
“Aku bersyukur kau datang. Setidaknya kini semua ketakutanku sirna dengan satu kedipan mata.” ~Marinda Schoff.
.
.
.
“Makanlah, Bram.” Marin mengeluarkan suara, melirik ke arah tumpukan buah potong berbagai jenis dan kue yang terletak di atas meja. Setelah menyelesaikan pembicaraan dengan Luke tadi, kini mereka telah berpindah tempat ke taman belakang. Berdua saja, tanpa Luke di sana.
Bram menoleh, menatap manik kebiruan Marin yang tampak redup.
“Mengapa kau pergi, Marin? Mengapa kau tidak mengatakan apapun?”
Gadis itu menahan sendokan buah yang hendak dia masukkan ke dalam mulut. Tidak berani menatap mata kehitaman Bram, Marin memilih untuk melihat ke arah lain.
“Maafkan aku, Bram. Aku mengambil kesimpulan terlalu cepat,” kilahnya.
Bram masih menatapnya, tidak bergerak sama sekali.
“Luke mengatakan bahwa dia akan menembakmu jika aku ingin menggantikan posisinya. Aku tahu seberapa brutal klanku, Bram. Aku hanya tidak ingin kau berada dalam bahaya saat itu. Siapa sangka ternyata kenyataannya seperti ini,” ujar Marin pelan.
Bram menahan senyuman. Tidak pernah terlintas di fikirannya bahwa kepergian Marin tempo itu memanglah untuk melindungi dirinya, sebab gadis itu tidak berucap atau menjelaskan apapun. Kini saat semuanya menjadi jelas, Bram bisa menerima. Dia telah mendapatkan jawaban atas pertanyaan yang bercokol di dalam hatinya.
Meraih sebuah garpu kecil dan memilih potongan semangka, Bram mengunyah buah kemerahan itu dengan lahap.
“Aku tidak menyangka kita mimiliki takdir seperti ini, Bram. Bukan begitu menurutmu?” Marin kembali bertanya, diikuti anggukan Bram yang tampak setuju.
“Kau benar, Marin. Aku tidak tahu bahwa ayahku dan ayahmu berteman, meski entah seperti apa hubungan mereka sekarang,” balas Bram.
Marin meletakkan garpunya, kini memberikan perhatian penuh untuk menatap lelaki itu.
“Bagaimana keadaan ayahmu, Bram? Apakah kesehatannya membaik?”
“Dia stroke. Ringan, namun penyakit jantungnya sudah menahun.” Bram berujar sembari menarik napas panjang, mengisi rongga dadanya dengan udara. Tidak membalas tatapan Marin, dia memilih untuk mengedarkan pandangan ke arah hamparan bunga-bunga berbagai warna yang jelas sekali terawat dengan baik.
“Aku turut sedih, Bram. Kuharap beliau lekas pulih,” tambah Marin.
Bram tersenyum kali ini.
“Terima kasih, Marin. Kau dan ayahmu adalah orang yang baik. Kalian pasti diberkahi dan disegani, bukan begitu?”
Marin mengangguk pelan. Dia tidak perlu menceritakan secara detil mengenai sepak terjang klannya di Paris. Dia tidak perlu mengatakan seberapa kuat posisi Luke Schoff di sana, atau seberapa luas jangkauan klan mereka. Jawaban tegas Bram tadi yang dia berikan pada ayahnya, sudah memutus rantai mengenai janji masa lalu, yang mungkin tidak akan pernah tertunaikan dengan baik.
“Kau sama sekali tidak berniat mengambil alih klan? Kau tidak penasaran?”
Bram mengambil jeda beberapa detik. Menyeringai, dia kini meraih gelas minumannya.
“Mengurusi hidupku saja sudah sulit, Marin. Apalagi harus menjadi pimpinan mafia yang aku tidak tahu seluk beluknya. Kau sungguh melewatkan kesempatan emas sebab keputusanmu tempo itu, kan? Seharusnya kau membawaku ke hadapan Luke.”
Hening beberapa saat.
Tidak, Bram. Meski saat itu aku tahu kau mungkin mengambil alih pimpinan klanku, Luke tidak akan membiarkan dua pimpinan hidup di atap yang sama. Keputusanku untuk pergi adalah karena aku tahu tidak ada jalan untuk kita. Memang benar aku pergi untuk melindungimu, tetapi sebenarnya aku sedang melindungi klanku dari perpecahan.
“Tidak juga, Bram. Aku tidak berniat untuk mengambil alih menjadi pimpinan klan. Aku hanya ingin hidup normal seperti wanita biasanya,” balas gadis itu dengan napas yang terdengar berat.
“Benarkah? Bukankah kau ditakdirkan untuk menjadi pemimpin, Marin? Makanya kau ditempah sedemikian rupa untuk menjadi tangguh?” Bram sungguh penasaran.
