
“Aku sudah mengucapkan selamat tinggal. Berharap kelak kita akan dipertemukan menjadi dua orang asing yang tidak saling kenal di kehidupan selanjutnya, atau mungkin sekalian menjadi dua insan yang saling mencinta.” ~Marinda Schoff.
.
.
.
Acara anniversary dari butik D-Gallery siang itu berjalan lancar dan khidmat. Meski tidak sangat sangat meriah, namun untuk sekelas butik yang menyediakan koleksi untuk jajaran sosialita dan artis papan atas, perayaan itu tampak sudah sangat menawan.
Bram sedikit disibukkan untuk menyapa para tamu undangan, meski dia juga sesungguhnya datang adalah sebagai tamu. Tetapi karena D-Gallery masih secara legal tercatat sebagai miliknya, dia punya beberapa andil dalam memastikan butik itu tetap berjalan hingga sekarang.
Marin melakukan tugasnya dengan baik. Berbaur dan berbicara santai dengan beberapa tamu undangan, gadis itu juga sekaligus memeriksa koleksi dari butik D-Gallery yang turut menampilkan karya-karya fenomenal mereka. Bram tidak banyak membahas tentang riwayat D-Gallery pada Marin, sebagaimana Marin juga tidak mengorek informasi lebih lanjut mengenai butik itu.
Setelah beberapa jam berada di acara tersebut, Marin meminta agar mereka bisa pulang ke apartemen lebih awal dengan mengatakan bahwa dia memiliki sesuatu untuk dikerjakan. Tidak menolak, Bram bersedia untuk pulang dan pamit undur diri bahkan sebelum acara anniversary itu selesai.
Kini sama-sama berjalan pelan di lorong apartemen mereka, keduanya tampak memelankan langkah seiring dengan jarak yang semakin dekat. Hingga beberapa langkah lagi mencapai pintu apartemennya, Bram memutar tubuh untuk menatap pada Marin yang juga refleks menghentikan langkah.
“Terima kasih telah menemaniku hari ini, Marin. Apa kau ingin singgah?” Pertanyaan yang sudah ditahan lelaki itu sejak mereka berada di perjalanan pulang, kini terucap dari bibir Bram dengan lancar jaya.
Marin tersenyum kecil sebelum dia menggeleng pelan.
“Tidak, Bram. Aku sedikit buru-buru,” jawabnya pelan. Ada sorot mata tidak rela yang dipancarkan manik kebiruan Marin, tetapi Bram tidak mampu melihatnya dengan jelas.
Mengangguk kecil, Bram kembali bersuara.
“Baiklah kalau begitu. Aku juga sebenarnya memiliki janji dengan Alberto malam ini. Nikmati waktumu, Marin. Terima kasih sekali lagi,” ujar lelaki itu kemudian.
“Baiklah, Bram. Sampai jumpa.” Marin telah mengambil kembali langkahnya yang tertunda, meneruskan untuk mengayun kedua kakinya hingga dia berhenti tepat di depan pintu apartemen miliknya. Menyadari bahwa Bram belum bergerak sedikit pun dari posisi sebelumnya, Marin memberanikan diri untuk memutar tubuh kali ini, menatap manik kehitaman Bram dengan tatapan dalam dan senyum kecil di sudut bibirnya.
Aku pergi, Bram. Mari kita jangan bertemu lagi, karena aku akan mengucapkan selamat tinggal kali ini.
“Selamat tinggal, Bram.” Berujar pelan gadis itu, menahan napas beberapa detik saat bibirnya mengucapkan tiga kata itu dengan terbata.
Bram balas tersenyum, kali ini dengan senyuman lebih lebar dari sebelumnya.
“Selamat tinggal, Marin,” balas lelaki itu. Tidak menyangka bahwa selamat tinggal yang Marin ucapkan adalah salam perpisahan, tidak menyangka bahwa selamat tinggal yang dia ucapkan adalah selamat tinggal untuk mengiringi kepergian gadis itu.
Menekan kombinasi angka pada layar mesin detector pintunya, Marin telah menghilang dari pandangan Bram beberapa detik kemudian. Menutup pintunya rapat-rapat, gadis itu bersandar di balik pintu dengan desahan napas yang terdengar berat. Tidak ingin menyesali keputusannya, Marin terus menguatkan diri dan merapal doa dalam hati bahwa keputusannya untuk pergi kali ini adalah keputusan terbaik yang pernah dia ambil dalam hidupnya.
Tidak menyadari bulir-bulir air mata telah menggenang di pelupuk mata, Marin tidak kuasa menahan aliran air yang membasahi pipi karena sebuah kedipan. Cepat-cepat menghapus air mata itu dengan punggung tangannya, Marin menarik napas panjang.
