Travelove~

Travelove~
53. Ikatan Takdir (1)



"Saat aku menutup mata, aku berharap ini semua hanyalah mimpi. Yang dapat hilang setelah aku kembali sadarkan diri." ~Diandra Lee.


.


.


.


Alberto berdecak kesal. Mengamati ponsel yang sedari tadi dia tekan dengan kesabaran yang berkurang setiap detik, lelaki itu sedang menahan kekesalan yang datang menggerogoti.


Keluar dari salah satu toko khusus mainan yang memajang berbagai macam action figure, dia hampir saja lupa bahwa dia sedang membiarkan seseorang menunggu. Berjalan cepat menuju food court di mana dia meninggalkan Bram tadi, maniknya menyipit sebab orang yang dia cari sudah tidak lagi berada di sana.


Celingukan untuk sekian menit, dia mencoba menghubungi nomor ponsel Bram tetapi tidak ada jawaban. Berspekulasi mungkin Bram sudah pulang sebab dia terlalu lama tidak kembali, akhirnya lelaki itu memutuskan untuk kembali ke apartemen. Berharap Bram ada di sana, tetapi malah menelan kekecewaan karena apartemen itu kosong melompong. Tidak ada siapapun di dalam sana.


Menggerutu sekaligus mulai khawatir apakah Bram diculik atau tersesat, Alberto mengulangi panggilan yang sama, menghubungi Bram untuk bertanya di mana lelaki itu sebenarnya berada.


Pada panggilan yang entah ke berapa puluh kali, barulah telepon itu tersambung.


"Hei, Bram! Kau di mana?!" Tidak membalas sapaan Bram yang mengatakan halo di ujung telepon, Alberto tampaknya benar-benar khawatir meski kini dia sedikit bernapas lega. Setidaknya Bram masih hidup dan tidak diculik oleh penjahat.


"Maaf baru mengangkat teleponmu. Aku berada di kediaman Gionard sekarang."


Membuat Alberto mengernyitkan dahi tidak percaya.


"Kau bercanda? Gio dan Diandra kan berada di Marseille?" tanyanya cepat.


Bram mendesah. Menceritakan secara singkat mengenai pertemuannya dengan Diandra dan kedua anak kembarnya, Vallois dan Verden Butcher, Bram sukses membuat Alberto mengheningkan cipta. Mengatakan dengan sebenarnya bahwa dia sedang menunggu Gionard datang, dan dia akan segera pulang setelah kondisinya semakin membaik. Setidaknya dia harus bertemu Gio, kemudian memastikan Diandra sudah sadarkan diri. Mungkin dia juga akan bertanya pada Gio apa yang sebenarnya terjadi dan apakah Diandra memiliki penyakit atau sesuatu semacam itu.


"Hei, kau serius? Mengapa dia tidak mengabari kalau mereka sudah kembali ke Paris?" tanya Alberto di sebrang, yang terdengar seperti dia bertanya pada dirinya sendiri.


Bram mengangkat bahu. Meski dia tahu Alberto tidak bisa melihatnya kala itu.


"Aku tidak tahu, Al. Aku juga masih menunggu. Tenanglah, apa kau pulang atau masih di mall?"


Berdehem Alberto. "Aku sudah di apartemen. Kau mau dijemput?"


"Tidak perlu. Aku bisa pulang sendiri. Tidak perlu menunggu."


Hening sejenak di sebrang sana.


"Kau yakin itu Diandra, Bram?" Bertanya lagi untuk memastikan, saat sebenarnya dirinya juga terkejut atas fakta yang dia dengar dari bibir Bram.


"Aku tidak mungkin salah. Aku mengenalnya dengan baik." Suara Bram kali ini terdengar pelan sekali, hampir tersirat lirih dan dipenuhi kesedihan.


Menatap ke arah lantai marmer ruangan itu, Bram sedang mengatur kepingan puzzle yang secara acak berterbangan dalam kepalanya.


Aku tidak mungkin melupakanmu, Diandra. Bahkan jika semua tidak mengingatmu lagi, aku pasti mengingatmu. Aku, tidak mungkin lupa.


"Baiklah. Sampai nanti, Bram. Kabari aku jika terjadi sesuatu, kau mengerti?" Alberto memecah keheningan di antara mereka, membuat Bram kembali menganggukkan kepala.


***


Suara pintu yang terbuka menyentakkan lamunan Bram. Kemudian dia refleks menoleh, menduga akan mendapati Gionard di ambang pintu. Tetapi tebakannya salah, sebab yang muncul dari sana adalah gadis yang tadi, Alegra. Bram sontak berdiri.


"Maafkan aku, Tuan. Tuan Butcher sedikit terlambat karena masih ada urusan di perusahaan yang mendesak," ucapnya tenang, kini raut wajahnya tidak lagi sedatar tadi. Setidaknya Bram melihat gadis itu berusaha menyunggingkan senyuman tipis di sudut bibirnya.


"Ah, baiklah. Tidak masalah. Apa aku harus menunggu?"


