Travelove~

Travelove~
46. Menemukan (1)



“Matahari tetap menyinari, tanpa sadar membangkitkan energi. Mengisi ruang yang kosong, mengusir harapanku bahwa kau masih di sini.” ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Alberto keluar dari kamar mandi dengan handuk yang masih melilit pinggang. Memandang sekilas ke arah Bram yang tampaknya sudah bersiap lebih dulu, dia tidak berencana untuk mempercepat gerakan.


Bram sudah mengatakan dengan jelas pagi tadi bahwa dia tidak akan membawa Alberto ikut serta, saat Alberto dengan suka rela menawarkan diri untuk menemani lelaki itu.


“Ayolah Bram. Izinkan aku ikut, oke? Kau tidak tahu siapa yang akan kau temui, kan? Mana tahu kau membutuhkan petarung jika saja dia berniat jahat padamu, bagaimana?” Membujuk dengan nada rendah dan memelas, Alberto berharap dia akan diberikan kesempatan kali ini. Tetapi gagal, sebab Bram hanya menjawab dengan gelengan.


“Tidak, Al. Sebaiknya kau tidak ikut. Aku tidak tahu siapa yang mungkin akan aku temui nanti,” balas Bram tegas.


Sengaja tidak memberitahu nama seseorang yang dia cari ataupun foto yang menjadi petunjuknya kali ini, Bram memang tidak ingin melibatkan Alberto dalam urusannya. Dia telah memutuskan untuk mendatangi alamat itu sendirian, menemui orang yang harus ditemuinya tanpa membawa siapapun. Meski dia memang mengatakan bahwa dia akan menuju daerah De La Ventienne saat Alberto bertanya ke mana dia akan berlabuh pagi ini. Toh Alberto juga pasti tidak mengetahui lokasi itu.


Sedangkan Alberto juga telah melupakan tentang misi Marin yang dia ketahui dari Leah, tidak pernah berfikir bahwa kedatangan Bram adalah ikatan takdir yang menyimpul dengan misi dari gadis itu sebelumnya. Melupakan kemungkinan tentang Kobayashi-san yang dicari Marin mungkin saja adalah ibunya Bram, Alberto sungguh tidak bertanya lebih lanjut tentang ini. Mengetahui Marin sudah kembali dan tampaknya Bram tidak terusik, dia mengambil kesimpulan mungkin saja tebakannya kala itu salah total.


“Kau yakin kau akan pergi sendiri?” Masih berusaha menggoyahkan hati seorang Trahwijaya, Alberto kembali mendapati tatapan tajam dan gelengan kepala.


“Dengarkan aku kali ini, Al. Aku tidak akan lama. Setelah ini selesai, aku akan segera kembali. Kau tahu aku di sini tidak untuk bersenang-senang, kan?” Terdengar seperti bibik cerewet Bram kali ini, membuat Alberto mendesah kesal.


Melemparkan handuk kecil yang dia pakai untuk mengeringkan rambut, lelaki itu sudah mengenakan sehelai celana pendek santai dan kaus oblong berwarna merah muda.


“Baiklah. Apa kau akan lama?” Kini duduk di sofa dengan sebuah kaleng soft drink di tangan kanan, Alberto masih mengekori Bram dengan tatapan matanya.


“Belum tahu. Akan kukabari kau nanti. Pastikan ponselmu menyala, Al,” balas Bram cepat.


Berdiri dari tepian ranjang yang didudukinya sejak tadi, Bram sempat mengibaskan sekilas kemeja beraksen abstrak berwarna kopi yang dia kenakan dengan rapi. Kali ini membawa jaket yang tidak begitu tebal, Bram mengenakan jaket itu hanya untuk mengusir angin yang berembus sepoi.


Mengangguk kecil, Alberto telah menghabiskan setengah kaleng minumannya. Meraih remote televisi dan menyalakan benda berlayar datar itu, Alberto sedang berusaha membunuh waktu.


“Baiklah, Bram. Kutunggu kau menelepon sambil aku menonton siaran dengan bahasa asing ini, kau puas?!” Menaikkan nada suaranya seolah-olah dia marah, berharap Bram akan berubah fikiran meski di saat-saat terakhir. Alberto sungguh tidak tahu dia harus melakukan apa selama Bram tidak ada, sebab dia memang berniat untuk mengikuti kemana lelaki itu pergi.


Tidak memperhatikan nada suara Alberto yang meninggi, Bram hanya menyeringai tipis. Menahan senyuman di sudut bibirnya, lelaki itu sudah mengambil langkah untuk berjalan ke arah pintu.


