
“Memilihnya sungguh tidaklah mudah. Aku hanya perlu menunggu hingga dia siap, dan semuanya akan baik-baik saja.” ~Alberto Vigez.
.
.
.
Jika dulu Alberto tidak pernah tergesa menunggu jam kerjanya berakhir, maka beberapa bulan belakangan ini lelaki itu sungguh menantikan pukul lima sore di setiap hari kerjanya.
Merapikan mejanya bahkan ketika waktu masih menunjukkan pukul lima kurang lima belas menit, Alberto selalu punya hal untuk dia lakukan setelah jam kerjanya berakhir.
Sebisa mungkin menghindari pekerjaan atau meeting yang menyita waktu hingga memaksanya pulang terlambat, nyatanya Alberto memang memiliki kemampuan untuk mengatur segalanya sedemikian rupa.
Seperti sore ini.
Tepat setelah obrolan makan siangnya bersama Bram tadi berakhir, lelaki itu kembali ke kantornya tidak lama kemudian. Mengantarkan Bram lebih dulu ke perusahaan Trahwijaya sebab mereka menumpang mobilnya ke restoran, Alberto tidak membuang waktu dan segera tancap gas untuk segera menyelesaikan pekerjaannya yang sudah menanti.
Kini tepat pukul lima teng, lelaki itu sudah kembali berada di parkiran mobil, beranjak menuju mobilnya dengan langkah cepat kemudian. Menghidupkan pemutar musik dan memilih untuk mendengarkan siaran radio, lelaki itu menyetir untuk menuju pada satu tujuan.
Tujuan yang sama, yang ditujunya lebih sering selama beberapa bulan belakangan ini.
Menghabiskan waktu hampir dua puluh menit berkendara dari kantornya, Alberto membelokkan mobil hitamnya di salah satu gedung bertingkat tinggi. Memarkir mobil itu dengan baik di slot parkir yang tersedia, ia langsung memacu langkah untuk menuju lift terdekat.
Sempat menunggu beberapa saat hingga kotak besi itu terbuka, Alberto masuk ke dalam sana dan menekan salah satu tombol yang terpampang. Memilih angka dua belas, tepat di mana tujuannya akan bermuara.
Menyusuri lorong yang tampak sepi setelah ia keluar dari lift tadi, ayunan langkah Alberto tidak mengendur. Berhenti tepat di salah satu pintu tertutup berwarna peach cerah, lelaki itu menekan bel dua kali.
Menunggu lagi, namun kali ini dengan perasaan berbeda yang begitu saja menjalar. Berdebar rasanya, padahal ini bukan kunjungannya pertama kali ke unit apartemen itu. Tersenyum ketika mendengar sahutan dari dalam, lelaki itu sumringah ketika kini pintu itu terbuka perlahan-lahan.
Mendapati seorang perempuan menyambutnya di depan sana, dengan wajah cerah dan senyum yang membuatnya semakin tampil cantik.
“Kau datang?” sapa Hana senang. “Masuklah.”
Perempuan itu sudah berbalik badan lebih dulu, mempersilakan Alberto untuk masuk ke dalam apartemen barunya kemudian. Dia memang sudah tidak tinggal bersama Joergen di apartemen mereka sebelumnya, tepat setelah hubungan pernikahan mereka kandas.
Bersyukur dia menyimpan dengan baik uang yang diberikan Joergen selama pernikahan mereka. Ditambah dengan kompensasi yang didapat Hana dari mantan suaminya itu, membuat Hana mampu membeli satu unit apartemen baru dan berusaha memulai hidup dari awal kini.
Melepaskan bayang-bayang kelam yang pernah dilaluinya bersama Joergen, kini perempuan itu mulai menerima kehadiran lelaki lain di sana. Alberto. Alberto Vigez.
“Kau sudah lama pulang?” Suara Alberto menggema di ruangan itu, seiring dengan bunyi klik dari pintu yang kembali menutup dengan sempurna.
