
"Dia tidak pernah setampan itu. Tetapi kali ini, wajahnya begitu menggemaskan." ~Diandra Lee.
.
.
.
Bram tidak pernah setampan itu. Meski seluruh dunia tahu bahwa satu-satunya pewaris Trahwijaya itu memang tampan sejak dulu, tetapi tidak seperti itu untuk Diandra.
Bola mata suaminya yang memutar penuh seiring dengan gerakan tangannya yang mencengkram kemudi, entah mengapa sungguh terlihat tampan dan memesona sekali.
Menggandeng Diandra untuk keluar dari ruang kerjanya, Bram hampir saja menitikkan air liur saat membayangkan hangatnya semangkuk bubur ayam di depan mata. Embusan asap dari panasnya bubur halus, yang dilengkapi dengan taburan ayam suir dan kacang-kacangan, belum lagi irisan daun bawang yang menggugah selera sungguh membangkitkan napsu makannya saat itu juga.
Sempat menarik salah satu jaket yang tersampir di sofa, Bram memakaikan jaket itu ke tubuh kecil istrinya. Mengundang gelak tawa Diandra, saat Bram menolak idenya untuk berganti pakaian lebih dulu.
Perempuan itu mengenakan gaun malam sepanjang lutut, yang terbuat dari kain satin tipis. Bram berkilah jika kelak dia saja yang akan turun untuk membeli bubur ayam, sedang Diandra bisa duduk diam di dalam mobil. Hingga Bram menganggap istrinya itu tidak perlu mengganti baju.
"Bram," panggil Diandra pelan. Menoleh untuk melihat sepenuhnya pada Bram yang masih konsen mengemudi, suara Diandra terdengar lembut sekali.
"Hmm?" Masih berkonsentrasi penuh untuk menemukan kang bubur, Bram belum berpaling.
"Hei, kita sudah melewati ini tiga kali. Apa kau benar-benar mau makan bubur sekarang, Bram?"
Bram menoleh. Tidak memahami entah mengapa keinginannya begitu kuat kali ini, saat ia pun sebenarnya tidak tahu apa yang melandasi ini semua.
"Iya, aku ingin makan, Diandra," balasnya pelan.
Diandra tertawa kecil. Memperhatikan sang serigala gagah yang kini bertransformasi menjadi kelinci imut, sungguh manis sekali.
"Sebaiknya kita pulang. Kurasa tidak ada yang berjualan bubur lagi, Bram. Lagipula ini hampir jam satu malam."
Diandra ada benarnya. Bram mendesah sejak tadi, sebab tidak mendapati satu pun penjual bubur yang masih tampak. Rata-rata yang tersisa adalah kang nasgor, kang bandrek, atau kang penyet-penyet.
Bram menelan ludah dengan susah payah. Masih belum rela untuk kembali.
"Aku yang buatin aja, mau?" tawar Diandra kemudian.
Membuat Bram refleks menoleh, melebarkan senyuman. Tidak masalah untuknya, karena yang ia inginkan sebenarnya adalah hangatnya bubur.
"Kurasa masih ada ayam dan daun bawang di kulkas. Kita bisa kembali dan kubuatkan untukmu, bagaimana?"
Bak oase di padang pasir, Bram langsung menganggukkan kepala.
"Kita kembali sekarang, Sayang?" tanyanya senang, sudah mencengkram kembali setir kemudinya dengan erat.
***
Seluruh semesta tahu bahwa Nyonya Trahwijaya memang terkenal dengan kecantikannya yang bak dewi yunani. Tetapi kali ini, entah mengapa Bram merasa level kecantikan istrinya bertambah jutaan kali, saat ia memperhatikan gerakan lincah Diandra yang berkutat di dapur mereka meski sudah hampir pukul dua pagi.
Duduk manis di kursinya sejak tadi, Bram tidak bisa menahan diri untuk tidak bangkit dan memeluk Diandra saat itu juga. Otomatis menghentikan gerak tangan Diandra, saat perempuan itu sedang memeriksa tekstur bubur yang ia masak.
Membiarkan suaminya--sang kelinci imut, bergelayut manja di punggungnya dini hari itu. Diandra tergelak kecil saat bibir Bram sudah mengenai tengkuk dan lehernya.
"Aku sedang memasak, Bram," bisik Diandra pelan, menjauhkan centong bubur yang masih ia pegang di tangan kanan.
Bram semakin bergelayut manja.
"Aku tahu," katanya. "Diandra, apa kau tahu kapan saat-saat kau terlihat sangat cantik di mataku?"
Diandra menahan senyuman. Sudah pasti Bram mau menggodanya.
"Hmm, tidak tahu. Kapan memangnya?"
Bram tersenyum tipis. Melingkarkan kedua tangannya di perut rata istrinya, dia berbisik pelan.
"Pertama, saat kau berpeluh dalam permainan kita. Yang kedua, saat kau memasak."
Diandra sontak berbalik. Maniknya melebar saat mendapati Bram sudah tersenyum selebar wajahnya, perempuan itu melotot meski ia tidak sepenuhnya marah. Lebih tepatnya, ia sedang tersipu.
