Travelove~

Travelove~
89. After Marriage (1)



“Hanya ada kita. Karena aku yakin kita menguat dari waktu ke waktu, tidak terpisahkan oleh apa pun.” ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Paris, Perancis.


Leonard mendesah. Menutup panggilan telepon yang sebelumnya tersambung pada Bram Trahwijaya, saat ia kemudian meletakkan benda pipih itu kembali di atas meja. Bangkit dari kursi di ruang kantornya, lelaki itu merentangkan tangan sembari meraih kotak rokok dan pemantik.


Berjalan menuju arah balkon, Leonard membuka jendela dan membiarkan angin masuk berembus ke dalam ruangan. Menyalakan rokok itu beberapa detik kemudian, saat pandangannya telah jatuh ke arah jalan raya yang berada di bawah sana.


Memperhatikan lalu lintas Paris yang terus ramai, Leonard sudah mengembuskan asap rokoknya ke udara. Memenuhi dirinya dengan racun, namun dia tidak peduli. Begitu banyak hal yang mengganggu pikirannya saat ini, ketika dia merasa sedikit banyaknya gagal memimpin klan Butcher.


Ketukan di pintu terdengar dua kali, disambung suara seorang perempuan di luar sana.


“Tuan, ini aku Alegra.”


Pintu itu masih tertutup, lalu beberapa detik kemudian Leonard berbalik badan dan menatap ke sumber suara.


“Masuklah!” teriaknya. Cukup keras untuk didengar oleh orang yang berada di luar, meski jarak antara pintu kantor dan balkon itu terpaut cukup jauh.


Alegra meraih gagang pintu, mendorong pintu cokelat itu dengan satu kali coba. Perempuan berparas khas Parisian itu memegangi satu tab berwarna hitam legam di tangan kanannya. Seperti biasa, perangkat komunikasi elektronik terpasang di telinga kirinya.


Berhenti tidak jauh dari posisi berdirinya Leonard, Alegra menarik napas. Wanita pemimpin tim keamanan Butcher itu memiliki sesuatu untuk dia katakan.


“Kau menemukan sesuatu?” Suara khas Leonard sudah menuntut, terdengar berat seperti pikirannya yang sedang bercabang kemana-mana.


Alegra menggigit bibir.


“Data itu salah, Tuan—"


“Sialan!” potong Leonard cepat. Kini lelaki itu telah sepenuhnya berbalik, membuang puntung rokoknya sembarangan ke arah tempat sampah, meski puntung rokok itu tetap masuk ke dalam sana.


Berkacak pinggang, rahangnya terkatup mengeras.


“Maafkan saya, Tuan—“


“Katakan padaku apa yang terjadi! Kau tahu konsekuensi yang mungkin kau dapatkan, kan, Alegra?” Leonard masih dirundung amarah, memenuhi hatinya dengan perasaan campur aduk yang belum bisa ditentukan ke mana arahnya.


Alegra menunduk. Menggenggam erat tab yang dia pegang sejak tadi, dia tahu dia sedang menentang maut saat ini. Menggigit bibir bawahnya, Alegra sedang memohon satu lagi kesempatan hidup.


“Kenapa kau diam?! Katakan!” Teriakan Leonard kembali mengudara, mengentak Alegra yang semakin menciut nyalinya.


Kali ini kesalahan timnya fatal sekali, entah ada pengampunan atau tidak yang akan dia punya saat ini.


Leonard menatap pada petarung Butcher yang kini masih tertunduk lemah. Alegra tampak seperti bukan dirinya, saat ia harus menanggung hasil dari anak buahnya yang melakukan kesalahan. Karena kesalahan yang ini, tampaknya tidak bisa ditoleransi.


Perempuan itu menarik napas. Bersiap untuk hukuman mati.


“Helikopter itu dihuni lima orang, Tuan. Bukan empat orang,” ujarnya pelan sekali. Kini dia hanya tinggal berdoa di dalam hati, agar suara tembakan tidak terdengar segera mungkin.


