
“Dengan ini aku berharap kita akan terus terikat, mengarungi hari-hari hingga kita menua. Bersama, kau dan aku selamanya.” ~Diandra Lee.
.
.
.
Bram hampir di luar kendali. Mengemudikan mobilnya seperti orang kesetanan, saat pikirannya hanya berpusat pada satu wanita saja. Siapa lagi kalau bukan istrinya? Meski Diandra beberapa hari ini menjauh dan membentang jarak di antara mereka, tetap saja tidak ada yang bisa mengalahkan dalamnya cinta lelaki itu pada istrinya.
Menggeram saat sedikit kesulitan ia mendapatkan slot parkir, Bram memaki dalam hati mengapa Warmouth Hotel begitu ramai pengunjung kali ini. Memarkirkan mobilnya dengan asal setelah mendapat satu slot yang cukup, lelaki itu kemudian keluar dari sana sambil berlari cepat.
Mendapati supir keluarganya terlihat mondar-mandir di lobi, Bram segera menghampiri pria paruh baya itu.
“Di mana Ibu?!” tanyanya tidak sabar.
Sang supir tampak membungkukkan badan sekilas, sebelum menjawab pertanyaan tuannya.
“Di kamar 213, Tuan,” jawabnya. Yang sontak saja membuat Bram melebarkan bola matanya.
“Jadi acara perpisahan itu diadakan di kamar?”
“Setahu saya begitu, Tuan. Ibu masih berada di dalam sana bersama rekannya.”
Bram mendengus kesal. Diandra sudah terlalu melebih batas, saat ia tidak menduga istrinya akan benar-benar bersikap demikian.
“Yang benar saja!” geramnya tertahan. “Ada laki-laki?!” todongnya lagi.
Sang supir tidak menganggukkan kepala, tetapi juga tidak menggeleng.
“Saya tidak tahu, Tuan.”
Menyadari dia terlalu banyak menghabiskan waktu di lobi itu untuk bercakap dengan sang supir, Bram kemudian beralih untuk mencari lift terdekat. Dia pernah mengunjungi salah satu hotel bintang lima yang terkenal dengan pelayanan dan fasilitas papan atas itu, saat beberapa kali menghadiri undangan dari koleganya.
“Tunggu di sini, Pak,” pintanya pada sang supir. Dia berencana untuk memapah Diandra dengan tangannya sendiri, dan meminta pada sang supir untuk mengantarkan mereka nanti ke rumah sakit terdekat.
Bergerak cepat untuk menuju lift yang berada di sisi kiri, Bram menekan tombol dengan tidak sabar. Setidaknya dia masih bersyukur Diandra tidak sendirian, saat temannya pasti berusaha untuk menjaga perempuan itu. Meski Bram sungguh tidak punya clue teman yang mana yang dimaksud Diandra kali ini.
Bunyi denting lift terdengar sebelum pintu itu terbuka, kemudian Bram melangkah keluar dari sana. Bola matanya memutar, memperhatikan deretan angka-angka yang dipahat di depan pintu masing-masing kamar, berusaha mencari angka paling terdekat dengan kamar yang sedang ia tuju.
Kamar itu.
Dadanya berdesir hebat, saat dirinya kini berdiri tepat di depan pintu dengan pahatan nomor yang sama dengan nomor kamar yang disebutkan sang supir tadi.
Apakah Diandra masih tidak sadarkan diri?
Mengangkat tangannya untuk menekan bel, Bram menunggu dengan perasaan cemas. Beberapa detik, tidak ada jawaban.
Berusaha menenangkan deru napasnya yang memburu naik, Bram sedang merapal doa. Berharap agar Diandra baik-baik saja.
Namun tidak ada jawaban atau sahutan dari dalam bilik, saat kemudian yang didapati Bram adalah ceklekan pintu yang terbuka pelan. Tidak ada seorang pun yang muncul di sana, namun celah antara pintu dan kusen itu telah menarik perhatian Bram.
“Diandra?” panggilnya pelan.
Menunggu beberapa detik, tetapi tidak ada sahutan. “Kau di dalam, Sayang?” panggilnya lagi.
Antara ragu apakah dia akan masuk atau tidak, Bram memberanikan diri untuk meraih gagang pintu dan mendorongnya perlahan. Persetan dengan teman-teman Diandra yang mungkin ada di dalam sana, sebab yang paling penting untuknya kini adalah keselamatan perempuan itu.
“Aku masuk, Diandra!” serunya tertahan.
Maniknya memutar saat mendapati ruangan itu kosong melompong, seiring dengan gerak kakinya yang merangkak lebih dalam. Terlihat sebuah ranjang besar di tengah ruangan, saat Bram meyakini bahwa tipe kamar ini pastilah tipe suite yang berharga cukup mahal.
