
“Aku tahu kau berusaha untuk terus memberikan yang terbaik. Sebab itu aku berharap kau akan selalu mencintaiku apa adanya.” ~Diandra Lee.
.
.
.
Telepon dari Alberto itu dijawab Diandra dengan mengendap-endap.
“Kau yakin, Al?” bisik Diandra pelan. Mendengarkan dengan seksama perkataan Alberto yang mengatakan mengenai beberapa tender Bram yang gagal, perempuan itu menggigit bibir saat Alberto menyebutkan jumlah nominal yang hilang begitu saja.
Dia memang berniat mengorek informasi dari sepupunya itu, mengenai bagaimana keadaan kantor suaminya belakangan ini. Maniknya melirik ke arah Vallois dan Verden yang telah terlelap dengan selimut Avenger hingga sebatas dada, saat ia sendiri masih berdiri di depan jendela.
Menatapi kegelapan malam, larut dalam keheningan sunyi yang merangkak naik.
“Baiklah kalau begitu, terima kasih ya.” Setelah merasa cukup mengetahui tentang apa yang dihadapi suaminya belakangan ini, perempuan yang mengenakan kaus kebesaran itu kemudian memutuskan telepon. Masih menggenggam ponselnya erat-erat, saat ia bertapakur dengan pikirannya sendiri.
Bram tidak pernah mengeluh, hingga saat ini. Bahkan lelaki itu tidak membawa setiap masalahnya ke rumah, seolah-olah keadaan di kantor selalu berjalan mulus. Diandra menarik napas. Membiarkan udara malam yang berembus melewati satu celah jendela yang masih ia biarkan terbuka, saat pikirannya sudah tertuju hanya pada satu lelaki itu.
Berperang dengan diri sendiri apakah ia harus menghampiri Bram ke kamar mereka, saat lelaki itu memang sama sekali tidak muncul di kamar si kembar setelah obrolan mereka tadi. Diandra dengan harap-harap cemas menunggu, tetapi hingga bocah-bocah itu terlelap, Bram belum juga muncul.
Mendesah, Diandra mengerjapkan mata.
Bertanya dalam hati apakah tindakannya ini berlebihan, saat sebenarnya Bram mungkin sedang membutuhkan tempat bersandar untuk sekedar berbagi keluh kesah. Bertanya dalam hati apakah lelaki itu makan dengan baik siang tadi, saat sepertinya Bram tidak berselera makan pada makan malamnya tadi.
Mengembuskan napas pelan-pelan, Diandra ragu. Tidak tahu apakah Bram kini sudah terlelap di kamar mereka atau belum, ataukah lelaki itu lebih memilih untuk berdiam diri di ruang kerjanya. Sebab kamar mereka pastilah lengang,dan Diandra tahu lelaki itu tidak suka berada dalam situasi semacam itu.
Maafkan aku, Bram. Setidaknya ini yang bisa aku lakukan untukmu.
***
Lelaki itu tidak cukup tidur. Tampak dengan jelas dari raut wajahnya yang masih kuyu dan lemas, ditambah lagi manik kehitamannya tampak sedikit memerah. Tidak memasuki kamar mereka malam tadi, Bram memilih untuk menenggelamkan diri dalam pekerjaan di ruang kerjanya.
Setelah memastikan Diandra dan kedua anaknya masuk ke kamar si kembar, lelaki itu beranjak menuju ruang kerja yang berada di ujung lorong. Tidak berniat untuk menghampiri si kembar, saat ia berpikir mungkin Diandra akan butuh waktu. Sepertinya istrinya itu benar-benar ingin menjaga jarak untuk beberapa saat dengannya, mungkin masih menahan marah akibat perbuatannya tempo lalu yang memang membuat Diandra khawatir.
Duduk di depan meja kerjanya, Bram memandangi laptop yang telah menyala. Meraih kalender yang berada di sudut meja, lelaki itu menghitung mundur ke tanggal kapan masa hukumannya akan habis, meraih satu spidol berwarna merah terang saat ia menyilang angka-angka untuk menandai masa hukumannya.
Dua minggu. Hanya dua minggu ia harus bertahan, dan sepertinya itu akan benar-benar menjadi nyata.
Dia tidak ingin kembali ke kamar, sebab hanya akan membuatnya merindukan Diandra sepanjang malam. Dia juga tidak ingin masuk ke kamar si kembar, meski ia belum mengucapkan selamat tidur pada anaknya.
Lelaki itu menyugar rambutnya, menggeram pelan saat giginya bergemertak. Menutup mata beberapa detik, meresapi keadaan dan tidak membiarkan emosinya mengambil alih. Meski Diandra tidak pernah bertindak seperti ini padanya, dia akan belajar untuk maklum. Meski Diandra tampak kejam beberapa hari ini, justru perempuan itu terlihat lebih cantik dan menawan saat ia menggeram dan memelototkan mata.
