
“Jika ini memang takdir yang mengikat kita, aku rela untuk melaluinya seribu kali. Asal kau di sini, aku akan baik-baik saja.” ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Pria itu mengeluarkan tangan yang sedari tadi dia masukkan ke dalam saku celana panjangnya. Kini melebarkan senyuman segaris bibir, ia menatap Bram dengan ekspresi wajah datar yang sulit sekali untuk ditebak apa arti sebenarnya yang tersembunyi dibalik wajahnya yang tampan.
Memicingkan mata untuk mengingat-ingat memori yang dia punya tentang lelaki ini, Bram hampir saja terkejut sebab itu memanglah bukan Gionard, melainkan adik dari lelaki itu, Leonard Butcher.
Hanya satu kali saja. Satu kali di mana mereka dipertemukan, itu juga dalam masa yang begitu singkat. Saat pertama kali Bram menginjakkan kaki di Paris bersama Diandra dan Gionard beberapa tahun lalu, di sanalah Leonard hadir sebagai penjemput mereka di bandara yang kemudian membawa mereka menuju kediaman Madam Moina. Hanya satu kali saja, tetapi Bram cukup baik dalam menyimpan kenangan tentang wajah seseorang.
“Kau ... Kau adalah adiknya Gio, benar?” Bertanya sebab dia sendiri tidak seratus persen yakin, lelaki itu telah memenuhi ruangan dengan suaranya yang khas.
Leonard mendekat, melangkahkan kaki panjangnya untuk menghampiri tamu yang tampak masih terkejut.
Melewati tubuh Bram yang berdiri tegak, Leonard sudah mengambil tempat duduk pada sebuah sofa panjang. Saat Bram memutar kepala, dia memberikan isyarat untuk lelaki itu agar juga menempati sofa yang tersedia. Berbicara dengan posisi berdiri akan terasa melelahkan, bukan begitu?
Beberapa detik kemudian, Bram sudah mengempaskan tubuhnya ke atas sofa, menatap dalam pada Leonard yang kini tepat duduk di hadapannya.
“Aku Leonard. Leonard Butcher, saudara satu-satunya Gionard Butcher.” Leonard maju beberapa senti untuk mengulurkan tangan, yang langsung disambut oleh Bram tanpa membuang waktu. Memang mereka bertemu beberapa waktu lalu, tetapi jika diingat-ingat kembali mereka memang belum memperkenalkan diri secara baik. Mungkin inilah saatnya untuk saling menjabat tangan dan mengucapkan nama masing-masing dengan benar.
“Bram. Bram Trahwijaya.”
Bram mendapati Leonard tersenyum tipis, sesaat setelah tangan mereka terlepas setelah satu genggaman tegas. Lelaki itu mengangguk kecil, yang menandakan bahwa dia sesungguhnya telah mengenal lelaki itu meski Bram tidak menyadari hal itu.
“Di mana Gio? Kupikir Tuan Butcher yang ingin menemuiku adalah dia, ternyata kau.”
Leonard menaikkan kepala. Mengusap rambutnya yang sebenarnya tidak berantakan, dia hanya sedang mengalihkan perhatian. Pertanyaan telak yang dia sudah perkirakan akan muncul.
“Terima kasih karena telah berada di sana saat Diandra pingsan, Bram. Maaf jika anggotaku membuatmu tidak nyaman dan kau harus menunggu dalam waktu yang lama. Maafkan aku.” Leonard tampaknya enggan menjawab pertanyaan dari Bram dengan gamblang, saat ia memilih untuk mengalihkan topik pembicaraan.
Bram mengawasi lelaki itu dengan tatapan mata awas. “Tidak masalah. Aku juga begitu terkejut saat bertemu dengannya, kemudian dia jatuh lemas begitu saja,” balas Bram.
Leonard mendesah. Mengaitkan jari-jari yang dia letakkan di atas paha, memutar bola mata dengan resah.
“Apakah Diandra baik-baik saja? Mengapa dia pingsan?” Tidak biasanya Bram senang dalam mencampuri urusan orang lain, tetapi entah kenapa kesehatan wanita itu telah mengusiknya hingga titik terdalam.
Rasa khawatir yang begitu menggelora harus dipuaskan hingga tuntas, setidaknya seperti itulah cara agar Bram bisa beranjak pergi dari sana. Meninggalkan Diandra saat dia mengantongi jawaban bahwa gadis itu baik-baik saja.
Leonard menatap Bram dengan maniknya yang tampak teduh kali ini. Meski rahangnya mengeras, Bram dapat melihat kerutan kecil di wajah lelaki itu, persis seolah dia sedang memikirkan sesuatu yang rumit.
