
"Aku mencintaimu, lebih dari aku mencintai diriku sendiri. Karena di dalam sini hanya ada engkau, aku bersumpah untuk menjadi tempatmu berlabuh hingga nyawa terlepas dari ragaku." ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Mentari mulai menampakkan sinarnya meski malu-malu. Memulai untuk bergerak ke haluan, melakukan tugasnya hari ini untuk memberi kehangatan.
Di sebuah unit apartemen mewah, seorang lelaki sedang mematut dirinya di depan cermin. Dia sudah bercukur tadi malam, tidak menyisakan bulu-bulu halus di bawah hidungnya atau cambang di dagu. Wajahnya mulus, bersih dengan rahang tegas yang mempesona.
Menyunggingkan senyuman, Bram Trahwijaya merapikan kembali dasi yang ia kenakan. Merapatkan setelan jas yang dipilihnya beberapa hari lalu, bahkan dia tidak memerlukan polesan apa pun untuk membuktikan pada dunia bahwa dia sedang dihinggapi bahagia.
Hari besarnya akan tiba. Dan dia sudah sangat siap untuk itu.
Tepat pukul tujuh pagi, bel apartemen lelaki itu berbunyi. Melangkah dengan langkah besar menuju pintu, Bram mendapati Alberto sudah berada tepat di hadapannya.
"Kau siap, Bram?" tanya calon sepupu iparnya itu dengan senyum merekah.
Tentu saja. Dia telah menantikan momen ini bertahun-tahun lamanya.
Bram mengangguk. "Sebentar, Al. Kuambil dompet dan cincinku." Sudah berbalik badan, mengambil barang-barang yang dia sebutkan tadi.
Alberto menunggu, tidak masuk ke dalam kali ini. Sebaiknya mereka bergegas, agar kemacetan jalan tidak jadi penghalang untuk sang calon mempelai pria dan penjemputnya.
Setelah memastikan tidak ada yang tertinggal, kedua pria itu berjalan beriringan menuju parkiran basement, bersiap untuk menuju venue.
Alberto menyetir dengan konsentrasi penuh. Sesekali melirik ke arah Bram yang duduk di sampingnya, mencuri pandang pada lelaki itu yang sedang menimang cincin pernikahan yang akan dia sematkan nanti di jari manis Diandra.
"Bagaimana menurutmu, Al?" tanya Bram tiba-tiba, sesaat setelah dia mendapati Alberto terus melirik ke arahnya.
Alberto memelankan laju mobil. Berhenti tepat di belakang sebuah mobil sedan bercat kuning terang, mereka sedang terjebak lampu merah.
"Coba kulihat." Mendekati cincin yang ditunjukkan oleh Bram itu, Alberto mengangguk senang.
"Kau pandai dalam memilih hadiah, Bram," pujinya kemudian.
Membuat Bram melebarkan senyuman dengan hati senang, memandangi cincin berlian itu dengan tatapan mendamba lalu menutup dan menyimpannya kembali ke dalam saku jasnya.
Tidak lagi bersuara, Alberto kembali memberi fokus pada jalanan yang terhampar di depannya, berusaha menyelesaikan tugasnya hari ini sebagai pendamping mempelai pria.
***
Jika pernikahan Bram dan Diandra beberapa tahun lalu diadakan di sebuah hotel mewah dan mengundang banyak orang, kali ini mereka memilih untuk melangsungkan pernikahan bersama orang-orang terdekat. Hanya mengundang kerabat dekat, sahabat, dan beberapa rekan bisnis, tampaknya mereka memang tidak ingin mengekspos pernikahan ini ke publik.
Memilih sebuah venue yang tidak terlalu populer, mereka sepakat untuk memilih taman outdoor sebagai tempat di mana akan dilangsungkannya ikatan janji suci. Menghindari wartawan, sekaligus ingin benar-benar menikmati momen sakral ini hanya bersama orang-orang terkasih.
Di taman yang telah dipasangi hiasan dan dekorasi minimalis berwarna putih dan peach, tampak Vallois dan Verden sudah berlari-lari senang. Memegangi balon bertangkai di masing-masing tangan, kedua anak lelaki itu sepertinya tidak terusik dengan beberapa kerabat dekat yang mulai berdatangan. Justru mereka semakin berceloteh ria, seakan larut dalam suasana bahagia yang tercipta.
Di salah satu ruangan, Diandra duduk di depan cermin rias. Mempersilakan tangan-tangan terampil dari salah satu make up artis ternama tanah air memoles wajahnya, saat ia sudah mengenakan sebuah gaun sederhana namun terlihat elegan di tubuh rampingnya.
"Kau cantik sekali, Nyonya Trahwijaya," puji sang perias sembari menatapnya lekat, memuji Diandra sekaligus hasil dari tangannya yang tampak mengagumkan.
Diandra benar-benar menjadi ratu, saat kecantikannyalah yang akan menjadi sorotan semua tamu undangan nanti.
