Travelove~

Travelove~
28. Kerapuhan



"Apakah kelak pelangi akan berpihak padaku dan membuat hariku berwarna setelah kenyataan pahit ini terungkap perlahan?" ~Marinda Schoff. 


.


.


.


Marin menjauhkan ponsel dari telinganya. Menatap nanar pada benda pipih yang kini bercahaya, Marin berusaha menahan agar kedua kelopak matanya tetap terbuka. Entah mengapa. Entah apa alasannya. Dia hanya ingin minum sedikit saja, saat dia akhirnya memutuskan untuk membelokkan mobilnya ke sebuah club. Menyudahi pertemuannya dengan Leah yang berakhir hampir pukul enam sore tadi, Marin awalnya hendak mengemudi untuk kembali ke apartemennya. Dalam perjalanan pulang, dia kemudian memutuskan untuk menghentikan mobilnya di pinggir jalan sebuah taman, tidak mampu menahan lagi begitu banyak pertanyaan yang berkumpul di kepalanya.


Tentang wanita Jepang itu, Kobayashi-san. Tentang siapa dia sebenarnya dan apa hubungannya dengan klan mereka? Penasaran atas apa yang sedang disembunyikan Luke, ayahnya, dengan mengirim dia ke Indonesia hanya untuk menemui orang yang sudah tidak lagi bernapas.


Menarik napas panjang, Marin akhirnya memutuskan untuk menekan tombol panggil pada nomor ponsel Luke, berniat untuk meminta penjelasan.


“Itu kau, Marin?” Suara khas milik Luke terdengar renyah di sebrang sana, tetapi Marin sama sekali tidak merubah air wajahnya. Masih duduk di dalam mobil, Marin menarik napas pelan-pelan.


“Aku menemukan sebuah titik, Pap. Mengenai misi yang kau berikan padaku. Awalnya aku ingin menolak mentah-mentah sebab kufikir kau tidak mungkin memberikanku misi yang mustahil. Tetapi sepertinya ini bukan kesalahan, bukan begitu menurutmu?” Nada suara Marin terdengar datar, bahkan dia tidak menyapa ayahnya dengan baik.


“Katakan, apa yang kau temukan Ma Cherry?” Berbanding terbalik dengan Marin yang tampak mencoba meredam perasaan, Luke justru tetap tenang dan memelankan nada suaranya guna menciptakan nada yang terdengar sangat lembut di telinga.


Marin mendesah.


“Kau menyuruhku untuk membawa dia ke hadapanmu, Pap? Bagaimana bisa jika sebenarnya kau tahu bahwa dia sudah meninggal belasan tahun lalu?”


Luke tersenyum tipis di sudut bibirnya meski Marin tidak dapat melihat wajahnya saat ini. Diam-diam Luke memuji putri semata wayangnya itu sebab tidak menyangka Marin akan menemukan fakta itu secepat ini.


“Ah, kau menemukannya?” Bertanya singkat, semakin membuat perasaan Marin kacau balau.


“Katakan, Pap. Mengapa kau memberiku misi ini? Jelaskan satu saja alasan masuk akal mengapa aku harus mencari jejak orang mati?” Nada suara Marin jelas menyiratkan bahwa dia menahan kesal.


Luke menyeringai. Dia tahu sifat putrinya, dia tahu Marin pasti akan bertanya cepat atau lambat.


"Ma Cherry,” panggilnya lembut, persis seperti ketika dia memanggil Marin kecil untuk membujuk atau sekedar mengajak putrinya membeli kue.


Marin menunggu. Tidak mengatakan apapun, dia memilih untuk mengunci bibirnya rapat-rapat.


“Kau menanyakan padaku satu saja alasan, kan? Maka akan kuberikan kau dua alasan, Ma Cherry,” Luke melanjutkan kalimatnya.


Marin masih hening. Memasang telinganya rapat-rapat, gadis itu tidak ingin dia kehilangan satu kata pun dari ayahnya.


“Dengarkan aku baik-baik, Ma Cherry. Pertama, karena kau harus menaiki posisi pimpinan Schoff dengan usahamu sendiri ....”


Marin mengernyitkan dahi.


Apa maksudmu, Pap? Bukankah sudah jelas klan Schoff adalah milikku sejak aku dilahirkan sebagai anak tunggal?


