Travelove~

Travelove~
103. Menjauhnya Kau (1)



“Setelah semuanya berjalan sempurna, kuharap kau akan tetap di sini. Temani aku melewati waktu, hingga tidak ada yang mampu membentang jarak antara kita.” ~Bram Trahwijaya.


.


.


.


Matahari telah naik sempurna. Tepat setelah Bram dan keluarga kecilnya menghabiskan weekend dengan ber-quality time di rumah saja, kini lelaki itu tampak sudah bersiap untuk meeting selanjutnya.


Mengetukkan bolpoin yang ia pegang sejak tadi ke atas meja, meneliti data yang terpampang nyata dari layar laptopnya. Perusahaan Trahwijaya kehilangan beberapa tender besar belakangan ini, saat perusahaan Lee yang dipimpin Alberto malah memenangkan proyek belasan triliun rupiah.


Syukurnya tidak butuh waktu lama bagi Alberto untuk sembuh dan pulih kembali. Setelah insiden pemukulan dan penculikan yang dialaminya beberapa hari lalu, kini lelaki itu sudah bisa kembali bekerja. Meski masih terlihat beberapa bekas lebam dan kebiruan yang belum sepenuhnya menghilang, tetapi kondisinya sudah lebih fit.


Dia juga sudah tidak lagi menyetir mobilnya menuju mall tempat di mana D-Gallery berada. Sudah memutuskan untuk tidak lagi mencampuri urusan Hana—perempuan yang sebenarnya cukup mencuri atensinya. Mungkin Bram dan Diandra memang benar, sebab pilihannya kali ini tampak begitu salah dan tidak pada tempatnya. Terlalu beresiko, jika ia masih ingin terus ingin tahu tentang Hana.


Hana mengajukan cuti. Setelah peristiwa kemarin, perempuan itu menghubungi Diandra untuk meminta izin cuti—sebab dia merasa sungkan jika langsung menghubungi Bram seperti biasanya. Tidak banyak menanyakan tentang keadaan perempuan itu, Diandra hanya berpesan bahwa dia berharap Hana akan berada dalam keadaan sehat selalu. Setelah peristiwa pagi yang cukup mencekam itu, Hana belum muncul lagi.


Ketukan di pintunya menyadarkan Bram yang mulai menyipitkan mata.


“Masuk!”


Pintu berwarna cokelat tua itu terdorong beberapa detik kemudian, dan tampaklah sosok Alberto di ambang pintu.


“Kau sibuk, Bram?” sapanya. Melangkah masuk untuk menghampiri Bram yang berada di sebalik meja kerjanya, saat lelaki itu menoleh.


“Tidak terlalu. Aku ada meeting pukul empat,” jawabnya. “Kau dari kantormu?”


Alberto berbelok ke arah sofa, mengempaskan tubuhnya di sana setelah melepas jas yang ia kenakan. Meninggalkan kemeja bermotif bintik putih kecil di antara warna kemeja biru mudanya.


“Iya. Tender itu sulit, Bram. Meski aku senang kami memenangkan proyeknya. Kudengar kau harus melepas beberapa proyek, apa yang terjadi?”


Bram bangkit dari kursi kebesarannya, melangkah pelan menuju tempat Alberto dan duduk persis di sofa yang berada di hadapan lelaki itu.


“Entahlah, Al. Begitu saja terjadi,” ucapnya pelan. Memijat pelipisnya yang terasa penat, saat tengkuknya pun mulai terasa berat.


Alberto berdehem. Memperhatikan Bram yang meraih gagang telepon untuk menghubungi Meta—sekretarisnya.


“Mau minum apa?” tanyanya.


“Kopi hitam saja.”


Bram mengangguk kecil. “Meta, buatkan dua kopi hitam,” perintahnya melalui telepon itu, kemudian meletakkan kembali ke tempatnya sebelum menatap lagi pada Alberto.


“Kau harus melakukan proyek itu dengan baik, Al,” pesan Bram. Mengundang seringai tipis di sudut bibir Alberto.


“Tentu. Memiliki proyek itu membuatku merasa hidup kembali,” balasnya. Dia diam sejenak untuk mengambil jeda, sebelum akhirnya kembali bersuara.


“Dia baik-baik saja, Bram?” tanyanya ragu-ragu. Manik Alberto melebar, menatap pada sepupu iparnya dengan tatapan penasaran.


“Kau masih mengkhawatirkannya?” Bram tertawa kecil. Mengundang gelengan dari Alberto, tetapi memang seperti itulah yang terjadi.


“Dia mengambil cuti. Tidak menjelaskan alasannya secara spesifik, dia meminta cuti pada Diandra. Mungkin segan jika berbicara denganku,” lanjut Bram lagi.