“Usaha yang bagus, Al. Tetapi sayangnya itu tidak berlaku untukku. Aku pergi!” Melambaikan tangan tanpa melihat kembali ke arah belakang, Bram sudah meraih gagang pintu dan keluar dari sana dengan secepat kilat. Khawatir Alberto akan merengek lagi untuk meminta ikut, lelaki itu berniat untuk pergi menuju lift secepat mungkin.


Mengembangkan senyuman sebab Alberto pastilah menahan kesal, tapi Bram tidak punya pilihan lain. Dia hanya akan menyelesaikan urusannya dengan cepat, kemudian mereka bisa menghabiskan waktu beberapa hari ke depan untuk menikmati kota Paris sebelum kembali ke Indonesia.


***


Hening. Melirik kembali pada jam yang terpasang di dinding, Alberto hampir merasa dia hendak mati. Tidak ada teman, dengan siaran televisi yang penuh bahasa asing yang dia tidak mengerti. Dia ingin menghubungi Diandra, sepupunya, atau mungkin menelepon Gionard sekalian. Tetapi mengganggu mereka tampaknya bukanlah pilihan bijak, terlebih saat Alberto tahu kini Gionard dan Diandra tidak lagi berada di Paris, melainkan di Marseille.


Tidak ada teman, tidak ada hiburan.


Menghela napas berat, Alberto menyadari dia sudah berulang kali menatap pada ponselnya yang tergeletak di atas meja. Menimang sebelum melancarkan aksi yang melintas beberapa menit lalu, lelaki itu akhirnya memutuskan untuk meraih benda persegi panjang itu, mengetikkan sesuatu di sana.


Memilih kontak gadis itu, Alberto menekan tombol panggil dengan hati-hati. Berharap Marin akan mengangkat panggilannya kali ini, berharap gadis itu masih mengingatnya dengan baik. Setelah beberapa kali nada tunggu terdengar, panggilan itu tersambung saat Alberto otomatis melebarkan senyuman.


“Halo?” Suara Marin dengan bahasa Perancis yang lancar terdengar di sebrang sana, membuat Alberto hening beberapa detik.


“Ini kau Marin? Ini Aku Alberto, kau masih ingat aku?” Mengatakan kalimatnya dengan bahasa Inggris yang fasih, Alberto menahan napas untuk beberapa saat.


“Ah, kau Al? Apa kabar?”


Mengembuskan napas lega lelaki itu, sebab Marin masih ingat dia dan tidak memutuskan sambungan telepon itu tiba-tiba.


“Aku baik. Dan kau? Oh iya, aku dan Bram sedang di Paris saat ini, kami sampai dua hari yang lalu,” ujar Alberto senang. Menggoyangkan kedua kakinya yang dia letakkan di atas meja.


“Benarkah? Kalian datang untuk bisnis?” Suara Marin terdengar sedikit terkejut, namun dia cepat-cepat menguasai diri.


“Tidak. Bram berkata dia perlu menemui seseorang. Dia tidak bilang siapa, tetapi mungkin dia punya hal yang harus dia bicarakan dengan orang tersebut.”


Hening beberapa saat.


“Begitu? Apakah Bram di sana, Al?” Pertanyaan Marin yang otomatis membuat Alberto menggeleng.


“Tidak, Marin. Dia berangkat setengah jam lalu. Kami berada di apartemenku yang dulu. Apa kau ingin berbicara padanya?”


“Tidak. Iya, maksudku. Apa maksudmu dia sedang dalam perjalanan menemui seseorang?” bertanya karena sepertinya Marin tertarik dengan fakta ini, saat Alberto menarik napas pelan.


“Benar. Dia berkata dia menuju ke daerah De La Ventienne. By the way, apa kau ada waktu siang ini, Marin? Mau makan siang denganku?”


Marin hening. Tidak memberikan suara untuk beberapa saat.


“Marin?” panggil Alberto ragu.


“Apa kau baru saja berkata De La Ventienne, Al? Maksudmu Bram menuju ke daerah itu untuk menemui seseorang?” tanya gadis itu lagi, tampaknya ingin mengorek lebih jelas informasi dari bibir Alberto.


“Kau benar, Marin. Apa kau tahu tempat apa itu?” bertanya polos tanpa curiga sama sekali.


“Kututup dulu, Al. Sampai nanti!”


Belum sempat dia menjawab, Marin telah menutup sambungan telepon itu secara sepihak. Meninggalkan Alberto yang masih memandangi layar ponselnya, menahan kekecewaan yang mendalam. Menarik napas frustasi, Alberto mengacak rambutnya kesal.


Bram pergi, kini Marin menolakku. Memang seharusnya aku tidak ikut ke sini.


.


.


.


🗼Bersambung🗼