
"Kau adalah keindahan. Fakta yang tidak akan pernah berubah, sejak aku pertama kali menatap manik kecokelatanmu yang menghanyutkan." ~Bram Trahwijaya.
.
.
.
Diandra tersipu. Menunduk untuk memperhatikan kembali gaun berwarna putih dengan aksen bunga yang dia pilih beberapa menit lalu, siapa sangka akan begitu melekat indah pada tubuhnya. Seolah-olah gaun itu memang diciptakan untuk dirinya.
"Kau ... Cantik sekali, Diandra." Bahkan kalimat Bram terdengar terbata, saat lelaki itu tidak kuasa menahan rasa kekaguman yang membuncah di dalam dada.
Sebab Diandra adalah keindahan, yang tidak pernah berubah untuknya sejak pertama kali dia menatap manik kecokelatan perempuan itu. Perempuan satu-satunya yang berhasil mencuri cinta, perempuan yang berhasil mengajarkan dia apa itu arti dari kata mencintai.
Diandra mendekat. Maju beberapa langkah untuk menghampiri Bram yang masih duduk di atas sofa, meski ia belum menggunakan sepatu dan masih tidak beralas kaki di atas lantai marmer di sebuah butik mewah.
Bram melebarkan senyuman, melingkarkan satu lengannya di pinggang Diandra saat perempuan itu mendekat.
"Kau luar biasa, Diandra. Aku memujamu selalu, Sayang," berbisik lelaki itu tepat di daun telinga Diandra, semakin membuat Diandra tersipu sebab bertubi-tubinya pujian yang dia terima siang itu.
"Aku akan memilih ini, Bram. Kau setuju?"
Tidak ada alasan untuk Bram menggeleng.
"Tentu, Diandra. Ini pilihan yang baik sekali." Mengusapkan jarinya pada lengan Diandra yang terbuka, Bram mendekat untuk memberi kecupan kecil di bahu perempuan itu.
Membuat Diandra sontak melotot, melebarkan manik sebab dia terkejut atas kecupan Bram yang begitu tiba-tiba.
"Bram!" Memekik tertahan, namun yang diberikan pekikan malah tertawa kecil seolah tidak melakukan kesalahan apa pun.
Mengitari pandangan ke ruangan itu, Diandra mendapati dua orang pegawai yang buru-buru menurunkan pandangan mereka dari objek yang seharusnya mereka tidak lihat. Kedua pegawai itu menahan senyuman di bibir, diam-diam memuji bagaimana sang calon mempelai pria tampaknya sungguh penuh cinta pada wanitanya.
"Tidak masalah, bukan? Aku kan hanya ingin memberi hadiah karena kau tampil sangat cantik. Itu saja." Berkilah, membela diri meski sebenarnya tidak sepenuhnya benar.
Diandra memutar bola matanya. Menunjuk dengan tangan kanan ke arah jejeran jas dan setelan yang ditata rapi di sebelah kanan ruangan.
"Giliranmu, Bram. Pilihlah yang kau suka dan yang nyaman untukmu. Aku akan berganti baju, oke?" ujar Diandra memberikan arahan, diikuti dengan anggukan setuju dari lelaki itu.
"Baiklah." Melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Diandra sejak tadi, ada rasa tidak rela saat dia harus berpisah dengan wanitanya. Meski hanya beberapa menit, rasanya sungguh akan lama sekali.
Seorang pelayan mendekati Bram dan memberikan sapaan ramah, saat Diandra sudah ditemani oleh seseorang yang lain.
"Mari, Tuan. Silakan," ujar pelayan itu ramah, yang tampaknya masih berusia awal dua puluhan. Membimbing Bram menuju deretan koleksi busana pria yang mereka punya, gadis itu mempersilakan Bram untuk memilih.
Beberapa saat kemudian, lelaki itu sudah melangkah menuju ruang ganti dengan dua setel busana di tangannya.
***
"Bagaimana?"
Jika tadi Diandra yang menunggu reaksi dari Bram, kini giliran Bram untuk memamerkan setelan yang dia pilih pada calon istrinya itu.
Diandra yang sudah berganti baju kini gantian menduduki sofa yang tadi diduduki Bram, menaikkan kepala persis seperti yang Bram lakukan saat tirai itu terbuka lebih dulu.
Menjauhkan ponsel yang sedang dia otak-atik selama menunggu tadi, Diandra melebarkan senyuman lebar. Kali ini tidak menunggu lelaki itu yang menghampiri, dirinya sudah bangkit dari sofa dan berjalan menuju tempat Bram berdiri.
"Menawan sekali, Bram. Kau tampak tampan sekali." Tidak ingin berlebihan memuji, tetapi Diandra harus mengakui bahwa seorang Bram Trahwijaya memang memiliki kharisma yang dia pancarkan dari wajah tampannya.
Menepuk pelan pundak Bram, Diandra berbisik lagi.
"Jika kau selalu seperti ini mungkin aku bisa jatuh cinta setiap saat padamu, Bram."