Leonard terpaku. Hening, tanpa suara. Rahangnya masih mengeras, saat ia merasakan tubuhnya hampir saja tumbang. Menggeleng pelan, saat ia berpegangan pada dinding untuk menopang tubuhnya yang begitu shock.


Kelalaian ini, sungguh di luar dugaan. Hampir pecah kepala Leonard rasanya, saat kini dia menguak fakta yang tiba-tiba saja hadir. Setelah sekian tahun berlalu, ternyata insiden kecelakaan itu tidak benar-benar selesai.


“Keluarlah!” perintahnya dingin. Tidak butuh waktu lama dan sama sekali tidak menyanggah, Alegra mundur teratur untuk keluar dari sana.


Meninggalkan Leonard kembali sendirian, memegangi kepalanya dengan rasa frustrasi yang membuncah.


Aku baru saja mengirimkan hadiah untuk pernikahan mereka, kini apa yang harus aku lakukan jika kemungkinan itu benar-benar ada?


***


Bram menyeringai. Senyuman di wajahnya tidak hilang sama sekali, saat ia menatap Diandra yang berada persis di sampingnya. Memegang ipad dan menggoreskan epen di atas layar itu, Diandra tampak berkonsentrasi penuh.


Tangan perempuan itu bergerak lincah, memilih warna dan membentuk gambar di layar. Dia sedang berusaha memenuhi permintaan Bram kemarin, saat lelaki itu memintanya untuk mendesain sesuatu untuknya.


“Kau memperhatikan aku, Bram?” bisik perempuan itu pelan, namun maniknya tidak beranjak dari layar. Masih memandangi ke arah yang sama.


Bram tertawa pelan. Vallois dan Verden baru saja terlelap, saat ia kemudian bergabung dengan istrinya di kamar mereka.


“Diandra.”


“Hmm?”


“Aku akan kembali ke perusahaan besok. Kau tidak masalah jika kita menunda bulan madu kita? Bagaimana menurutmu?” tanya lelaki itu ragu-ragu. Dia baru saja memeriksa kotak masuknya dan beberapa isu di perusahaan membutuhkannya dalam waktu dekat. Meski ia tidak rela, mau tak mau ia harus cepat kembali.


“Tidak masalah, Bram. Lagipula Vallois dan Verden masih kecil, benarkan? Kita bisa menunda bulan madu, menunggu mereka sedikit lagi lebih besar, bagaimana?” tanyanya balik.


Bram mengangguk. Kini mereka tidak hanya harus memikirkan tentang diri mereka sendiri, tetapi juga ada sang kembar yang menjadi pelengkap. Meletakkan perangkat gambarnya ke atas nakas, kini Diandra sudah beringsut mendekat ke dalam pelukan suaminya. Bersandar di dada bidang lelaki itu, menghirup aroma maskulin dari ceruk leher Bram.


“Boleh aja. Kau tidak keberatan, kan?”


Diandra menggeleng.


“Tidak. Lagipula kita bisa berbulan madu setiap hari, bukan begitu?” Mendaratkan satu kecupan hangat di leher suaminya, Diandra tertawa kecil.


“Diandra,” panggil Bram lagi.


“Hmm?”


“Apa kau tidak berencana untuk kita pindah dari sini?” tanya Bram kemudian, mengeratkan pelukannya pada tubuh Diandra, kemudian menarik selimut untuk menutupi sebatas dada.


“Pindah?”


“Iya. Bagaimanapun ini kan rumah yang ditempati Tante Luna dan Alberto sebelum kau kembali ke sini dua tahun lalu. Aku hanya berpikir apakah kita perlu membeli rumah baru, jika kau memang mau,” lanjut lelaki itu.


Diandra hening sejenak. Keningnya mengerut, saat ia sedang berpikir sekarang. Memang apa yang dikatakan Bram ada benarnya. Jika mereka tetap berada di sana, mungkin saja tidak masalah untuk Tante Luna juga Alberto. Lagipula rumah itu lebih dari cukup untuk menampung mereka sekarang. Tetapi jika dipikir lagi, Bram juga benar karena kini mereka baru saja membangun biduk rumah tangga yang baru.


