
“Jika saja aku bisa sedikit lebih peka, atau sedikit lebih mengerti diriku sendiri. Apakah kiranya aku akan membiarkan kau tetap pergi?” ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
“Jangan bercanda, Al!” Seolah menganggap perkataan Alberto baru saja adalah lelucon receh yang mungkin memang dikatakan lelaki itu untuk mengerjainya, Bram tanpa sadar menyanggah. Masih menatap manik Alberto dengan tatapan tajam namun lebih awas, lelaki itu sebenarnya sedang menunggu. Menunggu agar Alberto berkata bahwa itu semua hanyalah prank.
“Tidak, Bram. Aku tidak bercanda. Kau serius Marin tidak mengatakannya padamu?!” Kali ini dirinya yang menaikkan nada suara, membalas tatapan Bram dengan dahi berkerut. Berfikir sekilas dalam hati apakah memang Bram benar-benar tidak mengetahui kabar kepergian Marin atau lelaki itu sedang mencoba mengolok-oloknya sekarang dengan mengatakan dia tidak tahu.
Bram menghela napas. Memilih untuk diam dan berfikir sejenak, lelaki itu meraih gelas wine-nya dan menenggaknya cepat. Kini cairan itu tidak lagi terasa nikmat, malah terasa mencekat di kerongkongan. Dalam hati lelaki itu menyakinkan dirinya sendiri, bahwa dia tidak boleh gegabah. Bram tahu dia harus bertindak tenang kali ini meski di dalam hatinya ada sejumput perasaan yang bergemuruh.
“Kau serius, Bram? Jawab aku, Bro!” Tidak mendapati jawaban untuk pertanyaan sebelumnya, Alberto kembali memenuhi ruangan dengan kalimat tanya.
“Tidak. Aku tidak tahu dia pergi, Al.” Akhirnya membuka suara, Bram terdengar menarik napas panjang. Matanya tidak lagi bersitatap dengan Alberto, kali ini dia arahkan ke arah lantai dengan raut wajah datar.
“Hah! Yang benar saja! Jadi Marin tidak mengatakan apapun padamu?” Bertanya lagi, masih belum percaya rupanya Alberto.
Mengangguk kecil lelaki yang mendapat pertanyaan, melirik sekilas kali ini sekaligus menegakkan tubuh.
“Katakan, apa yang membawanya kembali?” tanya Bram pelan. Dalam hati masih bertanya-tanya mengapa Marin sama sekali tidak memberitahunya tentang kepulangan gadis itu.
Apakah kau pulang sebab misi yang kau katakan sebelumnya telah selesai, Marin? Mengapa kau tidak berkata apapun padahal seharian ini kita bersama dan berdekatan?
Alberto menaikkan bahu.
“Aku juga tidak tahu, Bram. Leah yang mengatakannya padaku, itu juga secara tidak sengaja. Gadis itu ngotot untuk menyelesaikan laporannya sore ini sebab dia berkata dia akan mengantar Marin ke bandara malam ini,” jelas Alberto kemudian.
Bram memasang tiang telinga tinggi-tinggi.
“Lalu aku bertanya apakah Marin akan pulang atau hendak melakukan apa di bandara, Leah menjawab bahwa Marin akan pulang ke Paris karena misinya sudah selesai. Dia hanya datang untuk sebuah misi, Bram,” lanjut lelaki itu lagi.
Bram masih hening. Mencerna setiap kata yang diucapkan Alberto, menyimpannya dalam memori. Tidak ada yang aneh. Saat tiba-tiba fikirannya melayang pada momen percakapan mereka di desa tempo lalu, Marin memang mengatakan bahwa dia datang ke Indonesia untuk menyelesaikan sebuah misi. Tidak bertanya lebih lanjut tentang misi gadis itu, Bram memang menahan diri agar dia tidak semena-mena mencampuri urusan orang lain.
“Kau benar-benar tidak tahu?” Suara Alberto untuk kesekian kalinya terdengar lagi. Tidak hanya bertanya berulang, kali ini lelaki itu mendekatkan wajahnya ke arah Bram, berniat memeriksa kebenaran pada wajah Bram.
“Apaan sih? Sana!” Bram menjauh saat Alberto semakin mendekat, refleks dia menjauhkan tubuhnya dari lelaki itu.
“Kau benar-benar tidak tahu rupanya, Bram,” berujar pelan Alberto, seakan sedang berbicara pada dirinya sendiri.
Tidak mempedulikan pancaran mata Bram yang tampak menerawang, lelaki itu sudah kembali meraih gelasnya yang sempat kosong.
Bram masih tidak bersuara. Mengendalikan dirinya dengan baik, dia tenggelam dalam lautan emosi yang bercampur aduk. Memutar kembali beberapa momen yang dia lewati bersama gadis itu, masih memiliki segudang pertanyaan di dalam hatinya.
Apakah seperti ini saja perpisahan yang kau inginkan, Marin? Aku hampir saja salah mengartikan kecupanmu tempo lalu, saat aku berfikir aku mungkin mulai membuka diri. Apakah selamat tinggal yang kau ucapkan tadi adalah ucapan selamat tinggal sebab kau benar-benar akan pergi? Aku tidak menyangka kau bermaksud demikian.
