Travelove~

Travelove~
Bonchap 6 - Menjadi Malam Mingguku



“Kenapa kau tidak jadi melakukan itu? / Sebab kupikir itu akan membuatmu semakin marah.” ~Diandra Lee / Bram Trahwijaya.


.


.


.


Bram memijat pelipis. Berusaha mendengarkan dengan seksama penuturan dari salah satu karyawan yang sedang menjabarkan masalah proyek perusahaan Trahwijaya yang baru, yang terdengar sangat melelahkan sore ini. Maniknya memutar malas, dengan raut wajah bosan yang tidak bisa disembunyikan lagi. Hari sudah hampir sore dan sepertinya pembahasan ini akan memakan waktu yang masih cukup lama.


Mendesah, Bram menyayangkan betapa dia masih harus bekerja keras di hari Sabtu. Tadinya ia sempat meminta Meta agar memindahkan jadwal meeting kali ini di Senin minggu depan, tetapi akibat beberapa alasan mereka tetap harus melaksanakan meeting itu di sore hari seperti ini. Yang mana berhasil membuat Bram mengerjapkan matanya berulang kali, berusaha untuk menarik titik fokus kembali ke tempatnya semula.


“Jadi, kira-kira kita akan menggunakan bahan dasar dari perusahaan ... bla bla bla ....”


Bram melirik ke ponselnya yang tiba-tiba bercahaya. Menampilkan pop up satu pesan masuk, yang langsung digesernya kemudian.


My Wife:


‘Sayang, pulang jam berapa?’


Baru saja hendak dia mengetik balasan, satu pesan lagi sudah lebih dulu masuk.


‘Aku kangen.’


Menyampirkan satu senyuman di wajah tampannya, seakan kini pesan beruntun dari Diandra itu mampu membuat kantuknya menghilang. Jemari lelaki itu masih berada di keypad, saat satu lagi pesan masuk tiba-tiba muncul.


‘Pulang sekarang bisa enggak? Aku lho kangen.’


Semakin lebar senyum sang pimpinan. Sudah dia ketikkan pesan balasannya yang berisi bahwa dia mungkin akan pulang lebih lama hari ini, tetepi Diandra lebih cepat mengetik sepertinya.


‘Awas ya kalo pulang malam! Adeknya ngambek lho!’


“Astaga....” Tanpa sadar lelaki itu bergumam. Tidak lagi mendengarkan dengan seksama penuturan karyawannya tadi, dia sudah benar-benar masuk dalam chattingnya bersama sang istri. Menunggu beberapa saat sebelum kemudian ia berhasil mengirimkan pesannya, lelaki itu tersenyum lebih lebar.


Kantuknya hilang seketika, saat lelaki itu kini melirik pada arloji TAG Heuer yang melingkar di pergelangan tangannya. Hampir pukul enam sore, dan sepertinya ia harus segera pergi dari sana. Bagi seorang ayah sekaligus calon ayah siaga satu, Bram sudah mulai terbiasa dengan rutinitas semacam ini. Terbiasa dengan hal-hal yang diminta mendadak oleh Diandra, terbiasa dengan mood istrinya itu yang sering kali naik turun.


Diandra tampak sedang mengetik pesannya di sebrang sana, saat Bram menunggu dengan sabar. Tidak bisa menghilangkan raut senang di wajahnya, saat kemudian lelaki itu melebarkan senyum selebar wajah.


My Wife:


‘I’m waiting. You better come soon, miss you a lot.’


Dan huruf yang diketikkan Diandra tadi sukses membuat Bram merasa hatinya berbunga-bunga, seakan segerombolan liliput berterbangan di dalam sana.


Menaikkan tangan untuk menyela presentasi yang masih berlangsung, Bram memotong perkataan karyawannya tadi yang sontak terdiam. Kini mendapati seluruh peserta rapat yang berjumlah enam orang di satu ruangan itu menatap penuh konsentrasi ke arahnya, Bram melebarkan senyum tanpa ragu.


