
“Melihat benda itu membuatku senang, tetapi juga sedih di saat yang bersamaan. Kini aku benar-benar akan menghapus semuanya, hingga tiada lagi yang tersisa.” ~Diandra Lee.
.
.
.
Tidak perlu waktu lama untuk sepasang suami istri itu bersedia di dalam mobil.
Bram bangkit tidak lama setelah Diandra turun dari ranjang mereka tadi, dan sudah merasa kesadarannya sepenuhnya kembali. Syukurnya besok adalah hari libur, sehingga ia tidak perlu berangkat ke kantor. Masih ada beberapa pekerjaan yang harus tetap dipantau esok siang, dan dia bisa melakukan itu dari ruang kerjanya nanti.
Diandra sudah mengganti bajunya. Jika tadi perempuan itu mengenakan dress tidur tipis seperti biasa, maka kini dia sudah mengenakan celana panjang dan blouse santai dari brand ternama. Bram sempat meraih jaket meski tidak ingin dipakainya, hanya membawa jaket itu untuk berjaga-jaga mana tahu kelak akan dibutuhkan.
Diandra tampak benar-benar tersenyum bahagia, bahkan perempuan itu bersenandung kecil ketika menuruni tangga. Melihat berulang kali ke arah Bram, Diandra tidak henti-hentinya melemparkan senyuman. Senyuman terbaiknya, senyuman yang menjadi alasan Bram mengapa ia jatuh cinta pada perempuan yang sama lebih dari jutaan kali.
Bahkan Diandra sempat berbelok ke arah kulkas, untuk mengambil beberapa soft drink dan air mineral, juga memasukkan bungkusan snack ke dalam plastik.
“Biar enggak jajan, Bram,” katanya. “Nanti di sana takut lapar pas ngeliatin pesawat.”
Membuat Bram hanya bisa tertawa kecil, sebab mendapati istrinya begitu menggemaskan bahkan di pagi buta seperti ini.
Meletakkan jaket tadi di jok penumpang belakang, Bram sudah memasangkan sabuk pengaman untuk Diandra.
Hari benar-benar masih gelap gulita, bahkan satpam yang berjaga di pos depan hampir saja terkaget sebab mendapati mobil majikannya keluar perlahan-lahan dari garasi. Pria paruh baya itu sempat menduga sesuatu yang darurat mungkin terjadi, tetapi kemudian ia bisa bernapas lega saat Bram menghentikan mobilnya dan menurunkan kaca tepat di belakang gerbang besar kediaman Trahwijaya.
“Pak, keluar sebentar. Tolong telepon kalau ada apa-apa,” ujar Bram sopan.
Mendapati anggukan dan senyuman dari satpam itu, ketika kini pagar mulai bergerak terbuka. Menginjak gasnya
perlahan-lahan, Bram sudah kembali mengemudikan mobilnya untuk melaju menuju bandara.
Untuk menemukan pesawat terbang, sesuai dengan keinginan bayinya.
***
Mobil yang dikemudikan Bram memasuki kawasan bandara setelah hampir menempuh empat puluh lima menit perjalanan. Seharusnya membutuhkan waktu lebih lama untuk mencapai salah satu bandara terbesar di negara mereka itu, tetapi jalanan masih terlalu lengang dan Bram bisa memacu mobilnya tanpa hambatan pagi buta ini.
Diandra tidak henti-hentinya berdecak senang dari tempat duduknya, menoleh berulang kali ke arah Bram yang masih memegang kemudi dengan erat.
“Apa kau sesenang itu, Diandra?” Suara khas lelaki itu memenuhi mobil, di sela-sela lantunan lagu James Bay berjudul ‘Us’ yang mengalun lembut sejak tadi.
Tidak ada alasan untuk Diandra tidak mengangguk, bahkan perempuan itu tersenyum lebar.
“Apa kau yakin kita bisa melihat pesawat sekarang, Bram?” tanyanya penasaran.
Bram tidak langsung menjawab. Dia tidak tahu apakah mereka benar-benar bisa melihat pesawat di pagi buta seperti ini, tetapi sepertinya beberapa penerbangan internasional memang berada di jam-jam malam. Mereka bisa mencoba menunggu nanti, hingga pesawat yang ingin dilihat Diandra—dan bayi mereka, akan melintas di langit luas.
Memarkirkan mobil itu tepat di slot parkiran yang tampak lengang, Bram mematikan mesin mobil tidak lama kemudian. Memandangi ke arah luar yang begitu sepi, lelaki itu sedang berusaha mempelajari suasana.
“Kita akan turun, Bram?” tanya Diandra cepat.
Bram mengangguk samar, sembari meraih ponselnya yang sedari tadi berada di dashboard. Memasukkan perangkat komunikasi itu ke dalam kantung celana jeansnya, Bram bersiap untuk keluar dari sana.
“Ayo, Diandra. Kita lihat pesawat seperti yang anak kita inginkan,” ajak Bram.
Mendapati Diandra mengangguk yakin, ketika kini perempuan itu sudah mulai beranjak dari duduknya. Tidak lupa
membawa kantung yang berisi snack dan minuman tadi, Diandra sudah berdiri di luar mobil. Bram sempat meraih jaket yang dibawanya tadi dari jok belakang, sebelum kemudian ia mengitari bagian depan mobil untuk menggandeng Diandra. Memakaikan jaket itu ke tubuh istrinya, Bram khawatir angin malam yang berembus akan membuat perempuan itu tidak nyaman nanti.
