
“Melihatmu kesal adalah salah satu favoritku sekarang.” ~Diandra Lee.
.
.
.
Diandra benar-benar tidak datang. Bahkan setelah kata-kata manis yang diucapkan Bram ke telinganya tadi, perempuan itu tetap memilih untuk duduk dan menemani Vallois dan Verden di ruang bermain. Tidak mengindahkan permintaan Bram yang sepertinya sudah berada di ambang kerinduan yang sangat, dia tetap diam di posisinya sambil memakan keripik kentang.
Bram menatap seisi kamar. Kosong melompong, saat dia berharap Diandra akan berada di sana dan menyambutnya dengan senyuman selebar wajah. Menggeram, lelaki itu bahkan menarik napas panjang-panjang agar tidak turun dan membawa Diandra dalam gendongannya sekarang juga.
Kenapa sesulit ini, sih? Hanya masalah luka memar yang telah menghilang tetapi sepertinya ancaman Diandra terasa benar-benar akan terjadi sekarang.
Mengelapkan handuk kecil ke arah rambutnya yang masih basah, Bram bahkan terniat saat hanya melilitkan sebuah handuk di pinggang. Berharap Diandra akan menatapnya dengan pancaran wajah mendamba, kemudian mendekatinya dan melepaskan handuk itu dengan tangan mungilnya sendiri. Tetapi apa daya, yang terjadi hanyalah ruang lengang yang penuh dengan kehampaan.
Bergerak menuju walk in wardrobe mereka akhirnya, Bram meraih asal-asalan sebuah kaus dan memilih celana santai selutut untuk ia kenakan. Menyemprotkan beberapa kali parfumnya ke area leher, lelaki itu tidak ingin Diandra mengatainya bau lagi. Setidaknya nanti saat perempuan itu masuk ke kamar mereka, bau maskulin miliknya dapat menyeruak menenangkan.
Menghela napas lagi setelah ia selesai berpakaian, Bram berencana untuk turun ke meja makan. Dia belum makan dan perutnya mulai keroncongan sekarang. Menyampirkan satu senyuman di sudut bibir, lelaki itu sudah melihat Diandra di pelupuk mata. Membayangkan lebih tepatnya, saat Diandra menopang kedua tangannya di dagu, memperhatikan setiap gerakan yang Bram lakukan saat ia makan. Sesekali perempuan itu akan meminta disuapi, dan Bram tentu saja dengan senang hati menyuapkan sendok miliknya ke dalam mulut Diandra.
Baiklah. Mungkin terlalu pagi, pikir Bram. Berharap kelak Diandra akan memandangnya seperti biasa di meja makan, agar setidaknya sakit kepalanya bisa berkurang. Bram bukan tipikal pria yang mengeluh pada istrinya, tetapi masalah tentang hilangnya tender mereka cukup menyita perhatiannya belakangan ini. Sukses membuatnya kelelahan berpikir, hingga merasa tengkuknya berat setiap hari.
Meraih gagang pintu, lelaki itu menuruni tangga dengan langkah besar-besar. Menghampiri Diandra yang masih memegangi bungkusan potato chips di tangan, lelaki itu duduk tepat di sebelah istrinya.
“Kalian sudah makan, Sayang?” tanyanya pelan.
Diandra tidak menoleh. Sedang Vallois dan Verden sibuk bermain bersama pengasuh mereka di lantai yang beralas karpet beludru tebal. Manik perempuan itu masih tertuju ke arah televisi besar yang menyala. Menampilkan acara makan-makan yang menggugah selera.
“Sudah,” jawab Diandra pelan. Satu tangannya sibuk bergerak masuk ke dalam bungkusan besar itu, kemudian mengarahkan potongan potato chips ke dalam mulutnya. Seolah kehadiran Bram di sana tidak memberi efek apa-apa untuknya.
“Diandra, kau tidak mau melihatku?” Nada suara Bram datar kali ini, saat lelaki itu terdengar menarik napas pelan. Ada yang salah dengan istrinya.
“Kenapa, Bram?” Menoleh kali ini, Diandra mengerucutkan bibir. Tidak tampak senyum di sana.
Bram hening sesaat. Berusaha mengatur deru napasnya agar tidak memburu, saat ia sedang merapal doa agar nada suaranya tidak terdengar kesal. Dia berusaha keras untuk bersikap biasa sekarang.
“Aku mau makan, temani aku yuk,” ajaknya. Tangannya sudah bergerak menyusuri lengan Diandra yang memegangi bungkusan chiki. Berharap Diandra akan mengangguk, kemudian meraih tangannya untuk dia gandeng menuju meja makan, seperti biasanya.