“Sampai di sini dulu, ya. Saya ada urusan, urgent. Dilanjutkan Senin saja, oke?” Kalimat itu terdengar seperti perintah, tetapi kali ini diucapkan dengan sangat tenang. Berbanding terbalik dari ekspresi lelaki itu beberapa saat lalu, yang menimbulkan banyak persepsi oleh para karyawannya.


“Baik, Pak.” Hampir bersamaan peserta rapat itu menjawab, saat Bram telah bangkit dari kursinya dan berbalik untuk meninggalkan ruang rapat.


Hingga salah satu peserta rapat dari departemen pemasaran menyikut Meta—sekretaris Bram, yang berada tepat di sebelah kursi pimpinan mereka yang kini sudah kosong.


“Tumben, urgent apa Ta?” bisiknya kepo. Dia memang pernah mendengar rumor tentang mood swing pimpinan mereka yang beredar di kalangan karyawan, tetapi kali ini dia melihatnya dengan matanya sendiri dan tidak bisa menahan diri untuk tidak bertanya.


Meta melebarkan senyuman, merapikan berkas-berkas yang berada di atas meja sekaligus menutup notebook yang sedari tadi menyala.


“Ayah idaman siaga satu,” jawabnya tertawa kecil.


***


Diandra menyambut kedatangan suaminya dengan senyum sumringah. Melebarkan kedua tangan saat Bram memeluknya erat, Diandra tertawa kecil.


“Kangen,” bisiknya pelan. Mencuri satu kecupan di leher suaminya, saat Bram bergidik kecil akibat sambutan yang langsung saja membuatnya bergairah.


“I’m home, Sayang,” balas Bram senang. Melepaskan dekapan mereka yang masih berada di ambang pintu, lelaki itu meraih tangan Diandra dan membawanya dalam genggaman.


“Mana si kembar?” tanya Bram seiring dengan masuknya mereka ke dalam rumah, merasa asing saat mendapati lantai satu rumah itu terasa hampa dan kosong.


“Tadi Tante Luna datang, dan dia bawa si kembar ke sana untuk menginap malam ini,” jelas Diandra. “Kupikir kau akan pulang cepat dan nanti kita bisa ke sana untuk menjemput kalau-kalau si kembar rewel.”


Bram mengangguk.


“Ayah di kamarnya, Dokter Aryo baru saja pulang,” jelas Diandra lagi.


“Baiklah Sayang.”


Keduanya masih bergandengan hingga mencapai anak tangga paling atas, kemudian melangkah bersama untuk memasuki kamar.


“Kenapa Sabtu juga pulangnya lama sih?” gerutu Diandra sedikit kesal.


Bram sudah meletakkan tasnya di atas sofa, membiarkan Diandra membantunya membuka jas yang ia kenakan. Perempuan itu melonggarkan dasi suaminya dan terhenti saat Bram sudah menarik pinggangnya untuk mendekat.


“Katanya kangen,” ucap Bram menggoda. “Aku sedang rapat dan langsung kuberhentikan untuk pulang lho,” bisiknya.


Mendekati Diandra untuk kemudian mengecup pipi kiri perempuan itu, gerakan Bram sempat membuat Diandra tergelak kecil.


“Iya, tadi kangen. Makanya mau suruh cepat-cepat mandi sana,” balas Diandra. Menjauhkan wajahnya dari wajah Bram yang terus maju, Diandra mengibaskan tangan di depan Bram.


“Mandi dulu, Bram,” pintanya pelan. Tetapi sepertinya Bram belum ingin, saat dia kini menargetkan bibir merah muda Diandra untuk memberikan satu ciuman hangat.


Diandra mengelak. Membuat Bram refleks memutar bola matanya sempurna.


“Sayang ...,” protesnya.


“Mandi dulu ....,” pinta Diandra lagi. Kali ini dengan nada manja yang dibuat-buat, saat Bram kemudian melebarkan satu senyum.