“Yang kedua ...,” Luke kembali menahan kalimatnya, menyadari Marin telah hening sejak tadi.


“Ma Cherry kau masih di sana?” Bertanya dia untuk memastikan.


Luke tersenyum tipis, kemudian menarik napas panjang.


“Yang kedua, sebab dia adalah kekasihku.”


***


Marin telah menjatuhkan ponselnya. Menatap nanar ke arah jalan dan beberapa orang yang tampak menyebrang, gadis itu itu masih terlihat menerawang jauh. Memutar kembali ingatannya mengenai jawaban yang diberikan Luke padanya, Marin merasa seolah dadanya penuh sesak. Tidak bertanya lebih lanjut setelah mendapatkan jawaban Luke yang kedua, Marin lalu menutup telepon dengan kasar.


Tidak. Tidak mungkin. Bagaimana bisa Papap menyuruhku melacak keberadaan kekasihnya?


Mencengkram setir kemudinya erat-erat, Marin masih berperang dengan fikiran yang mulai rumit dalam kepalanya. Luke. Kobayashi-san. Ibu. Kekasih. Pemimpin Schoff. Apa yang sebenarnya sedang disembunyikan Luke di belakangnya?


Hati gadis itu tiba-tiba merasa sakit, tidak menyangka bahwa ayahnya akan memiliki kekasih lain selain ibunya. Luke tidak menikah lagi setelah ibunya wafat, dan Marin sungguh menduga itu disebabkan oleh cinta yang begitu membuncah dari Luke untuk mendiang ibunya. Tetapi kini mendengar dengan jelas dari bibir ayahnya sendiri bahwa lelaki itu memiliki kekasih lain, entah mengapa begitu menghancurkan hati Marin. Seolah tidak siap dengan kenyataan bertubi yang datang belakangan ini, Marin sungguh merasa sesak napas, seperti tidak kuat.


Menyadari dia telah terlanjur dipenuhi fikiran yang entah dari mana-mana, Marin akhirnya kembali mengenakan sabuk pengamannya, menghidupkan mesin mobil dan menginjak gas untuk berlalu dari taman itu. Telah memilih sebuah club untuk menenangkan fikiran, gadis itu berharap setidaknya alkohol dapat memberikan ketenangan malam ini. Hanya malam ini saja.


***


Bram memasuki club yang disebutkan Marin dengan langkah besar. Setelah beberapa minggu tidak mengunjungi club, lelaki itu tampak sedikit kaget dengan pancaran lampu warna-warni yang begitu menyilaukan,


ditambah lagi dengan dentuman musik yang terdengar sangat keras. Mencari-cari ruangan berlevel VIP yang disebutkan Marin di telepon sebelumnya, Bram telah menaiki tangga untuk mencapai lantai tiga dari club tersebut setelah bertanya pada seorang bartender.


“Marin!” Berteriak kecil saat dia membuka pintu ruangan VIP tempat Marin berada, manik kehitaman Bram membesar. Cepat-cepat melangkahkan kaki menuju tempat dimana Marin sedang bersandar, Bram menggelengkan kepala.


Marin mendongak, menatap pada Bram yang kini telah berada tepat di hadapannya.


“Kau datang, Bram?” Bertanya dengan senyuman kecil di wajah, namun Bram tahu gadis itu telah minum beberapa gelas. Terbukti dengan botol wine yang masih terbuka dengan beberapa gelas kosong di atas meja.


‘Marin, apa yang terjadi?” Mengambil posisi duduk tepat di samping Marin, Bram tidak peduli meski jarak mereka sungguh sangat sedikit sekali.


Pasti ada sesuatu yang terjadi, Marin. Katakan padaku, apa yang membuatmu seperti ini.


Marin tertawa. Berusaha mempertahankan kesadaran yang hampir diambil alih oleh pengaruh alkohol yang telah dia tenggak, Marin mengusap kepala untuk merapikan rambutnya yang menutupi mata. Menatap nanar pada Bram yang kini menatapnya lurus, gadis itu telah menarik napas dengan susah payah.


“Bram, apa kau pernah mencintai dua wanita pada waktu bersamaan?”


.


.


.


🗼Bersambung🗼


~Jan lupa dukung terus dan sampai jumpa, Readers baik :)