
"Bertopang dengan takdir, merapal doa dalam hati. Salahkah aku jika aku benar masih memilikimu dalam ingatan?" ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
"Diandra?"
Tidak pernah terlintas meski sedetik pun dalam benak Bram, bahwa dia akan mengucap nama indah itu lagi dengan bibirnya sendiri.
Nama yang dia telah kubur dalam-dalam, nama yang pernah dia agungkan tidak hanya dalam hatinya. Nama yang mengisi jiwanya tanpa dia sadari, nama yang selalu menjadi favoritnya.
Diandra Lee.
"Bram! Ini benar kau, kan?" Wanita itu mendekat. Mempersempit jarak di antara mereka, Diandra tidak menurunkan sama sekali tatapannya pada laki-laki yang kini tepat berdiri di depannya.
Tampak sama terkejutnya seperti Bram yang masih terus terdiam, Diandra melebarkan senyuman tipis. Siapa sangka dia akan kembali menatap lelaki itu, sebab yang dia tahu adalah bahwa mereka dipisahkan oleh jarak yang tidak sedikit.
Bagaimana lelaki ini bisa berada di Paris?
Butuh beberapa detik lagi hingga Bram mampu menggerakkan bibir untuk berusaha mengeluarkan suara yang tercekat di kerongkongan. Mencoba menarik kembali kesadarannya yang tampak terguncang, lelaki itu sekuat tenaga menahan diri.
"Ini aku, Diandra." Kalimat yang canggung sekali, saat dia menyayangkan mengapa dia berubah menjadi sebingung itu di hadapan mantan istrinya.
Diandra baru saja hendak membalas perkataan lelaki itu saat suara dari sang penjaga stand minuman terdengar nyaring, membuat wanita itu refleks menahan diri. Seorang gadis berambut pirang yang dikucir kuda dengan manik berwarna hazel tampak melambaikan tangan ke arah Bram, memberikan tanda bahwa kini giliran lelaki itu untuk memesan minumannya.
"Giliranmu, Bram," ujar Diandra kemudian, menerjemahkan panggilan dari sang gadis yang memanggil menggunakan bahasa Perancis fasih.
Menoleh ke belakang dan melihat jarak yang terbentang di depannya, Bram tersentak kecil.
"Ah, benar. Baiklah." Memutar tubuh dengan gerakan fast motion, lelaki itu kemudian melangkah besar-besar untuk mendekati tempat di mana dia bisa memesan minumannya. Memilih satu gelas besar hazelnut bubble tea untuknya, Bram membayar dengan cepat. Menanti beberapa saat, dia memperhatikan Diandra sedang berbicara dengan si ibu paruh baya yang tepat mengantri di belakangnya tadi.
Menerima struk belanjaan dan gelas minumannya yang disodorkan oleh sang gadis rambut pirang, lelaki itu bergeser untuk memberikan giliran pada pembeli lain. Kini melangkah untuk mendekati Diandra, maniknya tertuju pada kedua tangan wanita itu yang memegang erat stroller milik kedua bayi tadi.
Mendapati Bram mendekat, Diandra kembali tersenyum. "Aku tidak tahu kau berada di sini, Bram. Mengejutkan sekali," katanya.
Bram membalas dengan beberapa kali anggukan. Tidak mampu menahan diri untuk tidak menatap ke arah mata perempuan itu, mata yang entah bagaimana masih tampak begitu sama, begitu memberikan sensasi menenangkan.
Kau selalu cantik, Diandra. Kau selalu menawan dan manik kecoklatanmu selalu memancarkan ketenangan.
Membiarkan ibu paruh baya yang ternyata memang pergi bersamanya untuk mengantri kali ini, Diandra telah mengambil alih stroller ganda yang masih ditempati oleh dua bayi tadi. Bayi yang sempat mengalihkan perhatian Bram, bayi yang membalas candaan lelaki itu dengan tawa senang.
"Aku datang bersama Alberto. Sesuatu terjadi, dan aku harus mampir ke sini untuk menemui seseorang. Tidak menyangka kita akan bertemu di sini, Diandra." Masih sulit untuk Bram menyebut nama wanita itu, khawatir dirinya akan semakin mengorek kisah lama yang belum tertutup dengan rapat.
"Ah, kau bersama Alberto?" Nada suara Diandra sedikit terkejut, tetapi dia segera mengembalikan mimik wajahnya ke tampilan wajah normal dengan senyuman di sudut bibir.
Menjawab dengan anggukan lelaki itu. "Kau benar. Dia sedang ke belakang dan belum ada tanda-tanda kembali."
Kali ini Bram menurunkan pandangannya ke arah kedua bayi yang masih berceloteh di dalam tempat mereka berbaring. Tampaknya bayi-bayi itu merasa nyaman dan senang berada di dalam sana. Tangan dan kaki yang terus menendang ke udara, dengan sesekali suara celotehan yang khas.