“Kau mau minum lagi, Bram?” Menggenggam sebotol wine di tangan kanannya, Alberto membawa botol itu ke hadapan Bram. Membuat Bram tersentak kecil dari lamunan. Beberapa detik kemudian, Bram bergerak dan meraih gelasnya, membiarkan Alberto mengisi gelas itu hingga penuh.
Dalam sekali teguk, Bram sudah mengosongkan gelas itu kembali, disertai kekehan Alberto yang terdengar memenuhi ruangan saat lelaki itu memperhatikan Bram yang menenggak habis minumannya.
Kufikir kau dan Marin memiliki sesuatu, Bram. Tetapi tampaknya tidak.
Mendesah sebab sensasi wine yang menjalar dan membasahi kerongkongan, Bram menggeleng kecil.
Kini saat tahu bahwa kau pergi Marin, apakah aku harus merasa bahagia sebab kau telah berhasil menyelesaikan misi? Apakah aku egois jika aku kini malah berharap kau untuk tetap tinggal?
Memandangi Leah yang tampaknya menyimpan air mata di pelupuk mata, Marin melebarkan senyuman. Tidak ingin mengucapkan selamat tinggal dengan linangan kesedihan, Marin justru ingin menularkan senyuman pada Leah.
“Hei, aku tidak pergi kemana-mana. Ayolah Leah, kau tampak seperti akan melepaskanku berperang ke hutan rimba, kau tahu?” Mengelus punggung Leah dengan lembut, Marin berbisik pelan sembari menyandarkan kepalanya pada bahu gadis itu.
Leah menggeleng kecil.
“Kau tidak bilang bahwa kau akan pulang. Ini terlalu mendadak untukku. Kau tahu itu, Marin?” Tidak terima dengan keputusan Marin yang begitu tiba-tiba, Leah masih merasa bahwa kepergian Marin akan menyisakan luka di hatinya.
Bagaimana tidak? Baru saja beberapa minggu bersama sepupunya yang sangat kompeten itu, kini dia harus mengucapkan selamat tinggal.
Marin tertawa kecil, melonggarkan pelukan mereka.
“Kau mumpuni dan memiliki tim yang solid, Leah. Aku mengobrol dengan beberapa karyawanmu dan mereka berkata kau adalah pimpinan yang baik. Lanjutkan proyekmu, aku yakin kau pasti berhasil menggaet Alberto,” balas Marin pelan.
Leah melotot.
“Hei, apa maksudmu menggaet Alberto?!”
Marin tertawa semakin lebar.
“Maksudku menggaet Alberto dalam proyekmu. Apa yang kau fikirkan coba?” Kali ini sukses menggoda Leah, Marin diam-diam merasa terhibur.
Mengerucutkan bibir, Leah tampak masih tidak terima. Dia tahu bukan itu yang dimaksudkan Marin dengan ucapannya tadi.
“Penerbanganku hampir tiba, Le. Jaga dirimu, dan datanglah ke Paris jika kau ada waktu. Kau tidak merindukan kampung halamanmu, hmm?”
Leah tersenyum kali ini. Sudah melupakan air mata yang sempat mengumpul di matanya, tampaknya Leah sudah tidak lagi bersedih.
“Baiklah. Jaga dirimu, Marin. Datanglah kapanpun kau ada waktu dan jangan lupa kabari aku jika kau telah sampai di Paris. Sampaikan salamku pada Uncle Luke,” balas Leah.
Marin mengangguk. Meraih pegangan koper merah muda miliknya, gadis itu mengeratkan genggaman. Sempat mengitari sekitar untuk melihat keadaan, Marin menarik napas pelan.
Dia tidak mungkin di sini. Dia tidak mungkin datang.
Meski dia tahu masih ada secuil harapan agar dia bisa menatap wajah lelaki itu sekali saja lagi, namun Marin tetap tidak menggoyahkan langkah sebab dia telah memilih.
Memilih untuk tidak melibatkan Bram dalam klan Schoff, memilih untuk melindungi keberadaan lelaki itu. Memilih untuk menarik batas garis yang jelas antara mereka, memilih untuk tidak berusaha memasuki hati lelaki itu lagi. Dia tahu dia mungkin tidak memiliki celah, meski sekecil apapun.
Melambaikan tangan ke arah Leah yang masih berdiri memandangnya, Marin telah berjalan menjauh dan memasuki ruang keberangkatan. Mengayunkan kaki untuk menuju ke arah kanan, Marin akhirnya tidak lagi melihat sosok Leah.
Menegakkan pandangan, gadis itu terus memacu langkah sembari memohon kekuatan. Agar dia mampu menghadapi ayahnya sendiri, agar dia mampu untuk menyelamatkan klan Schoff meski dia tidak tahu apa yang sedang menantinya di depan sana.
Langkah gadis itu tidak melemah, justru semakin cepat untuk meninggalkan Indonesia.
Selamat tinggal, Bram. Semoga takdir tidak lagi mempertemukan kita.
.
.
.
🗼Bersambung🗼
Gimana kalau akhirnya begini aje? Biarin jomblo dua-dua kayaknya enggak apa-apa yak? 🤣