Dia tidak punya clue di mana mereka bisa menemukan pesawat terbang seperti yang diinginkan Diandra, sebab tidak sembarang pengunjung bisa masuk ke dalam bandara itu tanpa tiket dan tujuan yang jelas. Terlebih petugas pasti melakukan pemeriksaan, dan sepertinya Bram akan butuh bantuan seseorang kali ini.
Mengeratkan gandengannya ketika mereka berjalan memasuki kompleks bandara, Bram sesekali melirik ke arah Diandra yang masih begitu tampak senang. Perempuan itu memperhatikan sekitar dengan seksama, melihat dengan perasaan bahagia pada calon penumpang yang sudah mulai berdatangan meski waktu baru saja hendak memasuki pukul tiga pagi.
“Kita akan ke mana, Bram?” tanya Diandra lagi.
Mendongakkan kepala ke arah suaminya, dia sudah tidak sabar untuk melihat pesawat terbang seperti yang dia
idam-idamkan.
Bram mengeluarkan ponselnya dari saku celana, terlihat memilih salah satu kontak dan mengetikkan pesan dengan jemarinya. Tidak tahu apakah pesan itu akan terbaca saat itu juga atau tidak, tetapi setidaknya dia sudah mencoba. Tanpa pria itu duga, sebuah panggilan masuk ke ponselnya tidak lama kemudian, dan Bram langsung saja menggeser layar tanpa ragu.
“Halo, James, maaf aku mengganggumu. Tetapi ini sedikit mendesak dan aku sudah berada di pintu keberangkatan bandara sekarang.” Suara lelaki itu terdengar pelan namun tegas, begitu ia berada dalam sambungan telepon tadi.
Diandra memperhatikan lewat sorot matanya, ketika Bram kini hening mendengarkan suara dari lawan bicaranya.
“Terima kasih, James. Aku berutang padamu.”
Menurunkan ponselnya dari telinga, Bram memberikan satu senyuman pada Diandra. Diandra baru saja hendak menanyakan tentang hal apa telepon di tengah malam itu, ketika tiba-tiba saja seorang pria muda dengan seragam yang khas menghampiri mereka.
“Tuan Bram Trahwijaya?” tanyanya sopan.
Menganggukkan kepala, Bram menjawab cepat. “Benar, itu aku.”
“Saya Hardin, asisten Pak James Scott. Silakan ikut saya, Pak.”
“Baiklah.”
Menoleh ke arah Diandra untuk mengajak perempuan itu beranjak dari sana, Bram masih menahan senyuman di wajah tampannya. Diandra menampilkan banyak pertanyaan pada wajahnya, tetapi dia memilih untuk menahan diri kali ini. Mengimbangi langkah kaki Bram yang berada tidak jauh dari sang petugas tadi, keduanya sudah dibimbing untuk melewati satu pintu dengan tulisan ‘STAFF ONLY’ di depannya.
“Kita benar-benar masuk ke dalam bandara, Bram?” bisik Diandra pelan, tepat ketika mereka melewati satu lorong
panjang. Tidak ada orang yang terlihat di sana, tetapi langkah kaki ketiganya tidak mengendur sama sekali.
“Yang terbaik untukmu, Diandra,” jawab Bram tanpa ragu.
Hingga kini keduanya berhenti tepat di belakang petugas tadi, yang dengan senyuman membukakan satu lagi pintu untuk mereka.
“Silakan, Pak. Pesawatnya akan terbang jam enam pagi nanti, jadi masih bisa dilihat sekarang,” jelas sang
pemuda.
Ada ekspresi bingung dari sorot matanya, tetapi dia tidak memiliki hak untuk bertanya. Ini adalah perintah langsung
dari atasannya, untuk mempersilakan dua orang tak dikenal ini masuk ke landasan dan memperhatikan pesawat dari jarak dekat.
“Terima kasih banyak, Hardin,” balas Bram cepat.
Pemuda bernama Hardin itu mengangguk, sebelum kemudian berbalik untuk meninggalkan Bram dan Diandra di depan pintu itu.
“Ayo, Sayang.”
Mengiring Diandra untuk memasuki pintu yang telah dibukakan Hardin tadi, Bram mendapati Diandra kini tersenyum lebar sekali. Seakan-akan ratusan bintang tengah berputar di atas kepalanya, yang membuat perempuan itu merasa begitu bahagia.
Maniknya melebar sempurna, saat mendapati armada besar itu berada tepat di hadapannya. Kini ia benar-benar bisa melihat pesawat, bukan yang kecil melainkan yang besar sekalian. Hampir saja tidak bisa berkata-kata, yang dia pun tidak tahu mengapa reaksinya terlihat berlebihan seperti ini.
Bram melingkarkan tangannya di pinggang Diandra, mendekatkan bibirnya ke pipi perempuan itu untuk memberikan satu kecupan hangat.
“Kau suka, Diandra?”
Mendapati anggukan cepat dari Diandra meski perempuan itu belum menoleh ke arahnya, ada perasaan hangat dan
bahagia yang muncul di dalam hati Bram. Perasaan bahwa dia bangga pada dirinya sendiri, sebab dia akan selalu mengupayakan yang terbaik untuk perempuannya.
Selalu, tanpa pertimbangan atau pun keraguan.
“Terima kasih, Bram.” Diandra menolehkan kepala untuk membalas tatapan lelaki itu, saat kini wajah keduanya berada dekat sekali.
“Terima kasih karena kau mengabulkan semua permintaanku, bahkan tanpa bertanya sama sekali.”
.
.
.
~