Disambut dengan gelengan Diandra, saat tangannya sudah bergerak untuk membuka kancing kemeja suaminya satu per satu.


“Aku sudah mandi. Kau saja ya. Nanti kita makan di luar saja.”


Bram merentangkan tangan saat Diandra menurunkan kemejanya, sembari mengangguk kecil.


“Oke, Sayang.”


***


Jika Bram berpikir Diandra akan mengajaknya untuk makan malam di salah satu restoran langganan mereka, maka kali ini perempuan itu menggeleng keras saat Bram membawa kunci mobilnya di tangan.


“Kita tidak naik mobil, Bram,” tolak perempuan itu cepat dengan gelengan kepala.


“Huh? Jadi?” Manik lelaki itu memicing, saat ia sudah bersedia dengan kemejanya dan celana jeans panjang berwarna gelap.


“Naik motor saja,” pinta Diandra pelan. “Aku ingin naik motor, berboncengan sambil malam mingguan dan makan nasi goreng di kompleks perumahan kita dulu,” jelasnya.


Membuat manik Bram membulat sempurna, seakan tidak percaya. Sebab hari sudah menggelap dan tidak biasanya Diandra meminta naik motor. Lagipula motor yang ada di rumah mereka adalah motor bebek yang biasanya digunakan oleh asisten rumah tangga untuk berbelanja.


“Naik motor? Sayang, sudah malam tapi nanti—“


“Nah!” Diandra sudah lebih dulu memotong, menyerahkan kunci motor satu-satunya yang mereka punya di garasi kepada Bram.


Kini lelaki itu mulai memahami mengapa Diandra berpakaian santai seperti saat ini: kaus yang dipadu dengan jaket, dan celana panjang santai yang membalut kaki jenjangnya.


“Aku perlu tukar baju tidak?” Tiba-tiba Bram merasa tidak yakin akan outfitnya malam itu, tetapi Diandra buru-buru menggeleng.


“Tidak usah, begitu saja sudah ganteng,” pujinya tulus. Lagipula ia tidak ingin terlalu lama pergi sebab khawatir warung nasi goreng yang akan dituju mereka keburu ramai oleh pembeli.


Bram bergerak menuju garasi, menunggangi motor bebek itu dengan helm di kepala. Mengajukan satu helm lagi untuk digunakan Diandra, kemudian perempuan itu sudah duduk manis di belakang boncengan suaminya.


“Jalan, Mang!” serunya sembari menepuk pundak Bram, terkekeh pelan menahan tawa di belakang sana. Bram melebarkan senyuman, melirik Diandra dari kaca spion yang menampilkan wajah merona perempuan itu.


“Kita akan ke warung nasi goreng di kompleks perumahan dulu?” tanya Bram memastikan. Disambut dengan anggukan Diandra tanpa ragu, saat perempuan itu berbisik pelan di telinga Bram.


“Adek bayinya lagi pengen itu.” Padahal sebenarnya dia yang pengen, tapi ibu hamil kan bebas, sultan juga, haha.


Menghabiskan hampir lima belas menit mengendarai motor itu, baik Diandra dan Bram terlibat dalam obrolan kecil sepanjang perjalanan. Melingkarkan kedua lengannya di pinggang Bram, Diandra tertawa saat Bram berulang kali menarik tangannya dan memberikan bertubi kecupan di punggung tangan. Seakan tidak mau kalah dengan anak zaman now yang menghabiskan waktu malam minggunya di luar, kini dua orang yang bisa disebut sebagai salah satu pebisnis sukses itu pun melakukan hal yang sama. Meninggalkan kemewahan, berbaur dengan macetnya jalanan kota dan asap yang mengepul.


Mendapati senyuman lebar dari kang nasi goreng yang ternyata masih berjualan di sana, Bram tidak menyangka penjual itu masih mengingatnya dengan baik. Bahkan setelah bertahun, dia masih memanggil Bram dengan sebutan ‘Bapak Bram’ yang jelas.


