Travelove~

Travelove~
11. Seorang Gadis Jepang



"Mungkin saja waktu yang akan menjawab. Jika kita hanya menunggu, kira-kira apakah semuanya akan baik-baik saja?" ~Marinda Schoff.


.


.


.


Akhir pekan selalu datang terlalu lama, namun berlalu begitu cepat. Setidaknya seperti itulah yang dirasakan oleh semua orang yang disibukkan dengan pekerjaan, berharap hari Sabtu dan Minggu akan cepat datang di setiap pekannya. Meski hanya dihabiskan untuk bersantai dan berleyeh-leyeh, justru di situlah intisari dari hari libur sebenarnya.


Marin sengaja tidur lebih lama hari ini. Tidak memiliki jadwal untuk membantu pekerjaan Leah di perusahaan sepupunya itu, Marin kembali memejamkan mata setelah mematikan bunyi alarm ponselnya yang terus terdengar nyaring. Belum berniat untuk bangkit dari ranjang besarnya, gadis itu malah semakin tenggelam dalam buaian mimpi. Hingga beberapa saat kemudian, suara deringan pada ponselnya menandakan sebuah panggilan masuk terdengar, Marin mencoba meraba-raba ponselnya yang dia letakkan di atas nakas. Dapat, gadis itu menggeser layar tanpa sempat memeriksa nama di penelepon.


"Halo?" suaranya terdengar serak sebab dia baru saja bangun, bahkan belum sadar sepenuhnya.


"Kau di sana, Ma Cherry?"


Suara khas milik ayahnya, Luke Schoff terdengar nyaring di ujung telepon, sontak membuat Marin mengerjapkan mata cepat.


"Ah, aku di sini, Pap," jawab Marin cepat, berusaha mengumpulkan nyawa yang masih beterbangan entah kemana. Terdengar suara kekehan Luke di sebrang.


"Kau baru saja bangun?"


"Yeah. Apa yang kau lakukan, Pap?" Marin sudah lebih sadar, matanya melirik sekilas pada jam dinding yang hampir menunjukkan pukul sepuluh pagi. Tumben sekali ayahnya sudah menelepon di pagi buta seperti ini. Setelah menghitung mundur, Marin menyadari waktu di Paris yang baru saja menunjukkan pukul lima pagi.


"Aku hanya terjaga, dan tiba-tiba aku teringat padamu. Kau baik-baik saja, Ma Cherry?"


Marin hening sesaat. Mendengar ayahnya memanggilnya dengan kata 'Ma Cherry' sungguhlah menghangatkan hatinya. Itu adalah panggilan sayang yang ditujukan ayahnya untuk ibunya dulu, sebelum sebuah peluru tidak bertuan menembus jantung ibunya dengan sangat dalam. Membuat Luke dan dirinya begitu terpukul, akibat peristiwa yang begitu tiba-tiba. Marin menarik napas panjang-panjang.


"Aku baik, Pap. Dan kau? Kau berjanji untuk mengurangi rokokmu, kau ingat?" Marin khawatir akan kesehatan ayahnya, sebab Luke tidak pernah berniat untuk berhenti merokok sama sekali, bahkan di usianya yang telah memasuki masa tua.


"Aku tahu. Kau bertemu Leah?"


"Heem. Kami bertemu kemarin. Aku membantunya sesuai permintaanmu."


Terdengar Luke tertawa kecil di sebrang sana, yang refleks juga membuat Marin tersenyum kecil.


"Pulanglah setelah kau menyelesaikan misimu. Kau tidak merindukan Papapmu ini?"


Marin semakin tertawa lebar. Luke pasti tidak akan melupakan misi yang dia berikan, sebab itulah memang alasan yang membawa Marin ke Indonesia.


"Misimu tampak sedikit sulit, Pap. Kau tidak mempunyai petunjuk lainnya?" Marin bertanya pelan, berusaha membuka pembicaraan mengenai misinya lebih dalam.


"Tidak. Hanya itu yang kupunya."


Marin terdengar menarik napas pelan.


"Baiklah. Akan kutemukan dia untukmu," ujarnya kemudian, menerawang menatap lantai apartemennya, sebelum beberapa saat kemudian akhirnya menutup panggilan itu.


Beranjak Marin dari ranjangnya, menuju sebuah laci berukuran sedang dengan tiga ruang, menarik ruang paling atas. Meraih selembar foto hitam putih dari dalam sana, memandanginya dengan lekat.


Seorang wanita berparas Jepang, mengenakan baju kimono dengan polesan wajah sedikit tebal. Wanita itulah misi Marin. Misi untuk membawa wanita Jepang itu ke hadapan ayahnya.


***


Bram sengaja menghidupkan televisi. Menaikkan kedua kakinya ke atas meja, dia memegangi ponsel dan menatap ke layarnya dengan seksama. Tidak menghiraukan acara televisi, memang lelaki itu hanya berniat untuk membuat apartemennya tidak terlalu terdengar hening. Membaca beberapa berita mengenai saham dan investasi, begitulah seorang Bram Trahwijaya menghabiskan malam minggunya dengan berdiam diri.