"Astaga, Bram! Gombal sekali, kau terdengar mesum kau tahu?" cicitnya pelan. Tidak ingin membangunkan seisi rumah, dia berusaha menimbulkan siminimal mungkin suara.
"Aku mencintaimu, Diandra," katanya tulus.
Diandra mengangguk. "Aku tahu, Sayang. Duduklah di sana dan tunggu sebentar lagi. Buburmu hampir siap."
Berbalik badan, Diandra sudah kembali mengaduk bubur itu, saat Bram masih berada tepat di belakangnya. Hingga satu suara terdengar nyaring, membuat keduanya sama-sama tersentak kaget dan menolehkan kepala.
Brio Trahwijaya sudah berdiri di ambang meja makan, menyimpan senyuman di sudut bibirnya.
"Itu apa? Papa mau juga."
***
Deru mesin mobil Alberto terdengar bercicit, saat sang pengemudi tampaknya sedang kehilangan kendali.
Menginjak gas sekuat tenaga, mobil berwarna hitam pekatnya membelah jalanan kota yang memang belum terlalu padat merayap. Bahkan mentari saja belum memunculkan sinar, sebab bumi masih dilingkupi cahaya temaram dari sisa gelapnya malam.
Seperti orang kalap, dia buru-buru meninggalkan rumah saat satu panggilan masuk ke ponselnya. Memicingkan mata saat memeriksa nama yang tertera di layar, kantuknya seketika lenyap yang langsung digantikan dengan amarah meluap. Ada rasa khawatir di sana, yang tidak bisa ia deskripsikan secara nyata.
"Perempuan itu tertatih, Bos. Kami masih mengawasi."
Hanya kalimat itu saja, yang langsung membuatnya hampir seperti orang gila.
Membelokkan kendaraan roda empat itu di ujung jalan salah satu kompleks apartemen elit, Alberto memajukan tubuhnya untuk memperhatikan jalan lebih seksama. Mencari seseorang, yang mungkin sedang membutuhkan pertolongan.
Setelah beberapa saat memelankan laju kendaraannya, Alberto tersentak kaget saat mendapati sesosok wanita berjalan sempoyongan di sisi kiri jalan.
Buru-buru menghentikan mobilnya, lelaki itu tidak berpikir dua kali untuk turun dari sana dan berlari sekencang mungkin. Menghampiri perempuan itu, menghampiri Hana.
"Hana!"
Perempuan yang tampaknya berjalan dengan sisa-sisa tenaga itu tidak berbalik sama sekali, masih menyeret langkahnya dengan tenaga yang tak lagi ada.
"Hana!" Tidak tahu bahaya atau konsekuensi apa yang menunggu di depannya, Alberto menggapai lengan Hana hingga membuat perempuan itu sontak berbalik badan.
Matanya bengkak, dengan sisa-sisa bekas memar yang tampak jelas tercetak di wajahnya. Rambutnya terikat seadanya, saat manik perempuan itu memancarkan kesedihan yang mendalam.
Kemejanya berantakan, yang mana tiga kancing paling atasnya terbuka hingga menampilkan bagian atas tubuhnya meski sekelebat mata.
Hana terlihat sangat menyedihkan. Tidak, dia tampak mengerikan di pagi buta itu.
Saat tatapan mereka bertaut, Alberto tidak bisa menahan diri untuk tidak menarik perempuan itu ke dalam dekapannya. Tangis Hana pecah, seiring dengan pukulan tidak bertenaga yang dilayangkannya di dada Alberto.
Bertumpu pada lututnya di lantai, Alberto menahan Hana yang terus berusaha memberontak saat ia mendengar racauan Hana yang tidak terlalu jelas di telinga.
"Dia tidak mencintaiku," bisik perempuan itu, pelan sekali.
Di sela-sela tangisannya yang semakin menderu deras, tubuh Hana mulai melemah. Mungkin telah kehilangan tenaga perlahan-lahan, akibat perasaan dan kesakitan yang ditanggungnya sendirian.
Alberto memperbaiki posisinya, menggendong Hana dalam dekapan saat ia berusaha bangkit berdiri.
Kini mendekap Hana yang mulai kehilangan kesadaran, Alberto berusaha berjalan menuju mobilnya untuk membawa Hana ke rumah sakit terdekat. Bagaimanapun, kondisi perempuan itu pastilah membutuhkan pertolongan.
Tinggal beberapa langkah lagi. Beberapa langkah lagi saat ia seharusnya sudah mencapai mobilnya, namun tertahan saat tidak menyadari mobilnya telah dikepung oleh beberapa orang bertubuh besar yang mengenakan seragam hitam pekat. Sepekat malam, menyaurkan rasa mencekam yang kental sekali.
Lelaki itu terdiam. Mematung di posisinya dengan kedua tangan yang menggendong Hana, saat tiba-tiba ia merasakan moncong sebuah pistol sudah menempel di dahi sebelah kirinya.
Diikuti suara serak yang khas, dengan bau alkohol yang menyeruak dari sisi belakangnya.
"Mau ke mana? Dia istriku."
.
.
.
🗼Bersambung🗼