Travelove~

Travelove~
78. Bertemu Kembali (2)



"Kasih sayang itu nyata. Tidak pudar dan tidak menguap kemana-mana. Ia tetap di sana, dalam relung hati terdalam." ~Diandra Lee.


.


.


.


Kehadiran perempuan itu bagai oase di padang pasir untuk seorang Brio Trahwijaya. Manik tuanya membesar, seiring dengan rasa tertegun yang mendadak menyeruak. Tidak mampu berkata, namun ujung bibirnya membentuk satu senyuman tidak percaya.


Laksana angin yang berhembus sepoi, mendinginkan hatinya tanpa dia sadari. Memperhatikan lekat tanpa mampu mengalihkan pandangan, pada seorang perempuan yang kini tampak lebih matang dan dewasa.


Setelah empat tahun terpisah, Brio tentulah masih mengingat rupanya dengan jelas. Meski ingatannya kembali begitu saja pada masa di mana perempuan ini dulu meminta izinnya untuk pergi, entah mengapa hatinya tetap saja bahagia. Bersyukur Tuhan mempertemukan mereka kembali, meski ia sendiri belum memahami situasi apa yang terjadi.


Begitu pula dengan perempuan yang dipandangi Brio. Melangkah memasuki kamar besar itu dengan langkah kecil namun tegas, Diandra sudah berkaca-kaca sejak manik kecokelatan miliknya bertemu pandang dengan mata tua mantan mertuanya.


Mendekati Brio yang tengah duduk di sebuah kursi santai, Diandra bersimpuh di lantai dengan bertumpu pada kedua lutut. Membuat Bram membelalak lebar, begitu juga dengan Brio yang tampak tersentak kecil.


"Maafkan aku terlalu lama menyapa, Pa." Suara Diandra terdengar gemetar, saat ia menundukkan kepala dan meletakkan kedua tangan di atas paha. Memohon maaf, sebab ia terlalu lama datang untuk sekedar menanyakan kabar.


Brio menggeleng. Menggerakkan tangan untuk menyentuh kedua pundak mantan menantunya yang sudah dianggapnya anak sendiri, meminta Diandra untuk bangkit dari posisinya.


"Jangan begini, Nak. Bangkitlah, Diandra. Duduklah di kursi," katanya lembut.


Diandra mengangguk. Merasakan gemuruh di dadanya, saat ia menyaksikan dengan mata kepalanya sendiri betapa kini kondisi Brio Trahwijaya tidak lagi sesehat dulu. Manik lelaki tua itu semakin sendu, dengan gerakan yang tidak lagi lincah.


Jika Diandra masih mengingat dengan jelas bagaimana kepiawaian Brio Trahwijaya saat pesta pernikahannya dulu, hatinya semakin remuk redam. Empat tahun lebih telah berlalu, tanpa sadar usia pun semakin bertambah seiring waktu berjalan.


Hal yang seringkali dilupakan oleh seorang anak. Bahwa ketika kita semakin hari semakin matang dan dewasa, maka orang tua kita juga semakin bertambah tua. Saat kita terlalu sibuk memikirkan untuk kehidupan dan keluarga kita yang baru, ada orang tua yang juga mulai memasuki masa senja mereka.


Bergerak menuju tempat duduk yang berada di depan kursi santai itu, Diandra sudah duduk di sana beberapa saat kemudian. Mendapati Bram juga mengambil posisi duduk tepat di sampingnya, perempuan itu tersenyum saat pandangannya kembali beradu dengan manik Brio.


Begitu banyak hal yang akan mereka bagi kali ini, begitu banyak waktu yang terlewatkan.


Bram menarik napas lega, saat menyadari semburat kebahagiaan tampak jelas terpancar dari wajah tua ayahnya. Senyuman lebar yang sudah terlalu lama tidak tampak di sana, kini merekah kembali.


Melirik sekilas pada calon istrinya yang sudah terlibat dalam percakapan santai bersama ayahnya, Bram tahu dia tidak pernah salah sebab telah menjatuhkan pilihan hanya pada perempuan ini.


Diandra, terima kasih. Kau tidak hanya membawa kebahagiaan untuk kehidupanku, juga membawa secercah harapan untuk ayahku.


***


Bram baru saja keluar dari kamar ayahnya saat ponselnya terdengar berdering nyaring. Sebuah panggilan dari rekan bisnisnya, dan dia sebaiknya undur diri dari sana untuk menjawab telepon itu.


Meninggalkan Diandra dan ayahnya di dalam kamar, Bram sudah berada pada sambungan telepon saat ia bersandar pada dinding kamar.


