Travelove~

Travelove~
43. De La Vientienne



“Satu lagi kesempatan yang aku minta pada Tuhan, mungkin saja membawaku kembali padamu.” ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Hari hampir merangkak naik saat mobil Bram tampak berbelok untuk berhenti sejenak persis di depan pagar tinggi rumah mewah milik Brio Trahwijaya. Menunggu sesaat hingga pagar itu dibukakan oleh penjaga yang sedang berada di pos pengamanan bagian depan, Bram sempat menurunkan kacanya sekilas.


Mendapati tuan mudanya yang tiba-tiba datang meski malam sudah hampir larut, petugas jaga itu buru-buru memberikan hormat dan segera membukakan pagar untuk membiarkan mobil Bram memasuki kawasan rumah megah itu.


Memarkirkan mobilnya tepat bersebelahan dengan dua mobil lainnya yang pernah dia gunakan dulu, Bram mematikan mesin mobil setelah dia membuka sabuk pengaman. Mengitari sekeliling rumah yang tampak menggelap, Bram menyadari betapa lamanya dia sudah tidak pulang ke rumah itu.


Saat hendak menuju arah pintu masuk, Bram mendapati seseorang yang tampak berlari kecil menuju ke arahnya.


“Selamat datang kembali, Tuan.” Suara khas milik Pak Jaka yang berhasil menghentikan langkah kakinya, membuat Bram menaikkan kepala untuk menoleh ke arah sumber suara.


“Terima kasih, Pak Jaka. Bagaimana kabar Bapak? Sehat?” Sudah terlalu lama dia tidak pulang. Ingat bahwa Pak Jaka sudah mengabdi lama di kediaman ayahnya, tempat di mana lelaki itu tumbuh besar sebelum dia memutuskan untuk membeli rumah sendiri saat usianya hampir dua puluh empat tahun.


Senyum Pak Jaka mengembang, bersyukur tuan mudanya masih mengingat namanya dengan baik.


“Saya baik, Tuan. Bagaimana dengan Bapak, Tuan?” Pertanyaan yang sudah dia tahan sejak tadi, saat khawatir menggerogoti relung hatinya melihat tuan besarnya dipapah dalam keadaan tidak sadarkan diri pagi tadi. Tidak tahu harus bertanya pada siapa, lelaki paruh baya itu hanya ingin mengetahui kondisi majikannya.


Bram tersenyum kecil. Bersyukur bahwa ayahnya diperhatikan dengan begitu baik oleh para orang-orang yang mengabdikan diri pada keluarga Trahwijaya, Bram menarik napas lega.


“Papa sudah membaik, Pak. Masih harus dirawat inap hingga pulih, mari doakan yang terbaik untuk kesehatan Papa ya,” berujar sangat sopan dan pelan Bram, sebagaimana dia telah menganggap Pak Jaka tidak hanya bawahannya namun sudah seperti paman sendiri untuknya.


Pak Jaka mengangguk senang, menarik napas lega.


“Syukurlah, Tuan. Tentu saja, kami selalu mendoakan kesehatan Bapak agar cepat pulih. Kalau begitu, silakan masuk, Tuan,” balas pria paruh baya itu kemudian, kali ini menggeser tubuhnya untuk memberikan jalan bagi Bram yang sempat dihentikannya tadi.


Mengangguk kecil, Bram kembali tersenyum.


“Terima kasih, Pak.” Tidak lagi menunggu jawaban dari Pak Jaka, Bram langsung mengambil langkah besar-besar untuk menuju arah pintu yang berwarna keemasan. Pintu yang entah berapa kali kepalanya terbentur di sana, pintu yang dia raih gagangnya saat dia belum genap berusia empat tahun.


Memandangi tubuh tuan mudanya yang tampak letih, Pak Jaka masih memperhatikan hingga bayangan Bram menghilang di sebalik pintu. Sempat menarik napas pendek-pendek, lelaki itu kemudian berbalik badan untuk melanjutkan pekerjaannya.


***


Bram menaiki anak tangga satu per satu dengan tidak sabar. Kalimat demi kalimat yang diucapkan ayahnya dengan susah payah sore tadi masih jelas terngiang, membuat lelaki itu tidak ingin menunda barang sehari pun. Ayahnya berpesan agar dia menemukan sebuah foto, foto ibunya yang berada di laci meja kerja ayahnya.


