Travelove~

Travelove~
22. Mengunjungi (2)



"Karena darinya aku dilahirkan, meski aku tidak mampu membalas sedikitpun pengorbanannya untukku." ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Bram melonggarkan dekapannya. Marin masih hening seribu bahasa, tetapi dari tepukan yang dia berikan di punggung lelaki itu, Bram tahu Marin berusaha mengalirkan kekuatan. Setelah beberapa saat berperang dengan kesedihan yang mendalam, akhirnya Bram mencoba untuk menarik napas dalam-dalam.


Megembuskan napasnya perlahan, Bram berharap kesedihannya akan hilang seiring dengan embusan karbon dioksidanya.


"Maaf, Marin," berbisik sangat pelan lelaki itu sembari menegakkan kepala.


Marin tersenyum kecil.


"Tidak masalah, Bram. Aku juga pernah mengalami hal yang sama seperti yang kau alami ini," balas Marin berhati-hati. Dia mencoba memilih kata yang tepat agar kalimatnya tidak terdengar seperti seseorang yang sedang memberikan belas kasihan.


Bram mengangguk kecil. Kembali memandangi pada pusara ibunya, lelaki itu telah menumpahkan kesedihan yang selama ini terpendam. Merasa lebih lega kini, Bram lalu berjongkok agar lebih dekat dengan makam ibunya.


"Ma, aku pergi. Semoga mama senantiasa bahagia di sana." Bram mengucapkan kalimatnya kini dengan lantang dan tidak terdengar gemetar lagi. Mengusap rumput pendek yang menutupi tempat peristirahatan sang ibu beberapa kali, Bram lalu bangkit dan kembali berdiri tegak.


"Ayo, Marin. Kita pergi dari sini," berujar dia saat berhadapan dengan Marin.


Gadis itu mengangguk kecil. Menoleh sekali lagi untuk menatap pusara ibu dari Bram Trahwijaya, Marin hening dan bergumam dalam hati.


Semoga kau beristrihat dengan baik, Nyonya Trahwijaya. Terima kasih telah melahirkan Bram ke dunia ini.


***


Bram menghentikan mobilnya di parkiran basement perusahaan. Berniat untuk langsung pulang ke apartemen miliknya setelah mengunjungi makam almarhumah ibu, namum Bram tampak harus merubah rencana. Sebab sebuah panggilan telepon dari Meta, sekretarisnya, mengatakan bahwa ada dokumen penting yang harus dia tandatangani secara langsung dan tidak bisa ditunda hingga esok. Maka di sanalah dia, berniat mampir sebentar untuk menyelesaikan urusannya.


"Kau tidak apa-apa menunggu di sini, Marin?" Bram sudah melepaskan sabuk pengaman, melirik sekilas pada Marin yang tampak masih duduk tenang.


"Tidak masalah, Bram. Pergilah, aku akan menunggu dengan tenang. Nikmati waktumu," balas Marin dengan sebuah senyuman tipis, memiringkan kepalanya ke arah Bram.


Lelaki itu mendesah. Merasa sungkan awalnya, namun saat dia hendak mengantar Marin lebih dulu pulang ke apartemen mereka, gadis itu berkata dia tidak keberatan untuk ikut dan menunggu di mobil saja. Lagipula Bram akan bolak balik jika dia menuju apartemen lalu ke perusahaan.


"Baiklah. Tunggulah di sini, aku pergi sebentar." Bram meraih handle dan mendorong pintu mobil itu dengan cepat, sudah beranjak dari kursinya untuk melangkah besar meninggalkan parkiran. Marin memperhatikan Bram yang berjalan menjauh, sebelum tubuh lelaki itu menghilang pada sebuah pintu.


Mendengarkan dengan seksama siaran radio yang dinyalakan di mobil Bram, Marin menatap ke arah luar. Memandangi tembok di sebelah kirinya dan mobil-mobil di sebelah kanan dan depan. Menikmati hembusan pendingin yang mengarah padanya, memberikan sensasi dingin yang kontras dengan udara luar yang cukup panas.


Keheningan di dalam mobil itu terbuyarkan oleh sebuah suara dering ponsel. Mencari-cari sumber suara, Marin menyadari bahwa bukan ponselnya yang tengah berbunyi. Mengarahkan pandangan ke arah kursi pengemudi yang tadi diduduki oleh Bram, manik kebiruan gadis itu menangkap sebuah benda pipih yang terselip di antara celah kursi. Dari situlah sumber suara deringan itu berasal. Meski dipenuhi ragu, namun jemari Marin tetap meraih ponsel yang dia yakini adalah milik Bram.