Marin terkekeh kali ini. Mendengar pertanyaan Bram yang tampaknya terdengar serius, dia tidak bisa menahan diri untuk tidak tertawa.
“Yang benar saja, Bram!” protes gadis itu. Tawa renyah Marin sontak menularkan perasaan bahagia pada lawan bicaranya, saat Bram tanpa sadar melebarkan sebuah senyuman di sudut bibir.
“Kau terlihat sehat dan bahagia, Marin.” Berbisik Bram kali ini, memelankan nada suara dari volume sebelumnya.
Marin terdiam. Bersitatap dengan lelaki di hadapannya ini tidak pernah mudah, tetapi dia sudah mulai menyesuaikan diri. Dia juga telah memilih jalannya sendiri, tidak ingin menyesali apa yang dia coba lakukan selama ini.
Aku akan memutus tali apapun yang menggantung di antara kita, Bram. Meski mungkin menyakitkan, tetapi seperti ini lebih baik.
Menarik napas pelan, Marin menghimpun kekuatan.
“Aku berkencan, Bram,” katanya terbata.
Membuat Bram seketika terdiam, mencerna dengan baik kalimat Marin baru saja. Dia memang terkejut, tetapi tidak terasa sakit di dalam sana. Dia justru bahagia sebab Marin mungkin telah bahagia sekarang.
“Aku turut bahagia untukmu, Marin. Siapa dia? Apakah dia juga seorang mafia?” Bram bertanya untuk mencairkan situasi yang sempat canggung.
Marin menggeleng, sembari menahan senyuman.
“Tidak. Dia juga pebisnis, sama sepertimu. Tetapi dia adalah satu-satunya penerus klannya, meski bukan mafia seperti ayahku,” jelas gadis itu.
“Dia laki-laki yang beruntung, Marin. Kuharap kau bahagia.” Bram melebarkan senyuman, menatap ke dalam manik kebiruan Marin yang kini tampak lebih bercahaya.
Semuanya telah kembali jelas, kembali ke tempatnya masing-masing. Bram tidak harus terlibat lebih jauh dengan klan Schoff, meski kini dia telah membuka tabir yang menutupi kenyataan selama ini. Marin bukanlah orang asing, kini mereka bisa dikatakan kerabat dekat meski pertemuan mereka tidak karena perkenalan keluarga.
Mengangguk, Marin mendapati nada suara yang begitu tulus dalam nada suara Bram. Lelaki itu tidak menyimpan sesuatu sama sekali, persis seperti dugaannya. Dia yang selama ini menyimpan sesuatu untuk lelaki itu, saat Bram tidak memiliki tempat sedikit pun untuknya berlabuh.
Tidak menyesali keputusannya, Marin telah berikrar untuk memulai kisahnya bersama Anderson Lueic. Sebagai seorang wanita, dia dengan waras memilih untuk berada pada posisi yang dicintai, bukan yang mencintai.
“Terima kasih, Bram. Doa yang sama untukmu, kuharap kau juga bahagia Bram.” Sama tulusnya dengan nada suara lelaki itu, Marin juga mengagungkan harapannya untuk Bram. Berharap Bram akan menemukan kembali kepingan cintanya, berharap dia akan berlabuh dan kembali ke tempatnya seharusnya.
“Baiklah, aku akan pergi, Marin. Terima kasih atas jamuannya dan sampaikan salamku pada Luke. Kini kami punya tempat untuk dikunjungi jika kami ingin datang lain kali.” Berujar sembari bangkit dari duduknya, Bram sempat meregangkan tubuhnya beberapa saat.
Melirik ke arah arlojinya yang telah menunjukkan lewat tengah hari, Bram berniat untuk pulang dan menemui Alberto untuk kemudian bersiap mencari tiket penerbangan paling cepat. Urusannya sudah selesai, dan dia juga telah mengantongi dokumen mengenai tabungan ibunya yang berada di Bank Swiss. Mungkin saja dia bisa mencairkan uang itu kelak saat dia membutuhkan dana.
“Baiklah, Bram. Kau yakin tidak ingin aku mengantarmu?” tawar Marin sekali lagi, mana tahu lelaki itu berubah fikiran.
“Tidak, Marin. Aku bisa naik taksi. Nikmati waktumu.” Marin mengangguk, dia juga tidak ingin memaksa.
Memesan sebuah taksi online yang datang beberapa saat kemudian, Bram sudah berada di dalam taksi itu sembari menatap Marin yang mengantarnya hingga ambang pintu. Melambaikan tangan, keduanya masih saling melempar senyuman saat taksi itu bergerak pergi, menciptakan jarak yang nyata.
Selamat tinggal, Bram. Berbahagialah.
.
.
.
🗼Bersambung🗼