Travelove~

Travelove~
30. Tersadar



"Sebab mungkin aku senantiasa menepisnya, meski aku tahu dia masih di sana." ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


FLASHBACK.


"Apa yang kau lakukan, Bram?" Marin memandangi Bram yang menatapnya dengan pandangan lurus, tajam seolah menembus ke dalam hatinya yang paling dalam.


Bram mengeraskan rahang.


"Aku menemanimu minum, Marin." Bram berbicara sembari meletakkan kembali gelas yang dia rebut dari tangan Marin sebelumnya.


Marin kembali terdiam.


"Setiap orang memiliki masalah, Marin. Begitu juga denganmu, begitu juga denganku. Begitu juga dengan semua orang yang bernapas hingga detik ini," Bram terdengar sedikit mendesah saat dia mengucapkan kalimatnya dengan emosi sedang.


Entah mengapa dia benci melihat Marin seperti itu. Pandangan sayu dari manik kebiruan Marin tampak begitu sendu, sukses membuat Bram melihat tidak langsung pada sosok dirinya yang dulu. Kembali dia teringat pada dirinya sendiri yang pernah begitu kehilangan akal sehat, tepat setelah dia mengetahui bahwa mantan istrinya akan menikah lagi.


Marin masih mengunci bibirnya rapat-rapat.


"Jika terlalu sulit bagimu, maka minumlah untuk malam ini saja. Pastikan kau tidak mengulangi adegan ini malam-malam setelahnya, dan yakinlah bahwa masalahmu pasti akan berlalu." Bram terdengar seperti seorang konsultan yang memberikan saran, tampak profesional bahkan dengan posisi tubuhnya yang duduk tegap.


Marin menarik napas, lalu mengembuskannya. Menarik lagi, lalu mengeluarkannya. Begitu diulanginya beberapa kali dalam keheningan dengan tatapan nanar yang dia hunuskan pada lantai.


Bram beringsut mendekat. Meraih kembali botol wine yang masih memiliki isi di dalamnya, lelaki itu meneggaknya dengan cepat.


Baiklah. Malam ini saja. Aku tahu betapa menyedihkannya minum dan mabuk sendirian, maka biar kutemani kau malam ini saja, Marin.


Marin mengumpulkan tenaga.


"Aku datang dengan sebuah misi, Bram ...," ujar gadis itu pelan, terbata-bata saat dia memutuskan untuk mulai bercerita.


Bram menaikkan kepala, melirik pada Marin yang masih menatap lantai.


"Aku harus membawa seseorang kembali, tetapi ternyata dia adalah seseorang yang sudah mati."


Marin bergerak untuk membuka botol wine yang lain, dan kali ini Bram tidak menahan lengan gadis itu lagi.


"Selain itu, wanita berparas Jepang itu ternyata juga kekasih ayahku, Bram."


Meneggak cairan merah itu dengan sekali teguk, Marin sukses menambah kadar alkohol yang memasuki tubuhnya.


Persetan, aku ingin melepaskan beban ini sekarang juga.


"Awalnya aku begitu ingin menyelesaikan misi ini dan pergi, tetapi semakin ke sini aku semakin tidak ingin. Kau tahu kenapa, Bram?" Marin bergerak untuk menatap pada Bram, matanya tampak telah hampir memerah.


Bram hening, menjaga posisi tubuhnya agar tetap duduk tegak. Dia mendengarkan setiap perkataan Marin dengan seksama.


"Pertama, karena aku belum tahu apa yang akan aku lakukan setelah aku menemukan wanita itu," Marin menjeda kalimatnya.


Manik mereka saling bertaut, dengan perasaan yang hanya mereka yang mampu mendeskripsikannya dengan benar.


"Dan yang kedua, karena aku sepertinya ingin berada di dekatmu, Bram." Marin berhasil mengucapkan kalimatnya hingga akhir, sebelum kemudian tubuhnya melemas ke arah sofa.


Bram refleks menahan tubuh gadis itu, membiarkan Marin yang hampir tidak sadar bersandar di tubuhnya. Sedekat itu, dia bisa menghirup aroma parfum khas milik Marin, meski entah kenapa hatinya malah terasa tertimpa batu besar yang mengganjal.


Marin, kau tidak boleh melihatku.


Berkecamuk dengan dirinya sendiri, Bram meraih lagi botol wine yang masih terbuka, menenggaknya hingga habis setelah dia menekan tombol panggilan darurat yang berada di atas sofa. Mereka mungkin butuh diantar pulang malam ini.


***


Marin menegang. Memandangi tubuh bagian atas Bram yang tampak terbuka sebab hanya ditutupi selimut sebatas pinggang, kerongkongannya tercekat. Menelan ludah dengan susah payah, dia sampai tidak tahu apakah ludah yang dia coba telan adalah bagian dari percobaan menguasai diri, atau bahkan karena Bram yang tampak sungguh menggoda iman.


Otot lelaki itu tampak kekar sekali saat dia menyelipkan lengannya ke bawah bantal, menjadikan bantal itu sebagai sandaran kepala. Marin tiba-tiba berfikir bahwa dia ingin jadi bantal saat itu juga.


Hei! Apa yang kau fikirkan, Marinda Schoff?


