Travelove~

Travelove~
The Last Extra Part (THE END)



“Karena pada dasarnya dunia berputar sesuai poros. Ketika kau bersedih, maka bersiaplah untuk bahagia kemudian. Sebab kebahagiaanmu, hanya kau yang mampu menakar dan menciptakannya.” ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Bram tidak pernah segugup ini.


Bahkan ketika dia harus menghadiri rapat sebagai perwakilan dari perusahaan Trahwijaya dan Lee untuk tender bernilai triliunan rupiah, lelaki itu tidak merasa segugup ini.


Seingatnya, terakhir kali dia mengalami kegugupan adalah di hari pernikahannya yang kedua bersama Diandra, tepat sebelum ia mengucap janji suci sehidup semati dengan perempuan itu. Tetapi kali ini, bahkan level gugup yang menggerogoti tubuhnya sudah mencapai level yang tidak pernah ia duga.


“Aku mencintaimu, Bram. Semuanya akan baik-baik saja.”


Kalimat yang diucapkan Diandra tadi terus terngiang di telinga Bram, seiring dengan remasan tangannya yang terasa semakin erat.


Diandra melambaikan tangan dengan senyum merekah, berbaring di atas ranjang pasien yang didorong oleh beberapa perawat di sisi kanan dan kiri. Wajah perempuan itu polos tanpa polesan make up, dan entah mengapa Sang Nyonya Trahwijaya malah terlihat semakin memukau karena itu.


Bram hanya bisa pasrah ketika perlahan-lahan istrinya semakin menjauh, hingga menghilang di salah satu ruangan dengan pintu berwarna putih terang.


Menarik napas dalam-dalam, Bram berusaha mengisi rongga dadanya dengan udara yang cukup. Dia ingin sekali berada di dalam sana, menggenggam tangan istrinya ketika perempuan itu melewati serangkaian operasi untuk memastikan buah hati mereka lahir ke dunia.


Tetapi Diandra meminta agar Bram tetap berada di luar ruangan, sebab dia tidak ingin Bram melihat apa yang akan dilaluinya di dalam sana. Bram tidak punya pilihan, selain menuruti permintaan istrinya itu.


Rasanya sudah lama sekali pintu itu tertutup, saat Bram berulang kali melihat ke arah arlojinya yang tersemat di pergelangan tangan kiri. Bersandar di dinding rumah sakit, lelaki itu menundukkan kepala dan merapal doa tiada henti.


Berharap agar operasi persalinan Diandra berjalan lancar, berharap agar buah hati mereka lahir ke dunia ini dengan selamat dan tiada kurang suatu apa pun.


Deringan ponsel membuat lelaki itu tersentak kecil, buru-buru merogoh gawainya yang berada di dalam saku celana. Nama Tante Luna terpampang di layar, dan Bram buru-buru menggeser panggilan itu untuk memberikan jawaban.


“Halo, Tan?”


“Bram, bagaimana? Apakah sudah di ruang operasi?” Suara Tante Luna terdengar lebih tenang, dan Bram bersyukur akan hal itu. Bahkan Bram tidak bisa lebih berterima kasih kepada ibu dari Alberto Vigez itu, karena bersedia untuk berada di rumah mereka demi menjaga Vallois dan Verden.


“Sudah hampir satu jam lebih kurasa, Tan,” jawab Bram pelan. Terdengar berat suara lelaki itu, disusul dengan embusan napas yang juga sama beratnya. “Bagaimana si kembar? Apa mereka menangis?”


Tante Luna tertawa kecil di seberang sana.


“Tenanglah, Bram,” katanya. “Si kembar tidak berhenti bertanya tentang adik mereka, dan mereka bermain dengan senang sekarang. Kalian tidak perlu khawatir, dan cepat beritahu Tante jika operasinya sudah selesai.”


Bram mengangguk samar. Mengusap pelipisnya untuk menghilangkan perasaan khawatir.


“Tentu saja, Tan. Akan kuhubungi lagi nanti.”


Sambungan telepon itu terputus tepat saat pintu ruang operasi terbuka perlahan-lahan, dan Bram langsung menengadahkan kepalanya untuk memeriksa keadaan. Seorang perawat dengan masker dan penutup kepala menatap pada Bram.


“Tuan Bram Trahwijaya?” tanyanya.


Bram sedikit berlari untuk mendekat. “Saya, Sus.”


