Travelove~

Travelove~
10. Tidak Sama



"Tampaknya kau adalah seseorang yang berbeda, sejak saat terakhir kali aku menatap matamu." ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Mungkin memang benar yang dikatakan orang-orang. Ketertarikan sedikit banyaknya membuatmu tidak mampu menguasai diri, meski kau berusaha keras untuk tidak bersikap demikian.


Begitu pula yang terjadi pada duda tampan itu, Bram Trahwijaya. Memandangi dengan lekat sosok Marin yang tampak cerdas saat memberikan presentasinya di depan ruang rapat, Bram hampir saja lupa untuk mengedipkan mata dengan benar. Mengikuti setiap gerakan kecil yang Marin lakukan, Bram tahu dia hampir saja tidak menyimak materi itu dengan baik, tetapi malah fokus pada si pemberi pemateri.


Meski ruang rapat itu dipadati oleh lebih dari enam orang yang duduk melingkari sebuah meja yang terbuat dari kayu jati berwarna cokelat tua, Bram sungguh merasa seakan hanya dia dan gadis itu yang berada di dalam sana. Seperti tersihir, seolah-olah setiap kata yang diucapkan Marin melalui bibir merah mudanya berhasil membiusnya tanpa dia sadari.


Marin tampak berbeda kali ini. Tidak, sebenarnya tampak sangat berbeda, dengan sosok yang dikenal oleh Bram saat berada di Paris sebulan yang lalu. Ingatannya telah melayang begitu saja, mengingat kembali pada saat dia terlibat dalam suasana mencekam hingga mendengar tembakan yang berasal dari pistol milik Marin.


Bram tidak pernah menyangka bahwa gadis itu ternyata sungguh piawai dalam menyampaikan materi mengenai arsitektur bangunan. Terlebih, Marin tampak menguasai seluk beluknya, yang semakin membuat setiap peserta meeting sungguh memusatkan pandangan mereka ke arah yang sama. Memandangi, mungkin sekaligus memuji dan mengagumi dalam hati masing-masing.


Menangkap basah Bram yang memakukan pandangannya pada Marin secara terang-terangan, Alberto menyeringai sembari menyenggol lengan lelaki itu.


"Tutup mulutmu, Bram. Kau hampir menjatuhkan air liur!" Menahan kekehan, Alberto segera menjauh agar tidak mendapat makian. Berbisik pelan dirinya, tetapi dia yakin Bram dapat mendengar dengan jelas kalimatnya.


Bram tidak menggerakkan badan. Tubuhnya tetap tegap sembari memutar sebuah bolpoin di sela jari tangan kanannya. Dia sungguh bisa mendengar ejekan Alberto baru saja.


Melirik pada Alberto dengan tatapan tajam, namun dia memilih untuk bungkam. Bram sedang tidak ingin mendebat atau bahkan menyangkal, sebab dia memang tertangkap basah kali ini.


***


Bram menjatuhkan dirinya di salah satu sofa panjang. Mengamati Alberto yang berjalan cepat ke arah kulkas, Bram meminta agar Alberto mengambilkan sekaleng cola untuknya siang itu. Mengabulkan permintaan Bram, Alberto kembali dengan tiga buah kaleng cola, meletakkannya di atas meja dan duduk tepat di hadapan Bram.


"Kau pasti terkejut saat melihatnya, kan?" Alberto sudah membuka kaleng cola-nya, menggemakan suaranya ke setiap sudut ruangan.


Bram bergeming. Menarik sekaleng cola dan membukanya cepat, menyesapnya dengan tidak sabar.


"Tidak juga." Menjawab singkat saja.


Alberto berdecak.


"Kau tahu, kurasa Marin juga terkejut saat melihatmu tadi, Bram! Tetapi dia tampak biasa-biasa saja. Kau yakin sesuatu yang penting terjadi antara kalian selama di Paris kala itu?" Kembali menyerocos Alberto hingga membuat Bram menyeringai kecil, saat dirinya sudah meneggak cola itu setengah kaleng.


Kau pasti bisa kejang jika kuberitahu dia tinggal tepat di depan apartemenku.


Melirik Bram sekilas yang masih memilih untuk tidak membuka suara kali ini, Alberto mengangguk kecil.


"Kira-kira di mana dia tinggal ya? Dan berapa lama dia akan berada di sini? Apa memang Marin akan terus bekerja sama dengan perusahaan kami?" Alberto tampaknya bertanya pada diri sendiri, sebab Bram sama sekali tidak menggubris rentetan pertanyaan yang datang dari lelaki itu.


Bram malah meraih sebuah laptop, membuka sebuah file di sana. Kesal karena merasa di acuhkan, Alberto kini berdecak.


"Bram, aku tahu kau berbohong padaku," katanya datar, namun nada suaranya terdengar tidak bersahabat.


Bram menoleh sekilas, mengalihkan pandangannya dari layar, memeriksa apa maksud dari perkataan Alberto baru saja.