Mengutuk dirinya sendiri sebab keinginan absurd yang tiba-tiba muncul, Marin menggelengkan kepala kuat-kuat. Berharap fikiran kotornya itu cepat berlalu, namun ternyata semakin membuatnya tidak mampu melepaskan pandangannya dari sosok Bram yang begitu terlihat gagah.


Apa yang sebenarnya kau tahan selama ini, Bram? Bagaimana bisa kau datang dan menyelamatkan seseorang yang menjadi suami dari mantan istrimu?


Marin menahan segudang pertanyaan yang menelusup masuk ke dalam benaknya.


Apakah sulit berhadapan kembali dengan Diandra, Bram? Apa kau benar-benar telah melupakannya atau mungkin masih ada cinta yang tersisa di dalam hatimu?


Marin mengembuskan napas pelan. Dia tahu bahwa dia dan Bram tidak seharusnya berada di satu ranjang yang sama, terlebih saat mereka tidak memiliki hubungan apa-apa. Namun ketika dia memeriksa bahwa dia masih mengenakan pakaiannya kemarin malam dengan lengkap dan tidak kurang suatu apapun, gadis itu dapat menarik napas lega.


Syukurlah tidak terjadi apapun pada kita, Bram. Aku tidak tahu bagaimana aku harus menghadapimu jika sesuatu terjadi di antara kita. Sebab mungkin saja kita tidak siap untuk itu, terutama kau.


Bergerak pelan dari posisinya berbaring, Marin berusaha sepelan mungkin agar tidak menimbulkan suara berlebihan. Menurunkan kedua kakinya ke atas lantai, gadis itu sudah mulai berdiri tegak, berjalan pelan menuju jendela lebarnya dan menyibakkan tirai.


Dia memang ingin membiarkan Bram tidur sebentar lagi, mungkin saja lelaki itu masih belum sepenuhnya pulih setelah aktivitas minum-minum mereka malam tadi. Meski begitu, Marin telah membiarkan cahaya mentari masuk ke dalam apartemennya guna memberikan penerangan yang alami.


Meraih ponselnya yang terletak di atas nakas, Marin sekaligus memeriksa agenda apa yang dia punya untuk hari itu. Berharap dia tidak memiliki janji penting, mungkin dia bisa menghabiskan hari dengan bersantai di salon atau mengunjungi spa untuk memulihkan tenaga.


Kau benar, Bram. Kehilangan kesadaran mungkin jadi pilihan terbaik untuk mengungkapkan perasaan.


Menuju arah kamar mandi untuk membersihkan wajah dan mengikat rambutnya, Marin telah melangkah menuju arah dapur. Pagi hampir beranjak naik, dan dia merasakan mual yang mulai menyerang. Mungkin akibat perutnya tidak diisi dengan makanan yang patut malam kemarin.


Berbelok ke arah dapur, gadis itu sudah berkutat untuk memasak sepanci sedang sup ayam hangat. Berfikir Bram mungkin bisa tinggal untuk makan sebelum dia pergi nanti, Marin menyunggingkan seutas senyuman lebar.


Bram, mengapa perasaanku seperti ini? Kau berada di atas ranjangku dan aku memasak untukmu? Apa kau berfikir ini hanya kebetulan tanpa sebab?


Setelah menunggu beberapa saat, Marin telah mengangkat panci berisi sup itu dan memindahkannya ke atas meja. Kini Marin berniat untuk membangunkan Bram dari tidur lelapnya. Makan berdua akan lebih baik daripada makan sendiri, benarkan?


Mendekati sisi ranjang dimana Bram berbaring, gadis itu menunduk untuk memanggil nama lelaki itu. Memandangi dengan seksama wajah tampan Bram yang kini berhadapan dengan wajahnya, Marin kembali tersenyum senang.


"Bram, bangunlah. Aku memasak sup untukmu," berbisik pelan gadis itu di depan wajah Bram, berniat untuk membangunkan Bram perlahan-lahan.


Bram menggerakkan kepala, tetapi matanya masih tertutup.


"Bram?" Marin mengulangi panggilannya, mulai menikmati aktivitas barunya yang tampak menyenangkan.


Belum ada jawaban, tampak Bram masih tertidur lelap.


"Bram, bangunlah. Aku menunggumu di meja makan, oke?" katanya kemudian, memutuskan untuk menegakkan badan kali ini. Dia tidak akan mengganggu lelaki itu, dia akan makan sendiri saja lebih dulu. Sepertinya Bram masih terlalu berat untuk membuka mata.


Membalikkan badan, langkah Marin tertahan saat lengan kokoh Bram menahan tangannya, membuatnya berhenti tiba-tiba. Kembali memutar tubuh untuk memeriksa Bram, Marin sempat tersenyum saat dia melihat Bram sama sekali belum membuka mata.


Kau benar-benar mabuk, Bram.


Merasakan cengkraman erat Bram di pergelangan tangannya, Marin kembali melangkah mendekat. Masih menyimpan sebuah senyuman sembari menatap wajah teduh lelaki itu, Marin tiba-tiba menegang saat mendengar Bram mengigau pelan memanggil nama seseorang. Pelan sekali, namun dapat didengar jelas oleh telinga gadis itu.


Bukan namanya, tetapi nama gadis lain.


"Diandra, apa itu kau?"


.


.


.


🗼Bersambung🗼


~Helowww... terima kasih sudah di sini terus kak readers. Bantu like, komen dan vote-nya ya.. Selamat menunggu buka puasa bagi yang menjalankan 🙏