Hampir pukul delapan malam, saat terdengar suara bel apartemennya berbunyi. Belum bergerak, lelaki itu entah mengapa merasa jantungnya berdetak sedikit cepat, sembari menerka-nerka siapa kira-kira seseorang yang datang.


Apa itu kau, Marin?


Terdengar sekali lagi bel yang ditekan, membuat Bram akhirnya beranjak dari duduknya setelah meletakkan ponselnya di atas meja, beranjak pelan menuju arah pintu. Sempat mengintip melalui lubang kecil di pintunya, Bram tidak menemukan siapapun di depan sana. Terlanjur penasaran, Bram tetap membuka pintu itu, yang sontak membuatnya terkaget karena seseorang telah menerobos masuk.


Itu Alberto.


Apa sih yang sedang dilakukan bocah ini?!


Telah memasuki apartemen Bram lebih dalam, Alberto terdengar berdecak kagum.


"Astaga, Bram! Pantas saja kau betah sekali di sini. Ini sungguh mewah memang," berujar Alberto dengan nada kagum, memandangi seluruh interior apartemen milik Bram yang memang dipenuhi barang mewah nan mahal.


"Al! Keluar sekarang juga!"


Bram tidak pernah ingin membawa seseorang masuk, apalagi Alberto datang tanpa undangan dan menerobos masuk begitu saja.


"Hei, Bram. Tenanglah. Aku membawa sesuatu untukmu, kau pasti akan suka," berujar kembali Alberto, kini berjalan menuju arah pantry dan tanpa permisi telah membuka kulkas. Mengambil beberapa kaleng bir dari sana, dia membawanya ke arah sofa dan meletakkan kaleng-kaleng itu di atas meja kaca.


Bram sudah duduk lebih dulu, memandang tajam pada tamu tak diundangnya yang terdengar berisik kini. Meraih remote televisi, Bram mematikan siaran di layar flat itu.


"Waktumu hanya lima menit. Jelaskan dengan cepat mengapa kau tiba-tiba menerobos pintuku dan membuat onar. Sebaiknya kau punya sesuatu yang luar biasa atau kupastikan akan kutendang kau saat ini juga," berujar dengan kesal Bram, melipat kedua tangannya di depan dada.


Bukannya takut, Alberto malah tergelak lebar.


"Kau punya makanan, Bram?" tanya lelaki itu tanpa malu, telah menenggak setengah kaleng bir. Alberto memang terlalu senang setelah dia membuat jengkel mantan abang iparnya itu.


Masih menatap Alberto tajam, Bram berdehem pelan.


"Waktumu empat menit, Al."


Alberto menggeleng.


"Kau sungguh keterlaluan, Bram. Aku hanya ingin bertamu, kau tahu?!" berusaha membela diri, tetapi sepertinya tidak berhasil.


"Tiga menit!"


Alberto menaikkan kedua tangannya di depan dada, seolah menunjukkan bahwa dia sedang menyerah saat ini.


"Hei, oke oke. Akan kukatakan padamu. Kau akan berhutang padaku kali ini!" seru Alberto kemudian, telah menegakkan posisi duduknya.


Menunggu, Bram belum merubah posisinya. Matanya masih lekat menatap pada Alberto, sesekali menerka apa yang mungkin diucapkan Alberto kali ini. Alberto menarik napas pelan.


"Pergilah dengan Marin besok," ujar Alberto pelan, membalas tatapan Bram dengan pancaran mata serius.


"Apa maksudmu?" Bram belum mengerti kemana arah pembicaraan Alberto.


"Aku seharusnya pergi bersama Marin untuk meninjau sebuah lokasi. Tetapi tiba-tiba ibuku meminta untuk menemaninya ke sebuah acara, jadi aku memintamu untuk menggantikan aku, Bram."


Bram mengernyitkan dahi. Dia tahu seharusnya Alberto pergi bersama Leah untuk meninjau lokasi itu. Kenapa kini nama Marin muncul ke permukaan?


"Kau pasti tahu seharusnya Leah yang pergi. Dia baru saja menghubungi bahwa dia juga berhalangan, hingga Marinlah yang akan berangkat besok pagi. Bagaimana? Kau mau menggantikan aku kali ini?" suara Alberto kembali terdengar.


Bram hening sejenak. Mengingat kembali lokasi pembangunan yang akan dikunjungi, tempat itu berada di salah satu desa pinggiran kota. Perjalanannya saja mungkin akan menghabiskan waktu enam jam pulang pergi, dan jika dia mengiyakan usulan Alberto sekarang, mungkin dia akan menghabiskan waktu seharian bersama Marin esok hari.


Bram masih tampak memikirkan sesuatu, belum memberikan jawaban.


"Kuanggap kau setuju dengan diammu itu, Bram," ujar Alberto memotong keheningan, melemparkan sebuah kunci mobil ke atas meja.


"Kau mau pakai mobil baruku?"


.


.


.


🗼Bersambung🗼