Kalimat yang membuat Bram dipenuhi bunga-bunga, saat dia melebarkan senyuman yang memancarkan kebahagiaan.
"Kau menggodaku, Diandra?" Menarik perempuannya untuk semakin mendekat, saat manik kehitamannya mendapati dua pelayan tadi auto menundukkan kepala.
"Tidak," jawab Diandra cepat. Mengambil ponsel yang dia selipkan di saku dress-nya. "Berposelah, Bram. Aku akan mengambil fotomu."
Tidak sulit bagi Bram untuk menunjukkan sisi maskulin pada dirinya. Sebab dia memang dilahirkan dengan anugerah seperti itu. Mengeraskan rahang, Bram tidak butuh berpose macam-macam. Semua sudut fotonya terasa sempurna.
"Senyumlah, Bram!" perintah sang tukang foto. Rupanya kali ini ingin lelaki itu tersenyum, Diandra belum menekan tombol di layar.
"Baiklah, Sayang." Mengikuti arahan sang fotografer amatiran, Bram melebarkan senyuman.
"Sempurna!" Diandra tersenyum puas, sesaat mengamati hasil jepretan yang dia abadikan di ponselnya.
"Benarkah?" Bram baru saja ingin ikut melihat hasil jepretan itu saat Diandra buru-buru menjauhkan tangannya.
"Gantilah bajumu, Bram. Kita akan terlambat," ujarnya cepat. Menahan tawa sebab Bram tampak kecewa sekali, namun lelaki itu hanya menghela napas pelan.
"Baiklah. Kurasa itu memang sempurna, benarkan? Karena itu kau tidak ingin aku melihatnya?" ujar Bram seraya membuka jas yang dia kenakan, saat Diandra sudah mengambil langkah mundur untuk kembali ke sofa.
"Tunggulah aku, Diandra. Aku tidak akan lama."
Diandra mengangguk. Membiarkan tirai itu kembali tertutup, memberikan ruang agar Bram bisa mengganti bajunya kembali.
Duduk lagi di atas sofa yang sama, Diandra masih mengamati foto Bram yang dia ambil baru saja.
Kau memang tampan, Bram.
***
"Bram, aku ingin itu!" Menatap ke arah luar jendela, Diandra menunjuk pada sebuah kios jajanan pinggir jalan yang menjual aneka cimol dan cilok.
"Ah, baiklah." Mengurangi kecepatan mobil yang dia kendarai bersama Diandra, Bram mengambil ancang-ancang untuk menepi.
Setelah menyelesaikan urusan pilih memilih baju, mereka memutuskan untuk langsung menuju arah pulang. Tidak ingin berlama-lama meninggalkan Vallois dan Verden meski Diandra tahu kedua anak kembarnya pastilah tidak rewel, tetapi dia hanya ingin cepat kembali. Hingga sebuah kios yang berada di pinggir jalan membangkitkan selera.
Melepas sabuk pengamannya, Bram bersiap untuk turun. "Kau ingin apa, Diandra? Biar aku saja yang turun, terlalu panas di luar." Tidak ingin Diandra merasakan udara panas yang berembus, sebaiknya perempuan itu berada di dalam saja.
Tersenyum Diandra. "Baiklah. Aku ingin cilok dengan kuah kacang. Tidak terlalu pedas dan pakai kecap sedikit saja."
"Oke, Sayang. Tunggulah sebentar." Membuka pintunya setelah memperhatikan ke arah belakang untuk memastikan tidak ada kendaraan lain yang melintas, Bram sudah beranjak dari sana tanpa mematikan mesin.
Manik Diandra mengikuti tubuh lelaki itu yang memutari bagian depan mobil, kemudian menghampiri pedagang dan tampak berujar dengan senyumaan saat mengucapkan pesanannya.
Manik Bram memicing, melawan hamparan sinar matahari yang begitu terik menyengat. Diandra bersyukur dia berada di dalam mobil, diam-diam memuji sikap Bram yang begitu memikirkan dirinya.
Lelaki itu masih menunggu pesanannya selesai, saat ponsel yang dia letakkan di dashboard berbunyi nyaring. Membuat Diandra tersentak kecil sebab suara yang memenuhi penjuru mobil.
Meraih ponsel lelaki itu meski dengan ragu, Diandra berniat untuk menurunkan kaca mobil dan memanggil pria itu dari sana. Membaca sekilas nama penelepon yang tertera di layar, Diandra memicing.
Belum sempat menurunkan kaca untuk berteriak memanggil, panggilan itu sudah berubah menjadi missed call. Beberapa detik kemudian, sebuah notifikasi pesan masuk ke ponsel itu. Tidak sengaja menekan pop up yang timbul, Diandra tertegun saat membaca pesan yang tertera jelas di layar.
Pesan yang hanya berisi dua kata, yang entah mengapa langsung membuat jantung Diandra ingin mencelos ke luar.
Bram, datanglah.
.
.
.
🗼Bersambung🗼