
“Menggantimu dengan yang lain, siapa sangka akan sesulit ini?” ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Suara ketukan di pintu ruangan Bram terdengar nyaring. Mengangkat kepala dan mengalihkan pandangannya dari layar laptop yang sedang menyala, Bram menyahut pelan untuk memberikan respon.
“Masuk!” ucapnya dengan nada sedang, tetapi mampu didengar hingga ke luar pintu.
Mendorong pintu kecoklatan itu beberapa detik kemudian, Meta telah muncul dari ambang pintu. Memberikan senyuman sekilas lalu melangkah mendekati meja kerja Bram, sekretaris Bram itu tampak memegangi beberapa dokumen di tangannya. Menaruh dokumen itu dengan sopan di atas meja, Meta kembali bersuara.
“Pak, berikut laporan untuk perkembangan produk yang baru saja kita luncurkan bulan lalu. Departemen marketing mengatakan bahwa mereka akan mengirimkan data valid yang lebih lengkap langsung ke email Bapak, dan data ini sebagai laporan garis besarnya,” ujar Meta menjelaskan.
Beringsut mendekat dan meraih dokumen yang diserahkan Meta, Bram membuka lembaran dokumen itu seraya mengamati isi di dalamnya. Membaca sekilas laporan itu beberapa detik, Bram kemudian mengangguk pelan.
“Oke. Saya baca nanti,” balasnya.
“Baik, Pak.” Meta mengangguk kecil. Tampak masih memegangi sesuatu di tangan kanannya, namun Meta belum bersuara dan hanya berdiri tegak untuk beberapa saat. Menyadari Meta belum beranjak, Bram kembali melirik pada wanita itu.
“Ada lagi, Meta?”
Terdengar Meta menarik napas.
“Uhm, ini Pak.” Meski ragu di awal, namun akhirnya dia meletakkan kertas yang dia pegang sebelumnya juga di atas meja kerja Bram.
Manik Bram menyusuri benda yang menyerupai undangan itu. Membaca sekilas pada tulisan di depannya, lelaki itu tampak hening.
“Undangan anniversary dari D-Gallery, Pak. Saya sudah mengatur untuk mengirimkan bunga, mana tahu Bapak berencana untuk tidak-"
“Saya akan pergi,” potong Bram cepat. Meta sempat tersentak kecil, kini menarik napas pelan.
Bram mengangkat kepalanya kembali.
“Saya akan pergi, Meta. Kosongkan semua jadwal di hari itu, saya akan ke sana.” Memperjelas ucapannya, nada suara Bram terdengar tenang namun tegas.
Meta mengangguk pelan, meski dia tidak menyangka bosnya itu akan setuju untuk pergi kali ini.
“Baik, Pak. Saya permisi dulu, Pak,” pamit Meta kemudian, telah menyampaikan seluruh pesannya pada sang bos yang tampak telah lebih tenang saat ini.
Sesaat setelah Meta menghilang di balik pintu, Bram meraih kembali undangan yang tadi sempat dia pegang, membaca berulang kali nama butik itu di hatinya.
D-Gallery. D-Gallery.
Setelah sekian lama, D-Gallery tetap berada di sana. Ingatan Bram tiba-tiba melayang jauh, saat lelaki itu tanpa sadar telah menyandarkan kepalanya pada sandaran kursi kebesarannya. Menatap langit-langit, memori Bram memaksa lelaki itu untuk mengingat masa lalu, kembali ke masa dimana dia dengan sepenuh hatinya menghadiahkan D-Gallery untuk Diandra Lee, mantan istrinya. Tidak bisa menolak bayang-bayang Diandra yang kembali hadir di pelupuk mata, Bram menyunggingkan seutas senyum simpul.
Diandra, D-Gallery masih ada meski kau tidak lagi di sini. Aku mempertahankannya, sebab design adalah pilihanmu sejak dulu. Kelak jika kau mungkin datang lagi untuk berkunjung, kuharap kau bahagia sebab butikmu masih berada di sana.
Menarik napas pelan-pelan, Bram memenuhi rongga dadanya dengan udara yang cukup. Setelah beberapa lama kembali mengingat kisah lama yang berakhir menyakitkan, lelaki itu kemudian berangsur menegakkan kepala dan merubah posisinya menjadi duduk tegak. Memegangi undangan itu di kedua tangannya kali ini, Bram memilih untuk hening meski maniknya masih tertuju pada tulisan D-Gallery yang tampak besar di halaman depan.
Kuharap kau bahagia bersama Gionard, Diandra. Juga semoga kau senantiasa sehat hingga bayimu lahir ke dunia. Menjadi paman untuk anakmu mungkin akan cocok untukku.
***
“Ma Cherry?” Suara khas milik Luke Schoff terdengar di sebrang telepon genggam yang masih dipegang erat oleh Marin, setelah gadis itu melewati pertimbangan cukup lama sebelum akhirnya menekan nomor ponsel ayahnya.