"Berkat dirimu, Gloria. Terima kasih," balas perempuan itu seraya melebarkan senyuman.
Kini tersenyum lebar, Gloria membuat tanda oke dengan tangan kanannya.
"Kau sempurna."
***
Alberto mengantar Bram hingga ke sebuah ruangan. Meninggalkan sang mempelai pria yang akan mendapati sedikit polesan oleh tim rias mereka, Alberto sudah beranjak menuju taman.
Mendekati kedua keponakan kembarnya yang tampak sedang bermain, saat ibunya duduk tidak jauh dari sana. Tepat di meja yang sama, tampaklah sosok Brio Trahwijaya, yang didampingi oleh Dokter Aryo persis di sebelahnya. Sibuk menangkapi Vallois dan Verden yang berlari ke arahnya secara bergantian, wajah tua Brio senantiasa dipenuhi senyuman sejak tadi.
Alberto mengisi satu tempat duduk di meja yang sama, tepat di sebelah maminya.
"Bram sudah bersiap, Al?" tanya Tante Luna memastikan, melirik sekilas pada arloji branded yang dia kenakan sebagai aksesoris hari ini.
"Sudah, Mi. Sebentar lagi acaranya akan dimulai."
Tante Luna menghela napas lega, sekaligus deg-degan. Sebentar lagi Diandra akan kembali menjadi milik Bram, mengarungi bersama untuk kehidupan rumah tangga yang baru.
Terlihat beberapa crew dari wedding organizer yang disewa oleh Bram dan Diandra berlalu lalang, memeriksa peralatan dan memastikan semua siap untuk menjadi saksi dari pengucapan ikrar suci sang pemilik perusahaan Trahwijaya.
Saat suara dua orang pembawa acara menggema di udara, saat itulah acara itu akan segera dimulai. Para tamu undangan duduk di tempat mereka masing-masing, disuguhi hidangan dengan berbagai macam pilihan, yang dimasak langsung oleh koki ternama. Bahkan terlihat pula sebuah kue tart bertingkat tiga yang diletakkan persis di area depan, dihiasi dengan inisial kedua nama mempelai di atasnya.
Riuh tepukan tangan terdengar mengambil alih, saat pembawa acara memanggil kedua mempelai untuk memasuki venue. Para tamu undangan menolehkan kepala ke belakang, ikut bertepuk tangan saat menyaksikan kedua mempelai kini berjalan beriringan, menuju area panggung yang telah dipersiapkan.
Kini semua pasang mata tertuju pada mereka, sang Mr & Mrs Trahwijaya. Saling melemparkan senyuman, Diandra mengaitkan tangannya pada lengan Bram yang kokoh. Melangkah bersama, keduanya siap untuk menapaki fase baru dari kehidupan, bersiap untuk kebahagiaan yang lainnya yang sudah menanti di depan sana.
Semuanya tersenyum, ikut hanyut dalam kebahagiaan.
Keheningan menyelimuti beberapa saat, tepat sebelum suara bariton milik Bram menggema di udara. Mengucapkan janji suci, menjadikan kembali seorang Diandra Lee menjadi miliknya.
Dalam satu kalimat yang diucapkan Bram dalam satu tarikan napas, pria itu kini telah resmi menjadi suami sah dari Diandra Lee.
Riuh menggemuruh, sorak sorai menyapa. Bahkan kicau burung ikut menambah indahnya suasana, saat embusan angin terasa menentramkan dan membawa kedamaian.
Memandangi dan memegang erat kedua tangan perempuan yang kini menjadi miliknya seutuhnya, Bram Trahwijaya tidak bisa menahan haru.
Empat tahun. Empat tahun yang dia habiskan dalam harapan, ternyata membawanya pada takdir yang membahagiakan.
Tidak terusik dengan suara dan jepretan kamera yang beruntun, Bram mengambil dua langkah untuk mendekati Diandra, mengusap bulir yang hampir jatuh di pelupuk mata istrinya. Bukan air mata kesedihan, tetapi air mata bahagia.
Menghapus bulir itu dengan jarinya, Bram menunduk untuk memberikan satu kecupan hangat di puncak kepala Diandra. Mengagungkan doa untuk pernikahan mereka, lelaki itu mengembuskan napas tepat di ubun-ubun istrinya.
Mengamini doa-doa yang dialirkan suaminya dengan begitu jelas, Diandra memejamkan mata untuk meresapi segala momen haru ini. Menyimpannya dalam memori, mengenangnya sepanjang sisa kehidupan.
Saat Bram selesai dengan doanya, lelaki itu kembali melayangkan satu kecupan di kening Diandra. Membuat para fotografer yang telah menunggu momen itu sejak tadi dengan sigap menekan tombol kamera, mengabadikan kebahagiaan.
Manik keduanya bertaut, saling mengutarakan perasaan satu sama lain.
"Aku mencintaimu, Diandra. Menualah bersamaku."
.
.
.
🗼Bersambung🗼