Travelove~

Travelove~
Bonchap 17 - Bersiaplah Untuk Jatuh Cinta



“Dia akan menjadi anugrah yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Dia akan menjadi perempuan lain, yang kelak membuatku jatuh cinta.” ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Diandra berusaha untuk tetap tenang. Meletakkan ponselnya di sisi kanan, perempuan itu masih mencoba menahan rasa kantuk yang mulai menyerang. Dia tidak boleh terlelap, tidak sebelum ia memastikan suaminya berada dalam kondisi yang baik-baik saja.


Tidak biasanya Bram seperti ini, terlebih ketika kini Diandra berada pada masa-masa akhir kehamilan yang perlu diwaspadai setiap waktu.


Terkantuk-kantuk perempuan itu sudah kini, ketika ia menaikkan dua kakinya ke atas sofa. Menarik satu bantal berukuran sedang untuk dijadikan sandaran, Diandra membaringkan tubuhnya di sepanjang sofa panjang itu dengan perasaan cemas.


Memilih untuk berbaring menghadap kiri, Diandra tidak henti-hentinya mengelus perut besarnya sembari berbicara dalam hati.


“Semoga Ayah baik-baik aja ya, Dek. Bunda gak tau Ayah di mana, tapi kita tunggu sama-sama, ya?”


Mendapati respon yang cukup cepat dari si jabang bayi, Diandra sempat melengkungkan senyuman. Merasakan gerakan calon buah hatinya—sang penerus klan Trahwijaya yang menendangnya lembut, Diandra kembali merasa hangat.


“Iya, iya. Bunda tahu. Adek yang sehat, ya? Nanti biar cepet kita ketemunya. Adek mau digendong Ayah, ya? Mau main sama abang Val dan abang Ver, ya?”


Terlalu asyik sepertinya Diandra bercengkrama dengan anak dalam kandungannya, hingga ia tidak menyadari suara mobil Bram yang baru saja memasuki garasi. Suasana di rumah utama Trahwijaya sudah hening, sebab penghuni yang lain sudah terlelap lebih dulu.


Meninggalkan Nyonya Trahwijaya yang masih terjaga, dengan perasaan khawatir yang tidak kunjung sirna.


Tersentak kecil Diandra ketika mendengar bunyi pintu yang dibuka, dan dengan cepat perempuan itu buru-buru bangkit dari posisinya berbaring.


Bram membelalak, mendapati istri tercintanya masih terjaga di hari yang hampir berganti ini.


“Sayang, kok tidur di sini?” Melepaskan jasnya dan menaruh tasnya di sofa terdekat, Bram begitu saja mendekati Diandra yang sudah memasang wajah cemberut.


“Dari mana sih?” tanya perempuan itu ketus.


Bram mendesah.


“Maaf,” lirih lelaki itu. Memeluk Diandra dari samping, Bram mendaratkan satu kecupan di pipi istrinya. “Adek belum bobo, ya?”


Kini beralih untuk menempelkan telinganya pada puncak perut Diandra, Bram menyapa buah hati mereka di dalam sana. “Nungguin Ayah, ya?” tanyanya senang.


Diandra masih cemberut. Memasang wajah kesal yang tidak dibuat-buat, perempuan itu sungguh butuh penjelasan.


“Aku tadi berapa kali kirim pesan dan telepon, tapi semua ga dibalas dan ga diangkat. Kemana sih? Bikin khawatir aja!” gerutu perempuan itu kini.


Bram tersentak kali ini. Dia sungguh sibuk bekerja, hingga tidak menyadari bahwa ponselnya sedari tadi sudah kehabisan daya. Lelaki itu berpikir memang tidak ada pesan atau panggilan yang masuk, sebab ponselnya begitu hening sejak tadi. Ternyata, ponselnya sudah mati.


“Maaf, Sayang,” bisik Bram kini. “Ada banyak sekali concall dan aku bahkan tidak sadar ponselku mati. Maaf ya?” Menyunggingkan senyuman yang entah mengapa tampak begitu membuatnya tampan, Bram menyugar rambutnya pelan kini.


Diandra belum luluh.


“Aku khawatir, tahu!” katanya. “Kupikir kau kenapa-napa, sampai aku berpikir yang tidak-tidak.”


Menunduk, perempuan itu sedang menahan gemuruh di dalam dada. Bram mengerjapkan mata beberapa kali, berusaha untuk mengembalikan mood istrinya menjadi lebih baik.


“Aku takut kau pergi,” lirih Diandra kali ini. Hampir menangis perempuan itu, sebab entah mengapa bayang-bayang kehamilannya terdahulu begitu saja hadir.


Mengingat kembali bagaimana dia menunggu Gionard kembali, setelah kepergian lelaki itu yang mengatakan dia akan pergi menaiki uji coba helikopter baru. Menunggu yang terlalu lama, yang akhirnya membuat dunianya hancur berantakan.