Memeriksa waktu dan memastikan bahwa Luke belum terlelap malam itu, Marin tidak kuasa untuk menahan hasrat menggebu tentang pertanyaan yang telah berkumpul di kepalanya. Tentang misinya, tentang kebenaran akan takdir yang mungkin membelenggu dia dan seorang laki-laki. Terdengar menarik napas perlahan gadis itu sebelum membuka mulut dan mengeluarkan suara pelan.
“Kau sudah tidur, Pap?” Pembukaan yang baik, yang diucapkan Marin dengan lancar.
“Aku baik-baik saja Pap.” Setidaknya itu yang bisa dia katakan, menyembunyikan fakta bahwa dia hampir saja pingsan di depan makam ibu Bram beberapa waktu lalu.
“Jadi, ada apa?” Pertanyaan menjurus yang langsung dilontarkan oleh Luke, sudah menduga bahwa putrinya itu tidak mungkin menelepon selarut ini hanya untuk bertanya kabar atau sekedar mengucapkan selamat tidur. Pasti ada yang ingin gadis itu sampaikan, dan Luke tahu jelas akan hal itu. Bahkan sebelum dia menggeser tombol hijau di layar ponselnya beberapa menit lalu, lelaki tua itu sudah menerka-nerka dalam hati apa kira-kira yang akan dibicarakan Marin malam ini.
Marin menghela napas. Mengumpulkan kekuatan, sebab dia sudah memutuskan untuk menelepon. Mungkin saja tindakannya setelah ini memang bergantung dari hasil percakapan mereka malam ini.
“Aku menemukan Kobayashi-san. Dia adalah Ki Rei, kan?” Hampir tercekat suara Marin, sungguh pelan tetapi dia yakin Luke bisa mendengarnya dengan jelas sekali.
Hening sesaat.
“Kau menemukannya, Ma Cherry?” Tampak seperti menahan napas beberapa detik, Luke menjawab dengan sebuah desahan panjang.
“Aku berdiri di depan makamnya. Bertanya-tanya apa kira-kira hubungan wanita Jepang itu dengan misiku kali ini dan mengapa kau menyuruhku untuk mencari orang mati, Pap?” Mengatakannya dengan satu helaan napas, Marin menyadari bahwa percakapan mereka kini mulai terdengar serius.
“Baguslah jika kau menemukannya. Tetapi bukan diam misimu yang sebenarnya,” ujar Luke tegas.
Marin tersentak kecil. Menelaah informasi yang dia dengar baru saja, memastikan telinganya tidak salah dengar atas kalimat terakhir ayahnya. Menegakkan posisi untuk duduk lebih tegak, gadis itu mengembuskan napas berat.
“Tunggu. Apa maksudmu, Pap?”
Terdengar seringai Luke di sebrang telepon, menandakan bahwa dia mungkin sedang tertawa kecil sekarang.
“Kau tidak mungkin membawa orang mati padaku, Ma Cherry. Jadi temukanlah putra dari Ki Rei dan bawa dia padaku.” Tegas, dalam satu kalimat panjang.
Marin membisu. Merasakan degupan jantungnya yang mulai berdebar memburu, merasa kerongkongannya tercekat kali ini.
“Putra Ki Rei. Itulah misimu yang sebenarnya. Dia adalah pesaingmu, meski sudah kuanggap dia anakku sendiri.” Suara Luke kembali terdengar, bukannya membuat Marin semakin memahami situasi yang terjadi namun malah semakin membuatnya mengernyitkan dahi.
“Aku tidak mengerti, Pap. Mengapa harus putranya kini?!” Menaikkan nada suara, Marin menahan nada suara gemetar yang mulai timbul sebab kini bayangan lelaki itu telah muncul di pelupuk matanya.
Luke tersenyum di sudut bibirnya, mengisap cerutunya kembali dalam satu tarikan napas sebelum mengembuskan asapnya ke udara.
“Karena dia memegang satu kunci klan Schoff, yang mungkin kau butuhkan nanti,” jawab Luke pelan.
Marin mengerjapkan mata.
Bram, apa yang sedang terjadi? Mengapa serumit ini?
Menarik napas perlahan untuk kembali mengisi rongga dada, Marin berusaha untuk tetap tenang meski fikirannya sudah melayang kemana-mana.
“Apa yang akan kau lakukan jika aku membawanya padamu?” Gemetar Marin memikirkan kemungkinan terburuk yang terlintas di fikirannya, membuat bulu kuduknya meremang. Sebab gadis itu tahu Luke tidak akan pernah membiarkan siapapun memegang rahasia klan mereka.
“Mungkin satu tembakan akan cukup untuk membuatmu jadi pemimpin klan Schoff sepenuhnya.” Berbicara tanpa hambatan lelaki tua bangka itu, tidak tahu bahwa kalimatnya sudah membuat bulu kuduk putrinya berdiri.
Menggigit bibir, Marin hampir kehilangan suara.
“Bagaimana jika aku tidak mampu menemukannya?” Bertanya pelan, penuh putus asa pada kemungkinan terburuk yang mungkin saja menjadi konsekuensinya.
Luke kembali menyeringai kecil.
“Bersiaplah untuk merelakan kehancuran klan Schoff.”
.
.
.
🗼Bersambung🗼