Bram sempat bertanya-tanya mengapa ayahnya menyuruhnya menemukan foto ibunya, saat jelas-jelas foto Nyonya Trahwijaya terpampang besar-besar menghiasi dinding. Ibunya dengan matanya yang sipit, ibunya dengan senyuman yang menawan.


Melangkahkan kaki untuk menuju ruang kerja ayahnya yang berada di lantai dua, Bram sempat berhenti sejenak di depan pintu. Bergumul dengan fikirannya sendiri, lelaki itu kemudian mengarahkan tangan kanannya untuk meraih gagang pintu beberapa detik kemudian. Sempat mendesah, Bram kini mendorong pintu itu dengan tenaga yang tidak terlalu besar.


Berdebar jantung lelaki itu saat dia melangkahkan kaki ke dalam ruangan, seiring dengan kenangan yang menyeruak hadir satu per satu dalam ingatan. Masa kecilnya dulu, masa muda ayahnya. Masa di mana ayahnya kuat dan tampak gagah dengan setelan jasnya, masa di mana Bram kecil senantiasa mengagumi sosok ayahnya. Kini saat melihat ayahnya terbaring lemah dengan bantuan alat-alat medis, Bram baru menyadari bahwa waktu terasa sangat cepat berlalu.


Menuju ke arah meja kerja milik ayahnya, Bram kembali menghentikan langkah. Berdiri dengan keheningan saat maniknya menelusuri laci-laci yang tertutup rapat, Bram masih menduga-duga apa yang mungkin harus dia hadapi di kemudian hari. Belum mengerti sepenuhnya tentang apa yang dikatakan ayahnya, namun Bram tidak punya pilihan lain selain mengikuti instruksi.


Kau harus pergi, secepat mungkin.


Ingin menuntaskan rasa penasaran yang kini telah memenuhi rongga dada, Bram menarik laci paling atas di meja kerja Brio Trahwijaya. Tarikan tangannya terhenti seketika saat dia menatap ke dalam laci, menemukan selembar foto hitam putih di dalam sana.


Tidak ada isi yang lain. Hanya selembar foto yang kemudian diambil Bram dengan ritme sangat pelan. Menaikkan tangan untuk memandangi foto itu lebih dekat, Bram mendapati potret seorang wanita dengan riasan tebal dan baju khas yang dia tebak adalah baju khas negara Jepang, sedang tersenyum ke arah kamera.


Mengernyitkan dahinya dan mencoba menganalisis siapa kira-kira wanita dalam foto itu, Bram perlahan tersenyum tanpa dia sadari.


Ini benar ibu. Ibuku yang cantik.


Kini membalikkan foto itu untuk memeriksa alamat yang dimaksud oleh ayahnya, Bram membaca perlahan-lahan tulisan tangan yang diukir dengan tinta berwarna hitam yang berada tepat di belakang foto itu.


Schoff, Luke.


101 Road, De La Ventienne, Paris, France.


Masih dipenuhi tanda tanya di benaknya, Bram belum bisa mengaitkan benang kusut yang kini semakin memilin di kepala.


Siapa dia? Paris? Apa aku harus ke sana dan menemui orang ini?


Membaca kembali tulisan itu dengan seksama, Bram hampir saja tercekat oleh napasnya sendiri.


Schoff, Luke?


Fikirannya sudah menerawang jauh, mengingat kembali satu-satunya orang bernama Schoff yang sempat dia kenal.


Marin. Marinda Schoff. Bukankah nama wanita itu juga berakhiran Schoff? Apa yang terjadi? Apakah Schoff yang ini ada hubungannya dengan Marin?


Mengingat kembali perkataan ayahnya yang jelas menyuruhnya untuk pergi ke alamat yang tertera di foto itu, darah Bram berdesir hebat. Tidak pernah membayangkan bahwa dia akan kembali menginjakkan kakinya di Paris, membuat jantung lelaki itu berdetak lebih kencang dari getaran normal.


Paris, kali ini apa yang akan kau takdirkan untukku?


.


.


.


🗼Bersambung🗼