Travelove~

Travelove~
44. Kota Indah



“Tidak hanya menentang waktu. Mungkin aku juga sedang menentang takdir.” ~Bram Trahwijaya


.


.


.


Kota itu lagi.


Tidak, Bram tidak pernah menyangka suratan takdir akan membawanya kembali kepada kota itu. Kota indah yang diagungkan sebagai kota paling romantis di dunia, kota di mana dia pernah menyusuri keindahannya bersama mantan istrinya. Kali kedua, dia datang ke sana untuk memastikan wanita itu baik-baik saja, saat kemudian dia memutuskan untuk melepaskan semuanya. Mengubur cinta yang membara, mengalah sebab dia tahu orang lain telah menggantikan posisinya untuk berdiri tegak di samping wanita itu.


Merelakan perasaannya menguap begitu saja, melepaskan batu yang menimpa pundaknya hampir setahun lebih saat dia mengakhirinya dengan sebuah pelukan hangat. Bukan pelukan antara dua insan yang saling mencinta, tetapi pelukan yang menyayat hatinya hingga titik paling dalam.


Menahan napas untuk beberapa detik, Bram masih memandangi foto ibunya dengan seksama. Membaca kembali tulisan tangan yang berada di belakang potret itu, masih bertanya-tanya mengapa ayahnya menyuruhnya untuk pergi secepat mungkin. Menemui orang itu, Luke Schoff.


Saat fikirannya masih diliputi bayang-bayang siapa Luke Schoff sebenarnya dan apa hubungan orang itu dengan ayah dan ibunya, Bram hanya bisa memunculkan satu bayang lagi. Bayangan wanita itu, Marinda Schoff. Tidak tahu apakah keduanya memiliki hubungan, tetapi Bram tahu ada begitu banyak orang yang bermarga Schoff di Paris sana.


Dia pernah mendengar peribahasa bahwa dunia ini hanya selebar daun kelor, apakah itu memang benar adanya?


Mengusap kasar wajahnya yang terlihat kusam sebab dia belum mandi sejak siang tadi, Bram terduduk di kursi kebesaran ayahnya. Tidak ada kompromi, Brio Trahwijaya telah memberikan titah agar dia pergi secepat mungkin. Kini saat kondisi lelaki tua itu hampir membaik, Bram memang tidak punya pilihan kecuali untuk mengikuti perkataan ayahnya. Apapun takdir yang mungkin menunggunya nanti, mau tidak mau dia harus menghadapi itu.


Membaca kembali kata Paris yang jelas tertulis di atas lembar foto, Bram menyunggingkan senyuman tipis. Setelah hampir setahun lebih dan beberapa bulan berlalu, lelaki itu tidak dapat memungkiri bahwa masih ada sesak yang terasa di dadanya saat dia kembali memunculkan wanita itu di pelupuk mata.


Menyandarkan kepala untuk mencari posisi yang nyaman, ingatan Bram sudah terbang jauh, menuju nostalgia. Menuju kepingan kisah yang telah usai, kisah yang bahkan belum dia mulai dengan benar. Kini, saat dia harus kembali menginjakkan kaki di kota indah itu, dia benar-benar tidak bisa menahan rasa rindu yang menyeruak hadir.


Paris, kotamu. Kau baik-baik saja kan?


***


SATU MINGGU KEMUDIAN.


Menggoyangkan kaki, Bram tampak memegangi sebuah ipad di tangan kanannya. Dengan manik yang mengarah lurus ke arah layar, lelaki itu sedang menunggu waktu. Memeriksa bursa saham dan beberapa artikel bisnis, Bram sudah tiba satu jam lebih dulu.


Dia akan ke Paris hari ini, setengah jam lagi. Mengikuti perintah ayahnya yang kini telah berangsur membaik, lelaki itu akhirnya memutuskan untuk pergi. Suara dering ponselnya terdengar nyaring, sebelum dia kemudian menggeser layar untuk tersambung pada sebuah panggilan telepon, dari ayahnya.


“Ya, Pa?”


“Kau berangkat hari ini, Bram?” Suara khas milik Brio Trahwijaya terdengar nyaring di sebrang sana. Membuat Bram sedikit menyeringai di sudut bibir.


“Benar. Sebentar lagi. Papa tetap tidak akan memberikanku clue apapun?” Bertanya kembali sebab ayahnya benar-benar tidak memberikan petunjuk apapun tentang hal yang akan dia hadapi di sana, Brio kembali menggeleng di tempatnya berada.


“Tidak, Bram. Temukan dia dengan dirimu sendiri dan ingat pesan Papa, percaya apapun yang dia katakan. Kau mengerti?”


Bram mengangguk pelan, meski dia tahu ayahnya tidak bisa melihatnya saat itu.


“Baiklah. Aku tidak akan lama. Setelah bertemu dia, aku hanya harus kembali kan?”


