
"Seharusnya aku yang berada di sana. Seharusnya." ~Alberto Vigez.
.
.
.
Alberto menahan napasnya yang naik turun. Maniknya tajam memandangi pada lelaki yang sedang menyandarkan kepala di sandaran sofa, seperti hampir saja tertidur.
"Jadi kau bersamanya selama itu, Bram?! Dan hujan mengguyur deras?" Pertanyaan yang entah sudah berapa kali terucap siang itu dari bibir Alberto, kini membuatnya benar-benar berkacak pinggang.
Bram masih memejamkan mata. Tetapi dia tahu Alberto masih berdiri tepat di depan kursinya, mungkin menahan rasa penyesalan yang kini hadir.
Berdehem pelan, Bram belum mau membuka mata. Dia masih merasa terlalu letih, sebab dia baru saja sampai di apartemennya saat waktu hampir menjelang pagi. Tidur beberapa jam saja untuk sekedar menghilangkan rasa kantuk, Bram tahu dia memang harus datang ke perusahaan meski sedikit terlambat. Berniat tidur sejenak saat Alberto datang, Bram sudah memilih untuk memanas-manasi mantan iparnya itu dengan beberapa cuplikan dari kejadian malam kemarin, meski dia tidak menceritakan semuanya dengan rinci.
"Astaga, Bram! Aku sungguh menyesal memberikan kunci mobilku padamu, kau tahu?" Suara khas milik Alberto masih terus menggema ke seluruh penjuru ruangan kerja Bram, tetapi tampaknya Bram belum terusik.
Seperti kebakaran jenggot, Alberto terus saja mengucapkan kalimatnya tanpa henti.
"Menyesal aku, sungguh. Ternyata acara yang kuhadiri dengan mami adalah acara untuk pertemuan ibu-ibu sosialita yang di dalam obrolan mereka terselip kata jodoh-menjodohkan. Bisa gila aku!" Masih senang bercuap-cuap Alberto, meski Bram tidak menggubris sama sekali.
Kali ini menatap sinis ke arah Bram yang semakin menarik napas teratur, Alberto menggertakkan gigi.
"Bram! Kau dengar aku tidak sih?!" berteriak keras lelaki itu, dengan postur tubuh yang dicondongkan ke arah kursi Bram. Bram bergerak sedikit.
"Bangunlah, Bram! Aku sedang kesal padamu!" hardik Alberto lagi.
Bram membuka mata perlahan. Memandangi Alberto yang masih berdiri dengan kedua tangan di pinggang, Bram tidak bisa menahan diri untuk tidak tersenyum. Kali ini senyum penuh kemenangan.
"Kau menyesal, Al?" tanya lelaki itu sembari bangkit perlahan dari kursinya, menegakkan tubuh.
Melirik lagi pada Bram yang kini telah memberikan respon, Alberto berdecak.
"Lain kali pasti akan jadi kesempatanku, Bram. Jadi, apa yang terjadi di antara kalian?" Memelankan suaranya, Alberto kini bergerak mendekati kursi Bram, seolah ingin mengorek informasi mengenai Marin si gadis bermata biru dari lelaki itu.
Bram mengalihkan pandangan. Mendorong tubuh Alberto dengan jari telunjuknya, membuat Alberto menggeram kesal.
"Kau tidak perlu tahu, Al. Biar aku dan dia yang menyimpannya." Bram sudah bangkit dari kursinya, melangkah pelan menuju kulkas berniat untuk mengambil beberapa kaleng soft drink.
Tidak terima diacuhkan begitu saja, Alberto menyusul langkah kaki Bram tepat di belakang lelaki itu. Dia tidak akan menyerah, dia sungguh penasaran.
"Katakan padaku, Bram. Tidak terjadi apapun, iya kan?"
***
Marin duduk di sebuah coffee shop sore itu. Memandangi ke luar jendela, dia sedang memperhatikan banyaknya kendaraan yang bergerak cepat. Mengetukkan jarinya di meja, gadis itu tampak menunggu seseorang. Sudah menjadi kebiasannya untuk datang lebih awal, sebab itu isi gelas americano-nya telah tampak berkurang setengah. Melirik kembali pada jam tangannya, Marin memeriksa waktu. Seharusnya orang yang dia tunggu sudah tiba.
"Benar. Apa kau Michael?" tanyanya.
Lelaki itu kali ini mengangguk. Mengenakan kemeja licin dengan celana jeans modis, Marin memperkirakan laki-laki itu berusia sekitar dua puluh delapan tahun. Dengan beberapa tato yang tampak di tangannya, tamu Marin kali ini tampak tampan dan gagah.
"Duduklah."
"Aku Michael Andrew. Apa kau menunggu lama?" Lelaki yang mengaku bernama Michael itu sudah duduk berhadapan dengan Marin, menumpukan satu tangannya di atas meja.
"Oh, tidak. Jadi, apa kau menemukan sesuatu?" Marin tidak ingin memperpanjang pertemuan mereka, tetapi tampaknya dia akan menghabiskan beberapa waktunya bersama dengan pria di depannya ini selama dia menetap di Indonesia.
Michael tersenyum kecil. Bergumam dalam hatinya mengenai gadis yang tampak terburu-buru. Bahkan mereka tidak saling memperkenalkan diri dengan benar.
"Baiklah. Jujur saja sedikit sulit untukku. Tidak ada jejak perpindahan kewarganegaraan, tidak ada jejak pernikahan. Kau yakin dia berada di Indonesia?"
Marin mendesah. Jika tidak kesulitan, dia tidak akan meminta bantuan dari pihak lain.
"Seharusnya seperti itu. Beberapa sumber berkata dia memang berada di sini. Kau memeriksa data catatan sipil?"
Michael mengangguk pelan.
"Tidak banyak warga Jepang yang bermigrasi ke Indonesia, Nona Schoff. Dari sekian banyak data, tidak kutemukan yang cocok seperti yang kau katakan sebelumnya. Tetapi ada beberapa yang sedang aku selidiki, kelak akan kuberitahu padamu."
Marin menarik napas. Dia tahu misinya tidak mungkin mudah.
"Aku tidak punya banyak waktu. Pastikan kau menghubungiku ketika kau dapatkan meski kemungkinan sekecil apapun. Aku tidak tahu apa dia masih hidup atau tidak, tetapi klienku meminta aku untuk membawanya segera," Marin berujar tanpa ragu. Sengaja menyembunyikan identitas ayahnya dan mengggantinya dengan sebutan klien, Marin tidak ingin pria di depannya ini mengenal lebih jauh tentang mereka.
"Baiklah. Akan kupastikan menghubungimu jika aku telah mendapatkan hasilnya. Seharusnya tidak lama lagi dan kuharap kau bisa menunggu."
Marin menarik gelasnya, menyesap cairan hitam itu perlahan. Michael tampak seperti seeorang pria yang bisa diandalkan dan Marin memang berharap banyak pada bantuan lelaki itu. Mengucapkan salam dan terima kasih saat Michael pamit undur diri, Marin masih diam di tempatnya dan kembali memandangi ke arah kaca besar.
Petang telah datang menyapa saat Marin tanpa sadar berbicara dengan dirinya sendiri.
Kobayashi-san, dimana kau berada dan siapa dirimu sebenarnya?
.
.
.
🗼Bersambung🗼
~Dukung terus dengan like, komen dan vote ya kak readers. Makasih banyak 🙏