Alberto menarik napas.


Baiklah. Setidaknya dia baik-baik saja. Semoga cuti yang diambilnya dapat digunakannya dengan baik.


“Kau benar,” Alberto mengerjap.


Meta mengetuk pintu dua kali sebelum masuk ke dalam ruangan bosnya itu dengan satu nampan yang berisi dua gelas kopi hitam di atasnya, lalu dengan hati-hati meletakkan gelas itu di atas meja.


“Minumlah, Al. Mungkin kau butuh doping untuk bisa mengerjakan proyek itu dengan baik.” Bram telah maju lebih dulu, meraih salah satu gelas dan menyesapnya perlahan di sudut bibir. Diikuti dengan anggukan Alberto sekilas sebelum dia juga meraih gelas miliknya, melakukan hal yang sama.


“Kau benar. Aku sungguh perlu doping untuk bertahan, sedangkan kau sudah punya doping yang lebih ampuh di rumah,” ejek Alberto. “Aku iri sekali padamu, Brother!”


Bram menarik napas. Membiarkan kopi hitam itu mengalir di kerongkongannya, saat sebenarnya ia hampir saja tercekat. Alberto benar. Dia memang punya doping di rumah. Siapa lagi kalau bukan istrinya—Diandra Lee.


Tapi jika saja Alberto tahu apa yang terjadi tiga hari belakangan ini, maka bisa dipastikan lelaki itu akan menarik perkataannya baru saja.


Bram mendesah, saat pikirannya telah memunculkan sosok cantik Diandra di pelupuk mata. Satu hal yang mungkin Bram lupakan adalah, bahwa Diandra selalu tegas sejak dulu. Perempuan itu tidak pernah bermain-main dengan ucapannya, bahkan saat Bram tidak menyangka Diandra akan memilih perceraian untuk mereka kala itu.


Sikap yang membuat Bram semakin jatuh cinta—pada tegasnya dan kokohnya pertahanan Diandra. Terbukti kini sudah hampir tiga malam Bram harus terlelap dengan susah payah, saat Diandra memilih untuk memunggunginya setelah kejadian memar yang ia punya tempo lalu.


Mood perempuan itu naik turun, tidak dapat diprediksi apa yang membuatnya kesal, atau apa yang membuatnya sedih.


“Kuharap aku mendapatkan doping-ku malam ini, Al,” bisik Bram pelan. Mendapati tatapan aneh dari Alberto yang masih tidak mengerti, tetapi lelaki itu tidak berujar apa-apa.


Beberapa saat kemudian Bram telah menghabiskan kopinya hingga menyisakan ampas pekat, melempar pandangan ke arah Alberto setelah melirik pada Tag Heuer yang ia kenakan di pergelangan tangan kiri.


“Pergilah jika sudah selesai. Aku ada meeting setelah ini,” ujarnya sembari berdiri tegak, melangkah gontai menuju meja untuk melanjutkan pekerjaan yang tertunda.


***


Diandra melotot. Memandangi Bram yang masih mengenakan kemeja kerjanya dan belum mengganti baju, ia tidak bisa menahan diri untuk tidak mendekati suaminya dan melayangkan satu cubitan di perut lelaki itu.


“Kenapa tidak ganti baju, Bram?” todongnya cepat. Maniknya membesar, mengerucutkan bibir sebab lelaki itu sama sekali tidak mencuci tangan terlebih dahulu bahkan kini sudah terlibat dalam permainan bersama Vallois dan Verden.


Bram meringis. “Nanti saja, Sayang,” jawabnya. “Kemarilah, aku rindu sekali,” ujarnya manja.


Bukan Diandra namanya jika tidak punya jurus menghindar. Bergeser cepat ke arah samping, perempuan itu menahan tawa saat Bram menggapai ruang kosong dengan kedua tangannya.


“Diandra, kau—“


“Pergilah mandi. Kau bau, tahu!” sungut Diandra lagi. Memicingkan mata, saat kemudian ia menutupi hidung dengan tangan untuk memberikan gestur tubuh tidak suka.


Bram mengendus kemejanya. Memeriksa apakah dia bau seperti yang dikatakan istrinya, namun tidak mencium ada bau di sana. Kemejanya masih tercium wangi parfum khas miliknya.


Kembali menarik napas, lelaki itu mengangguk kecil.


“Naiklah ke atas. Aku ingin kau di atas setelah aku keluar dari kamar mandi, oke?” dia berusaha membujuk.


Tidak mendapatkan anggukan dari Diandra, lelaki itu berjalan mendekat dan berbisik pelan ke telinga istrinya.


“Aku merindukanmu, Diandra. Rindu sekali.”


.


.


.


🗼Bersambung🗼