Travelove~

Travelove~
90. After Marriage (2)



“Kini rumah adalah tempat yang paling ingin aku tuju. Karena napasku berada di sana, menungguku dengan kasih sayang yang membuncah.” ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Tidak perlu waktu lama untuk pasangan suami istri itu menentukan pilihan. Setelah menelepon Brio Trahwijaya mengenai rencana pindah mereka ke kediamannya, kini hampir semua barang-barang milik Diandra, Bram, dan juga si kembar telah sampai di rumah kediaman Trahwijaya.


Brio tentu saja senang saat menanggapi perpindahan anak semata wayang beserta menantu dan dua cucu kembarnya, saat ia tidak menyangka bahwa rumahnya akan menjadi pilihan kembali. Selama ini ia terbiasa tinggal sendiri, ditemani beberapa pengurus rumah tangga yang siap sedia. Dokter Aryo berkunjung sesuai jadwal—seminggu sekali atau dua minggu sekali, untuk memeriksa perkembangan dan kesehatan pria itu.


Bram tentu saja sama senangnya. Kembali ke rumah, kali ini tidak sendiri namun membawa serta keluarga kecilnya sungguh terasa menyenangkan. Dia telah menyerahkan urusan menghias kamar pada salah satu perusahaan arsitektur ternama yang juga merupakan mitra bisnisnya, untuk menyulap kamar yang akan ditempati Vallois dan Verden menjadi dipenuhi nuansa superhero seperti kesukaan keduanya.


Brio Trahwijaya menempati satu kamar utama di lantai bawah, sedang kamar si kembar dan kamar Bram dan Diandra akan berada di lantai atas. Kini kediaman Trahwijaya tidak akan sepi lagi, sekaligus Diandra juga bisa mengurus Brio yang kondisinya sudah semakin menua.


Mengantar kedua anak kembarnya memasuki kamar mereka yang baru, Diandra bersyukur dalam hati sebab Vallois dan Verden tampak senang dengan nuansa kamar itu. Bahkan keduanya berlompatan di atas kasur, berteriak menunjuk lukisan superhero yang ada di dinding. Sepertinya mereka akan menyukai tinggal di sana, dan semoga saja betah meski butuh penyesuaian.


Bram melingkarkan lengannya pada pinggang Diandra, menatap ke arah dalam kamar Vallois dan Verden dengan manik berbinar.


“Mereka suka, Sayang?” bisiknya.


“Tentu. Lihat, kedua anakmu bahkan tidak bisa diam,” jawab Diandra sembari tertawa kecil.


“Val, jangan ke sana! Awas kau bisa saja jatuh,” seru Diandra saat mendapati Vallois sudah bersembunyi di balik lemari, menghilang dari tatapan Verden yang masih menutup matanya. Mereka sudah dalam mode bermain petak umpet rupanya sekarang.


Bram tertawa. “Biarkan saja. Laki-laki terbiasa seperti itu,” ujarnya pelan, mencuri satu kecupan singkat di pipi kanan Diandra. Membuat perempuan itu bergidik, otomatis memalingkan wajah untuk menatap manik suaminya.


“Bram!” sungutnya.


“Biarin. Kau menggemaskan ketika marah, Diandra,” jawab Bram asal. Kali ini mendapatkan satu cubitan di perutnya yang kotak-kotak, tetapi dia tidak meringis. Dia malah semakin bergairah.


“Vallois, Verden! Ayo cuci kaki kalian. Tidurlah, sudah jamnya tidur,” seru lelaki itu kemudian.


Diandra menaikkan bahu.


“Biar Ayah bisa mencicipi surga dengan Bunda kalian,” lanjut Bram lagi, sengaja berbisik di telinga istrinya sebelum beranjak mendekati Vallois dan Verden yang masih bermain.


Menggandeng keduanya kemudian ke arah kamar mandi, berniat untuk menidurkan anak kembarnya saat ini juga.


Diandra tertawa, saat mendapati Bram mengerlingkan mata ke arahnya.


Habislah aku. Dasar serigala tampan.


***


Alberto menarik napas ragu. Sudah seminggu lebih berlalu sejak pertemuannya terakhir kali dengan perempuan itu, tetapi entah mengapa bayang-bayangnya masih hadir di pelupuk mata. Dan kini, dia seperti orang bodoh—duduk di dalam mobil dengan tangan yang mencengkram setir.


Tidak tahu harus melakukan apa, bahkan saat ia sudah berada di parkiran tepat di mana D-Gallery berada.