Tersenyum kecil, Bram meraih pigura yang berada tepat di samping kalendernya. Menatap potret Diandra dan anak mereka di sana, dia akan bersabar.
Bersabar dalam menghadapi cobaan, bersabar untuk menanti dua minggunya berlalu.
***
Suara ketukan terdengar nyaring dari arah pintu, saat Bram hampir saja memejamkan mata.
“Masuk!” teriaknya.
Meta muncul di ambang pintu, membawa beberapa dokumen di tangannya dan berjalan cepat menuju meja kerja Bram.
“Pak, ini dokumen dari tender yang gagal kemarin,” ujar Meta hati-hati. Dia tahu mood bosnya itu sedang tidak baik, sebab dari pagi tadi Bram tampak ogah-ogahan. Wajah bosnya itu juga terlihat sedikit pucat, tetapi Meta menahan diri untuk tidak bertanya apa-apa.
“Letakkan di situ, Meta,” balas Bram pelan. Menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi kebesarannya, lelaki itu menutup mata perlahan.
Memperbaiki postur tubuhnya, Bram tersentak sebab Meta mengatakan hal yang tidak ia duga.
“Diandra?” tanyanya tidak percaya.
Meta menganggukan kepala. “Benar, Pak. Tadi saat Bapak sedang rapat, Ibu menelepon saya. Katanya beliau sedang berada di Hotel Warmouth, menghadiri acara perpisahan salah satu temannya,” jelas Meta.
Bram semakin memicingkan mata. Menggeleng pelan, saat maniknya melebar tanpa ia sadari. Buru-buru meraih ponselnya yang tergeletak di atas meja, lelaki itu tampak memeriksa sesuatu. Tidak ada, kosong. Tidak ada pesan dari Diandra, tidak ada panggilan telepon dari Diandra. Menaikkan kepalanya untuk menatap pada Meta lagi, Bram terlanjur penasaran.
“Lalu? Apa dia berkata hingga jam berapa acara itu selesai?”
Meta menggeleng. “Tidak, Pak. Ibu berkata itu saja dan meminta saya untuk memberitahu pada Bapak.”
Hampir runtuh dunia Bram. Bahkan kini Diandra pergi tanpa memberitahunya langsung, malah menghubungi Meta.
“Baiklah. Kamu boleh pergi, Meta.”
Meta berbalik kemudian, meninggalkan Bram yang masih termenung dengan hati yang berdenyut perih.
Apa yang terjadi, Diandra? Mengapa kau seperti ini padaku, hmm?
Menerawang saat maniknya menatap ke arah luar jendela, Bram kemudian bangkit untuk menggeser jendela besar itu. Membiarkan angin sore yang tidak terlalu sejuk berembus masuk, berharap hatinya yang sedang sakit itu bisa sedikit terobati.
Saat maniknya masih menatap ke arah acak, hatinya hanya mengagungkan satu nama di dalam sana.
Diandra. Diandra.
Begitu keras kepala dan tegasnya perempuan itu, dia tahu bagaimana menyiksa dan mematahkan hati seorang Bram Trahwijaya tanpa ampun.
Tidak langsung bergerak saat ponselnya terdengar berbunyi nyaring, Bram berniat untuk mengabaikan panggilan itu. Toh sepertinya bukan panggilan dari istriku, batinnya sedih. Terdengar lagi bunyi nyaring untuk yang kedua kalinya, kini Bram bergerak untuk merogoh benda pipih yang masih berada di atas mejanya.
“Ya, halo?”
“Pak, Ibu—“ Suara dari salah satu supir yang bekerja di rumah mereka terdengar di seberang sana, yang langsung saja membuat lelaki itu tersentak menegang.
“Kenapa Ibu?!” Tidak bisa menyembunyikan perasaan khawatir saat lawan bicaranya menyebut ‘ibu’, yang berarti merujuk pada istrinya.
“Anu, pagi tadi saya anter Ibu tadi ke Hotel Warmouth. Tapi sekarang Ibu pingsan, Pak.”
Bram hampir terjatuh. “Apa?! Di mana Ibu sekarang?!” pekik lelaki itu tidak sabar.
Terdengar gemetar suara sang penelepon, saat mendapati nada suara Bram sudah naik beberapa oktaf.
“Masih di hotel, Pak.”
Menyambar jasnya yang ia sampirkan di sofa, Bram meraih kunci mobil yang terletak di atas meja. Buru-buru berlari melewati pintu, lelaki itu mematikan panggilan telepon setelah mengucapkan satu perintah tegas.
“Jaga Ibu. Saya ke sana sekarang.”
.
.
.
🗼Bersambung🗼