Apalagi jika kelak anak-anak semakin besar, maka sepertinya mereka akan membutuhkan privacy lebih daripada sekarang ini.


“Bagaimana kalau kita pindah ke rumahmu?” tanya Diandra kemudian.


Bram yang mendelik kali ini, melayangkan tatapan bingung ke arah istrinya.


“Rumahku?” Lelaki itu memastikan. Seingatnya rumah mewahnya sudah dia jual beberapa tahun lalu, tepat saat ia memutuskan untuk pindah ke unit apartemen.


“Rumah Papa maksudku, Bram. Bukankah di sana juga besar? Daripada kita membeli rumah baru, apa tidak sebaiknya kita tinggal di sana? Papa mungkin saja akan senang karena bisa bermain dengan Val dan Ver setiap hari. Aku juga memikirkan kesehatan Papa, Bram. Sebaiknya kita di sana saja, bagaimana?” tawar perempuan itu lembut.


Bram hening. Mencerna kalimat yang diutarakan istrinya, merasa hangat di dalam hati. Ia tahu ia tidak hanya menikahi seorang perempuan yang parasnya cantik, tetapi Diandra lebih dari itu karena kebaikan hatinya. Bahkan kini dia memikirkan tentang ayah mertuanya, dan Bram bersyukur akan hal itu.


“Terima kasih, Diandra,” bisik lelaki itu kemudian, mengarahkan kepalanya ke atas rambut perempuan itu, menghirup aroma buah dari sana sekaligus melayangkan satu kecupan lembut.


“Hmm? Untuk apa?”


“Karena kau selalu menyempurnakan hidupku.” Bram sudah menarik kembali selimut tadi, menutupi keduanya saat ia bergerak untuk mengambil posisi.


Mengkungkung Diandra yang terbaring dengan senyuman di wajahnya, tangan perempuan itu sudah menelusup masuk ke dalam kaus yang dikenakan Bram. Secepat kilat, kaus tadi sudah terbang entah ke mana.


“Kau cepat sekali, Sayang.” Menggoda, mengalirkan embusan napas di leher Diandra. Bekas kemerahan dari jejaknya terakhir kali saja masih tersisa di sana, saat kini Bram sudah bersiap untuk membuat jejak yang baru.


Diandra menenggelamkan kepalanya di ceruk leher Bram, tepat saat Bram mengambil jeda saat menatap satu lagi garis kemerahan di leher istrinya.


“Diandra.” Panggilan Bram tidak digubris oleh perempuan itu, saat ia sedang asyik sendiri.


“Aku akan bekerja besok, Sayang,” ujarnya mengingatkan. Berjaga-jaga bila saja Diandra melupakan hal itu.


Nyonya Trahwijaya menahan tawa. Memperhatikan kissmark yang hampir tampak jelas, saat ia menarik kepalanya dari sana dan tersenyum lebar.


"Maaf, Bram. Sudah jadi,” ujarnya tanpa rasa bersalah.


Tatapan innocent Diandra semakin membangkitkan gairah lelaki itu, saat kemudian dia sudah melepas pakaian istrinya tanpa menunggu apa-apa lagi.


“Kau dihukum, Diandra. Terima hukumanmu sekarang juga!” Sejurus kemudian Bram sudah menghujani istrinya dengan ciuman panjang yang memabukkan, mengalirkan sengatan berbahaya namun memberikan efek tagih pada istrinya.


Membuat Diandra tergelak kecil, sebelum ia benar-benar masuk dalam permainan sang dominan.


Malam itu terasa panjang.


.


.


.


🗼Bersambung🗼


~Yuk terus dukung dgn like, komen dan vote ya kak readers yang baik 😍 yang blm follow instagram sile ke @tulisan_bee ya.


Inget, jangan suudzhon dlu dan nikmati alurnya, hihi.


Selamat beraktivitas dan tetap jaga kesehatan ya~ Aku padamu ☘️