Hening sesaat. Terdengar suara batukan kecil di ujung telepon, membuat Bram sontak menegakkan tubuh.


“Pa? Papa baik-baik saja?” Merasa khawatir, Bram telah lebih dulu bersuara.


“Tentu, Bram. Jangan khawatir. Papa dipantau oleh tim dokter ahli, kau tidak perlu cemas,” jawab pria tua itu menenangkan.


Meski tidak sepenuhnya siap untuk meninggalkan ayahnya yang masih dalam fase pemulihan, Bram tidak punya pilihan. Ayahnya tetap meminta agar dia pergi, mengatakan bahwa dia sudah menjadi lebih baik dari hari ke hari.


Terdengar Brio Trahwijaya terkekeh pelan di sebrang sana.


“Kau sudah berencana kembali bahkan saat kau belum berangkat, Bram,” komentarnya.


Bram tersenyum kecut.


“Aku pasti kembali secepat mungkin. Setelah aku menyelesaikan urusanku maka aku akan segera kembali.” Berujar kembali Bram, terdengar pelan kali ini.


“Baiklah, Bram. Jaga dirimu dan sampai jumpa lagi.”


Bram menutup panggilan itu setelah mengucapkan selamat tinggal, menurunkan ponsel berwarna hitam metalik yang masih dia genggam erat-erat. Beberapa detik kemudian, dia telah memasukkan kembali benda itu ke dalam saku celana, mengarahkan pandangan saat mengusap ulang layar ipad-nya yang sempat menghitam beberapa saat.


Baru saja dia hendak memilih satu topik bisnis, panggilan namanya yang terdengar begitu nyaring membuatnya refleks menolehkan kepala.


Melongo, manik Bram melebar seiring dengan pandangannya yang bertemu dengan sosok laki-laki. Laki-laki yang dia tidak harapkan kehadirannya, laki-laki yang seharusnya tidak berada di sana.


“Bram!”


Siapa lagi kalau bukan Alberto.


“Mau apa kau, Al? Mengapa kau bisa masuk sampai ke sini?” Mengernyitkan dahi, Bram memandang dengan tatapan tajam ke arah Alberto yang kontras dengan senyuman selebar wajahnya.


Tidak mempedulikan reaksi Bram yang tampaknya lebih tidak suka daripada terkejut, Alberto telah mengambil posisi duduk tepat di kursi kosong di sebelah lelaki itu.


“Kau jahat sekali, Bram!” gerutunya kesal. Menepuk pundak Bram dengan tenaga yang lumayan banyak, membuat Bram meringis sebab menahan sakit yang tiba-tiba saja dia terima.


“Kau!” Melotot pada Alberto, Bram masih meminta penjelasan.


“Kenapa kau pergi diam-diam, hah? Untung aku sigap bertanya pada Meta dan dia memberitahuku semuanya. Kau tidak tahu bahwa aku juga punya multiple entry untuk visaku kan?” Berkata dengan penuh penghayatan dan kebanggaan, Alberto masih tersenyum lebar.


Menghela napas pendek-pendek, Bram sungguh tidak tahu bahwa mantan adik iparnya itu kini benar-benar berada di sampingnya. Terlebih, akan berada di satu armada dengan tujuan yang sama. Dia tahu Alberto pasti hanya ingin mengikutinya saja, meski lelaki itu tidak tahu menahu apa tujuan Bram yang sebenarnya kali ini.


“Kau akan tinggal lama, Bram? Perasaan baru beberapa bulan lalu kita kembali, kini akan pergi lagi. Siapa sangka kita tampaknya punya ikatan yang baik dengan Paris, bukan begitu menurutmu, Bram?” Masih mengoceh sesuka hati Alberto, yang sama sekali tidak ditanggapi dengan serius oleh lawan bicaranya.


Kembali menancapkan maniknya pada layar untuk melanjutkan membaca artikel bisnis yang sempat tertunda, Bram memilih untuk hening seribu bahasa beberapa saat. Mendapati Alberto yang tampaknya terlewat senang dengan kepergian mereka, Bram berniat untuk meluruskan sesuatu.


“Aku pergi tidak untuk bersenang-senang, Al. Ada seseorang yang harus aku temui di sana. Setelah itu, aku akan segera kembali. Perjalanan ini bukan seperti perjalanan yang kau fikirkan,” ujar Bram menjelaskan.


Alberto mengangguk, mencerna kata-kata Bram dengan baik. Sejurus kemudian dia tersenyum, sebelum berbicara untuk membalas perkataan lelaki itu.


“Kau tidak pernah tahu, Bram. Bisa saja kau akan tinggal lebih lama, jika takdir memang menginginkan demikian.”


.


.


.


🗼Bersambung🗼


~Bantu like, komen dan vote-nyaaa yaaaakk 😘