Travelove~

Travelove~
Bonchap 8 - Arti Hidup Sebenarnya



"Karena hidup itu hanya tentang tetap bertahan. Kau jatuh, lalu bangkit lagi. Kau terluka, lalu sembuh lagi. Kau menangis, lalu tertawa lagi. Seperti itulah kehidupan, hingga dunia ini benar-benar berhenti berputar." ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Diandra menghabiskan makan paginya dengan lahap. Melirik sesekali ke arah Bram yang masih bersandar di headboard ranjang mereka, perempuan itu sedang menyimpan satu senyuman.


Menolehkan kepala untuk melihat ke arah baju kerja milik suaminya yang tersampir begitu saja di atas sofa, entah mengapa semakin membuat si ibu hamil yang satu ini malah semakin merasa senang.


Bram sendiri sepertinya masih sibuk dengan gawainya, ketika dia akhirnya memutuskan untuk tidak jadi berangkat setelah mendapat godaan yang cukup sulit untuk ditolak beberapa waktu lalu.


Tadinya ia berniat untuk berangkat ke kantor lebih awal hari ini. Setelah bangun pagi, Diandra ternyata juga sudah menyiapkan baju kerja untuk lelaki itu sebab Bram mengatakan bahwa ia memiliki meeting siang nanti.


Tetapi lagi-lagi, mood swing Diandra sungguh sangat tidak bisa ditebak dan berada di luar prediksi. Semuanya bermula ketika Diandra sedang menunggui Bram mandi dan masih berbaring di atas ranjang, menatap ke layar ponselnya sembari menggeser dengan jari dengan begitu semangat.


Entah mengapa tiba-tiba saja ada satu video menyedihkan yang muncul di sana, dan Diandra tidak sengaja menonton video yang berdurasi sekitar lima menit itu. Air matanya meleleh, bahkan ia menangis sesegukan karena konten yang disajikan dalam video tadi.


Hingga tepat ketika Bram keluar dari kamar mandi, perempuan itu menghambur begitu saja ke dalam pelukan lelakinya. Membuat Bram membelalakan mata sebab terlalu terkejut, tetapi semenit kemudian Diandra sudah bercerita panjang lebar dan menjelaskan tentang video menyedihkan tadi.


"Sedih sekali, Bram. Ekspresi ketika dia kehilangan itu sungguh tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Mungkin seperti itulah kelak jika aku kehilanganmu, atau mungkin sebaliknya," racau Diandra tanpa henti.


Mengelus punggung dan rambut istrinya secara bergantian, Bram sedang mencoba menenangkan perasaan Diandra yang sepertinya terlalu sensitif pagi itu.


Tetapi si ibu hamil masih saja terisak, yang kemudian meminta Bram agar tidak usah berangkat kerja. Mengatakan bahwa dia tidak ingin melewati hari itu sendirian, dan dia ingin Bram di sana untuk menemaninya sepanjang hari.


Bram belum belum memberikan jawaban, tetapi manik Diandra sudah memutuskan semuanya. Entah bagaimana tangannya sudah bergerilya di dada bidang lelaki itu, yang bahkan belum kering dengan sempurna.


Tetesan air masih tampak di beberapa titik tubuh Bram, dengan rambut yang juga masih setengah basah. Membuat pola acak tepat di dada Bram, tangan Diandra tiba-tiba saja sudah menyusuri ikatan handuk yang melilit sekeliling pinggang suaminya.


Bram menahan napas.


"Diandra," bisiknya berusaha mengingatkan.


Gerakan Diandra tadi tentu saja telah menjadi candu, dan jika dipikir-pikir perempuan itu memang benar-benar berubah selama masa kehamilannya. Hal yang pernah disampaikan oleh Diandra tempo lalu memang menjadi kenyataan kini, saat sekarang Bram lah yang kewalahan untuk mengikuti permintaan dan permainan istrinya.