"Bram, ini putra kembarku. Vallois Butcher dan Verden Butcher," ujar Diandra dengan mata berbinar, menundukkan kepalanya untuk menatap ke dalam stroller ganda tempat di mana kedua bayi kembarnya berada.
Bram melebarkan senyuman.
Benar. Saat aku meninggalkan Paris beberapa bulan lalu, Diandra sedang dalam keadaan mengandung. Kini dia benar-benar menjadi seorang ibu, dari dua bayi kembar yang terlihat sungguh tampan.
Jika tadi Bram memilih untuk menundukkan kepala pada pertemuan pertamanya dengan si kembar, kali ini lelaki itu tanpa sadar telah berlutut di lantai. Masih memegangi plastik yang berisi minumannya, Bram mengambil posisi untuk kembali menghadap ke dalam stroller itu untuk menyapa dengan lebih baik kali ini. Melebarkan senyumannya selebar wajahnya, Bram memandangi kedua makhluk mungil itu dengan seksama.
"Ah, benar. Rupanya kalian sudah mengenali uncle ini sejak tadi ya?"
Menaikkan kepalanya untuk melihat pada ibu dari sang bayi, Bram melanjutkan kata-kata.
"Pantas saja aku merasa mereka begitu berbeda, Diandra. Menarik perhatianku sejak awal, bahkan keduanya membalas candaanku dengan tawa lebar. Sudah mengenali pamannya rupanya!" ujarnya senang.
Diandra tampak tersenyum lebih lebar kali ini.
Tidak menunggu balasan dari Diandra, Bram kembali menatap ke arah si kembar Vallois dan Verden Butcher, mengamati mereka sekaligus menyimpan memori tentang insan kecil itu dalam ingatannya. Mungkin kelak dia tidak akan bisa melihat pertumbuhan keduanya, bahkan tidak tahu entah kapan lagi dia dapat melihat mereka.
"Kalian bersenang-senang? Kalian sungguh tampan sekali, bocah kecil." Mengulurkan jarinya untuk digenggam oleh salah satu dari bayi itu, Bram merasa aliran hangat menyusup ke dalam dada saat bayi itu menggenggam jari telunjuknya dengan erat. Tidak tahu apakah bayi itu adalah Vallois atau Verden, dia kembali menolehkan kepala untuk menatap Diandra.
"Apakah dia adalah Vallois?" tanyanya asal menebak, bisa jadi salah dan bisa jadi benar. Sedetik kemudian, Bram sungguh tidak menduga bahwa tebakannya ternyata benar sebab Diandra telah menganggukkan kepala.
"Vallois, apakah kau adalah abang?" tanyanya pelan kepada sang bayi, yang dijawab dengan cengiran lebar oleh sang Vallois kecil.
Mendengarkan pertanyaan mantan suaminya meski dia tahu lelaki itu pastilah tidak bersungguh-sungguh bertanya pada anaknya, kali ini Diandra yang memberikan jawaban.
"Lagi-lagi kau benar, Bram."
Bram mengangguk, merasa bangga pada dirinya atas kemampuan menebak yang entah datang dari mana.
Berdiri tegak, Bram mendapati sang ibu paruh baya telah berdiri tepat di belakang Diandra. Tanpa perlu bertanya, lelaki itu berkesimpulan pastilah sang ibu adalah pengasuh yang membantu Diandra untuk menjaga kedua bayi kembarnya.
"Apa kau sudah akan pergi?" tanyanya pelan, kini telah menghadap pada Diandra dengan tubuh tegap.
Diandra mengangguk, melirik sekilas pada pengasuh si kembar yang tampak langsung mengambil alih pegangan stroller untuk mundur beberapa langkah dari sana. Bram celingukan beberapa detik, baru menyadari bahwa dia telah menghabiskan beberapa belas menit untuk mengobrol dengan mantan istrinya tanpa melihat sosok seorang lain di sana.
"Baiklah. Sampaikan salamku pada Gio, Diandra. Apa dia tidak ikut ke sini?" tanya lelaki itu kemudian.
Bram tidak menyadari tatapan terkejut yang dilayangkan pengasuh si kembar ke arahnya, saat wanita paruh baya itu segera mendekat menuju Diandra dengan sigap. Seolah-olah sudah tahu apa yang akan terjadi, sang ibu tampak mengambil ancang-ancang untuk menopang tubuh majikannya yang mulai melemas.
Manik Bram membesar. Seiring dengan keterkejutannya yang datang secara tiba-tiba saat Diandra ambruk, tidak sadarkan diri tepat di depan matanya.
.
.
.
🗼Bersambung🗼