"Aku tidak tahu harus memulai dari mana. Jujur saja aku begitu terkejut saat pengawal mengatakan kau berada di sana, aku tidak tahu kau datang ke Paris, Bram,” ujar Leonard pelan.
“Benar. Aku tiba beberapa hari lalu. Ada seseorang yang harus aku temui dan aku akan kembali dalam beberapa hari ke depan,” jelas Bram.
Leonard mengangguk kecil, hening untuk beberapa detik. Tampaknya dia sedang memandangi ke arah acak, seperti sedang berpikir dengan dirinya sendiri.
“Jadi, apa yang terjadi? Kau bisa jelaskan padaku?” pinta Bram to the point. Penting baginya untuk menyelesaikan hal ini sebelum dia beranjak pergi meninggalkan Paris.
Terdengar Leonard menarik napas. “Dengarkan aku, Bram. Kau juga mungkin akan terkejut.”
Bram memperhatikan dengan seksama setiap perubahan nada suara dan mimik wajah dari lelaki itu, tidak ingin melewatkan sedikitpun fakta yang mungkin akan dia dengarkan sebentar lagi. Dia memilih untuk hening, tidak berniat menginterupsi sama sekali.
“Diandra menderita shock berat. Dia sedang menjalani terapi untuk memulihkan pikirannya yang kacau. Dia masih lemah, dan mendengar lagi nama Gionard disebut mungkin membangkitkan kesedihan yang langsung menguap ke permukaan sehingga menyebabkan dia kembali jatuh tidak sadarkan diri. Diandra tidak bisa mendengar orang lain mengucapkan nama Gionard, Bram.” Berkata pelan sekali, Leonard menyampaikan kalimatnya dengan susah payah.
Menarik napas berat, sebab sesungguhnya itu sulit sekali untuknya. Terlebih, dia tidak pernah membayangkan dia akan menjelaskan situasinya pada orang yang dulu pernah dia tangkap kecurangannya dengan tangannya sendiri.
Bram mengernyitkan dahi, lagi. Memasang sorotan mata penuh tidak mengerti saat rahangnya mulai mengeras.
“Ada apa ini, Leon? Apa yang terjadi?” Nada suaranya tanpa sadar naik dua oktaf, tidak tahu mengapa dia tidak bisa mengontrol dirinya kala itu. Mendengar pernyataan yang baru saja sudah membangkitkan emosinya.
“Tenanglah, Bram. Jika kau merasa khawatir maka kami jauh lebih khawatir daripada kau. Aku mengupayakan yang terbaik untuk penyembuhan Diandra, berharap dia akan pulih seperti sedia kala secepat mungkin.”
Bram mendengkus. Belum mengerti kemana arah pembicaraan Leonard kali ini, dia masih dipenuhi tanda tanya yang begitu menumpuk di kepala.
“Maksudku, kenapa dia bisa seperti itu? Mengapa mendengar nama suaminya sendiri membuatnya sedih? Apa yang terjadi?” todongnya tidak sabar. Percakapan ini hampir saja membuatnya frustrasi. Diam-diam dia berencana untuk memberikan bertubi-tubi bogem mentah pada Gionard jika memang kesedihan Diandra bermuara pada lelaki itu. Tidak peduli meski itu bukan urusannya.
Leonard menghela napas. Menaikkan kepala untuk beradu pandang dengan tamunya, dia bisa dengan jelas mendapati nada khawatir pada suara Bram.
Kau masih menyimpannya dalam hatimu, Bram. Kali ini aku bersyukur.
“Di mana Gionard sekarang? Apakah dia penyebab dari semua ini? Aku sungguh akan menghajarnya jika memang kau menjawab iya, Leon. Tidak peduli mengenai fakta bahwa kau adiknya.” Bram kembali bersuara, tidak sabar untuk menunggu jawaban dari Leonard yang tak kunjung terdengar.
Bukannya terintimidasi dengan jawaban lelaki itu, Leonard malah menaikkan sudut bibirnya.
Kau benar, Bang. Tidak ada orang lain yang mampu selain dia.
Bram masih memandangi Leonard dengan tatapan tajam, saat amarah dan rasa kesal mulai bercokol di sana. Dia berjanji dia akan membuat perhitungan.
“Kau bertanya di mana abangku, Bram?” tanya Leonard pelan, hampir tidak terdengar saat dia menjeda beberapa detik kalimatnya.
Bram menunggu.
“Maafkan aku. Tetapi kau tidak bisa menemuinya, Bram. Sebab dia tidak lagi di sini.”
.
.
.
🗼Bersambung🗼