Kini layar ponsel Bram tampak bercahaya, membuat manik Marin masih terpatri di sana. Memandangi potret pemandangan yang dipilih Bram sebagai wallpaper-nya, Marin menyunggingkan senyuman kecil. Begitu menyimpan rasa penasaran dalam hatinya, Marin hampir saja menggeser layar. Penasaran akan isi dari gallery lelaki itu, bertanya-tanya dalam hati apakah mungkin diam-diam Bram masih menyimpan kenangan tentang seseorang.


Apa kau masih menyimpan kenangan tentang Diandra, Bram? Atau apakah kau telah siap membuka pintu hatimu yang baru?


Melawan keinginannya, akhirnya Marin memutuskan untuk meletakkan kembali ponsel Bram ke tempatnya semula, seolah-olah dia tidak memegangnya. Bram mungkin saja tidak sadar bahwa ponselnya tertinggal, dan Marin tidak ingin lelaki itu tahu bahwa dia sempat memegang benda itu.


***


Michael menggeser kursor dengan tidak sabar. Lelaki itu menatap ke layar laptop berukuran 14 inchi dengan manik melebar, sesekali memicingkan mata. Lelaki bertubuh semampai itu sedang berada di apartemen rekannya, yang tampak sedikit berantakan. Menaikkan kedua kakinya ke atas kursi, tampaknya Michael sedang dalam mode fokus penuh untuk menganalisis data yang dia punya.


Tawaran menggiurkan dari seorang gadis cantik bernama Marinda Schoff adalah penyebabnya. Menawarkan imbalan yang begitu luar biasa, Michael tidak bisa menolak permintaan gadis itu untuk menyelidiki sesuatu. Michael adalah ahli di bidangnya, dan dia juga mempunyai informan mumpuni. Mampu meretas sistem dengan sangat baik, lelaki itu memiliki keyakinan yang sangat besar bahwa dia mampu menemukan siapa yang Marin cari. Meski hanya bermodalkan selembar foto, bahkan meski foto itu tidak begitu jelas menampakkan wajah targetnya.


Meraih kaleng birnya yang sedari tadi dia biarkan terbuka, Michael kembali memicingkan mata. Menegakkan kepala sekilas untuk melirik ke arah jam dinding besar, tanpa sadar lelaki itu telah duduk di sana hampir dua jam lamanya.


Terdengar mengembuskan napas panjang, Michael memijat tengkuknya yang mulai terasa pegal. Remond keluari dari kamar mandi, membiarkan rambutnya yang basah masih mengalirkan beberapa tetesan air menuju leher. Mendekati Michael yang tampak suntuk, Remond tertawa kecil.


"Belom ada tanda-tanda dollar, Bro?" tanyanya menggoda.


Michael berdecak malas, sudah tahu rekannya itu pasti tidak akan mau membantu.


"Gila ini. Susah banget. Gak ada catatan sipil, gak ada riwayat apapun. Kadang gue gak yakin ini orang bener di Indonesia atau enggak," ujar Michael jujur, mengutarakan apa yang memang dia hadapi dalam mencari informasi.


Remond telah memantikkan api ke ujung rokoknya, membuka jendela lebar-lebar dan membiarkan angin sore masuk ke dalam apartemennya. Mengembuskan asap rokoknya ke udara, dia berjalan mendekati posisi Michael dan membungkukkan badan saat mengambil alih mouse yang dipegang oleh Michael sebelumnya.


Sambil menikmati rokoknya, jemari Remond sudah bergerak menekan tuts beberapa kali, dengan kursor yang lincah menari di layar laptop itu. Setelah beberapa saat lelaki itu kembali berdiri tegak, memberikan isyarat pada Michael melalui gerakan kepalanya.


Michael kembali menatap layar, membaca beberapa informasi yang tertera di sana. Maniknya membesar seiring dengan bibirnya yang mulai melongo.


Menggeleng pelan, lelaki itu kembali menatap pada Remond yang masih memegangi rokok di tangannya.


"Astaga, Bro. Gue gak tahu yang gue cari ternyata hantu," ujarnya bergidik ngeri.


.


.


.


🗼Bersambung🗼


~Dibantu like dan rate ⭐5 ya kak readers.. terima kasih selalu ngikutin cerita ini 😊