“Jam empat tadi,” jawab Hana jelas. “Kau mau minum apa, Al?”
Perempuan itu berbalik badan, memperhatikan Alberto yang sudah mengarah pada sofa.
“Apa saja. Karena kau tidak punya bir, maka soft drink juga boleh,” jawab Alberto santai.
Hana mengulas senyuman. Membiarkan Alberto untuk lebih dulu duduk di sofa, ketika perempuan itu memilih mengayun langkah menuju arah dapurnya. Membuka kulkas, mengambil beberapa kaleng soft drink dari sana.
“Terima kasih, Hana.” Alberto bergerak maju untuk meraih kaleng minumannya, tetapi lelaki itu sekaligus mencengkram pergelangan tangan Hana dengan gerakan lembut.
Hana tersentak kecil. Bola matanya melebar dengan sempurna, yang menandakan bahwa ia memang benar terkejut. Hampir saja menarik kembali tangannya dari genggaman Alberto, perempuan itu meringis pelan.
“Maaf, Al,” katanya. “Bukankah sulit bagimu seperti ini?”
Manik Alberto menyorot dalam pada manik perempuan itu, Hanalia Esava. Perempuan yang entah bagaimana berhasil mencuri atensinya sejak pertemuan pertama mereka, ketika Alberto tidak menyangka dia akan setertarik itu pada seorang wanita.
Alberto menggeleng samar. Menahan napas beberapa detik, sedang berpikir apakah dia harus melepaskan pegangan tangannya atau tidak dari tangan Hana, kekasihnya kini.
Semenjak hari itu, Hana selalu tersentak ketika kulitnya bertemu dengan kulit orang lain. Trauma mendalam yang dialami perempuan itu akibat kekasaran dan prilaku bengis Joergen—mantan suaminya, masih begitu membekas.
Hal inilah yang membuat Hana masih tidak nyaman ketika Alberto menyentuhnya, meski ia sebisa mungkin menyesuaikan diri dengan keberadaan lelaki itu sekarang.
Alberto menyunggingkan senyuman tipis.
“Apa masih terasa sakit bagimu?” tanyanya pelan. Manik lelaki itu tertuju lurus pada Hana, dengan tatapan teduh yang sulit dideskripsikan dengan kata-kata.
Hana menunduk sesaat, kemudian disusul dengan anggukan kecil.
“Maaf, Al,” lirihnya lagi.
Genggaman tangan Alberto terasa hangat, dan lembut sekali. Hana sadar pastilah sulit bagi lelaki itu menahan diri dengannya selama ini, sebab rasa takutnya yang belum bisa ia kendalikan sepenuhnya.
Masa-masa kelam itu masih terbayang dengan jelas, seakan-akan setiap gesekan kulit membangkitkan kenangan buruk itu di pelupuk matanya.
Alberto berdehem pelan. Hana mengangkat kepala, kembali membalas tatapan Alberto yang tidak mengendur sedikit pun.
Bagaimana rasanya menjalani hubungan tanpa skinship di zaman seperti sekarang ini? Saat Hana pun merasakan dia begitu ingin berada di pelukan lelaki itu.
“It’s okay,” ujar Alberto kini. “I can wait. Sampai kau siap untuk menerima kehadiranku, siap untuk menerima sentuhanku, Hana. I’ll take my time.”
Tidak ada nada bimbang yang terdengar dari suara Alberto, ketika lelaki itu memang mengatakannya dengan perasaan dan niat yang tulus.
Keputusannya untuk merajut kasih bersama Hana tentu sudah dipikirkannya matang-matang, karena ia tahu ia sedang mengencani perempuan yang (tidak) biasa.
Alberto akan menunggu. Menunggu Hana siap untuk benar-benar membuka dirinya, benar-benar melangkah dari belenggu masa lalu yang masih mengikatnya erat. Mungkin perempuan itu hanya butuh waktu lebih lama, dan Alberto sedang tidak terburu-buru.
Maka tidak apa-apa.
.
.
.
~Stay strong, Al~