Travelove~

Travelove~
84. Satu Jiwa (1)



Warning: Efek 'itu' belum sepenuhnya hilang. Mohon bersabar, ini ujian.


“Dekapanmu kini jadi tempat ternyaman, tempat di mana aku akan bersandar dan berkeluh kesah. Hingga kita tua, hingga wajahmu keriput dan kau tidak tampan lagi.” ~Diandra Lee.


.


.


.


“Aku mencintaimu, Bram.”


Kalimat itu menjadi penutup sesi pertama mereka, saat Bram terdengar tertawa kecil di sudut bibirnya. Menghirup aroma bunga yang menyeruak dari rambut Diandra, saat perempuan itu sedang menutupi tubuh bagian depannya dengan bersandar dan menempel padanya.


Wajah wanita itu memerah. Diandra begitu menahan malu, atas sikap yang dia tunjukkan tadi di hadapan Bram. Mengutuki diri sendiri, bagaimana bisa dia menjadi se-tidak tahu malu seperti tadi.


Menggigit bibir bawahnya kembali saat dia mengingat dengan begitu jelas, bahwa dialah yang melucuti pakaian suaminya dengan tangannya sendiri. Memaki dalam hati, meski dia tidak menyesalinya sama sekali.


Astaga, Diandra. Kau benar-benar tidak bisa menahan diri ya.


Bram masih menguatkan kaki, menahan tubuh Diandra yang masih berada dalam gendongannya. Syukurnya perempuan itu begitu stabil saat permainan mereka, hingga dia bisa memusatkan diri untuk lebih fokus pada ritme maju mundur yang dia ciptakan.


Diandra belum bersuara, semenjak kalimat terakhir yang dibarengi dengan lenguhan panjang terdengar. Kemudian, perempuan itu melemas. Haha.


Bram memiringkan kepala. Seperti Vallois dan Verden yang biasanya berada di dalam gendongannya, kali ini lelaki itu tersenyum sebab Diandra yang berada di sana.


“Diandra?” panggilnya lembut.


Diandra tidak menyahut. Tetapi dari gerakannya jelas sekali perempuan itu malah semakin mengeratkan pelukannya, seolah tidak ingin menatap manik Bram sekarang.


“Istriku.” Memanggil lagi, lelaki itu begitu menyukai bagaimana Diandra kini terlalu malu-malu. Padahal barusan saja dia terus mengerang dan mendesah. Yang benar saja, Diandra!


“Apa Bram?” Akhirnya Diandra membuka suara, belum menaikkan kepala.


“Kau tidak mau turun? Mau aku gendong sampai besok?” Bram kembali menggoda.


Kali ini Diandra mengerucutkan bibir. Dia juga ingin turun dari gendongan lelaki itu, tetapi rasa berdenyut dan pegal di kakinya sudah mulai menjalar. Siapa suruh Bram menahan kakinya dengan begitu baik sejak tadi? Permainan mereka tadi kan, bisa dibilang tidak sebentar. Akhirnya kini kedua kakinya sudah mulai kebas.


“Aku mau turun, Bram,” ujar Diandra pelan, terdengar seperti berbisik.


“Tetapi kakiku pegal dan terasa sedikit ....” Menggantung kalimatnya, sedang mencari kata yang pas. Dia tidak ingin Bram menganggapnya sedang menggoda lagi.


Bram tertawa. “Sedikit ... Sakit?” tanyanya memperjelas.


Membuat Diandra refleks melotot, melayangkan satu tinjuan tidak bertenaga pada punggung lebar lelaki itu. “Kau ini!” protesnya.


Bibir lelaki itu melengkungkan satu senyuman manis, kini mulai bergerak dari posisinya berdiri tadi untuk melangkah menuju bathup.


“Mau ke mana, Bram?” Menyadari Bram bergerak, Diandra refleks bersuara.


“Mandi, Sayang. Kau belum jadi mandi tadi, kan?” jawab lelaki itu. Tidak melonggarkan pelukan Diandra pada dada bidangnya, Bram melangkah untuk menuju arah bathup. Mendudukkan Diandra dengan hati-hati di pinggir, saat dia bergerak untuk menuju keran air.


Mengalirkan air panas dan dingin bersamaan, Bram sedang berusaha untuk mengisi bak mandi itu dengan air hangat nantinya. Agar Diandra bisa berendam di dalam sana, berharap sakit yang dirasakan perempuan itu akan mereda pelan-pelan.


Diandra meringis. Menutup rapat kedua kakinya, menyilangkan kedua tangan di depan dada. Menunduk untuk memeriksa dan menghitung berapa tanda kemerahan yang kini muncul di tubuhnya, sebelum dia menggelengkan kepala seraya menatap pada suaminya.


Bram menaikkan bahu. “Kau terkejut dengan kemampuanku menelusuri tubuhmu, Diandra?”


Perempuan itu berdecak.


Cih, pertanyaan macam apa itu. Jelas sekali Bram sudah terlatih sebelum ini. Lihat saja bahkan dia tidak goyah saat melakukannya dengan posisi berdiri.


“Tidak juga,” sanggah Diandra cepat.