Perawat itu tersenyum. “Selamat, Pak. Anak Anda telah lahir dengan selamat, berjenis kelamin perempuan. Ibu dan bayinya dalam keadaan sehat.”


Bram hampir jatuh pingsan. Lututnya mendadak lemas, tetapi kali ini bukan karena kesedihan melainkan karena perasaan bahagia yang begitu saja membuncah. Mengusap wajahnya beberapa kali, Bram seakan berada di alam mimpi.


Dia jadi ayah, lagi. Dan kali ini, itu benar-benar benihnya.


“Terima kasih, Sus!” balasnya antusias.


“Silakan masuk, Pak.” Sang perawat membukakan pintu lebih lebar, mempersilakan Bram untuk masuk ke dalam sana kini. Dia telah mengambil langkah lebih dulu, menuntun Bram untuk menemui istrinya.


“Lewat sini, Pak,” tutur si perawat itu dengan penuh kesopanan. “Nyonya Trahwijaya berada di bilik paling ujung, dan kami sedang menunggu untuk prosedur pemindahan kamar rawat.”


Bram mengangguk. Melangkahkan kakinya tanpa ragu untuk menyusuri ruangan bercat putih itu, Bram meraih gagang pintu di bilik yang ditunjuk sang perawat. Tanpa pikir panjang, lelaki itu mendorong pintu itu dengan gerakan tegas, yang langsung membawanya bertatapan dengan manik indah istrinya.


“Bram....”


Langkah kaki sang pewaris tertahan, tidak mampu mengendalikan genderang yang bertabuh begitu kencang di dalam hatinya. Diandra sedang menggendong seorang bayi mungil yang masih menutup mata, dengan selang infus yang terpasang di tangan perempuan itu. Seorang perawat berjaga di sisi kanan Diandra, siaga untuk membantu pasien VVIP mereka.


Bram mendekat.


“Sayang, kau...”


“Dia cantik sekali, Bram.” Diandra sudah lebih dulu memotong perkataan suaminya, menatap ke dalam bola mata gadis kecilnya yang tampak masih tertidur.


Bentuk wajah bayi itu persis seperti wajah Bram, dengan hidung yang tinggi dan bentuk alis yang serupa. Kulitnya putih bersih seperti porselen, tanpa cela meski baru saja dilahirkan. Bayi kecil itu adalah sang putri, yang lahir dengan begitu banyak doa dan harapan dari orang-orang sekitar.


“Kemarilah, Bram,” pinta Diandra. Manik keduanya bersirobok, dan begitu saja Diandra mengerutkan kening.


“Bram, apa kau menangis?” tanyanya polos.


Bram buru-buru menghapus air mata itu sebelum berakhir menjadi isakan. Dadanya berguncang hebat, diliputi dengan perasaan yang tidak bisa ia definisikan dengan kata-kata.


Diandra bergerak pelan untuk memberikan bayi mereka kembali pada sang perawat, kemudian melebarkan tangan untuk menyambut sang raja masuk ke dalam pelukannya. Bram terjatuh, tepat di dalam pelukan istrinya. Lelaki itu menahan diri agar tidak menyakiti istrinya, sebab perempuan itu baru saja mendapati satu lagi goresan luka di perutnya.


“Hei, kenapa, Bram?” tanya Diandra mengulangi.


Bram menarik napas. Rasanya dia tidak boleh seperti ini, tetapi ini terlalu membuatnya emosional.


“Diandra, terima kasih,” bisik Bram terbata. Menghirup dalam-dalam aroma tubuh Diandra, Bram mendapatkan kekuatannya kembali. Meski aroma rumah sakit terasa menyesakkan dada, tidak apa-apa selama ada Diandra di dekatnya.


“Itu pasti menyakitkan,” lirih Bram lagi. “Aku hampir tidak bisa bernapas sejak tadi, Sayang. Tetapi kini aku bersyukur kau baik-baik saja. Kau tersenyum padaku dan menahan semuanya, bagaimana aku bisa membalas kebaikanmu?”


Diandra tertawa kecil. Luka jahitnya tentu saja masih menimbulkan rasa nyeri yang menggerogoti, tetapi anugrah yang diberikan padanya untuk kembali menjadi ibu sungguh luar biasa indah. Diandra bisa mengabaikan rasa sakit itu, sebab kini ada satu lagi malaikat yang harus ia jaga dengan sepenuh jiwa raga.


“Aku baik-baik saja, Bram. Dokter Rossa dan aku bahkan membahas tentang klinik kecantikan selama operasi berlangsung, dan aku sudah memutuskan ke provider mana aku akan melakukan perawatan pasca kelahiran,” balas Diandra.


