Travelove~

Travelove~
54. Ikatan Takdir (2)



"Apakah takdir sedang mempermainkan kita, Diandra? Seolah dia tahu saat yang tepat, seolah dia tahu apa isi hatiku sebenarnya." ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


"Bram, kau mau memelukku?" Suara Diandra terdengar pelan sekali, seiring dengan getaran bibirnya yang tampak kesulitan untuk terbuka. Seperti sedang menahan goncangan parah di dalam hatinya, Diandra begitu bersusah payah untuk mengendalikan emosi.


Menatapi manik Diandra yang tampak sendu dan wajah cantiknya yang jelas kuyu sekali, Bram masih menimang apa yang harus dia jawab pada wanita itu.


Tidak, tidak boleh. Aku seharusnya tidak memeluk istri orang lain, terlebih ketika dia adalah istri dari temanku sendiri saat ini.


Takdir memang tampaknya sedang bermain-main dengan lelaki itu. Meski tidak tahu hal apa yang mungkin dia hadapi kemudian, Bram tahu keputusannya mungkin akan menyisakan luka. Bukan di hati Diandra, melainkan di hatinya yang mungkin akan terkoyak tak bersisa.


Pada saat seharusnya dia menolak, lelaki itu malah beringsut mendekat dan menarik Diandra ke dalam pelukannya dalam satu kali percobaan. Membiarkan kepala Diandra bersandar pada dadanya yang bidang, kini dia merasakan guncangan yang berasal dari tubuh wanita yang dia peluk.


Diandra menggigit bibir. Masih waras rasanya dia untuk tidak sembarangan meminta pelukan dari lelaki lain, tetapi perasaan di hatinya tidak bisa dia kendalikan untuk beberapa saat tadi. Dada Bram sungguh nyaman, senyaman saat dia bisa meluapkan kesedihan yang merundungnya kala itu.


Terisak, Diandra bahkan tidak peduli dengan kaos Bram yang mulai basah akan air mata. Air matanya, air mata kesedihan miliknya.


"Menangislah, Diandra. Jika kau bersedih maka menangislah hingga puas. Aku akan berada di sini untuk menemani dan mendengarkan." Bram berbisik pelan tepat di telinga Diandra, mengusapkan tangan kokohnya yang memeluk erat wanita itu dengan usapan lembut juga menenangkan.


Dia masih tidak tahu apa yang terjadi dan mengapa Diandra bersikap seperti ini, hanya saja ini bukan waktu yang tepat untuknya bertanya. Dia akan menikmati percikan perasaan yang mulai bergejolak setelah sekian lama, perasaan yang dia pikir dia sudah tidak punya lagi.


"Bram," terisak Diandra menyebut nama lelaki itu, belum melonggarkan dekapannya sama sekali. Dia tidak bisa memungkiri bahwa berada di dalam sana begitu menenangkan, memberikan sensasi hangat yang menelusup masuk ke dalam hatinya.


"Hmm?"


"Aku akan tidur," katanya pelan.


Bram sempat bingung untuk beberapa detik. Bertanya-tanya apakah dia harus melepaskan dekapan mereka, saat Diandra sendiri tampaknya tidak berniat untuk melakukan itu. Mendapatkan suntikan dari beberapa obat sebelum ini, Diandra berpikir mungkin rasa kantuk ini adalah efek dari obat yang belum sepenuhnya menghilang. Kini dia ingin memejamkan mata, dia ingin kembali terlelap.


"Kau ingin berbaring?" Hanya bertanya saja tetapi tidak melepaskan juga dekapan dengan mantan istrinya.


Diandra hening, kemudian menggeleng pelan. Tidak lagi mengucapkan sepatah kata melalui bibirnya, dia memilih untuk bungkam saja. Tidak ingin lebih merasa bersalah di dalam hati, wanita itu memejamkan mata secara perlahan untuk mulai kehilangan kesadaran.


Mendapati Diandra tidak lagi terisak, Bram memeriksa apakah Diandra masih terjaga. Ternyata wanita itu telah kembali menutup mata, saat Bram bergerak untuk melepaskan dekapan mereka sembari berusaha untuk tidak membangunkan Diandra lagi.


Lelaki itu berhati-hati sekali saat mulai menurunkan tubuh Diandra yang terkulai untuk kembali berbaring di atas ranjang. Merapikan bantal untuk menopang kepala wanita itu, Bram sempat menatap dalam pada wajah pucat Diandra dari jarak dekat.


Struktur wajahmu tidak berubah, Diandra. Tetapi mengapa kau terlihat begitu menyedihkan? Apa yang membuatmu bersedih dan mengapa kau menangis begitu tersedu tadi?