Memandangi dua piring nasi goreng di depan mereka, Bram dan Diandra kompak menyantap hidangan yang tersaji. Diandra yang tampak paling bersemangat, saat ia sudah menyendok satu penuh nasi goreng ke dalam mulutnya. Menampilkan ekspresi puas, perempuan itu tidak henti-hentinya memuji betapa enaknya nasi goreng yang ia makan sekarang.


“Bram, kau masih ingat kita pernah mampir ke sini setelah anniversary perusahaan waktu itu?” tanya Diandra tiba-tiba.


Bram menyendok satu penuh dan mulai mengunyah. Dia mengangguk kemudian.


“Masihlah. Kita sama-sama dirundung emosi dan kau bilang kau lapar. Astaga, Diandra, kau benar-benar menggemaskan kala itu,” celoteh Bram.


Membuat Diandra tersenyum kemudian, saat mereka sedang mengulang kisah lama sekarang.


“Aku benar-benar lapar tahu saat itu,” belanya. “Sekaligus, aku juga takut sebab kau tampak menakutkan saat kau menarikku dari apartemen Gio. Kupikir kau pastilah marah besar.”


Bram meraih botol minum yang berisi air mineral dan membuka tutupnya, menyerahkan pada Diandra kemudian.


“Aku memang marah, Diandra. Tetapi hilang begitu saja saat kau berkata kau lapar. Rasanya aku ingin menciummu saat itu juga waktu itu,” ujar Bram lagi.


Diandra menerima sodoran air minum itu, menyedotnya dari pipet yang dimasukkan Bram ke dalam sana.


“Jadi, kenapa tidak kau lakukan?” tanya Diandra penasaran. Mereka sudah terlanjur membahas tentang itu sekarang, dan jawaban Bram tadi memang membangkitkan rasa penasarannya.


Bram tersenyum.


“Aku khawatir kau akan marah,” jawabnya jujur. “Aku juga takut kau tidak jadi makan karna aku mungkin saja memakanmu lebih dulu,” katanya.


Mengundang decak tawa dari Diandra, saat perempuan itu melayangkan satu tepukan ke lengan suaminya dengan gemas.


“Kau ini!” gerutunya. “Seharusnya kau melakukannya kala itu,” sambung Diandra lagi. Nasinya hampir habis dan dia berniat untuk menyendok dua kali lagi.


“Melakukan yang mana?” Kali ini Bram yang berpura-pura polos.


Diandra mendekatkan tubuhnya untuk mendempet meja, memajukan kepala sebelum berbisik pelan.


“Memakan aku.”


Bram mengikuti gerakan yang dilakukan istrinya, tidak peduli pada beberapa pasang mata yang tertuju pada mereka. Beberapa mengagumi Bram, beberapa mengagumi Diandra, dan beberapa lainnya mengagumi keduanya.


“Ayo, kita pulang.” Bram menggenggam tangan Diandra kemudian, saat keduanya sudah selesai dengan nasi goreng mereka.


“Kumakan kau semalaman ini, bagaimana? Hitung-hitung malam mingguan,” bisik Bram lagi. Benar-benar mengundang gelak tawa dari Diandra, saat ia bangkit dari kursinya untuk menuju kasir sedangkan Bram menuju arah motor bebek mereka terparkir.


Menyodorkan helm pada Diandra, Bram memperhatikan gerakan perempuan itu saat Diandra menggulung rambutnya ke atas sebelum memakai helm itu kemudian.


“Kau cantik sekali, Diandra. Terima kasih sudah menjadi malam mingguku.”


.


.


.


*~Selamat malam minggu, readers! Jangan lupa mamam yeee. Jangan ditunggu yang ini yaaaaa wkwkkw. Semoga bisa melepas rindu akan Brambang bang bang :p love muwaaah :**