Sebab bukan Gionard yang kembali padanya, tetapi kabar kehilangan lelaki itu yang membuat Diandra hampir setengah mati bertahan.


Kejadian itu tepat terjadi sebelum dia melahirkan Vallois dan Verden, dan itu benar-benar masih menjadi mimpi buruk untuk Diandra hingga kini.


“Diandra, hei, maafkan aku.” Menarik istrinya ke dalam pelukan, Bram berusaha untuk menenangkan Diandra yang mulai terisak.


“Aku takut kau tidak kembali, Bram. Aku tidak ingin melahirkan seorang diri, aku tidak ingin lagi bertahan seorang diri,” bisik Diandra.


Bram mengeratkan pelukannya. “Shh, tidak, Sayang,” balasnya menenangkan.


“Aku minta maaf, Diandra. Aku bersalah malam ini. Tetapi percayalah aku tidak mungkin pergi, aku tidak mungkin meninggalkanmu sendirian di sini.”


Diandra masih mengalirkan airmata yang membasahi pipi, merasakan usapan lembut Bram di tubuhnya. Bahkan wangi parfum yang bercampur dengan aroma tubuh lelaki itu terasa menenangkan, sebab kini Diandra tidak lagi sendirian.


Bram kembali. Lelaki itu selalu kembali.


“Berjanjilah untuk terus bersamaku, Bram,” pinta Diandra kini. “Berjanjilah untuk tidak lagi membuatku khawatir seperti tadi, sebab aku tidak bisa membayangkan hidup tanpa kau di sini.”


Bram tersenyum. Perempuan ini mencintainya dengan sepenuh hati, sama seperti dirinya yang bersedia jatuh bangun berulang kali untuk memiliki dia sepenuhnya. Diandra adalah kehidupannya, Diandra adalah alasannya untuk terus bertahan.


Dan mendapati Diandra menunggunya dengan cemas malam ini sungguh memberikan dua sensasi yang berbeda, sebab di satu sisi dia merasa terpuja meski di sisi lain dia bersalah karena tidak sengaja membuat istrinya merasa sedih.


“Aku berjanji, Sayang. Aku berjanji.” Bram berbisik lagi kali ini, menempelkan bibirnya pada kening Diandra untuk dia berikan satu kecupan sayang.


Diandra menghapus airmata yang masih tersisa, kini menaikkan kepala untuk menatap pada wajah Bram Trahwijaya. Ada keletihan yang terpancar dari wajah lelaki itu, meski Bram sama sekali tidak pernah mengeluh akan pekerjaannya selama ini.


Mengangkat tangan untuk mengelus wajah Bram, Diandra membiarkan rasa panas dari tangannya beralih pada pipi suaminya.


“Kau terlihat letih sekali, Bram,” bisik Diandra pelan.


Bram menggeleng. Meski sebenarnya memang seperti itu keadaannya, tetapi lelaki itu masih punya cadangan tenaga yang tersisa jika memang Diandra meminta sesuatu padanya malam ini.


“Tidak juga,” balas Bram cepat. “Apa kau lapar?” tanya lelaki itu.


Kali ini giliran Diandra yang menggeleng. “Tidak, aku sudah makan cukup banyak tadi. Dan kau?”


Bram tampak berpikir beberapa saat. Dia sudah makan meski tidak dengan benar, dan kini dia hanya ingin memeluk perempuan itu sepanjang malam. Tempatnya kembali, kekasihnya sepanjang masa.


“Tidak,” kata Bram. “Aku hanya ingin bersamamu malam ini. Memelukmu hingga pagi, Diandra.”


Ada yang tidak berubah dari lelaki itu, seorang Bram Trahwijaya. Kenyataan bahwa Bram selalu saja memiliki sisi romantis yang sukses meluluhlantakkan hati Diandra, memang tidak bisa dipungkiri.


“Baiklah,” sahut Diandra senang. Tidak lagi ada airmata, perempuan itu kini melengkungkan senyuman.


“Ah, aku mendapat kabar baik tadi,” lanjut Diandra lagi.


Bram menunggu, menatap istrinya dalam-dalam. “Hmm? Kabar apa?”


Diandra menegakkan tubuh. Meraih tangan Bram untuk menggenggamnya erat, perempuan itu bersuara pelan.


“Aku menentukan tanggal persalinan bersama Dokter Rossa hari ini. Itu akan jatuh di beberapa minggu ke depan, dan kau sebaiknya bersiap,” ujar Diandra.


Bram melebarkan senyuman. Menikmati rasa bahagia yang begitu saja menelusup ke dalam dada, lelaki itu hampir tidak bisa berkata-kata.


“Bersiaplah untuk menjadi Ayah sekali lagi, Bram,” sambung Diandra cepat. “Dan bersiaplah untuk jatuh cinta pada anak perempuanmu nanti.”


.


.


.


~Selamat jatuh cinta, Brambang~


BONUS


Diandra dengan kecantikan paripurna, kwkkwkw.