Mengambil posisi duduk tepat di pinggir ranjang besar itu, Bram menarik selimut untuk menutupi tubuh lemah Diandra hingga sebatas dada. Membiarkan kedua tangannya terkulai di samping tubuhnya, Bram memang sengaja tidak memasukkan kedua tangan wanita itu ke dalam sana.


Menarik napas pelan, Bram sungguh nelangsa. Entah fikiran apa ini, entah praduga apa ini.


Untuk beberapa detik Bram menyadari perasaan kesal yang hadir di sana. Dia tahu Gionard seharusnya tidak bertindak seperti ini, terlebih ketika Diandra baru saja melahirkan buah cinta mereka. Bukankah seharusnya Gionard berada di sisi wanita itu? Memberikannya dukungan terbaik dan kasih sayang tidak terbatas?


Bram menarik napas dengan susah payah. Memenuhi rongga dada dengan oksigen saja kini terasa sulit, saat dia menyadari kenangan itu mulai terbuka satu per satu. Kenangan yang tidak pernah dia kunci dengan sungguh-sungguh.


Memastikan Diandra telah tertidur lelap dan berbaring dengan nyaman, Bram berniat untuk bangkit dari sana. Dia tidak ingin mengganggu, sembari berpikir untuk menunggu Gionard Butcher di ruangan yang lain. Dia tidak tahu apakah gadis itu masih berada di luar atau tidak, tapi setidaknya dia bisa pergi dari sana sekarang.


Menegakkan tubuh untuk bangkit berdiri, Bram sempat memandangi Diandra untuk beberapa detik.


Mungkin ini kali terakhir, Diandra. Biarkan aku mencuri pandang padamu dari Gionard, sebab setelah ini aku tidak tahu apakah kita mungkin akan bertemu lagi.


Mundur satu langkah untuk menjauh, Bram tersentak kecil saat tiba-tiba tangan Diandra menarik tangannya. Rasa panas kembali menjalar, saat tangan wanita itu menggenggam erat tangannya, membuatnya manik Bram melebar seketika.


"Gio ... Gio."


Lemah sekali, saat Diandra mengucapkan nama lelaki itu tepat di hadapan Bram. Meski Diandra mengigau dengan mata tertutup, Bram menyadari betapa hatinya tetap merasa bagai tertusuk ribuan jarum dalam sekali waktu. Perasaan yang sama persis, seperti perasaan sakit yang dia alami ketika Diandra pergi dari sisinya tempo lalu.


Mengelus punggung tangan Diandra meski dia kesulitan, Bram meletakkan kembali tangan wanita itu ke posisi awal. Dia harus segera pergi dari sana, khawatir dia akan menyebabkan keadaan bertambah runyam.


Mundur lagi beberapa langkah untuk pergi dari sana, Bram menoleh saat suara pintu ruangan itu terdengar kemudian terbuka. Lagi-lagi salah mengira bahwa itu adalah Gionard, Bram kembali bersitatap dengan manik Alegra.


"Tuan, Tuan Butcher sudah tiba. Mari ikut saya," ujar gadis itu dengan volume suara sedang, menunggu Bram untuk mengikuti arahannya.


Mengangguk, Bram mempercepat langkah saat dia telah mengikuti hentakan heels Alegra yang berjalan di depannya. Membawa tamu mereka menuju sebuah ruangan lain, Alegra mempersilakan Bram untuk masuk ke sebuah ruangan yang tampak seperti ruang kerja, kali ini didominasi oleh warna coklat dan abu-abu.


Mendapati seorang pria telah berada di dalam ruangan itu sebelum dia, Bram melangkahkan kaki untuk masuk ke dalam sana. Pria itu tampak sedang menatap ke arah luar jendela dengan satu tangan yang dia masukkan ke dalam saku celana. Mungkin sedang berpikir, atau merenungi sesuatu.


Punggung pria itu tampak lebar dan bidang, terlihat gagah dengan setelan kemeja berwarna biru kelabu yang membalut tubuhnya.


"Aku di sini, Gio," ujar Bram mendekat, kini berdiri tepat di ambang sofa untuk menyapa Gionard.


Beberapa detik kemudian lelaki itu berbalik badan, menatap dalam pada tamu yang sudah dia tunggu kedatangannya sejak tadi.


"Kau datang, Bram," balas lelaki itu dengan ekspresi wajah yang sulit di tebak.


Bram mengernyitkan dahi, mengamati lekat pria yang menyebut namanya dengan benar.


Itu bukan Gionard.


.


.


.


🗼Bersambung🗼