuda, yang berarti bahwa desa mereka tidak memiliki penginapan. Menarik napas panjang, Marin mengembangkan senyuman.


"Terima kasih, Pak!"


Berbalik badan, gadis itu melangkahkan kaki untuk kembali ke arah mobil, dimana Bram masih berada di dalamnya. Kembali melawan terpaan angin yang semakin kencang, Marin berlari kecil-kecil, mengupayakan agar air hujan tidak lebih banyak membasahi tubuhnya. Namun saat terpaan angin tiba-tiba mengencang, gadis itu tidak mampu menahan pegangan payungnya. Payung abu tua itu terlepas begitu saja, diikuti suara teriakan Marin yang terdengar lemah.


Dia tidak menyadari air hujan kini dengan leluasa membasahi dirinya, saat dia mengadahkan kepala untuk melihat ke arah mana payung itu telah terbang. Saat beberapa detik kemudian seorang pria telah menutupi dirinya dengan melebarkan sebuah jaket, Marin baru menyadari kini dia sudah basah kuyup.


"Bram!"


"Larilah, Marin!" suara Bram terdengar sangat dekat, berbisik tepat di telinga Marin. Lelaki itu mengangkat kedua tangannya ke atas, melindungi Marin dari rintik hujan yang masih terus turun.


Mengikuti perintah Bram, Marin ikut berlari bersama Bram yang masih memegangi jaket, menuju ke arah mobil mereka yang tidak jauh dari sana. Terlalu lama jika dia mengitari mobil, Marin meraih gagang pintu penumpang belakang untuk segera berteduh, saat Bram tetap membuka pintu pengemudi untuk dirinya sendiri.


Mengatur deru napas yang terengah-engah, keduanya tampak kompak mengibaskan tetesan air yang telah membasahi tubuh. Bram menyodorkan sekotak tisu ke arah belakang, sembari memeriksa keadaan Marin yang tampaknya sudah basah kuyup.


"Kau baik-baik saja, Marin?" Lelaki itu menolehkan kepalanya ke arah belakang, memandangi Marin yang tampak sibuk mengelapi tangan dan rambutnya dari sela-sela kursi depan.


"Maafkan aku, Bram. Aku tidak tahu angin akan tiba-tiba kencang seperti tadi. Kini kita tidak punya payung lagi," bernada menyesal gadis bermata biru itu, sesekali memandangi Bram dengan tatapan nanar.


Bram menggeleng.


"Apa yang kau lakukan tadi?" tanyanya kemudian. Penasaran apa yang sebenarnya membuat gadis itu menerobos hujan.


"Ah, itu. Aku bertanya apa mereka memiliki penginapan di sekitar sini. Tapi mereka tidak punya, Bram," lagi-lagi terdengar Marin berujar dengan nada menyesal.


Bram menarik napas. Jaketnya basah, begitu pula dengan sebagian besar bagian kemejanya. Bram benci merasa lembab, tiba-tiba dia kembali menyesali keputusannya untuk membawa mobil sport Alberto kali ini. Jika dia tetap membawa mobilnya sendiri, mungkin dia akan punya baju ganti setidaknya untuknya atau untuk Marin.


"Kau basah, Marin," berujar pelan lelaki itu, memeriksa lagi keadaan Marin yang tampak lebih basah dari dirinya.


Marin tidak menjawab. Gadis itu hanya tersenyum sekilas di sudut bibirnya dengan rambutnya yang tampak basah. Mengusapkan kedua tangannya di depan dada, Marin sedang mencoba mengusir rasa dingin yang telah menerpa. Hembusan AC dari mobil yang juga masih menyala, menambah rasa dingin pada tubuh gadis itu, membuatnya tanpa sadar menggertakkan gigi.


"Kau tidak apa-apa, Marin?" Bram semakin mencondongkan tubuhnya ke arah belakang, mulai khawatir sebab tubuh Marin tampak sedikit berguncang.


Menaikkan kepalanya, Marin menghembuskan napasnya pelan-pelan. Berperang dalam hatinya apakah dia harus memendamnya sendiri, namun akhirnya Marin memilih untuk memberikan jawaban.


"Bram, aku kedinginan."


.


.


.


🌾Bersambung🌾