Terdapat dua gelas kosong dan sebotol wine yang diletakkan di atas meja, persis bersisian dengan jendela yang dibiarkan terbuka sedikit. Gorden berwarna emas itu terbang tertiup angin yang masuk berembus, tetapi yang anehnya adalah tiada satu orang pun di dalam sana.
Bram menggeram. Menarik napas pelan-pelan saat ia sudah mencapai tengah ruangan, sibuk meneliti ke sekeliling untuk mencari istrinya.
Tidak ada orang tetapi pintu ini terbuka tadi. Horor sekali.
“Diandra?”
Lelaki itu baru saja hendak berbalik saat sepasang lengan telah bertaut di pinggangnya, beberapa detik membuat tubuhnya menegang dan membelalak. Seorang perempuan tengah memeluknya dari belakang kini, saat Bram tersenyum ketika ia mendapati cincin yang sangat ia kenal tersemat di jari perempuan itu.
“Selamat ulang tahun, Bram,” bisik Diandra pelan. Menyandarkan kepalanya di punggung lelaki itu, menyalurkan kerinduan yang sengaja ia tahan sejak beberapa hari lalu. Bukan hanya sulit untuk Bram saat mereka berjauhan, tetapi sulit juga untuk Diandra.
Bram mendesah. Mengelus tangan mulus istrinya yang terkait erat, sebelum memutar badan untuk mendapati Diandra tengah melebarkan senyum ke arahnya.
“Sayang ....” Bram kehilangan kata-kata. Terlalu kaget dia, terlalu terkejut dengan apa yang didapatnya saat ini.
“Happy birthday,” bisik Diandra lagi. Memajukan tubuhnya untuk memberikan satu ciuman kecil pada bibir suaminya, Diandra memagut bibir Bram dengan perasaan penuh damba.
Tidak menduga. Sama sekali tidak tahu, bahkan. Lelaki itu saja tidak sadar bahwa ini adalah hari ulang tahunnya, sejak bertahun-tahun yang lalu ia tidak pernah merayakan hari kelahirannya itu.
Melepaskan pagutannya, Diandra masih menempelkan tubuhnya pada Bram.
“Hei, ini semua—“ Bram tertawa kecil. “Kau mengingat ulang tahunku, Diandra. Saat aku saja lupa,” bisik Bram.
Diandra terkekeh. Jika tahun pertama pernikahan mereka kemarin mereka tidak saling merayakan hari ulang tahun sebab telah lebih dulu bercerai, maka sejak saat ini Diandra berjanji dia akan selalu di sana untuk memberikan hal-hal baik saat suaminya bertambah usia.
“Maaf, aku membuatmu kesal beberapa hari ini kan?” Lengannya masih bertaut, kini berpindah posisi tepat di belakang pinggang Bram. Menggoyangkan sedikit tubuhnya, mengusap punggung bawah Bram dengan lembut.
Bram menggeleng. “Aku hampir gila, Diandra. Kau berhasil sekali membuatku kesulitan bernapas,” sanggah Bram. Kali ini semakin membuat istrinya terkekeh, merasa senang.
“Terima kasih, Sayang,” ujar Bram pelan. Maniknya melebar seiring senyuman yang mengembang di wajahnya, mendaratkan satu kecupan di pipi kiri Diandra.
“Thanks for loving me. Terima kasih karena ada di sini untukku, Diandra.”
Diandra mengangguk kecil. Mendongak saat tangan Bram meraih dagunya, bersiap menutup mata saat bibir lelaki itu hampir mengenai bibirnya kembali. Membiarkan kali ini Bram yang mengambil alih, saat ciuman lelaki itu terasa manis dan mendebarkan.
Mengusap kembali punggung Bram, Diandra menggeliat saat tangan kokoh lelaki itu sudah bergerak menelusup ke dalam blouse yang ia kenakan.
Melepaskan pagutannya meski dengan sedikit paksaan—sebab Bram tidak ingin, Diandra terengah saat mengambil udara segar.
“Right now, Bram? Seriusan? Masih sore banget—“
Diandra menjauhkan kepalanya beberapa senti. Memicingkan mata seakan tidak percaya, tetapi sepertinya Bram tidak berniat mundur lagi.
“Diandra.”
“Apa, Sayang?”
Lelaki itu semakin mengencangkan dekapannya, menarik sedikit paksa Diandra untuk jatuh ke dalam pelukannya.
“Kau sudah kunci pintunya, kan?”
.
.
.
🗼Bersambung🗼