Diandra semakin mendekat. Meski ia mendengar dengan jelas bagaimana Bram mencoba menginterupsinya tadi, tetapi ia tampak tidak peduli. Malah perempuan itu semakin memajukan tubuhnya, mengibaskan dress malam yang dikenakannya dengan sengaja tepat dihadapan lelaki itu.


"I want you," bisiknya pelan. Mendaratkan beberapa kecupan kecil di leher Bram, Diandra sudah berniat untuk memulai kembali permainan mereka.


Belum tentu saja tidak bisa--dan tidak mau menolak. Harus diakuinya bahwa Diandra sungguh menjadi tampak semakin seksi dan menggoda ketika hamil kini, terlebih dengan baby bump yang mulai terlihat sekarang. Gairah perempuan itu juga naik secara drastis, yang kerap kali membuat Bram kesulitan untuk mengimbanginya.


"Okay. I want you too."


Mengambil ancang-ancang, Bram sudah menuntun Diandra untuk berpindah posisi ke arah ranjang. Tidak lagi memikirkan tentang meeting yang harus ia hadiri siang ini, sebab berada di samping istrinya sepertinya akan menjadi pilihan yang lebih tepat.


Dan begitu saja terjadi untuk yang ke sekian kalinya, bahkan ketika matahari belum naik dengan sempurna.


***


Vallois menendang sebuah bola dan dan tertawa senang setelahnya. Sedangkan Verden berlari kecil di samping abangnya itu, berusaha merebut bola yang telah bergulir entah ke mana.


Kedua bocah kecil itu tampak begitu senang, berlarian di halaman belakang dengan rumput yang terpangkas rapi.


Bram, dan ayahnya--Brio Trahwijaya, sedang duduk bersebelahan di kursi santai tidak jauh dari posisi si kembar bermain. Memperhatikan sekaligus menjaga agar si kembar tidak jatuh dan terluka, Bram juga sedang menghabiskan waktu bersama ayahnya.


"Bagaimana pekerjaanmu, Bram?" Suara Brio sudah terdengar, meski mata tuanya masih memperhatikan ke arah cucu-cucunya yang sibuk berlari.


Bram menoleh sekilas, menatap ke arah ayahnya yang telah tampak lebih tua sekarang ini.


"Berjalan baik, Pa. Aku tidak tahu kenapa, tetapi setelah kembali berumahtangga semua pekerjaanku terasa mudah sekali. Banyak tender berdatangan, bahkan ketika aku tidak mempersiapkan materi dengan baik karena harus tinggal di rumah saat Diandra tidak memperbolehkanku berangkat bekerja. Itu semua terasa sedikit aneh, tetapi benar adanya."


Ada satu senyuman yang tersungging di bibir Brio, saat kini ia mengalihkan pandangannya untuk membalas tatapan anak satu-satunya itu.


"Percayalah itu semua berkat doa dari istrimu, Bram. Pepatah yang mengatakan bahwa di balik seorang pria sukses pasti ada wanita yang lebih sukses, itu ternyata kenyataan. Dan Papa rasa kau sudah menjadi saksi hidup, atas perubahan dan naik turunnya hidupmu beberapa tahun belakangan ini."


Bram mengangguk takzim. Mengiyakan dan setuju dengan apa yang baru saja dikatakan ayahnya, lelaki itu tersenyum kemudian.


"Papa benar," sahutnya. "Kehidupanku benar-benar berubah setelah aku mengenal Diandra untuk pertama kalinya beberapa tahun lalu. Aku tidak sadar aku telah mencintainya, ketika kemudian ia sempat pergi dari sisiku dan memporak-porandakan semuanya. Kini setelah kami memulai hidup yang baru, aku tidak lagi mengkhawatirkan apa pun. Aku merasa aku bisa menggenggam dunia, asal dia bersamaku," ujar Bram jujur sekali.