Di luar dugaan, Diandra malah menggeleng keras. “Aku mau menonton,” katanya datar.
Membuat Bram bagai disambar petir, saat lidahnya tiba-tiba saja kelu. Maniknya memutar seiring dengan Diandra yang mengalihkan kembali pandangannya ke televisi, seolah kini televisi itu lebih menarik dibanding Bram yang sudah mandi dan wangi.
Bram menggeram. Ingin rasanya kuteriak dan kuhancurkan televisi, batinnya. Terlalu cemburu kini sebab istrinya lebih memilih untuk menonton daripada menemani dia makan. Bram Trahwijaya sedang shock sekarang!
“Diandra, yang benar saja—“
“Bram, makanlah sendiri. Semuanya sudah tersedia di meja makan, kan?” Belum sempat Bram mengajukan protes, Diandra sudah memotong lebih dulu. Seakan-akan pilihannya kali ini tidak melukai hati suaminya, saat perasaan lelaki itu sudah bercampur aduk di dalam hatinya sekarang.
Bingung harus bereaksi seperti apa, bingung harus bertindak seperti apa.
“Baiklah.” Bram akhirnya bangkit, berusaha keras menahan rasa kesal yang menjalar ke seluruh tubuh. Dia tidak ingin mendebat lagi. Di satu sisi dia sedang lelah, di sisi lain dia tidak ingin amarah datang mengambil alih. Meski ia butuh asupan energi tidak hanya dari makanan, tetapi juga dari tatapan mata istrinya yang mengalirkan cinta.
Melangkah menuju meja makan, lelaki itu mengambil piring dan duduk di kursinya dalam keheningan. Menyantap makanan yang ada di depannya tidak dengan selera penuh, tetapi hanya ingin menuntaskan rasa lapar yang telah sejak tadi ia tahan.
Dia rindu istrinya, dia rindu Diandra.
Hampir selesai aktivitas makannya yang tidak bersemangat, Bram menoleh saat menyadari keberadaan seseorang yang lain di dapur mereka. Menaikkan kepala dan mendapati Diandra bergerak untuk menarik satu kursi di depannya, senyuman lelaki itu otomatis terbit.
“Kau ke sini, Sayang. Aku belum selesai, kok. Mau menemaniku, kan?” tanyanya senang.
Diandra meletakkan gelas kecilnya di atas meja, menuangkan air mineral dari teko yang berada di atas sana. Perhatiannya tidak terpusat pada suaminya yang tampak tampan sekali seperti biasanya—saat ia berusaha menghindari tatapan Bram.
“Aku hanya mau minum,” balasnya datar.
Terpotek lagi hati Mas Brambang.
“Diandra, seriuslah—“
“Aku akan tidur di kamar Vallois dan Verden malam ini, Bram.”
Terpatah sudah hati Mas Brambang.
“Kenapa?! Tapi—“
“Mereka mengigau belakangan ini. Aku hanya ingin memastikan tidur keduanya nyenyak hingga pagi,” balas Diandra cepat.
Bram mencelos.
“Jadi, aku bagaimana? Kau akan membiarkan aku tidur sendiri?” Nada suaranya melemah, terdengar hampir putus asa.
Diandra mengangkat bahu, melirik sekilas pada Bram kali ini.
“Kau kan sudah besar, Bram. Tidur sendiri tidak apa-apa kan?” sanggahnya lagi.
Melorot bahu Bram. Patah berkeping-keping hatinya sudah.
“Cepatlah makan, kami akan tidur setelah ini. Selamat malam, Bram.”
Diandra bangkit, berjalan untuk meletakkan gelasnya ke dalam westafel dan berlalu dari sana. Meninggalkan Bram yang meletakkan sendok dan garpunya dengan mimik wajah kesal sekali, hampir berasap kepalanya malam itu.
Menunduk, hatinya terasa kosong. Diabaikan seperti ini oleh Diandra tidak pernah ada dalam pikirannya, dan dia tidak tahu bagaimana harus menghadapi situasi ini.
Meraih gelas dan buru-buru menenggak airnya, manik lelaki itu memperhatikan Diandra yang menggandeng Vallois dan Verden menaiki anak tangga.
Mengembuskan napas panjang, Bram berusaha untuk tetap waras. Tetapi tampaknya malam ini akan berlalu dengan berat sekali, sebab tidak ada Diandra di ranjang mereka, bahkan tidak ada ciuman selamat malam.
.
.
.
🗼Bersambung🗼