Bram memang dominan, tetapi Diandra hanya tidak ingin membuat lelaki itu semakin percaya diri, meski memang seperti itu kenyataannya.


“Maafkan aku, Diandra. Apakah kau sesakit itu?” tanya Bram pelan sekali, begitu hati-hati.


Mereka tahu permainan tadi bukanlah yang pertama untuk diri masing-masing, tetapi sungguh pertama bagi lelaki yang menahan hasrat selama hampir empat tahun lebih. Pertama pula bagi seorang janda kembang yang telah dua tahun hidup sendiri. Kesendirian itu berlangsung selama hitungan tahun, bukan hitungan hari.


Diandra menggeleng pelan. Menyampirkan sebuah senyuman tipis—yang dianggap Bram menggoda, ke arah suaminya.


“Tidak juga, Bram. Hanya saja, yah. Kau tahulah, seperti itu.” Jawaban absurd yang tidak mengandung arti. Kembali membuat Bram tertawa kecil, saat dia bangkit untuk memutar kembali keran air yang mulai berisi setengah bak.


“Sabun cairnya ada di atas sana, Bram,” ujar Diandra memberi arahan, menunjuk pada deretan botol-botol dan lilin aroma terapi yang tersusun rapi.


Bram meraih satu botol sabun beraroma bunga, menuangkannya ke dalam bak mandi kemudian.


“Kemarilah, Sayang.” Kali ini mengulurkan tangannya untuk menggenggam tangan Diandra, mereka berencana untuk berada di satu bak mandi yang sama. Saling menggosok, menghilangkan peluh dan keringat. Mana tahu setelah saling menggosok akan kembali saling menggigit, haha.


Diandra bangkit. Bergabung bersama Bram yang sudah duduk lebih dulu di dalam bak mandi panjang, mengambil posisi tepat di depan lelaki itu. Membiarkan Bram mengucurkan air ke punggungnya yang terbuka, saat ia bergerak untuk mencepol rambutnya asal-asalan.


“Kau begitu cantik, Diandra.” Napas Bram terasa hangat, seiring dengan air hangat yang menutupi sebagian tubuh mereka saat itu.


Diandra berdehem. “Aku tidak sesempurna itu,” kilahnya. Meraih tangan kiri Bram untuk kemudian dia tempelkan di perutnya, membawa jemari lelaki itu untuk menyusuri satu bekas luka di bagian sebelah kiri.


“Aku punya bekas luka, Bram. Jika saja kau tidak memperhatikannya tadi,” sambung Diandra lagi.


Bram menahan senyuman. Dia sudah melihat garis kecoklatan itu tadi, berada di sisi kiri perut istrinya yang tampak ramping dan rata.


“Aku tahu, Sayangku. Aku melihatnya dengan jelas tadi,” Bram bersuara. Merapatkan tubuhnya untuk benar-benar menempel pada tubuh Diandra, mendaratkan beberapa kecupan kecil di bahu perempuan itu.


“Kau melihatnya? Oleh sebab itu aku bilang aku tidak secantik yang kau pikirkan,” ujar Diandra lagi. Menyadari bahwa kini tubuhnya tidak seelok dulu, saat bekas luka itu telah terukir di sana dan akan membekas hingga dia menua nanti.


“Diandra.” Bram memanggil nama istrinya dengan nada rendah sekali.


“Hmm?”


Jemari Bram masih berada di sana, bermain di atas bekas luka yang dimiliki Diandra. Mungkin perempuan itu merasa insecure dengan dirinya sendiri saat ini, tetapi tidak dengan Bram. Jika Diandra berpikir bekas luka itu seperti sebuah beban, namun tidak dengan Bram.


“Kau akan selalu cantik untukku, Diandra. Tubuhmu sempurna, meski dengan bekas luka sekali pun,” ujar Bram jujur.


Membuat Diandra menarik napas pelan, saat kemudian ia tersenyum kecil.


“Kau tidak ingin aku menghilangkan itu?” tanyanya menguji, ingin mengetahui bagaimana reaksi Bram atas pertanyaannya kali ini.


Tidak disangka ternyata Bram menggeleng cepat, kembali mendaratkan lebih dari tiga kecupan di lehernya.


“Tidak perlu, Sayang. Itu akan menjadi saksi betapa tangguhnya kau saat melahirkan Val dan Ver, dan itu sungguh menambah kadar cintaku padamu jutaan kali.”


Diandra hampir saja tergelak. Tetapi diam-diam dia bersyukur dalam hati, sebab Bram menerima dengan baik seperti apa dirinya sekarang. Menerima fisiknya, menerima kedua anaknya, menerima masa lalu yang pernah dia punya.


“Bram.” Gantian memanggil nama lelaki itu, Diandra mengelus punggung tangan Bram dengan lembut.


“Hmm? Apa, Sayang?”


Perempuan itu menahan tawa, saat membawa tangan suaminya dan mendaratkan satu kecupan lagi di punggung tangan itu. Beringsut ke belakang untuk mendekatkan diri pada Bram, berbisik dengan nada menggoda sekali.


“Satu kali lagi, bagaimana?”


.


.


.


🗼Bersambung🗼


~Netijen dilarang baper 🤣