Alberto memang benar soal itu. Dia masih ingat dengan baik bagaimana dia dulu bertanya apa Bram memiliki nomor kontak Marin. Dan jawaban yang diberikan lelaki itu adalah bahwa dia tidak punya. Padahal Alberto akhirnya tahu bahwa mereka berdua pernah saling menghubungi satu sama lain.


Bram masih hening, benar-benar tidak bersuara sama sekali. Alberto membenarkan posisi duduk, kini menegakkan tubuh dan menatap pada Bram dengan mimik wajah serius.


"Kau akan kalah kali ini. Aku akan meminta nomor ponsel Marin pada Leah. Dan kau, jangan harap aku akan memberitahukan itu padamu! Rasakan kau!" berkata seakan idenya sungguh cemerlang, Alberto tampak begitu senang saat wajahnya mengukir sebuah tersenyum sumringah.


Kini dia merasa berada selangkah di depan Bram. Bagaimanapun, dia akan dapatkan nomor Marin kali ini. Jangan harap Bram akan mendapatkan nomor gadis itu dari dia.


Bram tertawa kecil, ingin sekali tergelak dan menjitak kepala Alberto saat itu juga. Tetapi dia memilih untuk mengurungkan niatnya, membiarkan untuk sesaat Alberto merasa dia berada di atas awan. Kelak di saat yang tepat, Bram akan menariknya jatuh hingga lelaki itu akan merasa sakit luar biasa. Tanpa sadar Bram tersenyum kecil di sudut bibirnya, menerka-nerka bagaimana reaksi Alberto jika bocah itu tahu sebenarnya apa yang sudah terjadi antara dia dan Marin.


Mungkin kau akan mati lemas saat aku berkata bahwa kami sudah saling mengecup bibir satu sama lain, Al. Aku tiba-tiba merasa iba padamu. Haha.


Menggeser laptop itu dari pangkuannya, Bram bangkit berdiri. Masih menahan tawa dan rasa senang dalam hatinya, Bram telah mengambil langkah besar untuk keluar dari ruangan Alberto.


"Hei, mau ke mana kau, Bram?!" Suara Alberto terdengar memanggil dengan volume yang lumayan eras, memperhatikan punggung Bram yang berjalan menuju arah pintu.


Tersenyum lebar kali ini, Bram membuka bibirnya pelan.


"Kau terlalu banyak bicara, Al. Semoga berhasil untukmu," ujar lelaki itu penuh kemenangan. Telah meraih handle pintu dan keluar dari sana sebelum mendengar jawaban lebih lanjut.


***


Marin mengambil dua kaleng bir dan beberapa makanan ringan dari rak. Tampak sedang memilih, gadis itu menjatuhkan pilihan pada sebungkus besar potato chips berperisa ayam bakar, yang lalu dimasukkannya ke dalam keranjang belanjaan. Mengantri di belakang dua orang yang juga sedang menunggu giliran, Marin mengedarkan pandangannya ke sekeliling. Dia sedang berada di lantai dasar apartemennya, membeli beberapa cemilan malam di sebuah swalayan untuk bekalnya malam ini.


Maniknya tiba-tiba membesar saat dia menangkap sebuah mobil berwarna gelap, dengan kaca yang terbuka lebar sehingga dia dapat dengan jelas melihat pengemudi di dalamnya. Itu Bram. Tampak telah melonggarkan dasinya, lelaki itu tidak lagi mengenakan setelan jas lengkap.


Jika diperhatikan dari waktu dan raut wajahnya, tampaknya Bram baru saja kembali. Manik kebiruan Marin masih mengikuti pergerakan mobil Bram, saat mobil itu meluncur turun untuk memasuki area parkir bawah tanah.


Marin tersenyum tipis. Menarik napas panjang, gadis itu maju dua langkah untuk mendekatkan dirinya ke arah kasir. Beberapa hal bermunculan dalam kepalanya, dan beberapa di antaranya adalah mengenai lelaki itu. Bram. Bram Trahwijaya.


Bram, jika aku menyelesaikan misiku lebih cepat dari tenggat waktu, apakah kita akan kembali saling mengucap selamat tinggal?


Marin masih sibuk dengan pikirannya, hingga dia tidak menyadari panggilan dari sang kasir yang telah berulang kali ditujukan untuknya.


"Nona?"


Tersentak Marin oleh tepukan seseorang yang mengantri di belakangnya, memberitahu bahwa giliran gadis itu untuk membayar telah tiba. Buru-buru menaruh keranjang belanjaan di atas meja kasir, Marin sempat cengir kuda dan meminta maaf atas keterlambatan responnya baru saja.


Setelah menyelesaikan pembayaran dan menerima kantung belanjaan, Marin meninggalkan swalayan itu dengan kepala yang sedikit tertunduk, masih menahan malu.


Astaga, Bram. Kenapa aku seperti ini, sih?!


.


.


.


🗼Bersambung🗼