Sebab itu bukan akhir dari segalanya, sebab perpisahannya dengan lelaki itu hanyalah seujung kuku jika dibandingkan dengan hal yang menunggunya di Paris. Kemurkaan Luke, dan mungkin saja benar-benar kehancuran klannya sendiri.
***
Alberto datang tidak lama kemudian. Setelah memastikan Bram benar akan datang malam ini, lelaki itu bergegas memacu mobil sport-nya untuk menuju sebuah club VVIP tempat di mana dia memegang kartu member Super Gold dengan akses tanpa batas.
Bram baru saja menelepon dan mengatakan bahwa lelaki itu sudah berada di sebuah private room, yang menjadi alasan untuk Alberto menginjak gasnya lebih dalam. Tidak ingin membuat Bram menunggu lebih lama, atau lelaki itu bisa saja memakinya habis-habisan.
Menuang segelas kecil wine, Bram sudah bersandar pada sofa empuk yang berlapis beludru lembut berwarna biru langit. Meneggak minuman itu dalam sekali teguk, Bram menyipitkan matanya saat cairan kemerahan itu mengalir melewati kerongkongan.
Alberto tiba tidak lama kemudian. Saat Bram hampir menenggak gelas keduanya, lelaki yang selalu disebut bocah oleh Bram itu akhirnya mendorong pintu, menyampirkan seutas cengiran kuda di wajahnya sebab telah membuat Bram menunggu.
“Kau menunggu lama, Bram?” Masuk dan melangkah tanpa ragu, suara Alberto memenuhi ruangan yang masih dibiarkan Bram hening.
Tidak langsung menjawab dan memilih untuk meneggak gelas wine keduanya, Bram menyeringai kecil.
“Kau yang bayar, Al. Kau didenda, kau tahu?” sungutnya.
Alberto tertawa. Mengambil posisi duduk tepat di sebelah Bram, lelaki itu dengan cekatan meraih gelas kosong dan mengisinya dengan wine. Persis sama seperti yang dilakukan Bram sebelumnya.
“Baiklah, baiklah. Aku yang traktir, Bro. Minumlah sampai kau mabuk!” berkata Alberto sebelum menyesap wine-nya, sudah benar-benar bergabung dengan Bram malam itu.
“Kenapa kau terlambat? Apa sesuatu terjadi?” Bertanya sebab dia tahu Alberto sangat jarang sekali terlambat apalagi dalam urusan minum-minum, Bram sebenarnya hanya asal bertanya.
Meletakkan gelasnya ke atas meja, Alberto mengeluarkan ponselnya dan meletakkan benda pipih itu juga di atas meja kaca.
“Ah, ada beberapa hal yang harus kuselesaikan dengan Leah. Tampaknya gadis itu akan sibuk sebab Marin tidak akan bisa membantunya lagi,” jelas Alberto pelan.
“Begitukah?” Tidak terlalu memperhatikan setiap kata-kata Alberto, Bram mengusap rambutnya sebelum bersandar ke arah sofa.
“Jadi, apa yang kau hadiahkan untuk kepergian Marin kali ini, Bram?” Pertanyaan tegas dari Alberto membuat Bram memicingkan mata sekilas.
“Hadiah apa? Memangnya dia pergi ke mana?” Bertanya dengan kesadaran penuh, dengan wajah innocent yang tidak dibuat-buat.
Alberto melongo. Menatap tajam pada manik Bram, memeriksa apakah lelaki itu sedang melakukan prank padanya atau tidak. Pastilah Bram sudah menyiapkan hadiahnya lebih dulu sebelum Marin pergi, meski Alberto tahu lelaki itu juga pasti tidak sudi menceritakan apapun padanya. Dia saja diberitahu oleh Leah tentang kepulangan Marin.
“Tidak lucu, Bram,” gusar Alberto malas, tidak senang dia dijadikan olok-olok lagi oleh mantan abang iparnya itu.
Bram menegakkan tubuh. Bertumpu pada kedua lututnya, lelaki itu memandang serius pada Alberto.
“Kau yang serius, Al. Aku benar-benar bertanya mengapa kau bilang tidak lucu?”
Alberto yang tadinya hendak mengambil kembali botol wine, kini mengurungkan niatnya dan menarik kembali tangan yang telah terulur. Memutar tubuh untuk membalas tatapan Bram yang tampak tajam, Alberto menggeleng pelan.
“Kau sungguh tidak tahu, Bram?” tanyanya lagi, memastikan.
Bram masih diam untuk beberapa saat.
“Katakan, ada apa?” Menodong Alberto dengan tatapan elangnya, Bram menunggu. Sedangkan Alberto kini memandangi lelaki itu dengan tatapan tidak percaya, tidak menyangka seorang Bram Trahwijaya bisa melewatkan momen ini begitu saja.
“Marin. Dia kembali ke Paris malam ini.”
.
.
.
🗼Bersambung🗼