
“Luka ini tidak berarti apa pun, jika dibanding dengan luka dan kesakitan yang kau alami. Kau mungkin bukan siapa-siapa, tetapi aku berharap kau punya cukup keberanian untuk mengejar kebahagiaanmu secepat mungkin.” ~Alberto Vigez.
.
.
.
Alberto meringis. Mendapati seringaian tipis di sudut bibir Diandra, saat sepupunya itu sedang mengolesi salep dan obat merah ke permukaan kulitnya.
“Astaga, Al, Al. Bagaimana reaksi Tante jika melihatmu seperti ini, astaga!” sungut Diandra kesal.
Tidak percaya dengan wajah sepupunya yang kini penuh luka memar dan lebam, tetapi tampaknya Alberto tidak terusik sama sekali dengan itu. Dia hanya bungkam, tidak menjawab kalimat Diandra yang terkesan menjengkelkan.
“Jangan bergerak!” Diandra kembali beseru, antara menahan rasa jengkel sebab Alberto terluka, atau malah harus mengasihani lelaki ini karena pilihannya mengenai wanita tidak pernah berhasil.
Alberto meringkuk. Menjadi seperti kelinci kecil yang patuh, menuruti semua perkataan Diandra tanpa mendebat sama sekali. Sejak tadi perempuan itu hanya mengomel saja, tidak berhenti meski Alberto tidak memberikan jawaban. Tidak biasanya Diandra cerewet seperti itu, tetapi entah mengapa kini dia begitu kesal sebab luka yang dialami Alberto.
“Miringkan kepalamu!” seru perempuan itu lagi. Mengundang tatapan takut dari manik Alberto, saat ia melirik sekilas pada Bram yang duduk memperhatikan dari sofa yang lain. Seolah bertanya lewat tatapan matanya mengapa bisa Diandra sesensitif itu pagi ini. Padahal yang terluka kan dirinya?
Bram menaikkan bahu. Tidak tahu harus menjawab apa, saat kepalanya saja sudah mau pecah. Setelah adegan berdebat dengan istrinya di kamar tadi, Diandra berlalu secepat kilat dari hadapannya. Sungguh tidak memberi ruang untuknya sekedar meminta kecupan selamat pagi, atau memberikan kesempatan bagi lelaki itu mencicipi manisnya bibir istrinya pagi itu.
Meninggalkan Bram di kamar, Diandra bahkan membanting pintu dengan keras, yang mana membuat Bram sempat tertegun beberapa saat. Tidak menduga istri mungilnya memiliki kekuatan untuk menarik pintu seperti tadi.
“Sudah selesai,” ujar Diandra kemudian. Kali ini kalimatnya terdengar lebih pelan, tanpa seruan nada tinggi seperti beberapa kalimat sebelumnya.
Memasukkan kembali tub salep memar dan obat merah ke dalam kotak P3K mereka, Diandra lagi-lagi memperhatikan kondisi wajah Alberto yang sungguh memprihatinkan.
“Ada luka di tubuhmu yang lain, Al?”
Alberto menarik napas. Merasakan tekanan jari sepupunya itu yang terasa menyakitkan saja sudah sulit rasanya. Entah karena tekanan itu dipicu oleh kekesalan, atau memang Diandra memiliki kekuatan seperti itu, Alberto tidak tahu.
Kini diam-diam dia menyesali keputusannya sebab tidak berangkat ke rumah sakit. Karena perawat pastilah memperlakukannya dengan baik, jauh lebih lembut daripada yang dilakukan Diandra.
“Ada tidak?!” todong Diandra lagi. Matanya membulat, menatap Alberto dengan tatapan ganas.
Alberto buru-buru menggeleng. Dia sebenarnya merasakan sakit di seputaran perut dan pinggang, sebab di sanalah dia mendapatkan tendangan dan pukulan yang bertubi-tubi beberapa waktu lalu.
“Tidak ada,” jawabnya berbohong. Sebaiknya dia memberi obat sendiri saja, daripada Diandra menekankan jarinya dengan kasar di permukaan kulitnya lagi.
“Baiklah.” Seperti tidak merasa bersalah, kini Diandra tersenyum tipis. “Aku pergi,” katanya sembari bangkit dari duduknya, berlalu dari sana.
Bram mendekat. Berpindah posisi ke tempat yang tadi diduduki istrinya, mengembuskan napas putus asa.
“Hei, Bram! Kenapa istrimu?!” todong Alberto cepat. Merasakan atmosfer aneh di sekitarnya, saat Bram saja tidak bisa berbuat apa-apa.