Bram bisa bernapas dengan lega sekarang. Ketakutannya telah berlalu, dan yang paling penting istrinya tampak baik-baik saja. Bram tahu perempuan miliknya itu bukan seseorang yang mudah terjatuh, sebab dia adalah ratu yang menjadi sumber kekuatan Bram selama ini. Diandra selalu kuat, dan Bram bersyukur akan hal itu.


“Kini sapalah anak perempuanmu, Bram,” Diandra melanjutkan.


Bram melepas dekapan yang tidak erat itu perlahan-lahan, kini beralih untuk menatap pada satu makhluk kecil yang berada dalam gendongan sang suster. Sepasang suami istri itu mematrikan pandangan ke arah yang sama, yaitu buah cinta mereka yang tampak masih tertidur pulas.


“Bapak mau mencoba untuk menggendong adik bayinya?” tawar sang perawat ramah dengan mata berbinar, merasa bangga sebab ia ikut serta dalam menangani kelahiran sang penerus klan Trahwijaya yang tersohor.


Suster itu yakin si bayi kecil ini pasti akan memiliki banyak penggemar, meski jalannya mungkin tidak akan mudah nanti.


“Gendonglah dia, Bram,” pinta Diandra pelan. “Dan berikan nama untuknya.”


Bram mengangguk. Dia tidak ingat kapan terakhir kali dia menggendong seorang bayi, tetapi dia sungguh ingin mendekap malaikat kecil itu di pelukannya kini. Sang perawat memberi instruksi yang cukup jelas, dan Bram mengikutinya dengan sangat baik.


“Pelan-pelan, Sus.”


Lelaki itu khawatir pada awalnya, tetapi kini dia mulai memegangi anak perempuannya dengan kedua tangannya sendiri.


“Kau menggendongnya, Sayang,” puji Diandra. “Katakan hi pada ayahmu, bayi kecil.”


Bayi itu bergeming, masih larut dalam buaian mimpi. Tidak sama sekali membuka mata, sepertinya ia sedang terlelap terlebih kini ia berada di gendongan sang ayah.


Bram menatap lekat ke dalam bola mata anaknya, tidak sanggup berucap apa-apa untuk beberapa detik pertama. Dunianya sungguh sempurna, dan dia tidak bisa meminta apa pun lagi lebih daripada ini.


Bram hanya butuh mereka: keluarga, yang terus menguatkan dan membuatnya bertahan hidup hingga akhir.


“Lihatlah betapa cantiknya dirimu, baby girl,” puji Bram pelan. Diandra melebarkan senyuman, menikmati bagaimana suaminya sedang memuji perempuan lain di depan matanya. Menimbulkan perasaan hangat, sebab yang dipuji oleh Bram adalah buah hati mereka.


Jika dia dulu melalui persalinan pertamanya dengan begitu banyak air mata, maka kini Diandra tidak akan membiarkan siapa pun merusak kebahagiaan mereka. Biarlah masa lalu menjadi sesuatu yang tertinggal untuk diingat, tetapi kebahagiaan yang akan datang jauh lebih penting daripada itu.


Bram menaikkan kepala, menatap pada Diandra yang sedari tadi menahan haru karena momen yang terjadi tepat di depan maniknya.


“Kita sempurna sekarang, Bram,” ujar perempuan itu. Kali ini air matanya yang menetes perlahan-lahan, yang menandakan ia juga sedang diliputi perasaan bahagia yang luar biasa. “Kini, berikan nama untuknya, Bram.”


Bram tersenyum. Berjanji dalam hati bahwa dia akan menempatkan keluarga dalam prioritas utamanya, dan berharap dia akan punya banyak waktu untuk membahagiakan mereka.


“Selamat datang ke dunia, anakku,” ujar Bram haru. “Ayah menamaimu... Danielle Trahwijaya.”


Dan begitu saja waktu terus berputar di sekitar kita, mengantarkan pada waktu-waktu manis yang kadang kala diselingi dengan kepahitan dan kesedihan.


Danielle Trahwijaya adalah bukti bahwa cinta pasti akan menemukan jalannya sendiri, tidak peduli berapa lama waktu yang dibutuhkan ataupun berapa banyak airmata yang telah mengalir deras di antara ibu dan ayahnya.


Karena cinta, akan menemukan cara terbaik untuk pulang.




.


.


.


THE END~