Belum mematikan mesin mobilnya sejak tadi, lelaki itu tampak meremas rambutnya kesal. Kesal atas dirinya sendiri, kesal atas perasaan yang dia tidak pahami sejak pertemuan itu. Perempuan itu, Hana, sungguh mencuri atensinya. Dia tidak pernah menyangka dia akan tertarik dengan istri pria lain, sama seperti dia pastilah murka jika mengetahui pria lain tertarik pada istrinya—suatu saat nanti.


Melepaskan sabuk pengaman itu dengan berat hati dan gundah, Alberto menunduk untuk kembali menghela napas. Masih berada di parkiran basement mall besar itu, ia hanya selangkah lagi untuk melihat wajah cantik Hana. Tadinya dia berencana untuk pura-pura lewat saja, namun entah jika kelak dia memutuskan untuk mampir dan berpura-pura mencari sesuatu di butik itu.


Sekelebat bayangan dari sepasang kekasih tampak mengusiknya, saat lelaki itu kemudian memicingkan mata. Dari tempatnya berdiri, ia dapat melihat sang wanita sedang didorong ke salah satu tiang yang berada di parkiran sana, dengan dua tangannya terangkat ke udara.


Jelas sekali. Sang wanita meronta, berusaha untuk melepaskan diri dari cengkraman sang lelaki yang bertubuh lebih besar. Rambut wanita yang diikat menyerupai kucir kuda itu bergoyang, seiring dengan gerakannya yang kasar.


Alberto mendelik. Cih. Saat dia sedang galau seperti ini, bisa-bisanya sepasang kekasih make out di depan matanya? Sungguh menjengkelkan sekali.


Alberto biasanya tidak tertarik dengan urusan orang lain, apalagi mengenai urusan percintaan. Seperti sepasang kekasih yang masih tampak menempel di depannya sana, ia sebisa mungkin memalingkan wajah dari adegan-adegan itu. Meski awalnya ia merasa gairahnya naik, namun cepat-cepat ditepisnya. Dia harus fokus pada tujuan utama, melihat perempuan itu.


Mematikan mesin mobilnya, Alberto tidak sengaja melihat kembali ke arah yang sama. Namun kali ini matanya memicing, karena tamparan dari sang lelaki terlihat mendarat mulus pada pipi wanita itu. Kedua tangan perempuan itu sudah berada di genggaman sang lelaki, saat sepertinya lelaki itu lagi membisikkan sesuatu ke telinga si wanita.


Manik Alberto semakin mengarah ke depan, saat ia menyadari ada sesuatu yang salah.


Tidak. Itu bukan kegiatan percintaan seperti yang Alberto pikirkan, tetapi lebih seperti adegan kekerasan. Sang pria kembali melayangkan tamparan keras, membuat perempuan itu menoleh tidak sengaja ke arah mobil Alberto.


Menahan napas, Alberto membelalak saat mendapati wajah perempuan itu terlihat jelas. Kini berusaha untuk lepas dari cengkraman sang pria, si perempuan tampak melakukan perlawanan meski tidak begitu berhasil.


Jantung Alberto berdegup kencang sekali, saat ia tanpa sadar sudah turun dari mobilnya dengan secepat kilat.


“Hei!” teriaknya keras.


Membuat sang pria tadi terkejut, menoleh sekilas ke arahnya sebelum kemudian tampak mengatakan sesuatu pada wanitanya. Melepaskan pegangannya pada tangan perempuan itu, pria berjaket itu langsung melangkah pergi ke arah berlawanan, meninggalkan perempuan tadi yang refleks tersungkur ke lantai.


Menangis, wanita itu terisak saat tubuh lemahnya menyentuh semen yang dingin.


Alberto berlari, mendekati perempuan itu. Ikatan rambutnya tampak berantakan, menunduk tepat saat Alberto sudah berlutut di sampingnya.


“Kau tidak apa-apa?” tanya Alberto cepat. Jantungnya masih berdegup tidak karuan, saat napasnya sudah memburu begitu kencang.


Perempuan itu menoleh. Mengangkat kepalanya ke arah pria asing yang tadi berteriak, menyelamatkannya dari situasi yang ia tidak duga sebelumnya. Rasa terbakar masih menjalar di pipinya, bercampur dengan air mata yang terus mengalir.


Tatapan keduanya bertemu, saat refleks Alberto menarik perempuan itu ke dalam pelukannya. Berbisik lirih, mengelus rambut hitam legam yang tampak tidak lagi rapi.


“Tenanglah, Hana. Aku di sini.”


.


.


.


🗼Bersambung🗼