Jika dia dulu pernah menyimpan perasaannya pada Diandra dan tidak pernah membicarakan hal ini bersama ayahnya, maka kali ini Bram memilih untuk benar-benar menyatakan semuanya.


Lelaki itu bergeser pelan, mendekati posisi ayahnya untuk memangkas jarak di antara mereka. Menepuk tangan keriput Brio Trahwijaya, Bram kembali menatap dengan tatapan dalam pada ayahnya.


"Terima kasih sudah mengajarkan aku apa arti hidup sesungguhnya, Pa. Cinta yang Papa berikan pada Mama, mungkin itulah yang membuatku bisa mencintai Diandra dengan begitu dalam sekarang. Meski aku terlambat belajar akan arti kesetiaan, tapi kuharap kami bisa melalui semuanya dengan baik untuk masa yang akan datang."


Brio Trahwijaya tersenyum lebar. Memandangi dengan perasaan haru pada putranya yang kini telah tumbuh benar-benar dewasa, ada sorot mata bahagia dari pancaran mata lelaki tua itu. Menyaksikan bagaimana Bram tumbuh, mengenal cinta lalu sempat terluka, hingga kini menata kembali kehidupannya dengan cara yang benar.


Mendaratkan satu tangannya di atas punggung tangan Bram, kedua ayah dan anak itu benar-benar berada dalam quality time mereka. Sudah terlalu lama rasanya mereka tidak menghabiskan masa-masa seperti ini, dan ternyata ini terasa sungguh menyentuh hati sekali.


"Papa merindukan Mamamu, Bram," bisik Brio kemudian. Tidak lagi menatap ke arah anaknya, kakek tua itu memilih untuk melemparkan pandangan ke arah depan.


"Setiap hari, setiap waktu. Papa berharap Papa bisa segera bertemu dengan Mamamu, dan menceritakan semua apa yang sudah Papa lalui di dunia ini tanpanya selama ini."


Ada raut wajah kesedihan yang terlukis di wajah Brio, ketika pria itu kini menarik napas dengan perlahan-lahan.


"Hidup tanpa Mamamu tidak pernah mudah, Bram." Brio menolehkan kepala untuk melihat pada Bram yang masih mendengarkan dengan seksama.


"Dan karena kau telah menemukan kehidupanmu sendiri, kau seharusnya kini paham bahwa arti kehidupan sesungguhnya adalah mencintai satu orang yang sama, untuk waktu yang lama pula," sambung pria tua itu lagi.


Bram tidak bisa menahan gejolak di dadanya, ketika kini ia mendapati ada bulir air mata yang mulai menggenang di sudut mata ayahnya.


"Pa ...."


Brio tersenyum. Masih menepukkan tangannya ke tangan Bram, lelaki tua itu mengangguk kecil kemudian.


"Papa akan ceritakan semua pada Mamamu. Tentang bagaimana kau tumbuh, bagaimana kau jatuh dan bangkit lagi dalam memperjuangkan cinta, dan bagaimana kini kau sedang merajut asa bersama perempuan paling tepat dalam kehidupanmu. Kau juga akan jadi ayah, sekaligus role model pertama untuk anak-anakmu nanti, Bram."


Brio Trahwijaya cepat-cepat menghapus air mata yang hendak meluncur turun. Menahan dengan punggung tangannya, ketika tiba-tiba saja Bram sudah mendekap tubuh rentanya dengan erat sekarang.


Kedua bahu pria itu berguncang pelan, saat mereka sedang menyelami pikiran masing-masing. Hening beberapa detik, sebelum kemudian suara Bram kembali terdengar berbisik lirih.


"Terima kasih, Pa. Terima kasih karena telah mengajarkan padaku, apa arti hidup sesungguhnya."


.


.


.


~Semoga semua orangtua kita diberikan kesehatan, keberlimpahan rejeki, umur dan bahagia yang panjang. Bila jarak telah memisahkan, semoga doa akan senantiasa mendekatkan. Aamiin~