Lelaki itu menaikkan bahu, lagi. Memijat pelipisnya dengan tangan kanan, berusaha mengurangi kepenatan yang menjalar.
“Aku tidak tahu, Al. Dia begitu marah saat mendapati luka lebam di tengkukku tadi,” jelasnya. “Dia marah, kemudian menangis tersedu. Ini semua karena kau, Al!” Kali ini Bram berseru.
Alberto kembali meringis, merasa tidak enak sebab Bram terluka saat menyelamatkannya tadi. Meski tidak parah, tetapi ia yakin pukulan broti yang diterima sepupu iparnya itu pasti menyisakan luka memar yang tercetak jelas.
“Maafkan aku, Bram. Aku sungguh tidak tahu mereka sudah berada di sana. Bahkan sepertinya Hana sengaja disuruh untuk berjalan di pedestrian itu,” jelas Alberto.
“Setelah aku ditodong oleh pistol, salah satu dari mereka memaksa Hana untuk turun dari gendonganku. Dia lemah sekali, Bram. Hampir tidak berdaya.” Ada sejumput rasa khawatir pada nada suaranya, yang tidak bisa disembunyikan oleh Alberto. Menggigit bibir bawahnya, pikiran lelaki itu sudah melalangbuana, menuju tempat yang lain.
Maniknya menerawang saat menatap lantai, bergidik memikirkan hal apa yang mungkin diterima Hana setelah peristiwa ini terjadi. Hana tidak bersalah, sungguh. Dialah yang bersalah—sebab begitu ingin menyelamatkan istri orang lain.
Bram tidak tahu harus bereaksi seperti apa. Tetapi di satu sisi dia juga menyayangkan tindakan Alberto yang kini membuat lelaki itu menerima lebam di tubuhnya.
“Jadi, kau sudah mengambil keputusan, Al?” tanya Bram pelan.
Alberto tidak langsung menjawab. Masih bergumul dengan pikirannya sendiri, saat ia sebenarnya telah mulai memikirkan hal ini matang-matang.
Bram benar. Bukan ranahnya untuk mencampuri hubungan rumah tangga orang lain, teramat lagi itu hanya dikarenakan perasaan pedulinya pada Hana. Jika memang Hana ditakdirkan untuk berada di posisi seperti itu, Alberto tidak bisa berbuat apa pun lagi selain mendoakan yang terbaik untuk perempuan itu.
Sebab dia juga tidak tahu apakah perasaannya ini benar-benar berbeda, atau hanya sekelebat perasaan peduli karena tindak kekerasan yang terjadi di depan matanya tempo lalu.
Mendesah pelan, Alberto mengangkat kepala. Tatapannya beradu pandang dengan tatapan Bram, yang masih menunggu jawaban.
“Aku tidak akan mencampurinya lagi, Bram,” ujarnya datar. “Dia punya kehidupan sendiri yang memang seharusnya tidak aku campuri.”
Alberto ingin menyembunyikan rapat-rapat perasaan yang tidak sepenuhnya setuju akan perkataannya baru saja. Tidak ingin Bram merasa khawatir, saat tindakannya ini sudah cukup membawa bahaya bagi orang-orang di sekitarnya.
Terdengar helaan napas Bram pelan. Kemudian lelaki itu bergerak untuk menepuk pundak Alberto dengan tenaga sedang.
"Kau sudah berusaha setidaknya, Al. Kuharap kau menemukan perempuan lain, yang sepadan untukmu," bisik Bram.
Alberto menganggukkan kepala, meski sedikit terpaksa.
Cih. Kau kini terdengar seperti orang yang rasional sekali, Bram. Padahal kau saja hampir mati saat merindukan istri lelaki lain. Merindukan Diandra. Huft.
Tetapi ia memilih untuk tidak mendebat lagi.
"Aku mengerti," katanya.
"Angkat bajumu," perintah Bram kini. Mendapati tatapan aneh dari Alberto, sebelum kemudian ia kembali bersuara.
"Aku tahu pinggang dan perutmu memar. Sini, kuoleskan obat," potong lelaki itu lagi.
Alberto mendesah. Menyampirkan senyuman tipis di sudut bibir. Menuruti permintaan Bram saat ia menarik kausnya ke atas, menunjukkan bekas luka memar di seputar pinggang.
Bram bergerak cepat. Meraih tub saleb memar yang tadi digunakan Diandra, kini mengoleskannya ke luka Alberto.
"Thanks, Bram."
.
.
.
🗼Bersambung🗼