"Uhm, benar. Jika kau tidak keberatan," ucapnya lagi.


Bram tampak berfikir sejenak. Dia sebenarnya tidak memiliki janji atau sesuatu untuk dia kejar, tetapi berada di sana seorang diri tampak cukup menjengkelkan. Seolah-olah dia adalah tawanan yang membahayakan, tawanan yang tidak boleh kemana-mana.


"Aku keberatan. Ruangan ini begitu sumpek untukku," jawab Bram asal. Dia hanya ingin berusaha untuk keluar dari sana, saat dia pun tidak mengerti mengapa Gionard Butcher memiliki pengamanan yang begitu ketat seperti ini.


Alegra tidak bersuara. Masih berdiri di ambang pintu, gadis itu menekan perangkat di telinganya kemudian berbicara di sana. Obrolan yang Bram tidak mengerti, membuatnya kembali mengempaskan tubuh ke sofa pada akhirnya. Baiklah, dia akan menunggu saja. Hingga beberapa detik kemudian, Alegra melangkah untuk mendekati sofa tempat lelaki itu duduk, bersitatap dengan manik kehitaman Bram yang tampak berkilat


"Ikutlah bersama saya, Tuan. Nyonya sudah sadarkan diri dan ingin bertemu."


***


Bram mengikuti langkah kaki Alegra dengan langkah besar. Meski gadis itu memiliki postur tubuh yang tidak terlalu tinggi, Bram sempat berpikir pastilah gadis ini telah dilatih dengan baik. Dibuktikan dengan derap langkahnya yang tanpa ragu, bahkan terasa sedikit cepat untuk ukuran wanita.


Menelusuri lorong mansion yang dipenuhi lukisan dan koleksi vas bunga setinggi lutut, Bram mengedarkan pandangan ke sekitar untuk sekaligus menghirup udara segar. Membuntuti Alegra hingga mereka berbelok di ujung lorong, keduanya berhenti tepat di depan sebuah pintu besar dengan knop berwarna biru cerah.


"Masuklah, Tuan. Nyonya ada di dalam," perintah gadis itu kemudian, menggeser tubuhnya untuk memberikan jalan bagi Bram. Bram tidak membantah. Meraih gagang pintu itu, dia mendorong dengan tenaga yang tidak banyak hingga salah satu pintu terbuka.


Maniknya langsung menelusuri isi dari ruangan luas itu, tempat di mana Diandra berada. Mendapati sebuah ranjang super besar yang diletakkan di tengah ruangan, Bram menduga mungkin ini adalah kamar Diandra dan Gionard. Terdapat beberapa pasang sofa dan furniture lain yang bergaya klasik, yang juga turut mengisi ruangan.


Bram menarik napas. Tidak ada orang lain di sana selain dirinya dan Diandra yang tampak sedang memandangi ke arah luar jendela, tepat setelah Bram menutup pintu besar itu. Melangkah mendekat, Bram masih diam untuk membiarkan Diandra larut dalam tatapannya. Ternyata wanita itu sedang memandangi taman bunga terhampar luas di depan ruangannya.


"Diandra." Mengucapkan nama itu lagi, bibir Bram hampir sulit untuk terbuka. Dia tahu dia mungkin seharusnya tidak berada di satu ruangan yang sama dengan istri orang lain, apalagi saat suami dari wanita itu tidak berada di sana.


Mendengar namanya mengudara, Diandra menoleh. Mendapati sosok Bram yang kini berdiri tepat di hadapannya, dia menyunggingkan senyuman tipis.


"Kau datang, Bram," ujarnya dengan nada pelan sekali.


Bram mengangguk. Tidak bisa menahan langkah untuk tidak mendekat, dia telah duduk di tepi ranjang Diandra saat Diandra tampak duduk bersila di atas kasur.


"Kau baik-baik saja? Bagaimana keadaanmu?"


Diandra mendesah. Tidak menjawab untuk beberapa saat, tampaknya dia sedang menahan emosi yang mulai bergejolak.


"Bram," panggilnya kemudian.


Bram menunggu. Menatap manik kecoklatan wanita itu, manik yang tidak berubah sama sekali. Dia tidak mengerti mengapa dia menyukai berada di sana, saat dia seharusnya tidak boleh.


"Hmm?" Tidak melonggarkan pandangan matanya sama sekali.


Diandra terdengar menarik napas panjang, sebelum air mata telah meluncur dari manik indahnya dalam satu kedipan.


Bram tersentak kecil, tidak menyangka Diandra akan menangis kali ini. Masih terdiam di posisi duduknya, Bram tanpa sadar mengulurkan satu tangan untuk mengusap pipi Diandra untuk menyingkirkan air mata wanita itu. Wanita yang tidak boleh dia sentuh, wanita milik orang lain.


Menyadari percikan api yang mulai datang, Bram seharusnya menghentikan perbuatannya. Namun tampaknya tidak bisa menahan diri kali ini, tepat saat bibir Diandra bergetar meminta sesuatu.


"Bram, kau bisa memelukku?"


.


.


.


🗼Bersambung🗼