Brio berdehem. "Jadi, kalian akan menikah, Diandra?" Bertanya mengulangi, sebab dia masih belum percaya dengan apa yang dikatakan Bram baru saja. Ingin bertanya pada lelaki itu tapi Bram sudah terlanjur pergi dari sana.


Diandra tersipu, mengangguk pelan. Dia tidak tahu apakah mantan ayah mertuanya akan menyetujui rencana mereka kali ini. Meski dia sebenarnya memiliki keyakinan hampir di atas lima puluh persen.


"Benar, Pa. Jika Papa merestui dan memberikan doa, kami akan mencoba semuanya dari awal lagi," jawab Diandra tegas.


Setegas senyuman yang kian melebar, Brio Trahwijaya mengangguk cepat.


Kini dia bisa bernapas lega, karena satu-satunya hal yang mengganjal pikirannya telah terpecahkan dengan datangnya berita pernikahan putranya ini.


Setelah berbincang cukup lama dan menjelaskan situasi yang terjadi selama empat tahun terakhir ini, Diandra tahu dia sangat siap untuk kembali menjadi Nyonya Trahwijaya. Kali ini tidak ada paksaan, kali ini karena mereka berdua saling mengingkan satu sama lain.


"Kami akan mencobanya, Pa. Doakan ya, Pa." Suara Diandra menggema saat Bram kembali muncul dari arah pintu, berjalan cepat mendekati Diandra dan ayahnya yang masih berbincang.


"Bram, kali ini kau hanya punya satu kesempatan, bocah! Pergunakan sebaik mungkin dan buatlah mantu Papa bahagia, kau mengerti?!" Menaikkan tangan kanannya untuk menunjuk pada anak semata wayangnya, Brio sudah memberikan petuah. Atau lebih tepat jika disebut peringatan.


Bram tertawa kecil. Kali ini mendekati ayahnya dan mengambil posisi duduk di samping pria tua itu, Bram menepuk punggung tangan ayahnya.


"Aku mengerti, Pa. Kali ini kami akan hidup hingga maut memisahkan, membesarkan anak-anak bersama dan hidup bahagia selamanya." Melirik sekilas pada ayahnya yang sedang tersenyum sembari mendengarkan, Bram melanjutkan.


"Oleh sebab itu Papa harus segera pulih, harus minum obat dan ikuti terapi bersama Dokter Aryo. Agar Papa semakin pulih dan bisa sehat lagi untuk bermain dengan si kembar," ucap lelaki itu.


Brio Trahwijaya mengangguk. "Baiklah, bocah. Papamu ini mengerti." Berhenti sejenak untuk menatap pada Diandra.


"Diandra," panggilnya pelan.


Diandra mengangguk kecil. "Ya, Pa?" Menaruh perhatian penuh pada Brio.


"Hmm, kapan kau akan membawa si kembar ke sini? Papa ingin bertemu dan bermain dengan mereka secepatnya." Sudah terlanjur penasaran dengan dua cucu yang dia punya, tidak sabar untuk mencubit pipi si kembar yang pastilah menggemaskan.


"Apakah dia mirip denganmu?" tanyanya lagi.


Diandra menggeleng. "Dulunya iya, Pa. Tetapi semakin besar rambut mereka semakin berwarna pirang."


Brio tertawa kecil. Membayangkan cucu-cucunya di pelupuk mata, saat Bram sudah menyodorkan ponsel lelaki itu ke hadapannya.


"Ini mereka, Pa," ujar Bram seraya menunjukkan sebuah foto yang terpampang di layar, yang dia pilih sebagai wallpaper ponselnya.


Meraih kotak kacamata yang berada di atas nakas tidak jauh dari kursinya, Brio mengenakan kacamatanya sebelum memicing untuk memperhatikan foto yang ditunjukkan oleh Bram.


Melebarkan senyuman, saat mengamati foto yang dua anak lelaki yang begitu tampan.



"Ini adalah Vallois, dan ini adalah Verden. Papa pasti akan sulit membedakan mereka kelak jika bertemu," jelas Bram lembut.


Brio Trahwijaya tertawa kecil. Menepuk pundak Bram dengan penuh kasih sayang. Merasakan aliran bahagia yang entah sudah ke berapa kali menelusup relung hatinya hari ini, sembari mengucap permohonan dalam hening. Berharap dia masih punya banyak waktu.


"Bram, Papa rasa Papa ingin hidup dua puluh tahun lagi."


.


.


.


🗼Bersambung🗼